Mencari Resep Manjur Juara Liga Champions dari Real Madrid

spot_img

Mengapa Real Madrid begitu mudahnya mengoleksi trofi Liga Champions, saat tim-tim seperti Barcelona dan AC Milan mulai absen menjuarainya? Apakah ini murni keajaiban Mungkinkah kesuksesan Real Madrid di Liga Champions ada resepnya? 

Lima Gelar Beruntun Pertama

Membawa pulang Si Kuping Besar terlihat mudah bagi Real Madrid. Namun, jika orang bijak bilang, di balik kesulitan ada kemudahan, kenyataannya di balik kemudahan menjuarai Liga Champions, ada kesulitan di dalamnya. Supremasi Real Madrid tidak dibangun dalam semalam.

Mereka mesti melewati jalan yang tidak hanya terjal, tapi juga berkelok dan penuh tanjakan curam. Kalau kamu menelusurinya, trofi Liga Champions pertama didapat Real Madrid pada tahun 1955.

Waktu itu namanya bukan Liga Champions, tapi European Cup. Nah, setelah meraih gelar di tahun 1955, Real Madrid mengulangi kesuksesan itu di empat tahun berikutnya. Jadi dari tahun 1955 hingga 1960, Los Merengues memperoleh lima gelar European Cup secara beruntun.

Mulai Supremasi?

Setelah meraih European Cup dalam lima tahun berturut-turut, Real Madrid terlihat akan menguasai kompetisi itu. Namun, usai meraih gelar di tahun 1960, 38 tahun setelahnya, Real Madrid hanya membawa pulang satu trofi European Cup saja. Yakni pada musim 1965/66, ketika di Indonesia terjadi gejolak politik dan pembunuhan massal.

Tabah menjadi nama tengah para penggemar Real Madrid kala itu. Apalagi selama lima tahun, dari 1997 hingga 2002, Real Madrid ‘hanya’ meraih tiga gelar Liga Champions. Setelah itu, untuk menggenapi trofinya menjadi 10, Los Galacticos menunggu setidaknya satu setengah windu.

La Decima dan Terbentuknya Sebuah Dinasti

“La Decima” baru datang pada tahun 2014. Gelar Liga Champions kesepuluh El Real itu sama seperti terpilihnya Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia. Mengejutkan, namun sudah diprediksi. Mengapa demikian? Waktu itu, Real Madrid dinilai bukanlah tim terbaik.

Sebelum musim 2013/14 dimulai, Real Madrid bukan tim unggulan. Harus dipahami, unggulan atau tidak unggulan dinilai dari performa di musim sebelumnya. Menurut UEFA Club Ranking, pada musim 2012/13, Real Madrid hanya menempati peringkat keempat.

Los Blancos berada di bawah Chelsea, Bayern Munchen, dan Barcelona. Nah, pada musim 2013/14 pun, Real Madrid bukanlah tim terbaik di La Liga. Mereka hanya menempati posisi ketiga, kalah dari Blaugrana. Walaupun berhasil menjuarai Copa del Rey.

Pada gilirannya, gelar “La Decima” menjadi pijakan awal yang mengukuhkan dinasti politik, ah bukan, dinasti Liga Champions yang dibangun Los Merengues. Sebab dalam 11 musim Liga Champions terakhir, Real Madrid memenangkan enam di antaranya, termasuk “La Decima” dan “La Decimoquinta”.

Tidak ada tim lain yang sanggup menjuarai Liga Champions lebih dari sekali dalam 11 musim terakhir. Zinedine Zidane dan Carlo Ancelotti dua pelatih yang memimpin dinasti tersebut. Jadi, apa sebenarnya yang bikin Real Madrid membentuk kekuasaannya di turnamen elit antar klub Eropa itu?

Benarkah Keajaiban?

Jika mengatakan itu karena keajaiban, ada benarnya. Namun, tentu kalau jawabannya cuma keajaiban, pembahasannya akan sampai di sini saja. Mari membacanya dari segi statistik. Perusahaan analisis Opta mengukur bagaimana perjalanan Real Madrid di pertandingan fase gugur, dari musim 2010/11 hingga menjelang semifinal Liga Champions musim 2023/24.

Menurut catatan Opta, di titimangsa tersebut, Real Madrid melakoni setidaknya 25 pertandingan di fase gugur, dan selalu kalah dalam pengharapan gol. Itu artinya, Los Merengues tidak sering menciptakan peluang dalam 25 pertandingan di fase gugur.

Hebatnya, walaupun tidak sering menciptakan peluang, Real Madrid bisa memenangkan 10 laga dan hanya kalah 9 kali dalam rentang waktu tersebut. Persentase kekalahan mereka di fase gugur pun sedikit, yakni 36%. Jauh lebih sedikit dari Atletico Madrid (47,8%), Bayern Munchen (52,9%), Barcelona (64,3%), dan PSG (71,4%).

Dengan kata lain, secara historis Real Madrid berpeluang memenangkan pertandingan yang seharusnya mereka kalah, dibandingkan benar-benar kalah. Lihat saja, di pertandingan Liga Champions musim ini. Real Madrid acap kali selamat dari kekalahan atau malah membalikkan keadaan.

Paling Bisa Mengonversi Peluang Jadi Gol

Tidak hanya musim ini. Pada 2013/14, mereka baru bisa menyeimbangkan skor di menit-menit akhir lewat Sergio Ramos yang memaksa final berlanjut ke tambahan waktu. Tentu kamu juga masih ingat ketika Cristiano Ronaldo menyelesaikan hattrick-nya di menit-menit tua kala Real Madrid mengalahkan Bayern Munchen di perempat final leg kedua tahun 2017.

Salah satu yang mungkin paling konyol terjadi di musim 2021/22. Real Madrid nyaris dikalahkan 3-0 oleh Chelsea di markasnya sendiri. Namun, 10 menit jelang bubar, Luka Modric tiba-tiba mengirim umpan berkelas yang membuat Rodrygo mencetak gol dan memaksa laga berlanjut ke babak tambahan.

Di babak tambahan, Real Madrid malah batal tersingkir karena gol penentu Karim Benzema. Apa yang bisa dipelajari? Mentalitas? Bisa jadi. Tapi mentalitas sulit dijelaskan. Kenyataannya, tidak ada tim lain yang mengonversi peluang menjadi gol di babak gugur sejak 2010/11 sebaik Real Madrid.

Menurut Opta, Real Madrid menciptakan 202 peluang besar dan sanggup menciptakan 114 gol dari sana. Persentase keberhasilan mengonversi peluang menjadi golnya menyentuh 56%. Tertinggi dari seluruh tim-tim besar di Eropa.

Pertahanan yang Solid

Apa yang dilakukan Real Madrid bukan hanya mengandalkan pemain bintangnya untuk mencari celah, mendobrak pertahanan lawan, dan mencetak gol. Tapi juga kuat dalam bertahan.

Pertahanan Real Madrid selalu dihiasi bek-bek tangguh macam Sergio Ramos, Dani Carvajal, Marcelo, Nacho, hingga Rudiger yang menjadikannya sulit dijebol. Bahkan ketika mereka seharusnya bisa dibobol.

Tidak ada tim besar mana pun yang bisa menandingi tangguhnya pertahanan Real Madrid di fase gugur Liga Champions. Lihat saja di Liga Champions kemarin. Tidak hanya Dortmund, Bayern Munchen dan Manchester City pun kesulitan menjebol pertahanan El Real.

Struktur Manajemen

Tak ayal jika Carlo Ancelotti bilang lebih mudah memenangkan Liga Champions di Real Madrid. Sementara, Jose Mourinho mengatakan, salah satu faktor kesuksesan Real Madrid di UCL ada di manajemennya.

“Struktur Real Madrid sangat sederhana. Florentino Perez, Jose Angel Sanchez, dan kepala pencari bakat. Itu saja,” kata Mourinho.

Struktur itu, kata Mourinho, memudahkan Real Madrid menjuarai Liga Champions. Kendati ia sendiri gagal melakukannya.

Kesinambungan Skuad

Melihat bagaimana Mourinho gagal di Real Madrid, padahal berhasil membawa Porto juara, itu berarti kesuksesan tim di UCL tidak terletak pada pelatihnya. Melihat bagaimana Real Madrid meraih “La Decima” ketika gagal di La Liga dan bukan tim unggulan di Eropa, itu berarti kesuksesan di UCL tidak ada kaitannya apakah tim itu terbaik di Eropa atau tidak.

Kesuksesan Real Madrid tidak terletak pada pragmatisme dan filosofi belaka. Juga untuk menjuarai UCL, sebuah tim tidak perlu menjadi yang diunggulkan di Eropa maupun yang terbaik di kancah domestik. Apa yang dilakukan Real Madrid adalah mewariskan sejarah juara. Itu saja.

Yang diwariskan tak cukup kisahnya saja. Melainkan juga rencana dan visi. Maka dari itu, Real Madrid selalu punya skuad dan staf yang berkesinambungan. Setiap orang yang datang harus punya keyakinan, semangat, dan kualitas yang dapat memenangkan gelar Liga Champions.

Memenangkan UCL adalah standar Real Madrid. Soal mencapainya bagaimana, terserah. Ada sebuah tradisi yang dipegang oleh pelatih dan pemain Real Madrid. Bahwa ketika sampai final, tidak ada pilihan selain memenangkannya. Titik.

Yang Ke-15, tapi Terasa Pertama

Gelar yang diraih di Wembley kemarin memang gelar ke-15. Tapi terasa seperti gelar pertama yang akan mengawali dominasi Real Madrid selama beberapa tahun ke depan. Tanda-tandanya kelihatan. Proyek Galacticos Jilid 3 sedang dibangun.

Real Madrid mendatangkan Kylian Mbappe. Pemain yang punya kualitas untuk memenangkan Liga Champions. Los Blancos juga berencana membajak Florian Wirtz. Di lain tempat, tim-tim yang bisa menjegal El Real mengkhawatirkan.

Liverpool yang pernah menghadapi mereka di final mengakhiri rezim Jurgen Klopp. Manchester City yang hebat terancam tak dilatih Guardiola lagi. Bayern Munchen yang labil malah menunjuk pelatih degradasi. Barcelona? Lho, emang mampu beli pemain? Jadi lhur, monggo mengisi formulir untuk jadi fans Real Madrid.

Sumber: ESPN, DailyPost, TheAnalyst, Goal, ManagingMadrid, FootballSeeding, Goal

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru