Selalu salut buat manusia yang memilih berkarier sebagai pesepakbola. Menjadi pesepakbola artinya harus siap dengan segala resiko yang bakal menimpa. Apalagi jika sudah memilih menjadi pesepakbola dan bermain di Liga Indonesia, resikonya bakal berkali-kali lipat.
Resiko yang dimaksud adalah soal kesehatan dan keselamatan pemain. Belum lama ini, Liga Indonesia kembali meregang nyawa. Kiper Tornado FC, Taufik Ramsyah harus mengakhiri kariernya di liang lahat. Ia jatuh tak sadarkan diri usai kepalanya terbentur dengan pemain Wahana FC di Liga 3 Riau.
Taufik sempat dilarikan ke rumah sakit pada Sabtu, 18 Desember 2021. Namun, Tuhan berkehendak lain dengan memanggil Taufik ke pangkuan-Nya. Taufik pun dinyatakan meninggal dunia pada Selasa, 21 Desember 2021. Untuk itu, mari kita panjatkan doa untuk Taufik Ramsyah.
Akan tetapi, doa saja hanya mampu sampai ke dunia metafisika. Pada kenyataanya, tragedi semacam ini bukan kali pertama di Liga Indonesia. Nasib Taufik Ramsyah ini setali tiga uang dengan yang dialami mendiang Chairul Huda, kiper Persela Lamongan. Sayangnya urusan keselamatan semacam ini kerap diabaikan.
Tanpa perlu disebut pun kamu pasti paham siapa pihak yang kerap mengabaikan hal-hal penting semacam keselamatan pemain. Yups, penyelenggara liga dan ujungnya tentu saja PSSI sebagai induk sepak bola nasional. Ironisnya, soal keselamatan memang masih ditawar-tawar.
Tenaga Medis Tidak Profesional
Dari tragedi Taufik Ramsyah itu saja, kita bisa tahu betapa tenaga medis di liga-liga Indonesia sama sekali tidak merata. Bahkan beberapa kualitasnya masih jauh di bawah bidan desa. Dilansir Jawapos, ketika Taufik Ramsyah sudah kolaps, ambulans telat masuk ke lapangan.
Taufik bahkan bukan hanya tak sadar diri. Kondisi Taufik saat itu sudah hampir ke tahap parah dengan hidung berdarah. Namun, kesialan tak sampai di situ. Tenaga medis yang saat itu juga menangani Taufik tidak maksimal.
Alhasil Taufik dibawa ke rumah sakit. Mendapat perawatan intensif, nyatanya tak mampu mencegah takdir. Kepala Taufik sudah retak di sana-sini, dan membuatnya menghembuskan nafas terakhir. Ini bukan kali pertama tenaga medis di Liga Indonesia seperti bukan tenaga medis.
Tolong pssi di cek itu tim medis persiraja, kesel sendiri saya liatnya. Itu mereka beneran tim medis atau bukan. Sangat tidak profesional, pemain penurunan kesadaran, pertolongan pertama malah di angkat2 perutnya. Goblok pic.twitter.com/nFPKsyCA8Y
— Fino (@finskk) November 24, 2021
Kemampuan tenaga medis di liga-liga Indonesia memang terbilang kacau, terlebih untuk urusan pertolongan pertama. Yhaaa… meskipun tidak semuanya begitu. Jika kamu pernah menonton laga Persiraja Banda Aceh kontra Persib Bandung, 24 November lalu, kamu akan melihat betapa nggak logisnya penanganan medis Persiraja.
Seorang pemain Persiraja, yang belakangan diketahui bernama Ramadhan tergeletak di Stadion Maguwoharjo, Sleman. Ia hilang kesadaran setelah kakinya terkena tendangan keras pemain Persib, Nick Kuipers jelang babak kedua bubar.
Akan tetapi, tenaga medis Persiraja yang datang justru menambah buruk keadaan. Alih-alih memberi pertolongan pertama yang layak, tenaga medis Persiraja malah mengangkat-angkat perut si pemain yang pingsan. Ini kejadian yang di satu sisi mengundang gelak tawa, tapi di sisi lainnya miris.
Sampai akhirnya tenaga medis Persib Bandung juga ikut menolong, karena ketidakbecusan tenaga medis Persiraja. Aneh tapi nyata, bagaimana mungkin klub yang tenaga medisnya saja semacam itu lolos klasifikasi liga, dan main di Liga 1 pula?
Dokter Gadungan, kok Bertugas?
Bukan hanya tenaga medisnya yang tidak profesional, tapi mungkin sistem sepak bolanya yang perlu dibuang ke septic tank. Coba kamu bayangkan saja, bagaimana bisa dokter gadungan bisa bertugas di liga yang katanya profesional?
Buat yang ketinggalan infonya, dokter gadungan itu adalah Elwizan Aminuddin. Elwizan memiliki portofolio yang mentereng di Liga Indonesia. Namun, portofolio itu ia dapatkan dengan cara menipu petinggi klub-klub Indonesia dan pembuat regulasi yang hobi membadut.
Elwizan melamar sebagai tenaga medis dengan ijazah palsu. Kedoknya mulai terbongkar usai seorang kardiolog, Muhammad Iqbal Amin mencuit di akun Twitter-nya @iqbalAmin89 bahwa Elwizan ini bukan dokter. Setelah diselidiki, nama Elwizan memang tidak terdaftar di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
Mengutip KompasTV, PT Liga Indonesia Baru (LIB) melalui Dirutnya, Ahmad Hadi Lukita juga sudah mengkonfirmasi bahwa Elwizan Aminuddin adalah dokter gadungan.
Dasar administrasi dalam negeri, seorang dokter gadungan pun sampai mahir mengelabuinya. Tebak klub atau tim mana saja yang sudah dibodohi Elwizan. Sebelum tahu jawabannya, cermati baik-baik barang sebentar.
Elwizan tercatat pernah bertugas di PS TNI yang kini Persikabo 1973 di Piala Jenderal Sudirman 2015. Ia juga pernah menjadi bagian dari tim medis Kalteng Putra dan Madura United. Elwizan juga pernah bergabung ke jawara Liga Indonesia, Bali United. Lucunya, Elwizan ini juga pernah menjadi tim medis Tim Nasional Indonesia, sekali lagi, Timnas Indonesia.
Tahun 2014, Elwizan dipanggil Timnas Indonesia U-19 dan U-16 untuk pertama kalinya. Waktu itu untuk kompetisi Piala AFF kelompok umur di Vietnam. Lalu, ia dipanggil lagi ke Timnas Indonesia U-19 tahun 2018.
😱😱 | Status instastory kiper Persebaya dan Timnas, Ernando Ari, tentang pengalamannya bersama Elwizan Aminudin, dokter tim-tim Liga 1 yang ternyata dokter gadungan. Dirut PT LIB Akhmad Hadian Lukita menyebut Elwizan terbukti gadungan karena tak punya ijazah kedokteran. pic.twitter.com/8We1lPz3Xt
— Bola Abis (@bola_abis) December 2, 2021
Pemain Timnas Indonesia kala itu, Ernando Ari Sutaryadi bahkan hampir saja harus pensiun dini karena Elwizan melarangnya operasi. Padahal ketika itu Ernando sedang mengalami cedera. Untung setelah tidak lagi di timnas kedoknya terbongkar ketika masih di PSS Sleman.
Sungguh itu adalah kecerobohan yang hakiki. Bahkan anak Pak Iriawan pun mungkin akan mengakui kalau sistem sepak bola di Indonesia memang bobrok. Buktinya, ihwal administrasi saja kecolongan, bagaimana dengan yang lain?
Pemain Kasar dan Wasit Ngawur
Tidak berlebihan rasanya jika kita mempertanyakan keselamatan pesepakbola di Liga Indonesia. Belum selesai perkara tenaga medis yang tidak profesional dan ancaman kehadiran dokter gadungan, sepak bola Indonesia sudah dihadapkan pada persoalan lain.
Pemain yang harusnya menjunjung tinggi fair play justru lebih sering menerapkan karate play. Bermain sepak bola tapi dengan bumbu-bumbu karate sampai kungfu. Pemain yang dengan enteng menendang kepala pemain lawan adalah fenomena lumrah, namun mesti segera dihentikan.
Pemain di Liga Indonesia harusnya paham betul kalau fair play bukan sekadar tidak melakukan pelanggaran. Melakukan pelanggaran dan mendapat kartu hanyalah satu indikator seorang pemain disebut tidak fair play. Namun, ada koridor-koridor lain yang harusnya dipahami seorang pemain di lapangan.
Misalnya, Taufik Ramsyah mungkin tidak akan dibawa ke rumah sakit, jika pemain lawan mengehentikan laju larinya ketika bola sudah berada di penguasaan Taufik. Atau kalau tak sanggup menghentikan paling tidak melompat untuk menghindari benturan dengan kiper. Bisakah seorang pemain yang memburu gol menghentikan lajunya di situasi semacam itu? Jelas bisa. Lihat saja di Liga Jepang, atau minimal Liga Thailand.
Segala alasan yang muncul itu tak perlu kita maklumi. Karena gol itu bisa dicari nanti, yang penting keselamatan pemain. Kejadian seperti tabrakan antarpemain, benturan, kepala yang ditendang, leher yang diinjak, kaki yang dikail sampai jatuh, itu juga sering terjadi di Liga 1, bukan hanya di kompetisi di bawahnya.
Maka, mengingatkan pemain adalah langkah mutlak. Pemain-pemain di Liga Indonesia perlu sering-sering diingatkan untuk tidak lupa membawa otaknya ke ranah pertandingan. Disamping tentu tidak meninggalkan etika begitu saja di kamar mandi.
Tim “anake pak lurah” jare
Tim “settingan” jare
Dasare wasit liga 2 akeh sing seneng ndagel kok tim e sing kenek https://t.co/YrxJNFlIZo— nutrisari anget (@Hypervenom_46) December 23, 2021
Wasit juga seharusnya menindak tegas pemain yang membahayakan pemain lain. Namun tahu sendiri kan, bagaimana kualitas wasit di Liga Indonesia? Membedakan offside dan corner kick saja harus buka kamus.
Wasit di Indonesia terkenal sopan santun. Dan saking sopan santunnya, tak berani menindak tegas pemain brutal dan membahayakan. Kalau terjadi pelanggaran berat, jangankan kartu merah, kartu kuning saja seperti susah keluar dari saku wasit di jelmaan Negeri Wakanda ini.
Wasit di Liga Indonesia mungkin selain takut gajinya dipotong dan tidak dapat bagian, juga ciut nyalinya ketika berhadapan dengan pemain. Barangkali para pemain itu seperti geng The Warriors di hadapan wasit. Jadi, daripada mengambil resiko dikeroyok, mending nggak usah tegas sekalian.
Kalau hal-hal tadi masih muter-muter doang, perkembangan sepak bola di dalam negeri sebatas halusinasi. Jangankan prestasi, soal keselamatan pemain saja masih kurang atensi. Selama tak dibenahi, selama itu pula kita mendukung pemain Timnas Indonesia agar bisa tampil di luar negeri, dan pemain yang sudah berkarier di luar negeri jangan sampai kepikiran buat bermain di liga dalam negeri.
Sumber referensi: jawapos.com, kompas.tv, kompas.com


