Membandingkan Kejayaan Newcastle Era Eddie Howe dan Alan Pardew

spot_img

Aroma kejayaan kembali menyeruak di tubuh Toon Army sejak diakuisisi Arab Saudi. Namun jangan salah, sebelum adanya uang Arab, prestasi mereka juga pernah menghentak lho di bawah pemilik Mike Ashley. Pemilik yang notabene sangat dibenci oleh publik Newcastle.

Bersama Alan Pardew, prestasi The Magpies dulu hampir sama dengan apa yang sedang dilakukan Eddie Howe di Newcastle sekarang. Namun jika dibandingkan, keduanya punya perbedaan dan persamaan dari segala hal.

Awal Kedatangannya Ke St James Park

Desember 2010 adalah awal dari kedatangan mengejutkan pelatih berambut putih Alan Pardew ke Newcastle. Sebelum Pardew datang, Newcastle terpuruk bersama pelatih Chris Hutton. Alih-alih menunjuk pelatih yang lebih mumpuni, eh malah Alan Pardew yang ditunjuk.

Alan Pardew hanyalah pelatih semenjana. Sebelumnya ia hanya pelatih Southampton yang bergulat di liga kasta ketiga Inggris League One. Dari situ saja ia dipecat di bulan Agustus 2010. Gelombang pesimisme pun menyeruak di publik St James Park. Apakah Newcastle mampu diselamatkan dari keterpurukan dengan menunjuk Pardew?

Namun semua asumsi itu seketika berubah. Pardew perlahan menjawab semua keraguan publik Newcastle sampai akhirnya ia dipertahankan selama 4 musim di St James Park.

Hampir satu dekade, tahun 2021 Newcastle akhirnya diambil alih oleh Arab Saudi. Seketika Newcastle jadi klub kaya raya dalam semalam. Gelombang optimisme pun hadir di tengah publik.

Namun alih-alih menunjuk pelatih mahal kaliber Carlo Ancelotti, Thomas Tuchel, Jose Mourinho, atau Zinedine Zidane, The Magpies justru mempekerjakan Eddie Howe. Pelatih yang muda yang kiprahnya belum mentereng.

Sebelumnya, Howe adalah pelatih Bournemouth yang pada musim 2019/20 terdegradasi dari Liga Inggris. Publik Newcastle pun mempertanyakan keputusan itu. Apa yang bisa diharapkan dari Howe?

Wajar saja ekspektasi publik ketika bergelimang harta, harusnya bukan Howe yang menahkodai klub. Namun nyatanya, nasib Howe setidaknya kini mirip dengan Pardew dulu. Awalnya disepelekan, namun berjalannya waktu kepuasan publik perlahan timbul.

French Connection dan Saudi Money

Ketika Newcastle di bawah Pardew, pemiliknya masih Mike Ashley yang berkuasa tak kurang dari 14 tahun lamanya. Asal tahu saja, Mike Ashley ini adalah miliarder Inggris yang mengambil alih Newcastle pada tahun 2007. Banyak dosa yang dilakukannya di Newcastle.

Salah satu yang diingat adalah kasusnya dengan dua legenda klub, yakni Kevin Keegan dan Alan Shearer. Ia dicap sebagai public enemy di Newcastle. Karena hanya mementingkan bisnisnya saja daripada prestasi klubnya.

Satu-satunya momen yang mungkin akan tetap dikenang fans The Magpies pada saat Ashley berkuasa adalah momen kehadiran Pardew sebagai juru taktik. Selain kebijakan merekrut Pardew, Ashley juga pernah menerapkan model perekrutan pemain dengan meniru model Arsenal.

Model itu dikenal dengan istilah “Arsenal upon Tyne”. Di mana Ashley menyuruh pemandu bakatnya waktu itu, Graham Carr meniru model Arsene Wenger mendatangkan beberapa pemain Prancis.

Maka lahirlah apa yang disebut “French Connection” di Newcastle. Selama dipegang Pardew, para pemain Prancis macam Ben Arfa, Cabaye, Remy, Obertan hingga Debuchy datang ke St James Park. Banyak mendatangkan pemain Prancis tentu saja ada alasannya. Salah satunya karena keuntungan. Waktu itu, pemain Prancis terbilang memiliki upah yang relatif rendah. Jadi, tak terlalu menguras kantong Ashley.

Sementara di era PIF sekarang, kebijakan transfer Newcastle mengalami perubahan. Tidak ada lagi “French Connection”. Pemain yang didatangkan adalah pemain yang benar-benar dibutuhkan oleh Eddie Howe. Selain itu, Newcastle era Arab Saudi mengeluarkan tak sedikit uang. Total pada musim 2022/23, Newcastle sudah mengeluarkan duit 300 juta poundsterling.

Kesulitan Yang Dihadapi

Perjalanan kedua pelatih selama menukangi Newcastle tak selamanya mulus, khususnya di era Pardew. Ia pernah berkonflik dengan Mike Ashley. Ketika itu Ashley enggan mengeluarkan uang lebih untuk membeli pemain. Padahal Pardew membutuhkannya. Kemarahan pun ditunjukan Pardew kepada Ashley di musim 2014/15 ketika ia hengkang ke Crystal Palace.

Palace mampu diantarkannya mengangkangi Newcastle di klasemen Liga Inggris. Palace di posisi 10, dan Newcastle di posisi 15. Pardew pun sontak mengatakan pada publik Newcastle dengan nada menyindir dengan berkata, “Jadi, siapa yang seharusnya OUT? Saya atau Mike Ashley?”.

Kisah kemarahan Pardew bersama Mike Ashley nampaknya kecil kemungkinan terjadi pada Howe. Howe di bawah pemilik Arab, hingga saat ini masih selalu dituruti soal pembelian pemain. Sikapnya terhadap pemilik pun masih terlihat adem ayem.

Kondisi nyaman ini pun berpengaruh pada skuad. Namun bisa jadi suatu saat nanti, Howe akan mengalami fase buruk dan akhirnya berbuah pemecatan. Bagaimanapun dengan uang melimpah, gengsi tinggi Arab Saudi mengubah Newcastle menjadi skuad “The Dream Team” pastilah terwujud.

Gaya Bermain

Newcastle di bawah Pardew dan Howe pun memiliki perbedaan dari segi gaya bermain. Pardew dulu di masa kejayaanya bersama Newcastle masih sering menggunakan gaya ortodoks Inggris, Kick and Rush.

Formasi klasik 4-4-2 sering menjadi andalan dengan duet striker Demba Ba dan Papis Cisse. Para pemain Prancis yang berada di lini kedua macam Ben Arfa maupun Cabaye menjadi otak serangan Pardew. Menurut Transfermarkt, Pardew memakai formasi 4-4-2 itu sebanyak 19 kali di musim 2011/12.

Sedangkan di era Eddie Howe sekarang, lebih pada perpaduan taktik sepakbola modern dengan Kick And Rush ala Liga Inggris. Dengan formasi 4-3-3, Howe mengubah Newcastle lebih bermain menyerang dan atraktif.

Dengan penguatan di berbagai lini, gaya bermain Howe terbukti sukses, meskipun dengan pemain yang belum berkelas bintang. Di lini belakang, Newcastle terbukti solid. Mereka sementara menjadi tim yang dibobol paling sedikit di Liga Inggris. Di lini tengah, dengan gaya permainannya, Howe bisa menyulap pemain menyerang seperti Joelington dan Willock menjadi seorang gelandang tengah.

Tuah Pencapaian

Dari semua gaya bermain itu, tentu muaranya adalah pencapaian. Tuah pencapaian Pardew di Newcastle sangatlah berkesan. Ia adalah orang yang mengawali optimisme di kubu Toon Army pada musim 2011/12.

Newcastle melahirkan kejutan dengan mencapai Europa League setelah finis di peringkat 5 Liga Inggris. MU, Liverpool, dan Chelsea pun sempat takluk oleh Newcastle-nya Pardew musim itu.

Sedangkan kini, Eddie Howe sedang OTW menuju Eropa kembali. Namun, bukan ke Europa League, tapi naik level untuk mencoba peruntungan ke Liga Champions Eropa. Musim ini Newcastle asuhan Eddie Howe tengah bergulat untuk finis di posisi empat besar. Selain itu, Howe juga punya kesempatan mengantarkan satu trofi untuk Newcastle, yaitu Carabao Cup. Sebuah pencapaian yang sudah lama diidam-idamkan publik Newcastle.

Jika melihat perbandingan Pardew dan Howe di atas, kini tinggal menanti saja, seberapa jauh Eddie Howe melangkahi pencapaian Alan Pardew di Newcastle United. Akankah lebih baik?

https://youtu.be/WTKpz_WQjpY

Sumber Referensi : skysports, transfermarkt, chroniclelive, theathletic, fourfourtwo, forbes

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru