PSM Makassar dihajar Persib Bandung beberapa waktu lalu di lanjutan BRI Liga 1. PSM kembali menunjukkan tren negatif setelah kalah 2-0. Hal itu tentu saja memperjelas bahwa Juku Eja sedang tidak baik-baik saja.
Padahal di era 2000-an, PSM Makassar termasuk rajanya Liga Indonesia. Setelah itu PSM seperti kehilangan kekuatannya. Gelagat melempemnya PSM juga kelihatan pada BRI Liga 1 musim 2021/22.
Meski cukup meyakinkan di seri pertama dengan mengalahkan Persebaya dan Bali United, tapi performa buruk memang sudah terlanjur menempel pada Juku Eja. Hingga laga kontra Persib Bandung kemarin, PSM kini hanya menduduki peringkat 13.
Klasemen sementara BRI Liga 1, Selasa (22/2) 👌#BRILiga1 #BangkitBersama #DukungDariRumah pic.twitter.com/HSU6mjxiab
— BRI Liga 1 (@Liga1Match) February 22, 2022
Daftar Isi
Faktor Internal Klub
Performa buruk PSM Makassar sudah kelihatan di awal musim 2021/22. Mereka memulai kompetisi dengan keadaan yang sakit. Di mana permasalahan internal jelang Liga 1 bergulir tampaknya sedang menghantui tubuh PSM Makassar.
CEO PSM Makassar, Munafri Arifuddin yang mempunyai basis dukungan besar suporter PSM mendadak kalah pada ajang pemilihan Walikota Makassar di pilkada Desember 2020. Basis dukungan sebagai pemilik PSM tampaknya tidak bisa memuluskan jalan sang CEO duduk di kursi Makassar 1.
CEO PSM Makassar, Munafri Arifuddin, Kalah Lagi dalam Pilkada 2020 https://t.co/c4BjtlIyOU baca juga berita lainnya di https://t.co/GkwQxScnBB pic.twitter.com/3nNV3KFLdU
— BolaBanget Indonesia (@bb_id_official) December 10, 2020
Hal itu sedikit berpengaruh pada kondisi internal PSM di tahun 2021. Mengingat sebelum Pilkada, prestasi PSM cenderung mentereng termasuk menjuarai Piala Indonesia 2019/2020 ketika mengalahkan Persija.
Imbas nyata kisruh di tubuh internal PSM mulai terlihat pada tahun 2021 menjelang Liga 1 bergulir. Banyak pemain PSM yang mengalami penunggakan gaji. Gaji para pemain PSM yang belum terbayar itu menjadi sorotan banyak pihak termasuk PSSI, PT LIB, dan APPI. Akibatnya, nasib PSM terkatung-katung menanti keputusan apakah mereka terancam tidak bisa mengikuti Liga 1 2021/2022.
Kena Lagi, PSM Akan Diseret ke Badan Penyelesaian Sengketa Nasional Setelah Menunggak Gaji Pemain https://t.co/qt5YUQE4z6
Cari berita lain? Klik di sini https://t.co/etgqSfoIwQ pic.twitter.com/aTJWJiSLwF
— Yahoo Indonesia (@Yahoo_ID) February 17, 2021
PSM diharuskan membayar gaji para pemainnya paling lambat 45 hari setelah tanggal putusan dijatuhkan. Setelah jatuh tempo selama dua bulan, PSM Makassar akhirnya melunasi tunggakan gaji terhadap 17 pemainnya senilai Rp 5 miliar sehari jelang bursa transfer Liga 1 ditutup.
Bagaimanapun kasus sepele menjelang Liga 1 musim ini bergulir membuat gangguan mental tersendiri bagi skuad PSM. Masalah internal tersebut pun akhirnya mulai merambat ke pembelian dan penjualan pemain PSM Makassar.
Transfer Dan Adaptasi Pemain
PSM kehilangan para pemain bintangnya yang berperan dalam meraih gelar Piala Indonesia tahun 2019. Mereka adalah Marc Klok, Zulham Zamrun, Asnawi Mangkualam, Rizky Pellu, sampai Benny Wahyudi.
Penjualan pemain pilar ini tak dibarengi pembelian yang cerdik dari PSM. Pemain seperti Sutanto Tan, Friska Womsiwor, Ilhamudin Armain, Serif Hesic, sampai Anco Jansen tak bisa berbuat banyak.
DATANG UNTUK: PSM
Abdul Rachman
Yance Sayuri
Sutanto Tan
Erwin Gutawa
Junius Bate
🇳🇱 Anco Jansen
Friska Womsiwor
Dolly Gultom
Ilham Armaiyn
Azka Fauzi (loan)
Zikri Akbar (loan)
Syahrul Mustofa
🌟 Muhammad Ardiansyah
Gitra Furton
Rian Firmansyah pic.twitter.com/pPILXN6cHx— #YukVaksinasi 👌 (@Indostransfer) September 12, 2021
PSM mencoba memperbaiki komposisi pemainnya pada Januari 2022. Mengingat pada paruh pertama PSM compang-camping. Perombakan skuad adalah pilihan yang tak bisa dihindarkan.
PSM Makassar pun menjadi salah satu kontestan yang paling menggeliat dalam perburuan pemain pada bursa transfer paruh musim Liga 1 2021/22. Hal ini tampak dari jumlah pemain yang didatangkan oleh PSM Makassar sebelum menghadapi putaran kedua Liga 1.
PSM Makassar mendatangkan pemain seperti Aditya Putra Dewa, Manda Cingi, Delvin Rumbino, Ferdinand Sinaga, Ganjar Mukti, serta pemain asing , Gol Gol Mebrahtu, dan Adam Miter. Tapi pemain-pemain tersebut belum bisa nyetel langsung dengan komposisi skuad ramuan pelatih.
Welcome back The Dragon Ferdinand Sinaga 🔥🐉
Selamat datang Manda Cingi ✊
Masih ada welkom2 yang lain#EwakoPSM pic.twitter.com/4cnDWDFfOr
— PSM Makassar (@PSM_Makassar) January 4, 2022
Lini Depan Tumpul Dan Pertahanan Rapuh
Akibatnya, performa yang kerap tidak konsisten kerap menimpa skuad PSM. Hal yang perlu disorot dari inkonsistensi ini adalah lini pertahanan PSM Makassar. Pertahanan PSM di musim ini sampai Februari 2022 saja telah kebobolan 34 gol dari 26 pertandingan.
Sektor pertahanan yang dijaga kiper Hilmansyah, bek senior Zulkifli Syukur, maupun dua bek asing baru belum mampu mengubah performa pertahanan PSM. Bahkan dalam 4 kali pertandingan terakhir di Liga 1, PSM menelan kekalahan beruntun dengan kebobolan 8 gol dan tidak memasukan satu gol pun.
Mencetak gol ternyata juga menjadi masalah tersendiri. Tumpulnya lini depan dipengaruhi tidak adanya striker pembunuh di kubu Juku Eja sekarang. Praktis hanya ada Ferdinand Sinaga dan Ilhamudin yang juga harus disuplai oleh Anco Jansen dan Pluim sebagai kunci permainan yang akhir-akhir ini juga kerap tidak konsisten.
Terlepas dari itu semua, sebenarnya dibutuhkan pelatih yang cocok untuk menangani segala permasalahan pelik yang diderita kubu PSM ini. Paling tidak kehadiran sosok pelatih yang cocok mampu mengurangi sedikit masalah yang ada dengan racikan strateginya.
Faktor Pelatih Baru
Awal musim 2021/22, PSM dilatih Milomir Seslija. Skuad arahan Coach Milo awalnya cukup mengesankan. Selain menang atas Persebaya dan Bali United, PSM juga mampu menahan imbang Arema.
Akan tetapi, kurangnya kedalaman skuad yang mumpuni, membuat sang pelatih kesulitan saat dihadapkan pada cedera dan absennya pemain. Di sisi lain, Coach Milo juga kelimpungan dengan jadwal padat dan menurunnya performa pemain kunci seperti Pluim yang tidak bisa digantikan oleh pemain lain.
PSM Makassar secara resmi mengakhiri kerjasama dengan Coach Milomir Seslija.
Selengkapnya di website resmi kami.#EwakoPSM pic.twitter.com/g1Ff515chn
— PSM Makassar (@PSM_Makassar) November 25, 2021
Alhasil, dengan inkonsistensi performa PSM, Milomir Seslija pun diberhentikan di paruh pertama liga dan digantikan oleh pelatih sementara Syamsudin Batolla. Manajemen PSM baru mengumumkan kehadiran pelatih utama baru mereka asal Belanda, Joop Hall pada 29 Desember 2021.
First Touch
Selamat bekerja, selamat bejuang bersama, Coach Joop ✊#EwakoPSM pic.twitter.com/xekEryxsjV
— PSM Makassar (@PSM_Makassar) January 5, 2022
Joop Gall tampaknya didukung dengan pembelian sejumlah pemain di paruh musim. Namun, dengan skuad yang didominasi muka baru membuatnya justru mengalami kesulitan dalam hal adaptasi.
PSM kerap tidak konsisten. PSM bermain baik ketika lawan Madura dalam debut Gaal dan mampu menang, tetapi kemudian kalah melawan Persebaya. Gaal juga mampu menahan seri gempuran Bali United, tapi setelah itu kalah empat kali beruntun lawan Borneo, Tira Kabo, Persita, dan Persib
Joop Gaal seperti belum sepenuhnya beradaptasi dengan atmosfer Liga di Indonesia. Jadwal liga yang padat sempat dikritik oleh Joop Gall. Akhir-akhir ini Gaal juga mengeluh karena banyak dari pemainnya yang terkena covid.
Terlepas dari itu, pola permainan PSM Makassar di tiap laga belum maksimal. Anak asuh Joop Gall masih perlu mengasah transisi bertahan dan menyerang. Jika PSM Makassar tak mau turun ke kasta kedua.
Sumber Referensi : skorid, transfermarket, tribunnews, bola.net, detik.com


