Markku Kanerva: Sosok Dibalik Keberhasilan Finlandia Lolos Ke Ajang EURO untuk Pertama Kalinya

  • Whatsapp
Markku Kanerva Sosok Dibalik Keberhasilan Finlandia Lolos Ke Ajang EURO untuk Pertama Kalinya
Markku Kanerva Sosok Dibalik Keberhasilan Finlandia Lolos Ke Ajang EURO untuk Pertama Kalinya

Tepat pada November 2019 lalu, air mata bahagia membanjiri pipi para penggawa Finlandia. Mereka berhasil melaju ke turnamen terbesar yang pernah diikuti sepanjang sejarah.

Ya, Finlandia sukses mengukir capaian yang amat bersejarah. Untuk pertama kalinya sepanjang kiprah mereka dalam dunia sepakbola, Finlandia berhasil lolos ke turnamen Piala Eropa 2020. Tim berjuluk Huuhkajat memastikan satu tiket ke putaran final Piala Eropa melalui kemenangan 3-0 melawan Liechtenstein pada laga kesembilan Grup J Kualifikasi di Stadion Sonera, Helsinki.

Bacaan Lainnya

Meski ketika itu mereka masih menyimpan satu laga, torehan 18 poin membuat Finlandia mampu mendampingi Italia untuk masuk ke ajang paling bergengsi antar negara seantero Eropa.

Dari 10 pertandingan yang dijalani, Finlandia mampu memetik enam kemenangan dan kalah sebanyak empat kali. Mereka mampu mengungguli Yunani, Bosnia, Armenia, dan Liechtenstein. Salah satu kunci keberhasilan Finlandia di babak kualifikasi adalah memiliki pertahanan yang baik. Mereka hanya kebobolan 10 gol dari 10 laga yang dimainkan. Mereka tercatat bukukan enam clean sheet di fase grup kualifikasi. Lebih spesialnya lagi, salah satu pemain mereka, Teemu Pukki menjadi top skor di grup J dengan raihan 10 gol.

Profil Singkat Timnas Finlandia

Seperti yang sudah disinggung di awal, keberhasilan mereka dalam mencapai putaran final Piala Eropa sangatlah istimewa. Mereka baru pertama kali tampil di turnamen besar usai menjadi runner up di grup J. Dengan begitu, Finlandia resmi menjadi negara debutan di ajang Piala Eropa 2020.

Nama Finlandia memang tidak begitu populer dengan olahraga sepakbola. Disana, olahraga hoki es menjadi yang lebih diminati. Pada era 2000 an, Finlandia sempat mengalami masa kejayaan dalam dunia sepakbola. Meski mereka selalu gagal masuk ke turnamen besar, bertempat di tangga ke 33 FIFA bisa dijadikan sebagai alasan mengapa Finlandia ketika itu sangat layak diwaspadai. Akan tetapi, sepuluh tahun berselang, Finlandia mengalami kemerosotan yang cukup signifikan.

Pada tahun 2017, Finlandia duduk di tangga ke 110 FIFA. Beruntung, keberhasilan dalam mencapai putaran final Piala Eropa membuat mereka naik ke peringkat 58 pada Juni 2020.

Sekali lagi, sepakbola Finlandia memang tidak terlalu populer bila dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya. Mereka bahkan hanya menempatkan empat pemain saja yang tampil di kompetisi top Eropa. Adalah Teemu Pukki, Fredrik Jensen, Lukas Hradecky, dan Jesse Joronen.

Dengan pemain yang biasa-biasa saja dan sejarah yang sebetulnya kurang mendukung, bagaimana Finlandia lantas bisa bergabung dengan barisan tim elit benua biru?

Pengaruh Markku Kanerva

Kiprah luar biasa timnas Finlandia beberapa tahun belakangan tidak lepas dari pengaruh yang diberikan Markku Kanerva. Markku Kanerva merupakan pria 57 tahun yang ditunjuk sebagai pelatih timnas Finlandia sejak 2016 silam. Meski tidak tergolong sebagai pelatih populer di Eropa, kiprah Markku Kanerva kala masih menjadi pemain cukup membuat banyak orang terkesan. Dia merupakan legenda HJK Helsinki. Sepanjang karirnya di klub tersebut, dia berhasil mempersembahkan lima gelar liga dan empat piala liga.

Di level Internasional sendiri, dia merupakan pemegang 59 caps bersama timnas Finlandia namun tidak pernah mempersembahkan gelar apapun, karena memang Finlandia belum pernah merasakan tampil di ajang bergengsi kala dirinya masih berstatus sebagai pemain.

Memulai karir kepelatihan pada tahun 2004, Kanerva lebih dulu bertugas sebagai pelatih timnas Finlandia U-21 sampai dengan 2010. Lalu pada 2016, dia resmi menggantikan peran Mika Laurikainen sebagai pelatih timnas senior.

Dia dikenal sebagai pelatih bertangan dingin.

Bersamaan dengan lolosnya timnas wanita Finlandia ke ajang Piala Eropa dan juga lolosnya tim futsal pria di turnamen setara, memperlihatkan ada sesuatu yang terjadi di persepakbolaan Finlandia.

Ketika ditanya apa yang menjadi rahasianya dalam membawa timnas Finlandia lolos ke ajang Piala Eropa 2020, Kanerva tampak sulit untuk mengatakannya. Yang pasti, dasar yang membuat dirinya bisa memberikan porsi sesuai bagi seluruh anak asuhnya kali ini adalah berkat pengalaman yang didapat.

Pengalaman sebagai pelatih timnas U-21 dan berhasil mengantar tim tersebut lolos ke ajang Piala Eropa untuk pertama kalinya pada tahun 2009, serta pernah menjadi asisten pelatih di tim senior membuat dirinya tampak mudah dalam menganalisis kekuatan timnas Finlandia.

“”Setelah menganalisa apa yang bisa aku tingkatkan, ubah, dan kembangkan, disitulah kami menemukan strategi!”

Tidak ada yang bombastis memang dari sosok Kanerva. Kesederhanaannya justru membuat dia tampak luar biasa. Namun sekali lagi, pengalaman memang menjadi senjata rahasia bagi Kanerva untuk membentuk karakternya sebagai pelatih sekaligus membuatnya lebih mudah dalam menentukan strategi.

Selain pengalaman yang didapat dari melatih timnas muda Finlandia dan menjadi asisten pelatih tim senior, Kanerva juga memanfaatkan pengalamannya yang sempat menjadi guru sekolah. Ya, Kanerva adalah seorang guru sekolah di sela pekerjaannya sebagai seorang pelatih sepakbola.

Dia merupakan seorang guru bahasa sebelum akhirnya melebarkan sayap menjadi guru olahraga dan matematika.

“Itu aku jadikan sebagai penyeimbang dan aku pastikan tidak mengganggu karir sepak bola ku. Menjadi guru justru membuatku mampu mengembangkan komunikasi sosial. Aku banyak memiliki teman disana dan itu pengalaman yang luar biasa sekaligus menyenangkan,”

Hal berikutnya, yang membuat Kanerva bisa menjadi pelatih bijaksana dan sukses membawa Finlandia ke kancah Eropa adalah karena dirinya pandai membagi waktu. Meski ini adalah hal yang berfokus pada perkembangan dirinya, namun pada akhirnya hal tersebut juga akan berpengaruh pada tim yang dibesutnya.

Kanerva pandai membagi waktu, kapan harus berlatih, kapan harus menemui media, dan kapan harus beristirahat. Dia berpikir untuk mengurangi fokus pada hal yang tidak perlu, ketimbang memikirkan apa saja hal yang harus dia lakukan nantinya.

“Aku tidak mengatakan bahwa aku tidak banyak berubah, namun aku lebih belajar bahwa penting bagi pelatih untuk beristirahat demi mempersiapkan latihan dan sesi pertemuan tim. Ada banyak hal yang perlu direncanakan agar kamu memiliki waktu beristirahat,”

Setelah semua faktor mendasar berhasil dikuasai oleh Kanerva, barulah dia berfokus pada pembentukan tim dari segala aspek. Kanerva akan lebih dulu menganalisa para pemain kunci yang dimiliki Finlandia. Setelah itu, dia akan membentuk strategi yang membuat peran para pemain kunci lebih maksimal.

Misalnya saja Teemu Pukki. Pukki merupakan sosok pencetak gol sejati. Namun dia tidak akan sukses bila tidak ada pemain yang berperan untuk menyuplai bola dengan baik. Maka dalam hal ini, dia akan meminta Tim Sparv untuk mencari ruang demi bisa memberi bola kepada Pukki. Selain itu, Kanerva juga akan meminta sosok Glen Kamara untuk memanfaatkan ketenangannya dari lini tengah guna membangun kestabilan tim.

Melalui kerja sama para pemain kunci dan sokongan dari pemain penting lainnya, Kanerva akhirnya menemukan semangat yang menjadi faktor pembangkit lainnya dalam membawa Finlandia menuju kesuksesan.

Semua faktor itu pula yang membuat mereka mampu atasi perlawanan Armenia, Bosnia, Liechtenstein, hingga Yunani, meski pada akhirnya kembali tumbang dari Italia.

“Mereka tumbuh secara mental. Semua pemain siap bekerja. Mereka bersatu. Ini adalah tim dan setiap pemain memahami tuntutan dalam posisi masing-masing. Mereka tahu strategi yang aku berikan dan ini membuktikan bahwa mereka telah belajar,”

Dalam mengarungi turnamen Piala Eropa 2020, Finlandia mengaku akan berkaca pada kiprah Islandia di tahun 2016. Pelatih Markku Kanerva telah berbicara kepada salah satu staf di timnas Islandia, Lars Lagerback, tentang bagaimana cara mereka bisa mencapai fase perempat final ketika itu.

Sumber referensi: Sky Sport, Pikiran Rakyat, Squawka, Liputan6

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *