Mark Noble: Sosok yang Mengangkat Martabat West Ham

spot_img

Pertandingan antara West Ham United vs Manchester City pada 15 Mei lalu, telah selesai. Manchester City asuhan Guardiola gagal memungut kemenangan penting, usai mereka ditahan imbang West Ham 2-2. Tapi, bukan itu poinnya.

Di pertandingan tersebut, Pep Guardiola, manajer top asal Spanyol itu justru memberikan pelukan hangat kepada Mark Noble. Pemain West Ham United yang sebetulnya tidak memiliki sebiji pun trofi mayor di lemarinya.

Loyalitas. Hanya satu kata itu yang cocok menggambarkan Mark Noble. Pemain yang entah apa faktornya masih bertahan di West Ham selama 18 tahun lamanya. Kalau mendapat trofi seperti Maldini, Totti, sampai Ryan Giggs sih, bukan sebuah hal aneh.

Tapi, ini Noble. Ia tak pernah sekalipun mempersembahkan trofi untuk West Ham. Dan mungkin itu membuatnya sulit diingat sebagai sosok “One Man Club” di dunia sepakbola. Namun, loyalitas tak bisa dibayar dengan apa pun. Tidak ada kaitannya loyalitas dengan trofi yang diberikan.

Noble membuktikannya. Tanpa trofi, ia sangat tahu bahwa kesetiaan bisa ditunjukkan dengan berbagai cara. Dan dari situlah loyalitas seorang pemain ditimbang-timbang.

Awal di West Ham

Dalam laporan The Athletic, kawan-kawannya bercerita soal Mark Noble. Salah satu cerita yang menarik adalah Noble masuk skuad West Ham U-12, setelah ia keluar dari akademi dengan relatif cepat.

Namun, tak berapa lama, Noble langsung dipanggil ke skuad utama West Ham. Para temannya, termasuk Tony Stokes merasa iri lantaran Mark Noble memiliki perkembangan yang teramat pesat. Ia juga kecewa karena seharusnya Noble bermain untuk tim muda West Ham di semifinal FA Youth Cup.

Mark Noble harus berlatih di tim utama, sehingga ia tak bisa memperkuat tim muda pada ajang tersebut. Menghadapi Southampton yang ketika itu masih diperkuat Theo Walcott muda, West Ham akhirnya harus kalah 4-1 di semifinal FA Youth Cup. Dan Stokes mengatakan bahwa ini lantaran tidak ada Mark Noble di sana.

Beberapa kali Mark Noble melewatkan latihan untuk West Ham U-17, ketika ia beberapa kali juga dipanggil latihan tim utama. Ketidakhadiran Mark Noble di sesi latihan West Ham U-17, berpengaruh pada sesi latihan. “Itu bukan sesi yang bagus, kami buruk hari itu,” kata mantan rekan setim Noble yang lain.

Benar sekali. Pada waktu itu, Noble memang menjadi sosok pemain muda yang sangat potensial. Kemampuannya di lapangan telah membuktikannya. Ia datang pada saat West Ham muda sebenarnya memiliki banyak pemain bertalenta. Namun, Noble tetap membuktikan bahwa dirinya spesial.

Perjalanan Berikutnya

Kemampuan Noble kian berkembang. Ia pada akhirnya memulai pertandingan debutnya di West Ham pada Agustus 2004. Ketika itu, West Ham melakoni pertandingan Piala Liga menghadapi Southend United, dan tepat saat usia Noble menginjak 17 tahun.

Sejak debutnya pada tahun tersebut, Noble belum mencetak gol. Tapi peran vitalnya di lini tengah tak dapat diremehkan begitu saja. Ia menjadi pengontrol lapangan tengah ketika West Ham menjalani masa-masa sulitnya di Championship.

Noble pernah dipinjamkan ke Ipswich Town dan Hull City pada tahun 2006. Namun, ia hanya kuat sebentar di sana. Mark Noble, pada tahun yang sama langsung pulang memperkuat West Ham, dan menjadi pemain kunci The Hammers di sektor tengah.

Sepanjang kariernya, Noble konsisten menempati posnya di lini tengah. Ia tercatat telah melewati masa-masa transisi dari sembilan pelatih West Ham. Masa baktinya yang hampir dua dekade menjadi buktinya.

Sayang, sekali lagi, selama hampir dua dekade membela West Ham, tak satu pun trofi mayor mampir. Tapi setidaknya, Noble telah menjadi pemain yang luar biasa bagi West Ham. Ia pernah mengangkat moral tim untuk bisa promosi ke Premier League dua kali, tahun 2005 dan tahun 2012.

Gol Pertama

Sejak debutnya di West Ham pada 2004, Mark Noble baru sanggup mencetak gol pertamanya untuk West Ham pada tahun 2007. Tahun di mana West Ham sudah menjadi petarung di Premier League. Ketika itu, Noble bermain bersama pemain kenamaan, Carlos Tevez.

Kenangan indahnya adalah, ketika itu West Ham berhasil mengalahkan Brighton dengan skor telak 3-0. Mark Noble menyumbang satu gol melalui kombinasi play yang bagus. Umpan silang Luis Boa Morte dihalau kepala pemain Brighton.

Pada saat itu bola akhirnya jatuh ke Tevez. Namun, situasi sulit membuat pemain Argentina itu kesulitan meluncurkan bola ke gawang. Tevez memilih mengirim umpan ke Noble yang berdiri bebas di posisi yang tepat.

Bola memang sempat terkena kaki lawan lagi, tapi entah bagaimana bola itu tiba-tiba memantul ke arah Noble, dan membuat sang pemain dengan mudah mencocol bola ke gawang Brighton.

Setelah gol tersebut, Mark Noble mulai rutin mencetak gol. Ia bahkan menjadi salah satu kunci keberhasilan West Ham kembali ke Premier League pada musim 2011-2012. Noble mencetak delapan gol di musim itu di Championship.

Kesetiaan yang Teruji

Kesetiaan pemain kelahiran Canning Town bukan tidak teruji. Ujian datang ketika beberapa klub menunjukkan ketertarikan pada Noble, sementara ia masih terus gagal meraih trofi bersama West Ham United. Tapi pemain yang pernah sebentar mengenyam pendidikan di akademi Arsenal itu, memberikan loyalitasnya pada West Ham.

Mark Noble konsisten bermain di lini tengah West Ham. Uniknya, ia tak pernah sedikit pun mengalami cedera berat, yang membuatnya absen lama membela The Hammers. Meski gagal membawa trofi kolektif untuk West Ham, Mark Noble tak pernah menyesal.

Ketika ditanya soal pencapaian terbaik, umumnya pemain akan menyebutkan trofi atau catatan penting di klubnya. Namun, Mark Noble tidak. Baginya, pencapaian terbaiknya adalah setia pada satu klub.

Terbiasa Nyaris Terdegradasi

Karena memilih bersetia pada klub yang notabene bukan penantang gelar, Noble beberapa kali menempatkan dirinya pada situasi nyaris terdegradasi. Ya, perjalananan West Ham di Premier League memang bukan perjalanan yang mudah. Bukan sekali dua kali The Hammers nyaris terdegradasi.

Namun, selalu ada sosok yang menyelamatkan West Ham dari degradasi. Mark Noble adalah salah satunya. Seperti pada musim 2006-2007. Ketika itu, West Ham nyaris terdegradasi pada bulan Februari 2007. Yang mana saat itu, West Ham menghadapi Tottenham Hotspur, dan mereka wajib mencetak gol supaya terhindar dari degradasi.

Sayangnya, West Ham tak memiliki modal untuk itu. Penampilan mereka sebelumnya sangatlah buruk. Namun, Mark Noble telah menjadi obatnya. Tendangan volinya menghujam ke gawang Tottenham dan membuat West Ham unggul atas Tottenham. Jelang laga usai Tevez menggandakan keunggulan menjadi 2-0 sampai interval babak pertama.

Namun, di laga itu, Tottenham tampil lebih dominan. The Lilywhites mampu memenangkan pertandingan dengan skor tipis 4-3. Meski kalah, West Ham pada akhirnya memperpanjang nafasnya di Premier League. Dan para penggemar tetap harus berterima kasih pada Noble.

Kini Mark Noble memutuskan gantung sepatu. Pertandingannya menghadapi Manchester City adalah pertandingan kandang terakhirnya. Esok, ketika West Ham menghadapi Brighton bisa jadi pertandingan terakhirnya, andai kata Noble bakal dimainkan.

Namun, sampai segini saja sudah lebih dari cukup. Noble sudah memberikan segalanya untuk West Ham. Inilah saatnya ia duduk santai bersama keluarga kecilnya untuk melihat West Ham bertanding. Ia akan diingat sebagai salah satu one man club di Liga Inggris. Meski, untuk mengingatnya agak sedikit sulit.

Akan tetapi, catatan Noble akan membekas selamanya. Catatan yang akan memanggil siapa pun yang ingin mengingat Noble. Ia sudah mengemas 567 kaps bersama West Ham, dan mencetak 63 goal. Selamat rehat kapten! Semoga harimu tetap menyenangkan!

Sumber referensi: Independent, TheAthletic, TheTopFlight, PlanetFootball, Talksport, Tirtoid

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru