Tahun ini jadi tahun kesepuluh bagi Marco Verratti membela klub Ibukota Prancis, Paris Saint-Germain. Verratti dan PSG bak sejoli yang ditakdirkan untuk berjodoh. Dengan bakatnya, keberaniannya, dan keunikannya, Verratti jadi orang Italia paling Perancis yang berhasil membantu tim mengukir sejarah.
Meski hampir seluruh karirnya ia habiskan di Prancis, tak bisa menampik bahwa ia tetaplah seorang Azzurri. Selain menjadi andalan lini tengah La Parisien, Verratti juga menjadi tulang punggung lini tengah Timnas Italia di berbagai ajang dalam beberapa tahun terakhir.
Menariknya dari seorang Verratti, meski telah lama menjadi simbol lini tengah Gli Azzurri, sepanjang karirnya ia belum sekalipun mencicipi bermain di kompetisi kasta tertinggi sepakbola Italia.
Tak seperti Jorginho, Leonardo Bonucci, hingga Mario Balotelli yang setidaknya pernah berkiprah di Serie A, Verratti mentok hanya bermain di Serie B bersama Pescara. Nah, berikut sepenggal kisah Verratti yang menjadi andalan Timnas Italia meski tak pernah bermain di kompetisi tertinggi Serie A.
Daftar Isi
Pescara Jadi Awal
Seorang playmaker yang kreatif, pekerja keras, dan memiliki bakat naluriah secara teknis, Marco Verratti muncul ke permukaan sepakbola Italia bersama Pescara pada tahun 2008.
Verratti adalah pemain muda yang ditakdirkan untuk menjadi hebat sejak hari-harinya bersama tim muda Pescara. Saat usianya 16 tahun, ia bahkan sempat ditawari kontrak oleh dua raksasa Italia, Inter Milan dan AC Milan.
Namun, ketika kontrak sudah di atas meja, dan hanya membutuhkan tanda tangan orang tua serta sang pemain itu sendiri, Verratti justru menolaknya. Dan tampaknya, itu adalah keputusan yang tepat bagi pemain seusianya.
Suatu masa, di Serie B Liga Italia berseragam Pescara. Ada yang tahu ketiga pemain ini sekarang dimana?#verratti #immobile #insigne pic.twitter.com/ofJ0dIL176
— BolaFreak (@bola_freak) August 1, 2020
Tiada hari tanpa usaha Verratti untuk menjadi yang terbaik di Pescara. Ia tidak pernah berhenti bermain dan berusaha membuktikan betapa bagus dirinya. Usaha tak mengkhianati hasil, Verratti berhasil menembus tim senior pada musim 2008/09. Namun, ia belum mendapat kesempatan reguler, setidaknya butuh tiga tahun baginya untuk mengamankan slot di skuad utama.
Ketika kursi kepelatihan berganti ke Zdenek Zeman musim 2011/2012, gaya bermain Verratti mulai terlihat. Zeman lah yang menemukan posisi terbaik Verratti. Pemain PSG itu sebelumnya selalu dimainkan di posisi gelandang serang, namun setelah kedatangan Zeman, Verratti memainkan peran lebih bertahan. Pelatih asal Ceko itu memiliki andil besar dalam terbentuknya Marco Verratti seperti yang kita kenal sekarang.
Belum sempat main di Serie A Langsung diboyong PSG
Di musim 2011/2012, Pescara diunggulkan untuk menjadi kampiun Serie B, lantaran mereka memiliki pelatih cerdas yang memimpin para calon bintang macam Ciro Immobile, Lorenzo Insigne, dan Marco Verratti itu sendiri. Dan benar saja, Pescara tak terbendung di kompetisi kasta kedua Italia itu.
On This Day, Paris Saint-Germain berhasil mendatangkan Marco Verratti dari Pescara, PSG harus membayar biaya Transfer sebesar £10 M ke Pescara pada tahun 2012 ✍️🤝#OnThisDayFC pic.twitter.com/D9kIuhhElv
— Football Corner (@sobatcorneridn) July 18, 2022
Dengan gagahnya, Verratti memimpin lini tengah Pescara. Bermain dengan penuh percaya diri, ia membawa Pescara menumbangkan lawan-lawannya. Beberapa kemenangan penting bahkan didapat saat melawan tim-tim sekelas Hellas Verona, Sassuolo, Torino dan Sampdoria. Hasilnya, Verratti cs pun memuncaki klasemen dengan mengumpulkan 83 poin.
Verratti keluar sebagai pemain terbaik tahun itu. Ia juga mendapat penghargaan pemain U-21 terbaik Eropa oleh Guerin Sportivo, majalah olahraga tertua di dunia. Penghargaan ini memiliki sejarahnya sendiri dengan nama-nama top seperti Iker Casillas, Lionel Messi, dan Patrick Kluivert yang juga pernah memenangkannya.
Setelah bersinar bersama The Dolphin pesona Verratti justru membuat PSG yang tengah membangun proyek jutaan dolar jatuh hati. Akhirnya, bocah 19 tahun yang belum mencatatkan satu menit pun di Serie A memilih terbang ke Prancis guna menandatangani kontrak dengan PSG. Ia bermain untuk skuat yang saat itu dinahkodai oleh Carlo Ancelotti.
Menjadi Gelandang Hebat di Negeri Orang
Petualangan Marco Verratti pun dimulai. PSG adalah tim pertama dan satu-satunya yang membuat Verratti mau bermain sepakbola jauh dari tanah kelahirannya, Italia. Bergabung dengan para pemain hebat macam Zlatan Ibrahimovic, Thiago Silva, bahkan David Beckham, tak membuat Verratti minder. Ia tetap mengambil resiko yang ada.
Verratti yang sudah memiliki pondasi cukup bersama Pescara kembali mengasah kemampuan teknik dan permainannya bersama PSG. Betapa beruntungnya PSG mendapatkan pemain yang memiliki bakat naluriah seperti Verratti. Masih sangat muda, berbakat dan memiliki daya juang tinggi.
Top stuff from Verratti 😍#SDRPSG pic.twitter.com/C9yadzs5UI
— Paris Saint-Germain (@PSG_English) October 10, 2022
Bermain bersama pemain-pemain top membuat performa Verratti ikut naik kelas. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, kita telah disuguhkan dengan permainan umpan-umpan akurat yang membantu lini serang, pengambilan bola yang terkadang kasar, namun tepat dan bakat menakjubkan dalam mengolah bola. Zlatan Ibrahimovic bahkan menyebut Verratti sebagai yang terbaik di posisinya.
Harus diakui, bahwa sejak kedatangannya pada tahun 2012, “Si Permata Kecil”, begitu mereka menyebut Verratti, telah dipoles oleh kemewahan Kota Paris. Dengan rata-rata lebih dari 97 sentuhan per game selama 10 tahun terakhir, tidak ada pemain PSG lain yang mampu melebihi catatan Verratti.
Selama berseragam Les Parisien, Marco Verratti telah mencatatkan 392 penampilan dengan catatan 11 gol serta 61 assist di semua kompetisi. Pemain yang kini telah berusia 29 tahun itu juga telah memenangkan belasan trofi bergengsi bersama PSG, termasuk 8 gelar Liga Prancis yang kemungkinan akan terus bertambah.
Hantarkan Italia Menjuarai EURO 2020
Kecemerlangan Verratti bersama PSG lah yang membuat namanya selalu menjadi andalan di skuad Timnas Italia, meski ia sama sekali tak pernah bermain di Serie A. Sebetulnya, Verratti sudah tergabung dalam skuad Gli Azzurri sejak ajang Piala Dunia 2014. Namun, namanya belum begitu terdengar lantaran ia berdiri di belakang Daniel De Rossi, Andrea Pirlo dan Claudio Marchisio.
Debut Verratti di Piala Eropa 2020 👀
90 menit bermain
94% akurasi umpan
136 sentuhan bola
4/4 tekel
2 dribble sukses
1 assist— GOAL Indonesia (@GOAL_ID) June 21, 2021
Barangkali ajang EURO 2020 menjadi panggung utama bagi marco verratti. Di mana tim asuhan Roberto Mancini keluar sebagai juara setelah mengalahkan Inggris di partai final. Meski memulai kompetisi dengan cedera lutut, Marco Verratti berhasil tampil apik di babak penyisihan Grup A kontra Wales. Ia mencatatkan satu assist untuk gol semata wayang Matteo Pessina.
Performa itu cukup bagi Verratti untuk mempertahankan posisinya di skuad utama Roberto Mancini, meski Manuel Locatelli tampil sangat baik saat menggantikan Verratti di dua pertandingan kontra Turki dan Swiss.
Bermain di samping Jorginho dan Nicolo Barella, Verratti hampir tak pernah mengecewakan. Verratti tampil luar biasa di setiap pertandingan. Saat melawan Belgia di babak perempat final, Verratti sempat memberi assist untuk gol pembuka yang diciptakan oleh Barella, dan akhirnya membawa Azzurri meraih kemenangan 2-1 atas Belgia.
Dengan mencatatkan dua assists, melakukan 22 tekel sukses dan 25 ball recoveries, serta akurasi umpannya yang mencapai 92 persen dalam 5 pertandingan, Marco Verratti menjadi kepingan penting di balik keberhasilan Italia menjuarai Euro 2020. Mungkin hanya waktu yang bisa menjawab kapan si anak hilang akan kembali ke Italia guna menjajal ketatnya persaingan Serie A.
Sumber: PSG, Footballpink, UEFA, Libero, Bola Times


