Kisah kejutan kembali terjadi di Liga Champions musim ini. Sebuah klub dari Negeri Belgia, Club Brugge banyak menyita perhatian publik. Penampilan spektakulernya di fase grup bak tim besar calon juara. Berkat penampilan apiknya itu kini banyak orang ingin tahu mengenai seluk beluk tentang klub tersebut.
Namun sebenarnya yang terpenting adalah, apa sih kunci sukses performa kuda hitam yang satu ini? Lantas, apa peluang kejutan yang akan disuguhkan Club Brugge selanjutnya?
𝐇𝐈𝐒𝐓𝐎𝐑𝐘! 😍🏆 #UCL #AtlClu pic.twitter.com/h7GXiUmlZr
— Club Brugge KV (@ClubBrugge) October 12, 2022
Daftar Isi
Club Brugge Sebagai Salah Satu Klub Tertua Di Eropa
Kalau mencari tahu sejarah singkat klub ini, sudah banyak berseliweran di beberapa media bahwa Club Brugge ini adalah salah satu klub tertua di Eropa. Bagaimana tidak, laman arsip UEFA menyatakan bahwa Club Brugge ini sudah eksis sejak 1891.
1891:
Se establece legalmente el Club Brugge.
Si bien el equipo había nacido un año atrás, toman esta fecha para todos los efectos, incluso colocándolo sobre su escudo.
15 títulos nacionales para el único club de Bélgica en haber disputado una final de Copa de Europa (1978) pic.twitter.com/yvDoFPB99k— DatodeGol (@Datodegol) November 14, 2019
Klub yang didirikan oleh beberapa murid dan alumni sekolah katolik di Belgia ini sempat juga berubah-ubah nama dari FC Bourgeois, Royal Bourgeois FC, hingga akhirnya menjadi Club Brugge.
Sedangkan Club Brugge sendiri pernah mengklaim bahwa mereka baru berlaga secara rutin di liga kasta tertinggi Belgia sejak 1959. Dan sejak itu, mereka belum pernah terdegradasi.
Lolos Pertama Kalinya Sejak Format Liga Champions
Club Brugge ini ternyata tercatat baru sekali ini bisa lolos dari cengkraman fase grup sejak format Liga Champions berubah pada tahun 1992. Biasanya mereka hadir di fase grup hanya sebagai pelengkap saja. Club Brugge ini paling keren hanya finish di peringkat 3 dan kemudian ditransfer ke Europa League.
Club Brugge qualified from the Champions League group stage for the first time ever with four clean sheets in four games 👏⚽
Get more updates only on @technosports_in #brugges #bundesliga #ucl2022 #uefachampionsleague #championsleague #football pic.twitter.com/SyNrcMs4Ln
— TechnoSports (@TechnoSports_in) October 13, 2022
Pencapaian tertinggi klub berjuluk Blauw-Zwart di kancah Eropa, ternyata pernah mereka alami pada rentan tahun 1975 sampai 1978. Meskipun belum juara, mereka pernah dua kali menapakkan kakinya di partai puncak. Yang pertama di Piala Champions atau yang sekarang menjadi Liga Champions pada musim 1977/78. Dan yang kedua adalah final Piala UEFA atau yang sekarang Europa League pada musim 1975/76.
#OTD in 1978 Liverpool beat Club Brugge in the Champions League final. A sublime chip from #KennyDalglish at #Wembley gave LFC their second European Cup. #liverpool #ynwa #liverpoolfc #lfc #billshankly #anfieldroad #ynwaliverpool #liverpoolfans #anfield #dalglish #ucl #clubbrugge pic.twitter.com/N08WgRJd35
— Periodico Emporium (@PeriodicoLtd) May 10, 2022
Klub Kedua Belgia Yang Lolos Dari Fase Grup Setelah Gent
Selain itu, pencapaian Club Brugge lolos dari fase grup ini ternyata bukan yang pertama kalau mengacu pada pencapaian klub asal Belgia. Ia kini tercatat sebagai klub kedua asal Belgia setelah KAA Gent yang pernah mencapainya di musim 2015/16.
2 – Club Brugge are only the second Belgian 🇧🇪 team in history to reach the Last 16 of the UEFA Champions League after KAA Gent in 2015-16. Exploit. pic.twitter.com/WD0uuuMAms
— OptaJean (@OptaJean) October 12, 2022
Meskipun begitu, Club Brugge ini kalau di kompetisi domestik Belgia adalah rajanya. Buktinya 46 gelar sudah mereka raih selama ini. Di antaranya adalah 18 gelar Liga Belgia atau Jupiler Pro League, 11 gelar Piala Belgia, dan 17 gelar Piala Super Belgia.
Pelatih, Pola Permainan, dan Para Pemain Kuncinya
Kesuksesan Club Brugge akhir-akhir ini memang mengejutkan. Bagaimana tidak, mereka musim ini ditinggal bintangnya yakni Charles De Kataleare yang hijrah ke Milan. Namun Club Brugge masih punya sisi lain kekuatan yang bisa menjadi senjata.
Salah satu senjatanya yakni sentuhan pelatih mereka, Carl Hoefkens. Hoefkens adalah mantan pemain Club Brugge asal Belgia di era tahun 2010 an. Ia dulu sempat juga bermain di Liga Inggris bersama Stoke City dan West Brom.
Karirnya sebagai pesepakbola hanyalah medioker. Bahkan di bidang kepelatihan, kita tahu Hoefkens ini sebelum menjadi pelatih Club Brugge sekarang, ia hanyalah seorang pelatih junior yang sempat menjadi asisten pelatih.
Namun dengan CV nya yang tak terlalu mentereng, ia terbukti mampu membawa gaya permainan yang solid bagi tim sekelas Club Brugge. Kita tahu tak ada nama-nama mentereng di skuad Club Brugge sekarang. Berkat polesan teamwork Hoefkens lah Club Brugge bisa tampil spartan sampai sekarang ini.
What a historical performance, coach! 👏🏼😍 #UCL pic.twitter.com/mao0AyqVz4
— Club Brugge KV (@ClubBrugge) October 13, 2022
Hoefkens dikenal pelatih muda yang energik di pinggir lapangan. Semangat dan etos kerja yang tak kenal lelah pun tertular pada anak asuhnya. Dari segi taktik, ia selalu menitikberatkan pada keseimbangan dalam menyerang dan bertahan. Formasinya pun kadang bisa berubah-ubah dalam lapangan. Dari pola standar 4-4-2, juga terkadang menjadi 4-3-3. Hal itulah yang ia aplikasikan ketika melawan Leverkusen, Porto, maupun Atletico.
Nah, tentu dari strategi yang diterapkan Hoefkens itu pasti ada beberapa pemain yang menjadi kunci kesuksesannya. Paling tidak, ada 4 pemain yang menjadi kunci. Mereka di antaranya adalah sang kiper Simon Mignolet. Bek tengah Abakar Sylla, Gelandang serang Hans Vanaken, serta sang striker Ferran Jutgla.
Dari sang kiper Mignolet, mantan penjaga gawang Liverpool ini tampil bak kesetanan. Gawangnya belum bobol sekalipun di Liga Champions. Ia solid menghalau beberapa gempuran baik dari penyelamatan tepisan maupun penyelamatan one on one dengan striker lawan.
14 – Simon Mignolet has made 14 saves without conceding against Atlético Madrid in the UEFA Champions League this season, the most saves on record against an opponent without being beaten in a single season in the competition (2003-04 onwards). Gandalf. pic.twitter.com/55iP3FFJym
— OptaJoe (@OptaJoe) October 12, 2022
Clean sheet Mignolet tak akan dicapai kalau beknya rapuh. Faktor bek Abakar Sylla menjadi penting di depan Mignolet. Bek 19 tahun asal Pantai Gading ini sangat kokoh dalam menghalau serangan lawan dengan badannya yang ideal. Baru didatangkan musim ini, ia menjelma bersama Denis Odoi dan Brandon Mechele menjadi tembok kokoh Club Brugge musim ini.
Dream Champions League debut for 19-year-old Abakar Sylla of Club Brügge who got his name on the scoresheet after a Hradecky mishap.
#CLUB04 #UCL pic.twitter.com/132dqzZAB4— DW Sports (@dw_sports) September 7, 2022
Di lini tengah ada komando Hans Vanaken. Ia adalah sosok senior gelandang pengatur serangan sekaligus kapten tim. Meskipun torehannya baru 2 gol 1 assist, tapi kontribusinya membaca permainan dan mengatur tempo permainan sangat berpengaruh dalam tim.
Dan yang terakhir adalah peran striker mereka Ferran Jutgla. Pemain muda buangan Barcelona ini tampil mengesankan musim ini. Sejauh ini, Jutgla sudah mengoleksi 8 gol dan 5 assist dari 15 pertandingan. Bersama dengan rekan duetnya, Kamal Sowah, Jutgla membentuk duo yang sangat berbahaya dalam pakem formasi 4-4-2 ala Hoefkens.
What A Team 🔵⚫️ pic.twitter.com/9sS3lCIWZ3
— Kamal Sowah (@SowahKamal) October 12, 2022
Peluang Kejutan Selanjutnya
Dari beberapa keunggulan Club Brugge tersebut, pertanyaannya apakah akan tetap konsisten hingga partai knockout nanti? Jawabanya bisa iya, bisa tidak. Mengingat kita tahu kejamnya drawing Liga Champions.
Club Brugge kini akan dipastikan menjadi juara Grup B dan dipastikan pula nantinya akan menghadapi salah satu klub yang berada di posisi runner up dari masing-masing grup. Namun kita tahu posisi runner up di masing-masing grup, kini dihuni oleh beberapa tim besar. Besar kemungkinan mereka akan menanti Club Brugge di drawing fase knockout nanti. Sebut saja ada Inter, AC Milan, Liverpool, maupun Dortmund.
Peluang kejutan selanjutnya Club Brugge pun patut untuk dinanti. Mendapat lawan yang sebanding harusnya menjadi harapan. Namun menghadapi tim besar pun mereka sudah teruji. Seperti tak terkalahkan melawan Atletico. Jadi, tak begitu masalah.
Musim lalu kita ingat ada kejutan ketika Villarreal mencatatkan cerita indah underdog yang bisa mencapai partai semifinal. Mereka bahkan menyingkirkan beberapa raksasa macam Juventus dan Bayern Munchen. Lantas, apakah Club Brugge bisa meniru kisah manis kejutan Villarreal musim lalu?
🔵⚫️ Club Brugge are through to the knockout stage! 👏#UCL pic.twitter.com/Rmy2wfifEJ
— UEFA Champions League (@ChampionsLeague) October 12, 2022


