Panik atau sudah terencana? Begitulah pertanyaan yang tepat diajukan guna menyelidiki kedatangan Marcel Sabitzer ke MU. Pemain berambut gondrong asal Austria itu, tiba-tiba datang ke Old Trafford di Deadline Day transfer.
Banyak yang meragukan keputusan mendadak manajemen MU ini. Namun di luar itu, banyak juga yang mengatakan ia adalah kebutuhan yang tepat bagi MU saat ini. Lantas apa yang bisa dijanjikan dari Sabitzer nantinya dalam skema Ten Hag?
Siapa Sabitzer Sebenarnya?
Siapa sih sebenarnya Sabitzer itu? Namanya juga tak terlalu mentereng. Namun setelah ditelusuri, ternyata ia adalah mantan anak buah Ralf Rangnick, mantan pelatih MU.
Ia mengawali karirnya bersama Rangnick di Salzburg. Sabitzer adalah salah satu pemain kesayangannya. Di bawah asuhan Rangnick, Sabitzer mampu mengeluarkan potensi terbaiknya. Berkat itu pula ia akhirnya turut dibawa Rangnick saat melatih RB Leipzig.
Debut pertamanya Sabitzer ketika hijrah ke Jerman bersama Leipzig diawali dari kasta kedua Liga Jerman pada musim 2015/16. Mengejutkannya, ia langsung jadi bagian kesuksesan yang membawa Leipzig promosi ke Bundesliga.
Performanya mencuri perhatian publik Jerman ketika ia debut di Bundesliga. Ia langsung bisa mencetak 9 gol dan 4 assist. Ia pun langsung mampu membawa kesuksesan bagi Die Roten Bullen finis sebagai runner up Bundesliga
Musim terbaik Sabitzer di Leipzig terjadi pada 2019/20. Ketika ia mencetak 16 gol dan 11 assist, serta mampu mengantarkan Leipzig hingga babak semifinal Liga Champions.
Transformasi Sabitzer dari Gelandang Serang Jadi Gelandang Bertahan
Nah, sejak di Leipzig itulah namanya mulai masuk radar klub-klub besar Eropa. Posisinya yang versatile di lini serang, membuat pemain itu banyak diburu.
Tak dipungkiri, Sabitzer dulunya dikenal sebagai gelandang serang yang produktif.
Namun saat dipegang Nagelsmann, ia kemudian dicoba untuk lebih berperan menjadi gelandang tengah pelindung pertahanan. Tepatnya di musim 2019/20, ia sudah sering dicoba Nagelsmann 15 kali sebagai gelandang tengah.
Sejak saat itulah transformasi Sabitzer dari gelandang serang menjadi gelandang tengah dimulai. Terbukti menurut data Transfermarkt, Sabitzer setelah itu di musim 2020/21, sudah mulai paten menempati posisi sebagai gelandang tengah selama semusim penuh.
Utak-atik Nagelsmann tersebut mampu membuahkan hasil, ketika keseimbangan lini pertahanan Leipzig lebih terjaga. Hasilnya, Leipzig di musim itu kebobolan paling sedikit di Bundesliga dengan hanya 32 gol saja.
Redup Di Munchen
Dengan transformasi Sabitzer yang sudah menjadi gelandang tengah, akhirnya membawanya sampai ke Munchen, yang ketika itu masih memerlukan gelandang tengah di bawah Nagelsmann.
Namun tak semudah yang diharapkan. Ia di Munchen selama ini hanya jadi pelapis. Performanya di bawah mantan bosnya Nagelsmann, nampak seperti kalah saing dengan para pemain Munchen lainnya. Hanya 54 pertandingan dengan 2 gol dan 2 assist, menjadikannya hanya pemanis di skuad Die Roten.
Adalah opsi terbaik bagi Munchen, ketika dirinya yang diinginkan MU sebagai opsi pinjaman. Meskipun tanpa opsi pembelian, Munchen dan Nagelsmann bisa melihat Sabitzer menempa menit bermain lebih di klub barunya, sambil mengevaluasinya di musim depan.
Kebutuhan MU Mendadak Saat Eriksen Cedera Lama
Di kubu MU, tentu jelas kenapa Ten Hag menginginkan kebijakan transfer jangka pendeknya ini. Ya, karena Eriksen. Tak dipungkiri pasangan Eriksen dan Casemiro adalah duo pivot yang mengantarkan era kebangkitan MU sekarang ini.
Dan celakanya, Eriksen mengalami cedera parah pergelangan kaki dan dapat dipastikan absen sekitar tiga bulan lamanya. Cedera Eriksen ini buat Ten Hag pusing. Pasalnya stok gelandang MU saat ini cukup terbatas. Apalagi MU punya jadwal yang sangat padat di tiga bulan ke depan. Cedera Eriksen ini benar-benar tak diperkirakan sebelumnya.
Dalam laman resmi MU, Ten Hag juga sempat mengatakan untuk bisa gerak cepat mendatangkan amunisi baru segera. Untungnya, masih ada waktu sehari, Ten hag bersama manajemen bergerak di Deadline Day transfer.
Ten Hag Pasrah
Namun, Ten Hag menyebut bahwa para fans MU tidak boleh berekspektasi terlalu tinggi terhadap pengganti Eriksen ini. “Saya rasa anda tidak pernah bisa menggantikan seorang pemain secara sempurna, karena setiap pemain memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri,” kata Ten Hag.
Ten Hag mengakui bahwa mencari gelandang di Deadline Day bukan perkara mudah. Jadi ia mempersiapkan diri dengan opsi terburuk.
Dan jangan salah, kalau pilihan Ten Hag dan manajemen itu hanyalah Sabitzer saja. Ternyata banyak juga lho pemain yang dihubungi pihak manajemen MU dan Ten Hag sebelum batas Deadline Day berakhir. Benar-benar darurat dan panik situasinya ketika itu.
Menurut laporan Express, United dikatakan sempat menanyakan kesediaan Ryan Gravenberch, namun Munchen menolak dan lebih menyodorkan Sabitzer. The Independent juga memberi kabar bahwa Ten Hag sempat menghubungi Isco. Namun keadaan Isco yang sudah berada di Berlin membuat Ten Hag cepat berpaling.
Sumber lain, Foot Mercato juga beri kabar bahwa Ten Hag mengontak Lyon untuk Houssem Aouar sebelum menghubungi Sabitzer. Namun, opsi pembelian dan gaji tinggi menjadi ganjalan. Di sisi lain, ada juga penawaran dari Atletico yang menyodorkan Yannick Carrasco. Namun untuk pemain ini, Ten Hag merasa tidak butuh. Karena ia lebih cari gelandang tengah.
Peran yang akan Diemban Sabitzer Dibawah Ten Hag
Situasi kepanikan di Deadline Day itu membuat tak sedikit yang berkomentar. Contohnya Paul Merson dari Sky Sports. “Jika Sabitzer sebagus yang diharapkan Ten Hag, tentunya ia bisa menembus tim utama Munchen. Apalagi pelatihnya adalah Nagelsmann,” kata Merson.
Merson juga membenarkan bahwa United bergerak secara panik di pasar transfer. Karena sebelumnya diketahui bahwa tidak ada ketertarikan apa pun terhadap Sabitzer sejak Ten Hag berada di United.
Terlepas dari kepenaikan itu, yang jelas kini percayakan saja pada ahlinya yang menggembleng pemain, yakni Ten Hag. Kebutuhan Ten Hag jelas untuk menambal Eriksen. Sabitzer adalah yang terbaik dari pasar transfer yang ada. Baik secara gaji maupun harga, karena hanya pinjaman.
Ten Hag mengatakan di Manchester Evening News bahwa Sabitzer nanti akan jadi teman baru Casemiro di sektor pivot MU dengan formasi andalan 4-2-3-1. Atributnya yang bisa Versatile bisa membuat Ten Hag lebih leluasa menempatkan Sabitzer.
Ia juga bisa produktif jika sewaktu-waktu difungsikan Ten Hag untuk lebih menusuk ke area depan. Namun idealnya kini, MU masih butuh menyeimbangakan lini tengah yang sudah kadung solid dikomandoi Casemiro.
Tenang saja, sama halnya seperti Weghorst, Sabitzer hanyalah opsi sementara bagi kebutuhan tim. Dan tentu, publik Old Trafford juga berharap di masa jangka pendek ini mereka bisa memberikan sumbangsih nyata seperti apa yang diharapkan.
Sumber Referensi : express, MEN 1, MEN 2, skysports, dailystar, onefootball, transfermarkt


