Tak banyak yang tahu tentang apa yang akan terjadi dalam sepakbola. Semua mengalir begitu saja. Pemain, lapangan pertandingan, hingga sebuah kompetisi di suatu negara, semuanya telah menelurkan cerita yang pada akhirnya menjadi sejarah. Kali ini, cerita dari Argentina semoga bisa membuat suasana yang ada lebih berharga. Waktu yang tersedia lebih bermakna, dan selembar harapan tetap terjaga.
Argentina, punya banyak cerita tentang pemain paling berprestasi. Satu yang tak kenali, mungkin adalah Luis Monti. Pria berwajah menarik dan dilengkapi dengan skil olah bola ciamik, pantas disematkan dalam diri Monti.
Lahir di Buenos Aires pada tahun 1901, Monti memulai kariernya di Huracan. Disana ia berhasil menyumbangkan gelar juara pada tahun 1921 sebelum pindah ke Boca Juniors. Bermain untuk Boca Juniors tidak memberikan banyak kenangan bagi Monti. Karena hari-hari nya hanya diisi dengan latihan dan pertandingan, tanpa mengangkat satu pun piala. Ia pun lalu hengkang ke San Lorenzo.
Saat bermain untuk tim tersebut, barulah ia mendapatkan sejumlah gelar juara. Tercatat, ia menambahkan sebanyak tiga gelar Liga Argentina lagi ke lemari pialanya.
Bakatnya sangat luar biasa. Monti banyak diperbincangkan, khususnya bagi para pecinta bola di Argentina. Semua menganggap Monti adalah pemain luar biasa dan sangat layak masuk ke tim nasional Argentina.
Benar saja, pelatih tim nasional Argentina saat itu, Angel Vazquez, tertarik untuk membawa Monti ke jajaran pemain terbaik seantero Argentina. Sang pelatih memutuskan untuk memanggil Monti guna memperkuat La Albiceleste pada tahun 1924.
Empat tahun berselang, ia yang diikutkan kedalam ajang Olimpiade, sukses persembahkan medali perak untuk Negeri Tango.
Monti, lagi-lagi terus kejutkan dunia. Ia yang berposisi sebagai gelandang dianggap memiliki kemampuan ganda. Selain baik dalam menyerang, Monti juga tak kalah hebat kala harus menjaga pertahanan dari serangan lawan.
Monti adalah pemain yang sangat cerdik. Jika diibaratkan, ia adalah idola di generisanya. Kecerdasannya terkadang melampaui batas hingga membuat siapapun terkesima.
Dua tahun setelah bergelut di ajang Olimpiade, Monti lalu dipanggil pelatih Argentina untuk melakoni laga Piala Dunia. Gelaran akbar tersebut tidak di sia-sia kan oleh Monti. Ia bergegas memakai sepatunya dan berlatih keras, agar bisa pentas secara antusias di ajang paling berkelas.
Monti yang juga bekerja di pemerintahan pandai membagi waktunya agar bisa tetap tampil sempurna bersama Argentina. Di ajang Piala Dunia 1930, Monti berhasil membawa timnas Argentina ke partai final. Dirinya pun harus menghadapi Uruguay yang menjadi tim yang masih kuat-kuat nya saat itu.
Namun hal tersebut tidak menjadi halangan baginya. Seperti diketahui, ia menjadi bintang Argentina di laga-laga sebelumnya. Seperti menjadi pencetak gol ke gawang Prancis, menghentikan laju bertenaga Meksiko, dan menjadi salah satu pemain terpenting dalam laga Argentina melawan Chile.
Di partai final melawan Uruguay, Monti sempat diisukan bakal absen akibat cedera. Namun ternyata kabar itu tidak benar. Ia turut tampil dan mampu membawa Argentina unggul di babak pertama.
Pertandingan yang diadakan di Montevidio itu disaksikan oleh lebih dari 60 ribu penonton. Pertandingan menarik karena kedua tim saling jual beli serangan. Namun di babak kedua, keadaan berbalik. Uruguay sukses mengambil alih pertandingan dan menang dengan skor 4-2.
Mimpi Monti pergi, begitupun mimpi para penggemar Argentina.
Setelah ditelusuri, ternyata para skuat Argentina sempat mendapat ancaman pembunuhan dari orang-orang tidak dikenal. Monti menyebut jika Argentina tidak mengalah, keluarga mereka akan dipastikan tidak selamat.
Namun disisi lain, ternyata Monti terus diperhatikan oleh seorang yang tidak biasa dari pinggir lapangan. Monti yang saat itu memiliki kehidupan biasa-biasa saja, langsung didatangi oleh Marco Scaglia dan Luciano Benetti.
Dua orang tersebut merupakan mata-mata profesional dari Italia. Setelah melakukan pertemuan dengan Monti, kedua orang itu membawa sang pemain ke Eropa. Ternyata, mereka menawarkan kehidupan mewah dan hidup yang menjanjikan jika sang bintang mau diajaknya ke Italia.
Lebih jelasnya lagi, iming-iming yang diberikan adalah gaji hingga 5.000 dollar AS perbulan, ditambah 50.000 dollar AS bila dia bisa memenuhi sejumlah klausul, seperti mencetak gol dan assist.
Hal itulah yang disebut berhasil membawa Monti hijrah ke Italia dan bergabung bersama Juventus.
Monti hengkang ke Eropa dan bergabung dengan Juventus pada 1932. Disana, aura kebintangannya sama sekali tidak hilang. Bersama raksasa Italia, Monti berhasil sumbangkan empat gelar Serie A. Itu terjadi pada musim 1931/32, 1932/33, 1933/34, dan 1934/35. Talentanya pun semakin dipuja setelah Si Nyonya Tua dibawanya menjuarai turnamen Coppa Italia pada 1937/38.
Raihan yang apik itu pada akhirnya membuat Monti masuk ke timnas Italia. Sebenarnya pemanggilan Monti bukan hal mengejutkan. Pasalnya, seperti yang sudah dijelaskan, ia memang sengaja dibawa ke Italia untuk tampil di Piala Dunia bersama Negeri Pizza.
Jika terbesit sebuah pertanyaan, saat itu perpindahan pemain antar-negara memang tak seketat sekarang.
Di Italia, Monti mengambil andil yang besar dalam formasi andalan sang allenatore, Vittorio Pozzo, dalam skema 3-2-3-2. Dalam perjalanannya, ia membantu Italia melibas lawan-lawan nya. Spanyol yang punya nama besar seperti Bosch, Langara dan Ricardo Zamora tak bisa berbuat apa-apa.
Austria yang punya gaya permainan disiplin dan taktik tak sembarangan, juga berhasil dihentikan.
Pada akhirnya, Italia melaju ke partai final dan berhadapan dengan Cekoslowakia. Kala itu, Monti kembali mendapat ancaman. Namun, bukan untuk mengalah, melainkan harus memenangkan laga final.
Di malam partai final, Monti dan seluruh rekan setimnya mendapat sepucuk surat dari Mussolini, pemimpin Italia yang mampu berbuat apa saja kala itu.
Isi suratnya kurang lebih adalah meminta tim nasional Italia keluar sebagai juara. Kalau tidak, maka jangan harap langkah mereka keluar pasca pertandingan akan selamat.
Bermain di hadapan lebih dari 50 ribu penonton, skuat Italia terlihat sangat bersemangat. Apalagi, mereka mendapat dukungan dari penggemar yang terus menyanyikan lagu kebanggaan.
Meski dihantui ancaman mengerikan, Monti dan para penggawa lainnya bermain tanpa beban. Italia mampu memenangi pertandingan dengan skor 2-1. Dua gol dari Raimundo Bibiani Orsi dan Angelo Schiavio di 10 menit terakhir, mampu menjungkirkan keunggulan Cekoslovakia yang unggul terlebih dahulu melalui aksi Antonin Puc.
Setelah itu, para pemain timnas Italia seolah menjadi raja.
Monti begitu bahagia. Ia mengatakan bahwa saat itu para pemain timnas Italia bisa mendapatkan semua yang diinginkan. Mobil, perhaisan, rumah mewah, hingga barang-barang berharga lainnya, semua bisa didapatkan hanya dengan satu suara.
Raihan trofi Piala Dunia itu memberikan sejarah bagi Monti. Selain berhasil menaruh satu trofi paling prestis di lemari pialanya, dirinya juga tercatat sebagai satu-satunya pemain yang tampil di dua final Piala Dunia, dengan dua negara berbeda.
Rekor tersebut tentu akan sangat sulit dipecahkan. Apalagi jika melihat peraturan persepakbolaan sekarang yang sudah semakin ketat.
Luis Monti, namanya abadi, gaya bermainnya layak dipuji, dan tentang semuanya yang telah diraih, ia pantas dihormati.


