Luis Alberto: Dari Bangku Cadangan Liverpool Menuju Panggung Tertinggi Italia

3 min read

Tak ada yang lebih indah dari sebuah pembuktian. Semua orang seringkali merasakan kejadian ketika mereka diremehkan. Tidak menyenangkan memang. Namun apa yang terjadi selanjutnya ada berada di tangan kita sendiri yang diremehkan. Ingin terus terpuruk dengan segala hinaan, atau memilih melanjutkan langkah dan bangkit demi bisa temui hal indah bernama pembuktian.

Dalam hal ini, Luis Alberto, bisa menjadi alasan, mengapa sebuah kerja keras untuk mencapai level pembuktian begitu diperlukan.

Luis Alberto merupakan pemain asal Spanyol yang lahir pada 28 September 1992 di  San Jose del Valle, Spanyol. Sebagai bocah yang tinggal di wilayah penuh dengan bakat sepak bola, Luis Alberto tentu tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk ikut masuk kedalam olahraga ini.

Tepat pada tahun 2004, dirinya lalu masuk ke akademi Sevilla. Tak mudah bagi Luis Alberto untuk kembangkan bakat. Butuh waktu baginya untuk kesankan pelatih, dengan cara mengabdi di tiap kelompok umur tim andalusia.

Namun begitu, saat dirinya masuk ke tim B Sevilla, ada pengamat bakat dari Barcelona yang terus memantau talentanya. Hasilnya, pada tahun 2013, Luis Alberto masuk kedalam skuat Barcelona B. Berbekal torehan 15 gol dari Sevilla, Alberto percaya diri untuk bisa naikkan pamor bersama salah satu klub terbesar di dunia.

Disana ia tampil cukup memukau. Bersama Barcelona B, Alberto tampil dalam 38 pertandingan dan berhasil mencetak 11 gol. Bukan capaian sembarangan untuk pemain yang tampil di tim terbaik Eropa.

Saat itu sebenarnya Alberto sudah disiapkan Barcelona untuk mengisi kedalaman skuat el Barca. Akan tetapi, talentanya segera diburu oleh tim asal Inggris, Liverpool. The Reds yang saat itu masih dilatih Brendan Rodgers cukup yakin dengan talenta Luis Alberto. Ia menganggap jika sang pemain yang kala itu belum genap berusia 21 tahun punya potensi untuk bisa menjadi pemain besar.

Dengan biaya lebih dari 6 juta pounds, Alberto resmi diboyong ke Anfield. Pada September 2013, sang pemain pun resmi melakukan debut di Liga Primer Inggris. Namun sayang, cerita nya disana tak berakhir bahagia. Ia yang banyak diharapkan tak benar-benar bisa beradaptasi.

Dia dianggap kurang maksimal hingga kesempatan main pun tak pernah mampir. Luis Alberto hanya memainkan total 11 laga untuk Liverpool, dimana 9 diantaranya di kompetisi liga, dan semuanya berawal dari bangku cadangan.

Liverpool merasa kecewa dengan Luis Alberto. Pemenang Liga Champions Eropa musim lalu ini mengharapkan sosok yang setidaknya elegan seperti Xabi Alonso. Namun apa yang terjadi berada diluar perkiraan. Ia kalah bersaing dengan nama-nama seperti Philippe Coutinho dan Raheem Sterling.

Alberto pun tidak menikmati masa-masanya di Liverpool, hingga dua musim berikutnya ia hanya pentas di Malaga dan Deportivo sebagai pemain pinjaman.

Saat tampil untuk Deportivo, permainan Luis Alberto sebenarnya berkembang cukup pesat. Ia tampil di lebih dari 30 pertandingan dan mencetak 6 gol, dimana aksinya berhasil menyelamatkan klub yang bermarkas di Stadion Riazor dari jerat degradasi.

Namun, Liverpool sepertinya tidak berniat untuk mengembalikannya. Apalagi, kursi pelatih klub sudah berpindah ketangan Jurgen Klopp.

Masa di Liverpool benar-benar membuat Luis Alberto frustasi. Ia seperti seorang yang tidak diinginkan dan berniat mengakhiri karirnya.

Namun pada akhirnya, Lazio datang sebagai dewa penyelamat. Elang ibukota membawa serta surat penawaran untuk mengajaknya terbang ke kompetisi Italia. Bukan hal mudah pula bagi Alberto untuk langsung nyetel dengan permainan Lazio. Ia yang digaet pada detik-detik akhir penutupan bursa transfer harus bersabar, karena saat itu Lazio masih punya skuat yang terlalu mumpuni untuk sekadar memberinya tempat.

Tapi, berkat tangan dingin Simon Inzaghi, Luis Alberto seperti terlahir kembali. Ditambah dengan bantuan Juan Carlos Campillo.

Pelatih mental, yang juga membantu tim nasional Spanyol tersebut, bekerja untuk Luis Alberto sejak memperkuat Livepool. Ketika berjumpa pertama kali, Campillo melihat Luis Alberto depresi. Itu adalah momen terendah dalam kehidupan gelandang 27 tahun tersebut. Sempat terlintas dalam pikirannya untuk pensiun dini.

“Dia kebingungan, nyaris pensiun. Dia bahkan tidak berpikir untuk jadi lebih hebat. Kesulitan ada untuk dipahami kemudian berupaya agar dapat mencapai target,” tutur Campillo (via investobet.com)

“Dia perlu membebaskan pikiran. Dia tidak gembira sebab tidak bermain. Masalah lainnya, dia tidak senang dengan relasi di ruang ganti. Luis belum terbiasa dengan kenyataan baru dan sepakbola Italia.”

Perlahan tapi pasti, berkat bantuan sang pelatih dan seluruh jajaran manajemen, Luis Alberto bisa kembali menemukan kebahagiaan dalam bermain bola. Ia bahkan bertekad untuk membuktikan diri di Italia. Dia datang ke tempat latihan lebih cepat dan sangat rajin menonton pertandingan.

Luis Alberto terus melatih diri dengan tetap berkonsentrasi. Perlahan tapi pasti, kepercayaan dirinya membaik dan ia bisa tampil dengan talenta yang sesungguhnya.

Meski awalnya susah menggeser posisi pemain hebat yang ada di Lazio kala itu, Luis Alberto terus mencari celah. Hasilnya, ia mulai sedikit mendapat perhatian, pasca kepergian Keita Balde dan Lucas Biglia dari ibukota. Selain itu, namanya juga semakin diperhitungkan pasca Felipe Anderson yang sempat menjadi andalan mengalami cedera putuskan hengkang.

Simone Inzaghi sebenarnya sempat kebingungan dalam temukan potensi Alberto. Namun berkat saran dari anak asuhnya, sang pelatih menjadi yakin bahwa Alberto telah berhasil memberi kenyamanan bagi para skuat asuhannya.

Dana empat juta euro yang dikeluarkan Lazio untuk memboyongnya terbayar sangat lunas. Seperti yang sudah dijelaskan meski diawal musim ia alami kesulitan, pada musim 2017/18, kesabaran dan kerja kerasnya berbuah sangat manis.

Dia tampil apik saat Lazio meraih titel Supercoppa Italiana dengan mengalahkan Juventus 3-2. Sejak saat itu, pelatih Simone Inzaghi semakin percaya bahwa dia layak dipertahankan di tim utama.

Keberadaannya benar-benar dibutuhkan. Ia menjadi pemain yang selama ini dicari tim. Berkat fleksibilitasnya yang bisa bermain di gelandang sentral, gelandang serang, winger maupun forward, penampilannya tak hanya dihargai di Italia, namun juga di tanah kelahirannya, Spanyol.

Pelatih tim nasional Spanyol saat itu, Julen Lopetegui, menghadiahi Alberto debut tim nasional senior ketika Spanyol mengalahkan Kosta Rika 5-0 pada bulan November 2017 lalu.

Kegemilangan Alberto semakin meningkat. Pada musim 2017/18, ia berhasil menyumbang 11 gol dan 14 assist dalam 34 penampilan di Serie A. Dia juga menyumbang satu gol dan lima assist dalam sembilan penampilan di Liga Europa.

Lalu pada musim berikutnya, pemain bertinggi 182 senti ini memang mengalami sedikit penurunan. Dia hanya mengukir empat gol dan lima assist dalam 27 penampilan di Serie A, dengan total 37 penampilan dan mencetak enam gol.

Namun pada musim ini, 2019/20, sebelum sebuah penyakit menular melanda dunia, ia menjadi salah satu aktor penting bagi konsistensi penampilan tim ibukota. Ia berhasil mencetak empat gol dan dua belas assist dalam 25 penampilan. Belum lagi satu gol dalam empat penampilan di kompetisi Liga Europa.

Luis Alberto tengah menikmati masa-masa indahnya di Lazio. Masa kelam di Liverpool akan selalu menjadi pembelajaran berarti dan bagian terpenting dalam hidupnya. Yang pasti, ia berhasil membuktikan, bahwa talentanya sama sekali tidak bisa diremehkan begitu saja.

Bangku cadangan Liverpool yang dulu begitu akrab dengannya, kini telah menjelma menjadi sebuah kursi kejayaan di wilayah ibukota Italia.

Kisah Cinta Unik Alvaro Morata: Dari DM Instagram Sampai Ke…

Cinta memang penuh misteri. Terkadang, kita tidak pernah menduga darimana cinta datang menggoda. Bagi para pemain sepakbola, kisah cinta mereka juga tak jarang memberi...
Garin Nanda Pamungkas
1 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *