Selayaknya cabang olahraga pada umumnya, sepak bola juga diciptakan dengan sederet peraturan yang berlaku guna menertibkan jalannya permainan. Sebagian besar penggemar kulit bundar pasti sudah awam dengan beberapa aturan dasar seperti durasi pertandingan normal 2×45 menit, lemparan ke dalam atau throw in dari tepi lapangan, atau pemberian hadiah kartu kuning dan merah bila pemain terbukti melakukan pelanggaran.
Namun, ada 5 peraturan unik tapi nyata yang mungkin belum banyak diketahui. Mungkin terdengar asing, tetapi kelimanya telah termaktub dalam buku aturan terbitan FIFA dan berlaku di berbagai kompetisi resmi. Peraturan ini bisa berdampak besar pada keberlangsungan laga. Jika salah satunya dilanggar, laga tidak bisa dimulai dan dilanjutkan.
Apa saja 5 peraturan tersebut? Mari kita bahas bersama. Namun sebelumnya, kalian bisa klik tombol subscribe dan nyalakan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan konten terbaru dari Starting Eleven.
Offside Tidak Berlaku di Area Pertahanan Sendiri
Pada umumnya, offside terjadi ketika pemain yang sedang menyerang berada di dekat area gawang lawan, sebelum rekan setimnya mengirimkan bola. Posisi offside juga diperjelas saat hanya ada kiper dari pihak lawan yang bertahan setelah posisi pemain penyerang. Saat situasi itu terjadi, hakim garis akan segera mengangkat bendera sebagai isyarat pada wasit untuk meniup peluit.
Aturan offside diciptakan guna mencegah pemain penyerang curi-curi kesempatan dengan cara stand by di zona pertahanan lawan. Meski begitu, aturan offside tidak serta merta berlaku di semua bagian lapangan pertandingan.
Aturan offside jadi tidak berlaku pada momen saat pemain penyerang masih berada di zona defence timnya sendiri. Lebih jelasnya, ketika pemain penyerang berdiri lebih dekat dengan kiper lawan dibanding pemain bertahan, ia terhitung tetap onside dengan catatan belum melewati garis tengah lapangan.
Contoh nyata dari aturan ini terjadi pada perhelatan semifinal leg kedua Liga Champions 2011/12 saat Barcelona ditahan Chelsea pimpinan Roberto Di Matteo 2-2 di Camp Nou. Pelakunya adalah striker legendaris Spanyol, Fernando Torres. El Nino kala itu berdiri lebih dekat dengan Victor Valdes dibanding dua bek Barcelona.
9 years ago today, Fernando Torres scored this breakaway goal against Barcelona to send Chelsea to the UCL final! 😯
(via @ChampionsLeague)pic.twitter.com/c8LpVCE0FV
— ESPN FC (@ESPNFC) April 24, 2021
Dengan posisinya yang mantap jiwa, Torres yang menerima bola lambung dari Ashley Cole seketika berlari hingga mendekati kotak penalti Blaugrana, mengelabui si botak Valdes, dan tanpa basi-basi melepaskan sepakan manja ke gawang yang kosong melompong. Unbelievable kalau kata pundit Gary Neville.
Penendang penalti tidak boleh melakukan rebound apabila kena tiang atau ditepis
Penalti adalah anugrah terindah yang dikirimkan wasit kepada sebuah tim. Biasanya karena pemain lawan melakukan pelanggaran atau handball di kotak 12 pas. Nah, ternyata ada aturan yang wajib diindahkan oleh sang algojo yang hendak maju one on one dengan kiper.
Ia tidak boleh melakukan rebound apabila bola yang ditendangnya mengenai tiang gawang atau ditepis kiper dan memantul kembali. Alasannya agar tidak terjadi double kick.
Alhasil, yang berhak untuk menyambar bola muntah itu adalah rekan setimnya yang paling dekat dengan jatuhnya bola. Jika algojo melanggar dengan tetap memanfaatkan bola rebound sendiri, ia berpotensi diganjar kartu kuning dan penaltinya tidak sah.
Meski begitu, ada momen kontroversial yang luput dari koreksi wasit terhadap aturan ini. Seperti yang terjadi pertandingan Liga 1 2019 antara Persija versus Persebaya di Gelora Bung Karno. Laga itu diwarnai penalti yang diterima Macan Kemayoran di menit ke 31.
Ujung tombak asal Kroasia, Marko Simic yang ditunjuk sebagai eksekutor jelas-jelas melakukan rebound. Bola yang dicocor sempat ditepis oleh Miswar Saputra dan memantul kembali, tetapi Simic tetap saja memasukkannya ke gawang.
Secara aturan Law of the Game dari Football Association Board (IFAB), seharusnya penalti itu tidaklah sah. Sayangnya, wasit yang memimpin saat itu tetap menganggapnya legal.
Setiap Tim Minimal Memiliki 7 Pemain di Lapangan untuk bisa main
Kata siapa sebuah tim harus beranggotakan 11 orang lebih dulu untuk bisa bermain bola? Punya 7 orang saja sudah cukup kok. Menurut FIFA Laws of the Game, sebuah tim dapat memulai kickoff dengan minimal 7 orang penggawa, termasuk kiper di atas lapangan.
Pertandingan tidak dapat dimulai atau dilanjutkan jika salah satu tim anggotanya kurang dari 7 pemain. Tim akan dinyatakan kalah jika pemainnya kurang dari tujuh. Ini berarti maksimal empat kartu merah dapat diberikan kepada pemain tim di lapangan dalam satu pertandingan.
Jika tim memiliki kurang dari tujuh pemain karena satu atau lebih pemain sengaja meninggalkan lapangan permainan, wasit tidak berkewajiban untuk menghentikan permainan dan keuntungan dapat dimainkan. Pertandingan tidak boleh dilanjutkan setelah bola keluar dari permainan jika tim tidak memiliki jumlah pemain minimum tujuh.
Jumlah Pemain Harus Sama Saat Adu Penalti
Kedua tim yang berlaga akan lanjut ke babak tos-tosan alias adu penalti untuk mencari pemenang apabila skor masih saja imbang hingga extra time 2×15 menit. Agar dapat memulai adu penalti, kedua tim harus memiliki jumlah pemain yang sama.
Jika sebuah pertandingan yang mempertemukan antara Tim A vs Tim B berakhir seri dan terpaksa lanjut ke adu penalti, sedangkan seorang pemain dari Tim A diberi kartu merah sehingga dikeluarkan dari lapangan, maka hanya 10 pemain saja dari Tim B yang dapat ikut serta mengambil tendangan 12 pas. Istilahnya harus ada yang dikorbankan.
#9July2006
110’ Straight red for #Zidane! Replays show he headbutted #Materazzi!! Elizondo had no choice! #ITAFRA pic.twitter.com/NVD69HsSGf— Italy ⭐️⭐️⭐️⭐️ (@Azzurri_En) July 9, 2016
Situasi seperti itu pernah terjadi saat final Piala Dunia 2006 di Jerman yang mempertemukan Italia vs Prancis. Laga itu menjadi ikonik hingga hari ini setelah Zinedine Zidane yang tersulut amarah menanduk dada Marco Materazzi. Zizou mendapat kartu merah dan Les Blues terpaksa kekurangan jatah 1 pemain.
Ternyata laga malam itu di Olympiastadion Berlin harus berlanjut hingga adu penalti. Suka atau tidak, Prancis harus melakukannya dengan 10 orang karena tidak bisa menambah amunisi. Agar adu penalti dapat diadakan, Gli Azzurri terpaksa mengorbankan 1 pemain dan orang itu adalah Gennaro “The Rhinos” Gattuso. Untungnya, Italia bersama Allenatore Marcello Lippi keluar sebagai pemenang dan angkat Piala Dunia keempat kali.
Bendera corner harus lengkap empat buah
Terakhir, ada aturan bahwa bendera corner harus lengkap di empat penjuru lapangan sebelum laga dimulai. Jika ada yang kurang jumlah, entah itu hilang atau rusak, maka panitia pertandingan harus mencari penggantinya. Wasit tidak akan memulai laga kalau penggantinya belum ada.
Ngomongin soal bendera corner, ada insiden yang dilakukan oleh striker Leicester City, Jamie Vardy. Dalam lanjutan Premier League musim 2020/21 menghadapi tuan rumah Sheffield United. Vardy berhasil mempersembahkan gol kemenangan The Foxes di penghujung laga. Ia lantas merayakan selebrasi dengan berlari ke tepi lapangan dan menendang bendera corner hingga patah.
Jamie Vardy absolutely destroyed the corner flag celebrating his last-minute winner 😅 pic.twitter.com/R6TSPUaBTv
— B/R Football (@brfootball) December 6, 2020
Entah sengaja atau tidak, wasit yang melihatnya lantas memberi Vardy teguran langsung berupa kartu kuning. Setelahnya, Vardy tampak memasang bendera corner yang baru agar laga bisa diteruskan meskipun tinggal tersisa beberapa menit saja.
Seusai laga bubar, Vardy angkat bicara dengan meminta maaf pada pendukung Sheffield dan insan sepak bola lainnya atas aksi euforianya tersebut.
Itulah 5 aturan unik tapi nyata yang ada dan berlaku di sepak bola. Dari kelimanya, aturan mana yang paling unik menurut football lovers? Atau ada aturan lain yang menurut kalian lebih unik?


