Musim panas tahun 2018, seorang pelatih yang disegani di dunia sepak bola, Marcelo Bielsa datang ke Elland Road, Inggris. Bukan untuk jalan-jalan, menonton Leeds United bertanding, atau sekadar berswafoto. Bielsa datang untuk mereparasi Leeds United yang sedang berada di titik nadir.
Leeds adalah raksasa Inggris yang sudah lama sekali tertidur lelap. Sang raksasa yang dijuluki The Whites itu hanya berkubang di kompetisi kasta kedua Liga Inggris. Mereka masih kesulitan untuk meraih tangga juara. Jangankan juara, lolos ke Premier League saja susahnya setengah mampus.
Daftar Isi
Hancurnya Leeds
Sejak 2004 Leeds United hampir hancur berkeping-keping. Klub mendapat masalah finansial. Keuangan mereka mengalami kehancuran. Dan pada saat itu, meski tiga tahun sebelumnya Leeds sukses mencapai semifinal Liga Champions, mereka justru terlempar dari Premier League.
Ironisnya, Leeds terpelanting dari Premier League setelah menghabiskan cukup banyak uang. Jadi, Leeds mestilah siap menghadapi musim anyarnya di kasta kedua dengan uang pas-pasan. Tiga tahun berselang Leeds United mencapai kenestapaan yang sesungguhnya.
Sulit untuk menyangka bahwa sang juara Liga Inggris tiga kali itu harus terbuang ke kasta ketiga. Itu adalah kali pertama Leeds harus bermain di tingkat ketiga sepanjang sejarah mereka. Leeds baru bisa kembali lagi ke Championship pada tahun 2010.
📅 #OnThisDay in 2010, #LUFC came back to defeat Bristol Rovers 2-1 and seal promotion from League One pic.twitter.com/GY88p6jgj6
— Leeds United (@LUFC) May 8, 2020
Kedatangan Bielsa ke Leeds
Kedatangan Bielsa pada tahun 2018, tentu saja ia langsung memiliki tugas setumpuk. Namun, siapa yang tahu bahwa manajer yang menandatangani kontraknya di Elland Road pada 14 Juni 2018 itu awalnya justru kena cibiran para fans.
Semua menyanksikan kualitas Bielsa. Apalagi ia adalah pelatih asal Amerika Latin. Di mana sosok pelatih asal Amerika acap kali dianggap sebelah mata, terutama oleh publik Eropa. Waktu itu, penggemar Leeds lebih menyukai sosok Pep Guardiola atau Mauricio Pochettino ketimbang Bielsa.
Apalagi Bielsa tak memiliki cukup trofi yang mentereng. Pertanyaan pun muncul, bagaimana Bielsa mampu membenahi Leeds, bahkan sampai membuat publik Elland Road bersuka cita?
Meski banyak yang menghujat, Bielsa tetap yakin bahwa keputusannya untuk melatih Leeds bukanlah kekeliruan. Menurutnya, Leeds bagaimanapun adalah klub yang penuh dengan sejarah. Walau hanya sebatas romantisme klasik.
Leeds, baginya, adalah klub yang sudah tertata reputasinya. Terutama ketika mendominasi pada sekitar tahun 1970-an, dan merasakan kejayaannya pada 1990-an.
Namun keraguan tetaplah keraguan. Betapapun Bielsa mencoba mencintai Leeds dengan romantisme klasik, tapi tetap saja, bagi banyak orang keputusan memilih Bielsa sebagai manajer adalah keputusan yang sangat beresiko.
“A man with new ideas is a madman, until his ideas triumph.” – Marcelo Bielsa.
He has taken Leeds back into the Premier League for the first time since their relegation in 2004. El Loco has triumphed. pic.twitter.com/pgIjuScdQN
— Jonas Adnan Giæver (@CheGiaevara) July 17, 2020
Pembuktian Bielsa
Resiko itu kemudian ditangguhkan dengan cara menantang Bielsa. Pelatih berpaspor Argentina itu ditantang untuk bisa membangkitkan Leeds. Setidaknya mengakhiri setengah dekade berkubang di kompetisi kasta kedua, untuk bisa naik ke tingkat teratas. Sebagai imbalannya Leeds berani membuat Bielsa sebagai manajer dengan bayaran termahal.
Namun, gaji bukan prioritas Bielsa. Manajer gaek itu justru memilih kontrak minimal, alih-alih dengan gaji tertinggi. Sebab melatih Leeds bisa menjadi jalan keluar bagi Bielsa untuk meningkatkan citranya di Eropa.
Terlebih Leeds adalah klub dengan basis penggemar yang fanatik. Maka, pekerjaannya itu dianggap Bielsa memancarkan daya tarik yang romantis. Gaya dan dedikasi adalah nilai jual Bielsa.
Marcelo Bielsa adalah sosok masyhur pemikir modern dengan taktiknya yang dianggap inovatif sejak 1990-an sampai hari ini. Bielsa memulai membangun Leeds dengan metode yang “keras”. Para pemain “dipaksa” tinggal di hotel terdekat tempat latihan selama tiga sesi di pekan-pekan awal ia melatih.
Ia meminta pemain untuk menurunkan berat badan. Tentu agar para pemain mampu menjalankan skema yang ia rancang sedemikian rupa. Bagi Bielsa, berat badan adalah yang utama, karena kalau kebanyakan lemak pemain bakal kesulitan menerapkan strategi penguasaan bola. Dengan kata lain, pemain jadi gampang lelah.
Awal kariernya di Leeds, Bielsa menerapkan cara yang sedikit kotor. Ia mengirim staf untuk menyaksikan sesi latihan klub lain di Championship. Karena itu, Leeds justru yang didenda 200 ribu pounds (Rp 3,8 miliar) oleh Football League.
Namun, Bielsa tak tahu kalau tindakan semacam itu termasuk tercela. Sebab menurutnya, melihat persiapan tim lawan adalah hal yang lumrah di Argentina. Bielsa bukan tanpa alasan mengirim stafnya ke setiap klub yang latihan.
Ia membutuhkan data yang konkret untuk melakukan analisis. Kemudian ia bisa briefing dengan para pemain secara detail.
“Kami pikir dengan melakukan itu dan mengumpulkan informasi, kami semakin dekat dengan kemenangan, meskipun kami tahu itu tidak benar,” kata Bielsa dikutip FourFourTwo.
Namun, hal tersebut tetap ia lakukan. Bielsa membutuhkan potongan video latihan lawan menganalisisnya. Ia bahkan punya cara yang cukup radikal dengan meminta para pemain beserta staf Leeds agar menginap di hotel menjelang malam pertandingan.
Setiap malam sebelum pertandingan, ia meminta empat analis untuk memotong video yang dikirimkan stafnya. Klip video itu akan dibagikan kepada para pemain Leeds sesuai tupoksinya melalui WhatsApp.
Perubahan Besar
Bielsa memberikan banyak sekali perubahan bagi Leeds. Selain hal-hal yang menyangkut filosofis, ia juga mengubah gaya main dan taktik Leeds. Pria Argentina itu menerapkan formasi 4-1-4-1 ketika menghadapi lawan dengan satu striker. Atau ia juga menggunakan formasi 3-3-1-3 saat lawan menggunakan dua striker. Formasi tersebut yang membuatnya dijuluki “El-Loco”.
Ia juga punya andil besar dalam perekrutan Patrick Bamford dari Middlesbrough, dan kiper dari akademi Madrid, Kiko Casilla. Hebatnya, Bielsa bukanlah sosok manajer gaek yang keras kepala. Ia selalu terbuka untuk inovasi-inovasi taktik.
Bielsa mengakui sosok manajer seperti Chris Wilder. Ia mengaku terkesan setelah melihat penggunaan bek tengah yang tumpang tindih oleh Wilder di Sheffield United. Namun, ia sendiri menyerah karena tak mampu menerapkan taktik Wilder itu ke Leeds.
Akan tetapi, Bielsa sudah terlanjur membuat perubahan besar di Leeds. Ia berhasil membawa Leeds yang sebelum Natal 2018 terseok di peringkat bawah EFL Championship perlahan merangsek ke papan atas. Ia menyempurnakan musim 2018/19 dengan membawa Leeds United finis di peringkat ketiga Championship.
Namun, itu sudah cukup menumbuhkan bibit kepercayaan dari penggemar. Dan hal itu sanggup memperpanjang nafasnya di The Whites. Setelah “bersih-bersih” di Leeds United, dan melakukan perombakan signifikan, akhirnya Bielsa sampai pada masa emasnya di Elland Road.
Leeds United lift the Championship title at Elland Road 🏆 pic.twitter.com/C4d47gPsQP
— Sky Sports News (@SkySportsNews) July 22, 2020
Setahun berselang, ia sukses membawa Leeds United juara EFL Championship musim 2019/20. Otomatis itu mengembalikan Leeds ke tempatnya yang semestinya. Sayangnya, kegembiraan itu tak sampai lima musim.
Bielsa justru seperti terserang penyakit pikun. Performa Leeds kembang kempis, dan di musim ini justru cenderung menurun. Bielsa, mungkin sudah mencapai fasenya untuk dipecat. Persaingan di Liga Premier yang ketat, membuat manajemen Leeds tidak sabaran, dan memutuskan mengakhiri kisah manis Marcelo Bielsa.
Itu artinya, apa yang sudah dibangun Bielsa selama sekitar tiga musim di Leeds runtuh begitu saja. Sementara, Leeds dengan pelatih anyar harus memulai lagi dari awal dan para pemain harus beradaptasi lagi. Setidaknya, metode Jesse Marsch bakal berbeda dari Bielsa. Kalau begitu, pertanyaannya adalah bisa apa Leeds United tanpa Marcelo Bielsa?
https://youtu.be/4_mssZsDagk
Sumber referensi: fourfourtwo.com, bbc.com, thesefootballtimes.co, football-espana.net


