Kontroversi Pengurangan Peserta Serie A

spot_img

Gonjang-ganjing terjadi di Serie A. Rencana pengurangan peserta dari 20 tim menjadi 18 tim menimbulkan polemik. Ada yang mendukung, tapi tak sedikit yang menolak. 

Pertanyaanya, mengapa ide ini muncul? Siapa yang pertama kali mengusulkan agar peserta Serie A dikurangi menjadi 18 tim saja?

Ide yang Muncul dari FIGC

Rencana untuk mengurangi peserta Serie A menjadi 18 tim pertama kali dilontarkan oleh Presiden Federasi Sepak Bola Italia atau FIGC, Gabriele Gravina. Ketika diwawancara RAI Radio 1, Gravina mengatakan bakal ada potensi jumlah peserta Serie A dikurangi dari 20 tim menjadi 18 tim.

Berbagai pertimbangan sudah ia lakukan. Ide itu pun sejatinya juga bukan sepenuhnya berasal dari presiden FIGC. Melainkan datang dari tim-tim raksasa. Tim seperti AC Milan, Juventus, Inter, dan AS Roma adalah yang pertama kali mendorong jumlah peserta Serie A dikurangi.

Para petinggi keempat tim itu bahkan sudah lebih dulu bersuara. Presiden AC Milan, Paolo Scaroni misalnya. Dilansir Football Italia, Scaroni menilai ide untuk mengurangi peserta Serie A menjadi 18 tim tidak dapat dihindari.

Ia mendesak pengambil kebijakan untuk melindungi klub dan pemain dengan jumlah pertandingan yang lebih sedikit. CEO Inter, Beppe Marotta setuju dengan itu. Bahwa pengurangan tim Serie A diperlukan untuk mengurangi jadwal padat. Sebab tim-tim seperti Inter dan AC Milan akan menghadapi sesaknya jadwal kompetisi.

Efek Penambahan Peserta Liga Champions

Dengan banyaknya jadwal pertandingan, itu akan memberi tekanan tinggi pada tingkat kebugaran pemain. Apalagi format Liga Champions akan berubah di musim 2024/25.

UEFA telah mengumumkan bahwa musim depan Liga Champions akan menggunakan format baru. Mulai musim 2024/25 Liga Champions tidak hanya diikuti oleh 32 tim, tapi akan bertambah menjadi 36 tim.

Fase grup dihapus digantikan League Phase, di mana seluruh tim akan digabung dalam satu klasemen. Nah, setiap tim akan memainkan delapan pertandingan sesuai hasil drawing. Empat laga kandang dan empat laga tandang. Pertandingan pun menjadi lebih banyak dari format sebelumnya, di mana setiap tim hanya bermain enam kali di fase grup.

Oleh sebab itu, tim-tim raksasa Serie A yang notabene penghuni tetap Liga Champions mengusulkan agar peserta Serie A dikurangi. Hal itu juga agar tim-tim Serie A kembali bisa bersaing di Eropa.

Ditentang Tim-Tim Kecil

Dengan mengurangi jumlah peserta Serie A, betul bahwa setiap tim akan menjalani laga lebih sedikit. Namun, itu hanya akan menguntungkan tim besar. Mereka yang terbiasa di kompetisi Eropa senang setengah mampus mendengar ide ini diusulkan oleh Presiden FIGC. Tapi bagaimana dengan tim kecil?

Urbino Cairo, presiden Torino menentang usulan yang menurutnya tidak masuk akal. Dilansir ESPN, Cairo bahkan menuding sikap tim-tim yang mengusulkan pengurangan peserta Serie A sama sekali tidak bisa dibenarkan. Mukegile kalau kata orang Betawi. 

[Cuplikan wawancara Presiden Torino, Urbino Cairo, tidak perlu di-VO]

Urbino Cairo: “18 tim? Saya pikir Inter, Juve, dan Milan ingin membuat Serie A tampak seperti Liga Super [Eropa]”

Sementara itu, Presiden Lecce, Saverio Sticchi Damiani menilai, ide ini hanya akan mematikan kesempatan tim-tim kecil untuk bermain di kasta tertinggi. Itu tampak masuk akal. Sebab kalau tidak bermain di kasta tertinggi, dari mana lagi tim seperti Lecce mencari penghidupan?

Tim seperti mereka juga toh hampir mustahil bisa menembus kompetisi Eropa. Tak usah muluk-muluk Liga Champions, play off Liga Konferensi Eropa saja fatamorgana bagi tim sekelas Lecce, Empoli, Verona, hingga Cagliari.

[Cuplikan wawancara Presiden Lecce, Saverio Sticchi Damiani, tidak usah di-VO]

Saverio Sticchi Damiani: “Saya menentangnya seperti klub-klub menengah kecil lainnya. Saya tidak mengerti mengapa kita harus menolak begitu banyak tim yang mempunyai peluang untuk bermimpi.”

Sudah Ada Sejak Dulu

Jika Presiden FIGC mendukung pengurangan peserta Serie A, lain halnya dengan otoritas liganya. Presiden Serie A, Lorenzo Casini seperti dikutip ESPN justru berpendapat sistem tersebut tidak selaras dengan bobot ekonomi.

Sebagai gantinya, presiden Serie A itu mendorong FIGC untuk merumuskan model baru yang dikatakan bisa menyerupai Premier League. Hal itu akan disampaikan pada rapat umum yang akan digelar 11 Maret mendatang.

Memang, perubahan format dari 20 tim menjadi 18 tim tampak mengejutkan di Serie A. Tapi kalau ditelisik lebih jauh, ide ini sudah ada sejak dulu. Bahkan sebelum Gravina menjabat presiden FIGC.

Tahun 2016, presiden FIGC kala itu, Carlo Tavecchio mengusulkan jumlah peserta Serie A dikurangi. Alasannya waktu itu adalah untuk menutupi kesenjangan dengan Premier League dan La Liga. Terutama di panggung kontinental dan dunia.

Serie A memang pernah cuma diikuti oleh 18 tim saja. Itu terjadi selama 16 musim dari tahun 1988 hingga 2004. Dampaknya dalam rentang waktu tersebut, Italia memiliki wakil lebih banyak di final Liga Champions dengan 11 tim dibandingkan negara-negara lain.

Hal yang sama juga terjadi di Piala UEFA atau Liga Eropa. Biar bagaimanapun penampilan setiap tim di kompetisi Eropa masih menjadi barometer kesuksesan suatu liga. Nah, setelah diperluas pesertanya menjadi 20 tim dan dipatenkan sejak 2004, Italia justru melempem di kompetisi Eropa.

Tengok saja, sejak 2004, hanya enam kali tim Italia sampai ke partai final Liga Champions. Ironisnya cuma ada dua tim Italia yang bisa meraih juara sejak saat itu: Inter dan AC Milan. Parahnya lagi cuma Inter, AC Milan, dan Juventus tim Italia yang bisa menyentuh final sejak tahun 2004.

Sudah Sering Dikritik

Dari awal berdiri, Serie A memang sering bergonta-ganti jumlah peserta. Tahun 1929-1934 ada 18 tim, setelah itu hingga 1943 menjadi 16 tim. Sejak 1946-1947 menjadi 20 tim, semusim setelahnya 21 tim. Kemudian pada tahun 1948-1952 kembali menjadi 20 tim.

Namun, pada tahun 1952-1967 berubah lagi menjadi 18 tim. Lalu dari 1967-1988 berubah menjadi 16 tim lagi. Dari tahun 1988-2004, Serie A memiliki 18 tim, sebelum akhirnya dipatenkan menjadi 20 tim.

Setelah bertahan dengan format 20 tim dari 2004, format ini pun banyak dikritik. Usaha untuk mengurangi jumlah peserta beberapa kali diusulkan. Namun, selalu gagal sebagaimana tahun ini. Usulan pengurangan peserta ditolak oleh 16 tim Serie A. Hanya AC Milan, Inter, AS Roma, dan Juventus yang mendukung rencana tersebut.

Bagaimana Jika 18 Tim?

Rencana pengurangan tim Serie A memang resmi ditolak. Tapi tidak menutup kemungkinan usulan itu muncul lagi. Terlebih tim-tim raksasa juga merasa punya kekuatan karena setiap tim setidaknya menyumbang 12% pendapatan Serie A, seperti apa yang pernah dikatakan Presiden AC Milan. Lalu, bagaimana jika Serie A cuma diikuti 18 tim?

Hanya Bundesliga yang memakai format 18 tim dari lima liga top Eropa. Ligue 1 baru memulainya musim ini. Berkaca pada Bundesliga, jadwal menjadi tidak terlalu padat karena setiap tim hanya akan bermain sebanyak 34 pertandingan.

Kebugaran pemain juga masih bisa diatasi. Namun dengan hanya 18 tim, cuan yang masuk ke pengelola liga tidak banyak. Imbasnya hadiah yang diterima sedikit. Misal, musim lalu Manchester City yang menjuarai Liga Inggris memperoleh hadiah 198 juta euro (Rp3,3 triliun), sedangkan Bayern Munchen yang juara Bundesliga hanya mendapatkan 76,47 juta euro (1,2 triliun).

Sumber: Citizens, Football-Italia, FootballGhana, SempreInter, Goal, OneFootball, Bolanet, TopSoccerBlog, Mirror

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru