Perjalanan timnas Inggris di ajang akbar Piala Eropa 2020 boleh dibilang nyaris sempurna. Mereka sama sekali tidak pernah tersentuh kekalahan dan baru kebobolan sekali saja di babak semifinal kemarin melawan timnas Denmark. Pada laga yang digelar di Stadion Wembley itu, gawang Jordan Pickford berhasil dibobol oleh Mikkel Damsgaard saat laga berjalan selama setengah jam.
Beruntung, Inggris mampu menyamakan kedudukan lewat gol bunuh diri Simon Kjaer pada menit ke 39. Meski pertandingan sempat dilanjutkan hingga ke babak tambahan, Inggris berhasil mengunci kemenangan usai Harry Kane berhasil mencetak gol pada menit ke 104.
😎 The EURO 2020 final is set!
🇮🇹🆚🏴 Italy versus England at Wembley Stadium on Sunday 🔥
Who is lifting the 🏆❓#EURO2020 pic.twitter.com/tYSEzNjAkI
— UEFA EURO 2020 (@EURO2020) July 7, 2021
Namun setelah Inggris berhasil memastikan satu tempat di partai final bersama dengan timnas Italia, banyak penggemar sepakbola yang menyayangkan kinerja wasit di laga itu. Mereka mengatakan bila seharusnya Inggris tidak mendapat hadiah penalti, karena pemain Manchester City, Raheem Sterling, dianggap sengaja menjatuhkan diri di dalam kotak penalti Denmark demi mendapat keuntungan.
Hasilnya, Inggris mendapat hadiah tendangan penalti dan berhasil membalikkan keadaan, meski sebelumnya tendangan dua belas pas Harry Kane mampu ditepis oleh Kasper Schmeichel.
Inggris Lolos Lewat Kontroversi
Pada pertandingan melawan Denmark, Inggris tampil percaya diri sejak awal laga. Akan tetapi, Denmark tidak terdiam begitu saja. Mereka sempat melancarkan sejumlah ancaman meski belum juga temui sasaran. Babak pertama yang pada akhirnya selesai dengan skor imbang 1-1, membuat paruh kedua terlihat lebih ketat.
Dalam hal ini Kasper Schmeichel menjadi kendala utama bagi timnas Inggris. Dia melakukan sejumlah penyelamatan untuk menggagalkan percobaan yang dilakukan para penggawa tim tiga singa.
Seperti yang sudah disinggung di awal, Inggris akhirnya berhasil menutup pertandingan dengan kemenangan lewat rebound Harry Kane dari penaltinya sendiri pada menit ke-104 di babak tambahan.
Meski pada akhirnya mampu menjadi tim yang lolos ke final, sekali lagi, kemenangan timnas Inggris banyak diprotes oleh penggemar sepakbola. Hal itu memang terasa wajar setelah terdapat sejumlah kontroversi dalam laga yang digelar di Stadion Wembley, utamanya ketika Inggris berhasil mencetak gol di babak tambahan.
Ya, dalam pertandingan ini, kontroversi yang paling disorot adalah ketika Raheem Sterling dianggap dilanggar Joakim Maehle pada menit ke-102. Sebelum terjadi pelanggaran itu, terdapat dua bola di dalam lapangan. Selain bola yang dibawa oleh Raheem Sterling, ada lagi bola lain yang terletak di dekat sudut lapangan di sektor kiri pertahanan Denmark. Namun begitu, wasit dan hakim garis memilih untuk tidak menghentikan pertandingan setelah menganggap bola kedua tidak mengganggu jalannya permainan.
Penjelasan Laws of the Game apabila ada dua bola di lapangan: Law 5 – Ouside interference
Apabila ada bola ekstra, objek lain, atau binatang masuk ke lapangan selama laga, wasit harus:
– Menghentikan laga (mulai lagi dgn drop ball) hanya bila hal tsb mengganggu permainan. pic.twitter.com/jeb0ldMMTC
— Firzie A. Idris (@firzieidris) July 7, 2021
Kontroversi berikutnya adalah penalti yang diberikan kepada timnas Inggris itu sendiri. Saat Raheem Sterling terjatuh di dalam kotak penalti Denmark, wasit asal Belanda Makkelie memberi Inggris hadiah tendangan penalti. Padahal bila diperhatikan secara seksama, terlihat kontak antara Sterling dengan pemain Denmark Maehle sangatlah minim.
Dalam hal ini, pelatih legendaris asal Prancis, Arsene Wenger, juga menyadari bila wasit Makkelie telah membuat keputusan yang tidak benar. Wenger mengatakan bila itu bukanlah penalti. Dia bahkan terheran mengapa VAR tidak bisa membuat sang pengadil lapangan mengambil keputusan yang tepat.
“No penalty, I don’t understand why VAR has asked the referee to look at it!”
Arsene Wenger has had his say on that England penalty… #beINEURO2020 #ENGDEN #EURO2020
Watch Now – https://t.co/RRmQgctETJ pic.twitter.com/cYiv030Aw4
— beIN SPORTS (@beINSPORTS_EN) July 7, 2021
Satu lagi kontroversi yang tak kalah menghebohkan adalah, saat Harry Kane akan melakukan tendangan penalti, tiba-tiba kiper Denmark Kasper Schmeichel menjadi korban sinar laser hijau dari salah seorang suporter Inggris. Terlihat sang kiper sempat kehilangan fokus ketika sinar laser tersebut tertuju tepat ke arah wajahnya.
Schmeichel says the laser was shone on him long before the penalty 😕https://t.co/NTCEDzWDjp
— SPORTbible (@sportbible) July 9, 2021
Meski berhasil memblok tendangan penalti Harry Kane, kiper berusia 34 tahun itu gagal mengamankan bola kedua yang disontek penyerang Tottenham Hotspurs.
Buntut dari tindakan tak bertanggung jawab itu, UEFA telah mengumumkan akan segera mengusut kasus sinar laser yang dilakukan penggemar Inggris. Jika terbukti bersalah, maka badan tertinggi sepakbola Eropa itu tidak akan segan untuk memberi sanksi kepada Inggris.
“Kasus ini (laser dan pelanggaran yang dilakukan pendukung Inggris) akan ditangani oleh UEFA, Badan Kontrol, Etika dan Disiplin [CEDB] pada waktunya,” bunyi pernyataan UEFA (via Sky Sport)
Italia Sebut Ada Konspirasi
Jelang laga final Piala Eropa 2020, Italia sebagai lawan yang bakal dihadapi timnas Inggris pun ikut merasa resah dengan apa yang terjadi pada laga Inggris melawan Denmark. Melansir dari CNN, media Italia bahkan mengklaim ada konspirasi UEFA yang sengaja menjadikan timnas Inggris juara turnamen.
Klaim tersebut disampaikan oleh salah satu media ternama di Negeri Pizza, La Gazzetta Dello Sport. Media tersebut mengatakan bila ada konspirasi UEFA bakal memberikan gelar juara kepada Inggris, setelah pejabat Inggris memberi dukungan kepada UEFA untuk menolak adanya kompetisi European Super League.
Italian press fear UEFA conspiracy for England to win Euro 2020 as a reward for ending the Super League #ITAENG #mdranasheikhDM #digitalmarketer pic.twitter.com/ks8igrfF7l
— Mohammad Rana Sheikh (@mdranasheikhDM) July 9, 2021
Seperti diketahui, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan Menteri Kesehatan Inggris Sajid Javid menyatakan dukungan kepada UEFA yang menolak adanya usulan kompetisi ESL, dimana kompetisi itu dicanangkan oleh sejumlah klub besar Eropa, termasuk yang berasal dar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Manchester City, Arsenal, Tottenham Hotspur, dan Chelsea.
“Dalam turnamen Euro yang diselenggarakan dan diatur untuk Inggris, tidak mengherankan penalti yang sangat murah hati yang meluncurkan tim Gareth Southgate menuju final pertama mereka setelah 55 tahun,” tulis La Gazzetta Dello Sport
Dengan begitu, media Italia tersebut percaya bila gelar juara Piala Eropa merupakan balasan yang setimpal atas dukungan yang diberikan pejabat Inggris terkait isu kompetisi ESL beberapa waktu lalu.
“Bagi Inggris ini adalah turnamen kandang, tapi mereka harus bermain melawan Italia dan mereka khawatir. Roberto Mancini harus memperhitungkan dua hal: konsistensi lawan dan angin politik yang berhembus.”
“Perdana Menteri Inggris Boris Johnson tercatat dalam sejarah sebagai orang yang menyelamatkan sepak bola Eropa. Sebuah balasan [dari UEFA] akan logis. Kita mungkin berpikir buruk, kita mungkin berdosa, tapi lebih baik daripada menjadi bodoh,” tulis La Gazzetta Dello Sport.
Kritik Juga Datang Dari Legenda Skotlandia
Tidak hanya Italia yang menganggap bila ada konspirasi yang menyebut UEFA bakal mengeluarkan Inggris sebagai juara kali ini, namun teori yang sama juga hadir dari mantan striker Skotlandia, Craig Burley.
Burley menyatakan kecurigaannya kepada UEFA yang seolah memuluskan jalan Inggris di turnamen Piala Eropa 2020 ini.
Former Scotland star Craig Burley moans it’s ‘not fair’ that ‘supposedly elite’ England have been able to play most Euro 2020 games at their Wembley home, and howls ‘what the hell is that all about from UEFA?’. Yeah, me too😂 pic.twitter.com/bH1ksDXpYA
— Football Rationale (@FootballRation1) July 5, 2021
Dilansir dari goal, Burley menyebut kalau Inggris akan jadi pemenang di ajang ini. Dia melihat ada beberapa hal yang membuat jalan Inggris tampak mulus, yang salah satunya hadir dari keuntungan tuan rumah yang didapat.
Menurut Burley, UEFA dianggap terlalu berlebihan dalam membiarkan Inggris untuk memainkan enam dari tujuh pertandingan di Stadion Wembley.
Dalam hal ini, Burley turut menyadari bila Denmark juga memainkan sebagian besar pertandingan mereka di Kopenhagen, Italia juga memiliki keistimewaan yang sama bermain di Roma, karena Euro tahun ini memang menggunakan format tuan rumah serentak di beberapa negara. Namun, pemberian kesempatan timnas Inggris untuk tampil di Stadion Wembley disebut lebih banyak dari perkiraan. Inggris hanya meninggalkan Wembley di laga melawan Ukraina. Itu pun tidak lantas menguntungkan skuad asuhan Andriy Shevchenko mengingat laga digelar di Roma.
Meski Burley mengaku tidak memiliki masalah dengan timnas Inggris, dia berharap bisa menuntut keadilan untuk negara lain yang telah bertandang ke berbagai stadion di sepanjang gelaran Euro 2020.
Sumber referensi: scotsman, goal, cnn, givemesport


