Kisah Steve Savidan : Si Tukang Sampah Yang Jadi Topskor Tiga Divisi

  • Whatsapp
Kisah Steve Savidan : Si Tukang Sampah Yang Jadi Topskor Tiga Divisi
Kisah Steve Savidan : Si Tukang Sampah Yang Jadi Topskor Tiga Divisi

Pada era 2000-an, Prancis pernah punya sosok tajam dalam diri Thierry Henry, David Trezeguet, dan Nicolas Anelka. Ketiganya adalah striker dengan nama besar. Namun pada masa itu Prancis sebenarnya juga mempunyai striker hebat lainnya. Dia bernama Steve Savidan, striker yang juga berprofesi sebagai tukang sampah namun sukses menyabet gelar top skor liga.

Steve Savidan barangkali menjadi penyerang langka yang ada di dunia. Pasalnya, ia merupakan striker yang bisa menjadi raja gol di tiga divisi berbeda dalam tiga tahun beruntun. Sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh penyerang Prancis lainnya.

Steve Savidan lahir pada 29 Juni 1978 di Angers, Prancis. Ia mengawali karirnya di klub kampung kelahirannya, Angers SCO pada 1998. Di musim perdananya, ia mampu melesakkan 14 gol dari 33 laga bagi Angers.

Torehan tersebut membuatnya diboyong Chateauroux yang kala itu berlaga di kasta kedua. Namun, karirnya di klub tersebut kurang memuaskan, karena sikap buruk Savidan yang sering berkelahi dengan pelatih. Selain itu, ia juga kerap mengecewakan pelatih karena kemandulannya.

Alhasil, ia pun dipinjamkan ke berbagai klub sebelum dilepas ke tim amatir Angouleme pada 2003. Angouleme adalah klub yang waktu itu bermain di kasta keenam Liga Prancis.

Bermain di klub amatir membuat kehidupan Savidan tidak sesuai harapan. Pendapatannya pas-pasan. Jangankan untuk membeli barang-barang mewah, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya saja tidaklah cukup.

Untuk mendapatkan uang tambahan, Savidan terpaksa menekuni pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan sepak bola. Tiap pagi, sebelum berlatih, Savidan harus mengerjakan kerja sampingan sebagai pengumpul sampah. Selain itu, ia juga bekerja di bar.

Keberuntungan mulai menghampirinya pada tahun 2004 ketika direkrut klub divisi ketiga Prancis, Valenciennes. Di klub ini Savidan mulai belajar menjadi pemain profesional. Kebiasaan Savidan yang sering datang ke klub malam pun mulai ditinggalkan. Kerja keras dalam latihan dan pertandingan menjadi menu hariannya. Hasilnya pun segera terlihat, ketajaman Savidan meningkat pesat.

Di musim perdananya bersama Valenciennes, Savidan berhasil mencetak 19 gol dan menjadi top skorer serta membawa timnya promosi ke Ligue 2. Pada musim berikutnya, bermain di kasta kedua Prancis, Savidan kembali menunjukan kualitas jempolan sebagai seorang striker. Ia sukses membawa Valenciennes menjuarai Ligue 2 dan promosi ke Ligue 1 atau kasta tertinggi sepak bola Prancis.

Tak hanya itu, Savidan juga kembali mengukir catatan emas yakni menjadi topskor dengan 16 gol bersama dengan striker Le Havre, Jean-Michel Lesage. Berkat ketajamannya, Savidan dijuluki ‘Savigol’ oleh pendukung Valenciennes.

Pada musim berikutnya, 2006/07, Savidan mengarungi kompetisi elite sepak bola Prancis bersama Valenciennes. Meski Valenciennes agak terseok dan hanya mampu bertengger di posisi ke-17 dari 20 tim, Savidan sama sekali tidak kehilangan keganasannya di depan gawang. Dia berhasil mencetak 13 gol untuk timnya, yang mengantarnya menjadi pencetak gol kedua terbanyak di ajang Ligue 1 di bawah Pauleta.

Menetap di Valenciennes, Savidan membuka sebuah restoran bernama K9 (K untuk istrinya Karine, dan 9 untuk nomor punggungnya). Namun, ia menandatangani kontrak dengan SM Caen pada musim panas 2008 dengan biaya yang dilaporkan sebesar 5 juta Euro. 

Beberapa bulan kemudian, Savidan sempat dipanggil pelatih Timnas Prancis, Raymond Domenech untuk laga persahabatan melawan Uruguay pada 13 November 2008. Savidan yang saat itu berusia 30, main di babak kedua. Laga melawan Uruguay menjadi satu-satunya caps Savidan bersama Les Blues.

Savidan mengaku bangga dengan pencapaiannya tersebut. Pasalnya, empat tahun sebelumnya ia pernah bekerja sebagai tukang sampah ketika bermain untuk klub Divisi 6 Liga Prancis, Angouleme CFC.

“Saya lahir di waktu yang sama. Saya dari generasi yang sama dengan Thierry Henry dan Nicolas Anelka. Ketika itu, Anda harus punya tinggi di atas 180 cm untuk bisa dipilih, sedangkan saya di bawahnya,” ujar Savidan.

Sayangnya, karir Savidan tak berumur panjang. Ia harus pensiun lebih awal karena penyakit jantung yang terdeteksi oleh dokter saat ia mengurus kepindahannya ke AS Monaco pada 2009. Savidan gantung sepatu dengan meninggalkan catatan manis berupa 70 gol dan 18 assist dari 243 pertandingan di semua kompetisi yang dijalaninya. 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *