Kisah Stade Rennais yang Jadi Penghancur PSG

spot_img

Perkenalkan, sebuah tim gurem yang doyan memakan raksasa yang sudah jadi hama bagi sepakbola Eropa, Paris Saint-Germain. Ya mereka adalah Stade Rennais. Nampaknya klub yang satu ini tak peduli akan berada di posisi berapa akhir musimnya, namun yang terpenting mereka bisa mengandaskan PSG.

Terbukti, PSG yang notabene tim yang bertabur bintang selalu ciut nyalinya kalau berhadapan dengan klub yang berdiri sejak 1901 tersebut.

Seperti Apa Sejatinya Klub Prancis Yang Satu Ini?

Mari terlebih dahulu sedikit mengenal seluk beluk klub kecil dari Prancis yang satu ini. Tim ini ternyata diam-diam banyak menelurkan pemain hebat. Petr Cech, Edouard Mendy, Raphinha, Camavinga, sampai Ousmane Dembele pun dulunya berasal dari klub ini.

Tapi menurut data Transfermarkt, klub ini secara pencapaian ternyata miskin gelar. Gelarnya hanya Piala Prancis (Coupe De Ligue), itu pun hanya tiga kali. Rennes sejak terakhir juara Coupe De Ligue pada tahun 1971, mereka hanyalah tim “yoyo” yang keluar masuk Ligue 1 tiap musimnya. Maka wajar saja, kalau menyebut tim ini hanyalah tim gurem di Ligue 1.

Namun sejak terakhir kali promosi pada 1993/94, mereka kini tak pernah lagi terdegradasi. Nah, kapan momen nama klub Rennes itu mencuat? Berawal dari tahun 2016, ketika mereka menjual mahal talenta emasnya Ousmane Dembele ke Dortmund.

Dari Pelatih Ke Pelatih

Momen ketika Rennes disebut sebagai salah satu pencetak talenta potensial di Eropa, digunakan mereka dengan baik. Era musim 2017/18, adalah era kebangkitan awal Rennes.

Di era itu, Rennes yang terdiri dari pemain ala kadarnya macam Diafra Sakho maupun Ismaila Sarr, mampu finish di posisi ke-5 Ligue 1. Artinya apa? Ya, tentu saja Rennes akan jadi wakil dari Ligue 1 di Liga Eropa. Itu adalah sebuah pencapaian terbaik Rennes di Eropa, setelah terakhir mereka masuk ke zona Eropa yakni pada Piala UEFA 2008/09 silam.

Namun di balik awal kebangkitan Rennes itu tersimpan lika-liku tentang pergantian pelatih.
Dari Christian Gourcuff, Sabri Lamouchi, Julien Stephan, hingga sekarang Bruno Genesio.
Pergantian pelatih Rennes ini dianggap publik Rennes sendiri sebagai langkah grusa-grusu dari manajemennya. Sebagai contoh pada tahun 2017, ketika pelatih kawakan Gourcuff masih pada tren membaik, tiba-tiba di tengah jalan digantikan dengan pelatih muda Sabri Lamouchi yang dianggap minim pengalaman.

Namun, di tengah gonta-ganti pelatih itu, banyak juga lho berkahnya. Termasuk Lamouchi, yang awalnya disepelekan menggantikan Gourcuff, namun nyatanya ia mampu membawa Rennes ke zona Eropa.

Begitupun Julian Stephen, yang mampu membawa gelar juara Piala Prancis untuk ketiga kalinya sepanjang sejarah klub. Dan yang terakhir ini ada Bruno Genesio, yang mampu membuat klub sultan macam PSG sering gigit jari.

Musuh Alot PSG Dari Era Qatar

Perlu diketahui, sejak PSG dipegang Qatar Sport Investment (QSI), ternyata menurut catatan sejarah, klub bernama Stade Rennais ini tercatat sebagai tim di Ligue 1 yang paling banyak mengalahkan PSG.

Kalau dihitung-hitung Rennes sudah 6 kali mengalahkan PSG. Sementara AS Monaco dan Lille, hanya mampu mengalahkan PSG di era Qatar sebanyak 5 kali saja.

Dan tak main-main, di era mega bintang berkumpul di PSG macam Messi, Neymar, maupun Mbappe, PSG masih saja kesulitan mengalahkan Rennes. Namun dengan catatan, kalau Rennes bermain di kandang sendiri.

Markas Rennes, Roazhon Park angker bagi PSG. Terutama di era pelatih Bruno Genesio. Pelatih asal Prancis yang ditunjuk menggantikan Julian Stephen pada Maret 2021. Di bawah Genesio, mental Rennes makin garang dan tak takut dengan tim mana pun termasuk PSG.

Tercatat di tiga pertemuan terakhirnya dengan PSG kala di kandang Rennes, Bruno Genesio selalu sukses menyulitkan klub sultan itu dengan hasil satu imbang dan dua kali meraih kemenangan. Termasuk yang terakhir terjadi pada Januari 2023.

Rekor Unik

Bahkan di era Genesio, di tiga pertemuan terakhirnya dengan PSG, Mbappe dan kawan-kawan dipaksa hanya mampu melakukan 2 tembakan tepat sasaran (shot on target). Lho kok bisa?

Menurut data Sofascore, ternyata terbukti benar adanya. Awalnya terjadi di pertemuan Oktober 2021 di Ligue 1. Berakhir dengan skor 2-0 untuk kemenangan Rennes, dan PSG tak mampu melakukan shot on target satu pun.

Kemudian di pertemuan terakhirnya Januari lalu. PSG yang kalah 1-0 itu, hanya mencipta 1 shot on target. Begitupun dalam kemenangan PSG pada Februari 2022 silam. PSG hanya mampu mencatat 1 shot on target ke gawang Rennes. Dan itu menjadi gol satu-satunya buat PSG.

Artinya, Genesio ini punya siasat unik, yang mungkin saja tak dimiliki pelatih lain di Ligue 1 untuk menghalangi para bintang PSG menggempur gawang klubnya. Di sisi lain, Genesio uniknya bahkan tak mengusung permainan dengan pendekatan bertahan.

Alih-alih parkir bus, Genesio lebih menyukai mengambil inisiatif serangan. Kendati materi pemainnya medioker. Faktor kedisiplinan dan jiwa spartan tak kenal lelah dari anak asuhnya hingga menit terakhir, sering terbukti jitu membuat serangan PSG deadlock.

Pernah Kubur Mimpi PSG Juara

Kembali ke era sebelum Genesio, Julian Stephen juga pernah memberi mimpi buruk bagi PSG. Tepatnya pada final Piala Prancis 2019/20. Di mana ketika itu Rennes menang lewat adu penalti. Mbappe yang dianggap dewa pun sempat frustrasi di laga itu dan terkena ganjaran kartu merah pada babak perpanjangan waktu.

Rennes pun menggondol gelar ketiganya di Piala Prancis. Trofi yang kembali diraih Rennes sejak terakhir kali meraihnya pada 1971 silam. Sebuah pencapaian mewah bagi klub sekelas Rennes. Dan tak tanggung-tanggung, klub yang dihempaskannya adalah klub sultan macam PSG.

Kini, Rennes masih bertarung bersama Genesio untuk kembali duduk di zona Eropa musim depan. Dengan model dan cara Genesio bermain, serta dengan materi macam Steve Mandanda, Joe Rodon, Arnaud Kalimuendo, Jeremy Doku, maupun Hamari Traore, Rennes mungkin saja masih bisa merebut satu tempat di zona Eropa musim depan.

Namun yang khas dari Rennes, tentu adalah menjaga tradisi untuk menjegal PSG di pertemuan berikutnya. PSG pun tentu kini mulai ketar-ketir jika kembali bertemu tim asuhan Genesio ini. Melihat track record-nya, klub-klub Ligue 1 lain yang ingin mengalahkan PSG, bisa juga tuh minta tutor kepada ahlinya. Sang penghancur setia PSG di Ligue 1, Stade Rennais.

Sumber Referensi : transfermarkt, sofascore, ligue 1, ligue 1, 90min

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru