Kisah Menakjubkan Spanyol Back To Back Juara EURO

spot_img

1 Juli 2012 di Stadion Olimpiade Kiev, Ukraina, publik sepakbola digegerkan dengan pencapaian Spanyol yang meraih gelar back to back Euro. Tak ada satu pun negara yang bisa menyamai pencapaian La Furia Roja tersebut sampai dengan tahun 2024. Peristiwa langka itu jadi sejarah yang tak terlupakan.

Namun di balik pencapaian fantastis tersebut, terselip beberapa pertanyaan. Apa yang dilakukan Spanyol sehingga bisa menjadi juara back to back Euro?

Ulah Aragones

Spanyol sebelum meraih juara Euro 2008 hanyalah tim yang biasa-biasa saja. La Furia Roja telah lama tertidur nyenyak sejak meraih gelar Euro pertama kali mereka di tahun 1964.

Pasca kegagalan Spanyol masuk Euro 2004, datanglah seorang Luis Aragones. Aragones ditunjuk Federasi Sepakbola Spanyol menggantikan Inaki Saez. Penunjukan Aragones bukannya disambut gembira. Publik Spanyol malah meragukannya. Usia Aragones yang sudah 69 tahun dianggap bukan usia ideal untuk menangani timnas. Belum lagi sikapnya yang keras kepala dan sedikit kolot.

Namun federasi menilai salah satu alasan Spanyol tidak berprestasi bukan karena pelatihnya. Namun adanya perseteruan abadi dan gengsi antara pemain Barcelona dan Real Madrid yang dibawa sampai ke timnas.

Sejak mengambil alih timnas, sikap keras kepala Aragones tersebut langsung dibuktikan. Ada banyak perubahan di skuad. Ia berani mendepak pemain senior seperti Míchel Salgado, Fernando Hierro, maupun Fernando Morientes. Ia menggantinya dengan darah muda seperti Fernando Torres, Cesc Fabregas, Sergio Ramos, hingga Andres Iniesta.

Aragones juga menyadari beberapa kekurangan skuadnya. Terutama bentuk fisik pemain Spanyol yang sebagian berbadan kecil. Atas dasar itulah Aragones lalu mengubah gaya main Spanyol yang lebih fokus pada umpan-umpan pendek, dan pemanfaatan ruang. Inilah yang jadi cikal bakal tiki-taka nantinya.

Juara Lantas Pergi

Euro 2008 adalah pembuktian Aragones. Apakah revolusinya membangun Spanyol itu berhasil atau tidak. Dengan gaya main dan wajah baru, skuad Spanyol sukses memukau publik yang hadir di Austria dan Swiss saat itu.

Gol-gol Spanyol banyak lahir dari skema umpan dan kombinasi cantik antar pemain. Seperti misal, gol Daniel Guiza di semifinal maupun gol Fernando Torres di Final. Gol semata wayang Torres di final tersebut berawal dari build up apik yang dilakukan Marcos Senna dan Xavi Hernandez.

Spanyol pun kembali jadi raja di Eropa setelah 1964 silam. Ya, sejak saat itu Spanyol menjadi kekuatan baru Eropa berkat tangan dingin Luis Aragones. Casillas, kapten tim Spanyol saat itu bahkan sampai mengatakan Aragones adalah “bapak pengubah sejarah sepakbola Spanyol”.

Namun, pasca membawa pulang trofi Henry Delaunay ke tanah Matador, peristiwa aneh pun terjadi. Bapak pengubah sejarah tadi didepak dari kursi kepelatihan. Lho, kok bisa? Usut punya usut, meski sudah bisa menjadi juara Euro, Aragones nyatanya tak diinginkan oleh federasi. Menurut pengakuan Aragones, jika federasi menginginkannya lanjut bertugas, mereka tidak akan berbicara dengan pelatih lain.

Pasalnya, Aragones mengetahui bahwa federasi diam-diam telah melakukan pembicaraan dengan mantan pelatih Real Madrid, Vicente del Bosque. Menurutnya, Del Bosque-lah yang akan menggusurnya dari kursi pelatih La Furia Roja.

Era Baru Del Bosque

Benar saja, Del Bosque akhirnya jadi nahkoda baru La Furia Roja per tahun 2008. Ia ditugasi oleh federasi untuk menambah baik performa dan prestasi peninggalan Aragones. Federasi percaya Del Bosque dengan sederet prestasinya di El Real.

Sejak mengambil alih Spanyol, ada pula beberapa keraguan dari berbagai pihak soal Del Bosque. Terutama latar belakangnya sebagai seorang Real Madrid sejati. Publik khawatir ia hanya akan menganak-emaskan pemain Real Madrid, dibanding seteru abadinya, Barcelona.

Tapi Del Bosque berjanji untuk tidak melakukannya. Ia bahkan menjamin apa yang telah ditanamkan oleh Luis Aragones akan tetap dipakai sebagai dasar. Termasuk gaya main umpan-umpan pendek dan pemanfaatan ruang. Ia juga berjanji tidak akan diskriminatif dalam pemanggilan pemain.

Inovasi Del Bosque

Tongkat estafet yang dipegang Del Bosque memang tak semudah yang dibayangkan. Selain beban untuk berprestasi lebih, ditambah juga adanya friksi persaingan di dalam tubuh Spanyol antara punggawa Barcelona dan Real Madrid.

Tak dipungkiri, rivalitas El Clasico di era tersebut masih runcing-runcingnya. Seperti apa yang terjadi antara Sergio Ramos dan Pique, Xavi dengan Casillas, maupun Xabi Alonso dengan Sergio Busquets.

Berbicara secara eksklusif kepada The Coaches’ Voice, Del Bosque mengungkapkan bagaimana dia dan stafnya pusing tujuh keliling mengatasi ketegangan tersebut. Salah satu cara meredam ego para pemain Barca dan Real Madrid saat itu adalah dengan pendekatan taktik. Del Bosque berani menduetkan pemain yang sering berseteru di klub tersebut.

Menurutnya, hal tersebut jadi formula ampuh mendamaikan ketegangan. Terbukti Del Bosque berani menduetkan Sergio Ramos dengan Pique di sektor bek tengah, maupun Xabi Alonso dan Sergio Busquets di lini tengah. Di sisi bek sayap, Del Bosque juga menduetkan Jordi Alba dan Alvaro Arbeloa.

Formula aneh tersebut ternyata bukan hanya ide Del Bosque semata. Melainkan ada campur tangan fans. Del Bosque diminta berbuat adil oleh fans Barca dan Real Madrid untuk memainkan pemain mereka.

False Nine

Selain melakukan inovasi dengan cara memadupadankan pemain Real Madrid dan Barcelona, Del Bosque juga melakukan perubahan taktik yang berbeda dengan Aragones. Cara main Aragones identik menggunakan striker murni, seperti Fernando Torres. Namun di masa Del Bosque, perubahan terjadi dengan konsep False Nine.

Inovasi tersebut bukannya asal-asalan diterapkan. Del Bosque menerapkan taktik tersebut berdasarkan apa yang telah diterapkan Barcelona di eranya Pep Guardiola. Pola false nine yang diterapkan Del Bosque di timnas, yakni dengan menggunakan Cesc Fabregas sebagai striker palsu.

Pola tersebut diterapkan Del Bosque di ajang Euro 2012. Termasuk di laga pembuka melawan Italia di babak grup. Hasilnya, permainan Spanyol lebih cair dan fleksibel. Pergerakan antar pemain tak mudah ditebak.

Seluruh gelandang Spanyol bergerak mobile menyisir ruang-ruang kosong yang ditinggalkan lawan. Terbukti dengan taktik tersebut, Prancis dan Portugal pun bingung membongkar Spanyol di babak gugur dan akhirnya keok. Begitupun Italia. Di final, Gli Azzurri malah takluk empat gol tanpa balas dengan taktik itu.

Pembuktian Del Bosque

Usaha yang dilakukan Del Bosque, dari menahan ego pemain Barca dan Real Madrid, serta inovasi yang dilakukan, nyatanya ia bisa memenuhi target dan harapan federasi. Spanyol buktinya mengukir sejarah sebagai juara Euro secara beruntun. Del Bosque juga membuktikan, bahwa pergantian pelatih yang dilakukan federasi dari Aragones kepada dirinya, tak salah.

Namun pasca kesuksesan tersebut, Aragones malah mengkritik Del Bosque. Aragones menyebut kesuksesan Spanyol tersebut adalah sesuatu yang biasa-biasa saja. Menurutnya, tonggak kesuksesan Spanyol adalah dari dirinya, bukan Del Bosque.

Namun Del Bosque terima dengan perkataan Aragones tersebut. Ia memilih diam agar situasi tim tetap kondusif. Del Bosque menunjukan sikap hormatnya terhadap Aragones sebagai gurunya. Del Bosque bahkan mengaku kesuksesan Spanyol selama ini bukan miliknya, atau Aragones semata. Namun berkat seluruh rakyat Spanyol di manapun berada.

https://youtu.be/DVflVEdgRDk

Sumber Referensi : worldsoccer, eurosport, reuters, theguardian, eurosports

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru