Liga Inggris masih bertahan sebagai salah satu kompetisi paling kompetitif di dunia. Disana ada banyak sekali pemain hingga pelatih hebat yang turut ambil bagian. Karena menjadi salah satu kompetisi yang banyak dituju, wajar bila Liga Inggris menempatkan banyak pelatih hingga pemain dari berbagai negara di dunia.
Dalam hal ini, sempat memunculkan sebuah fakta bahwa ada pertandingan Liga Inggris yang sama sekali tidak menempatkan pemain asal Inggris di starting line up.
Arsenal dan Portsmouth menciptakan sejarah yang mungkin saja tidak disukai oleh insan sepak bola di Inggris pada 30 Desember 2009. Ketika itu, manajer Arsenal, Arsene Wenger dan manajer Portsmouth, Avram Grant memasang starting eleven tanpa berisikan pemain asli Inggris, ketika kedua klub bersua di ajang Liga Primer Inggris 2009/10.
Sebetulnya ada satu pemain Inggris yang bisa tampil pada laga itu. Namun, lantaran cedera, kiper gaek Portsmouth, David James tak jadi diturunkan oleh Grant. Posisi penjaga gawang asal Inggris itu digantikan oleh kiper asal Bosnia, Asmir Begovic.
Sementara Arsenal memang dikenal sebagai klub yang kerap diperkuat oleh pemain-pemain impor.
Untuk susunan pemain dari laga itu sendiri, Portsmouth menempatkan Asmir Begovic dari Bosnia Herzegovina sebagai penjaga gawang. Kemudian di lini pertahanan terdapat nama Younes Kaboul, Hermann Hreidarsson, Steve Finnan, Tal Ben-Haim, yang masing-masing berasal dari Prancis, Islandia, Irlandia, dan Israel.
Berikutnya ada nama Nadir Belhadj dari Aljazair, Aaron Mokoena dari Afrika Selatan, Richard Hughes dari Skotlandia, serta Kevin-Prince Boateng yang berasal dari Ghana. Untuk penyerang terdapat nama Hassan Yebda yang berkewarganegaraan Aljazair dan Frederic Piquionne yang merupakan pria berkebangsaan Prancis.
Di sisi lain, tim meriam London menempatkan nama Manuel Almunia yang berasal dari Spanyol, di bawah mistar gawang.
Empat pemain bertahan diisi oleh nama Bacary Sagna asal Prancis, Thomas Vermaelen dari Belgia, William Gallas dari Prancis, dan Armand Traore dari Prancis. Di posisi berikutnya ada Abou Diaby dan Samir Nasri yang sama-sama berasal dari Prancis, dan dilengkapi dengan Aaron Ramsey serta Alex Song, yang masing-masing berasal dari Wales dan Kamerun.
Di posisi penyerang, Arsene Wenger memasang Andrey Arshavin dan Eduardo da Silva, yang mana keduanya berasal dari Rusia dan Kroasia.
Pada pertandingan tersebut tidak sepenuhnya diisi oleh para pemain impor. Pasalnya, pada menit ke 85, Arsenal mengganti Samir Nasri dengan Craig Eastmond. Pria yang kini berusia 30 tahun itu lahir di London Inggris. Dua jatah pergantian lainnya diisi oleh Tomas Rosicky dari Republik Ceko dan Carlos Vela dari Meksiko.
Lalu, pemain asal Inggris baru dimasukkan Grant pada menit 90+2 untuk menggantikan Hughes. Pemain tersebut adalah Michael Brown dan hanya bermain beberapa detik sebelum wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir. Sementara pergantian pemain lainnya dengan memasukkan Nwankwo Kanu dari Nigeria dan Anthony Vanden Borre dari Belgia.
Pertandingan yang digelar di Fratton Park itu sendiri memunculkan Arsenal sebagai pemenang. The Gunners unggul 4-1 lewat gol Eduardo pada menit ke 28, Nasri di menit 42, Ramsey di babak kedua atau tepat pada menit ke 69, dan Alex Song sembilan menit menjelang bubaran. Sedangkan satu-satunya gol Portsmouth di pertarungan tersebut tercipta lewat Belhadj pada menit ke 74.
Di pertandingan tersebut yang pada akhirnya memang berhasil ciptakan sejarah, putusan Wenger ketika itu langsung menimbulkan kritik. Sebagai manajer yang menukangi klub asal Inggris, Wenger dianggap sudah mengebiri talenta pesepak bola asal Negeri Ratu Elizabeth karena terlalu “mendewakan” pemain-pemain impor.
Namun Wenger tak bergeming. Baginya, kewarganegaraan hanyalah status. Jika dirasa bisa memberikan kontribusi untuk tim, manajer asal Prancis itu tak segan mendahulukan mereka ketimbang pemain asli Inggris
“Sepak bola adalah olahraga universal. Aku menilai pemain karena kemampuannya. Bukan darimana mereka berasal,” tegas Wenger (via bbc)
Perkataan tersebut kemudian langsung direspon oleh sejumlah pelaku sepak bola di Inggris, tak terkecuali Sam Allardyce.
“Laga ini (Portsmouth melawan Arsenal) membuat masa depan timnas [Inggris] terlihat sangat suram,” ujar Allardyce (via bbc)
Setelah mengalami kekalahan, Portsmouth menjadi semakin terpuruk. Mereka menjalani musim dengan sangat buruk dan mengalami banyak kekalahan. Setelah melewati 38 pertandingan, The Pompey hanya mampu mengoleksi 7 kemenangan, 7 skor imbang, dan 24 kekalahan. Dengan 19 poin, Portsmouth menjadi juru kunci dan harus terdegradasi ke Championship Division.
Mereka bahkan harus rela turun ke kasta yang lebih rendah setelah dua musim. Sempat turun ke divisi League Two, The Pompies kini masih tampil di kompetisi League One.
Sementara Arsenal, meski menjalani musim yang tidak terlalu buruk, mereka harus rela bercokol di posisi ketiga, dibawah Chelsea dan Manchester United. Raihan 75 poin ketika itu tidak bisa mengalahkan Chelsea dan Manchester United yang mengumpulkan masing-masing 86 dan 85 poin.
Sumber : whoateallthepies, LIBERO.ID


