Seperti kebanyakan kisah jagoan lainnya, penunjukan Eddie Howe sebagai pelatih Newcastle United kala itu sempat diremehkan. Dan seperti selayaknya jagoan yang nggak banyak cincong, sang pelatih dengan elegan membalikan semua omongan dengan cinta dan tindakan besarnya.
Alhasil, dari yang semula tak diinginkan, kini nama Eddie Howe nggak berhenti digaungkan. Publik Stadion James Park pun menaruh harapan besar kepada sang juru taktik. Terutama setelah The Magpies mengangkat trofi Carabao Cup.
Lantas, siapakah sebenarnya Eddie Howe dan bagaimana kiprahnya sebelum menangani Newcastle United? Apakah sang pelatih bakal terus memberikan prestasi untuk The Magpies?
Sebelum Era Eddie Howe Tiba
Kalau kamu penggemar Liga Inggris era 90-an, pastilah tahu betapa diseganinya Newcastle United kala itu. Klub berjuluk The Magpies ini jadi rumah bagi para bintang besar. Sebut saja David Ginola, Les Ferdinand, Andy Cole, Alan Shearer dan lainnya.
Namun ketika masuk ke medio 2000-an, Newcastle United kehilangan marwah sebagai klub kuat. Stadion James Park bukan lagi tempat yang angker bagi tim lawan. Apalagi semenjak tangan dingin Kevin Keegan juga Kenny Dalglish nggak lagi menyentuh Newcastle United.
Usai era dua pelatih top yang hampir menjuarai Premier League bersama The Magpies ini berakhir, seolah berguguran sudah harapan untuk jadi yang terbaik di Inggris.
Newcastle United memang masih eksis, namun keberadaan Toon Army seperti kerupuk yang terlalu lama di dalam kaleng. Sudah melempem dan menciut juga sudah kehilangan cita rasa. Bahkan, Newcastle United sempat dua kali jatuh ke divisi championship.
Di Premier League pun dari musim ke musim, klub yang berdiri pada 1892 ini lebih sering berkutat di papan bawah dan tengah. Hingga tibalah di awal musim 2021, ketika manajemen Newcastle United sudah sangat kesal dengan Steve Bruce. Ketika itu, The Magpies ada di mulut jurang degradasi, tepatnya di urutan ke-19 dengan koleksi lima poin.
Pengalaman Melatih Eddie Howe
Alhasil, sebelum sesuatu yang buruk terus berlanjut, ditunjuklah Eddie Howe sebagai nahkoda baru. Misi untuk mengembalikan marwah Newcastle United pun dimulai. Namun masuk ketika kapal sudah berlayar hampir setengah jalan, jelas bukan tugas yang mudah. Apalagi badai keraguan sempat menghampiri para fans yang sudah kadung trust issue.
Pasalnya, Curriculum Vitae sang pelatih anyar ini dinilai nggak sebagus Unai Emery. Eks pelatih Arsenal yang ketika itu sedang menanjak bersama Villarreal tersebut menolak tawaran Newcastle United.
Apa boleh buat, nggak ada Unai Emery, sosok Eddie Howe pun tak apalah. Sebenarnya juru taktik kelahiran Britania Raya ini nggak pantas juga untuk dikatakan jelek.
Howe merupakan sosok yang dianggap paling pas untuk membereskan masalah Newcastle United. Pasalnya, juru latih 47 tahun ini punya pengalaman bertahun-tahun mengurus klub semenjana.
Kesebelasan yang mentalitas pemainnya tengah terpuruk. Eddie Howe adalah pelatih spesialis yang mengangkat tim papan bawah ke tempat yang lebih terhormat.
Namanya akan selamanya dikenang di AFC Bournemouth. Howe bukan sekadar mantan pemain sekaligus pelatih, tapi pahlawan abadi bagi warga kota pantai pesisir Inggris tersebut.
Setelah kenyang melatih akademi, kisah kepelatihannya di tim senior dimulai pada musim 2008/09, ketika itu AFC Bournemouth masih bermain di League Two alias kasta keempat sepak bola Inggris. Lebih buruknya lagi, klub kecil ini hampir terjun bebas alias terdegradasi. Namun untunglah, sang caretaker pengganti Jimmy Quinn ini berhasil membuat kapal AFC Bournemouth nggak karam.
Pada musim 2011 Eddie Howe sempat coba-coba peruntungan di Burnley FC. Tapi di sana hanya bertahan setahun dan sang pelatih pun kembali ke rumahnya yang paling nyaman. Di tempat yang setiap jengkalnya sudah dikenali itu, Eddie Howe kembali untuk mengangkat AFC Bournemouth ke tingkat yang lebih tinggi.
Sentuhan dingin pelatih yang gantung sepatu di usia 30 tahun ini sukses besar membawa The Cherries melenting. Bayangkan saja, dari klub yang hampir terdegradasi di League Two sampai akhirnya pada musim 2015 bisa promosi ke Premier League. Butuh puluhan pelatih dan 127 tahun lamanya bagi AFC Bournemouth untuk mengukir sejarah gemilang ini. Dan seorang Eddie Howe lah yang menuliskan kisah manis ini dengan tinta emas.
Era Baru Newcastle Di Tangan Pelatih Bucin
Cerita sukses inilah yang membuat Newcastle United pada akhirnya yakin kepada Eddie Howe. Apalagi nama sang pelatih juga sudah harum lantaran tersohor pandai dalam memotivasi para pemainnya. Howe juga nggak sungkan meluangkan waktu untuk menampung dan mendengarkan berbagai aspirasi dari para pemain nya.
Dia tipikal pelatih yang loyal pada tim yang memberi kepercayaan. Di luar sepak bola, kepribadian Howe juga nggak kalah mengagumkan. Selain mencintai pekerjaannya, dia juga mencintai keluarga kecilnya.
Termasuk saat memutuskan meninggalkan Burnley dan balik lagi ke AFC Bournemouth. Eddie Howe langsung luluh saat Vicki Howe, sang istri tercintanya itu merengek lantaran nggak bisa LDR. Apalagi saat itu dua anak mereka yakni Rocky dan Harry masih kecil.
Bahkan ternyata, keputusan Eddie Howe mau menerima pinangan dari Newcastle United nggak lepas dari faktor istrinya juga. Majalah The Sun sampai-sampai menyebut ayah dari dua anak ini sebagai sosok yang family man.
Eddie Howe nggak akan mengambil pekerjaan yang ditawarkan Newcastle United jika doi nggak merasa itu ikut membuat keluarganya senang dan bahagia.
Saat dalam masa menganggur selepas mengundurkan diri dari AFC Bournemouth, pria romantis ini sering menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya. Selain mengajak menonton sepak bola dan main tenis, Eddie Howe juga dengan riang gembira meluangkan waktu alias quality time dengan nongkrong bersama belahan jiwanya. Bagi sang pelatih, keluarga adalah yang utama.
Bahkan di kalangan media lokal Inggris, kisah bucin Eddie Howe sudah jadi pembicaraan umum. Pada suatu waktu di tahun 2016, sang pelatih mengantarkan kekasih halalnya, Vicki Howe untuk membeli secangkir kopi di Starbucks. Namun perempuan cantik ini nggak mau sang suami parkir jauh-jauh dari tempat. Nggak pikir panjang, dengan senyum di wajah Eddie Howe menuruti permintaan istrinya.
Alhasil, sang pelatih memarkirkan mobil Range Rover-nya di pemberhentian khusus bus yang sebenarnya hal itu nggak boleh dilakukan lantaran melanggar hukum dan bisa membuat kondisi jalan macet parah. Namun Howe santai saja, seolah semua sah dilakukan jika itu atas nama cinta. Kekuatan cinta itu jugalah yang diaplikasikan sang pelatih di atas lapangan hijau, di antara ruang taktik dan ketegangan dalam sepak bola. Cinta dan dedikasi jugalah yang membuat Newcastle United perlahan namun pasti bertransformasi kembali jadi tim yang kembali disegani.
Pasang Surut Newcastle United era Eddie Howe
Di musim perdananya, Eddie Howe menyelamatkan marwah Newcastle United. Target pertama untuk survive di Premier League berhasil, Newcastle United finish di urutan kesebelas klasemen. Itu merupakan posisi terbaik jika dibandingkan dengan tiga musim sebelum dirinya mengambil alih.
Bahkan di ajang Carabao Cup, Newcastle United bisa melaju hingga babak perempat final. Manajemen pun cukup puas dengan kinerja Howe, apalagi ketika itu Newcastle United beradaptasi dari guncangan pandemi Covid-19.
Di musim keduanya, Howe nggak nyangka bisa dapat dukungan finansial yang bagus. Hal ini nggak lepas dari beralihnya kepemilikan klub ke konsorsium yang dipimpin Pangeran Mohammed Bin Salman.
Namun Howe yang terbiasa dengan segala keterbatasan keuangan nggak mendadak latah dan terjangkit sindrom OKB alias orang kaya baru. Sang pelatih jeli dalam memilih pemain baru agar bisa menghasilkan racikan yang pas.
Dari sekian banyak yang datang, relatif nggak ada nama-nama bintang besar yang mendarat. Padahal Howe bisa saja meminta klub untuk membujuk Neymar, Mbappe, sampai Ronaldo, tapi sang pelatih justru mendaratkan Alexander Isak, Bruno Guimaraes, Chris Wood, Dan Burn, Kieran Trippier, Matt Targett, dan lainnya.
Nama-nama ini masuk karena memang sesuai dengan kebutuhan taktikal yang Eddie Howe inginkan. Terbukti, para pemain inilah yang jadi tulang punggung saat sukses membawa Newcastle United berbuat banyak di musim 2022/23. Skuad The Magpies berhasil melaju ke babak final Carabao Cup. Meskipun akhirnya belum bisa menaklukan Manchester United di partai puncak. Di musim yang sama, Howe juga sukses menggebrak Premier League.
Siapa sangka, tim yang identik dengan jersey garis hitam-putih ini mampu finis di urutan keempat klasemen Premier League. The Magpies menyingkirkan Liverpool, Tottenham Hotspur, dan Chelsea dari perebutan tiket Liga Champions untuk musim 2023/24.
Namun sayangnya, setelah absen cukup lama di turnamen Benua Biru ini. Newcastle United yang berada di grup neraka bareng dengan AC Milan, Borussia Dortmund dan Paris Saint-Germain belum bisa berbicara banyak.
Tapi kehidupan nggak seru kalau saat perjalanan menanjak ke atas nggak ada rintangan yang menghadang. Di musim itu pun ujian bagi Howe benar-benar datang dengan angin yang lebih kencang.
Pasalnya, di musim yang ganjil itu performa Newcastle United sempat goyang. Bukan cuma di Liga Champions, mereka mengalami sejumlah kemunduran di Premier League lantaran di akhir musim cuma bisa nangkring di posisi tujuh klasemen dan di turnamen domestik seperti Carabao Cup dan Piala FA tersisih di babak perempat final.
Fans pun jadi geram dan ingin menjatuhkan vonis nasib kepada Howe. Posisi sang pelatih sempat terancam dan dirumorkan bakal digantikan oleh Roberto Mancini hingga Julian Nagelsmann.
Namun pihak klub ternyata masih percaya dan setia pada proses. Naik turun posisi Newcastle United merupakan hal yang lumrah, apalagi jika mau memandang adil, sejak ditangani Eddie Howe klub ini nggak pernah lagi berakrab-akrab di dekat dasar klasemen.
Sang pelatih selalu mati-matian mengusahakan Newcastle United berada dalam jalur menuju papan atas. Dan musim 2024/25 ini, Eddie Howe membuktikan itu semua. Juru taktik yang baru saja dapat penghargaan Manager of The Month dari Premier League ini menjawab semua keraguan dengan tekad besar.
Bawa Newcastle United Juara dan Catatkan Sejarah
Semangatnya membawa Newcastle United untuk kembali berjaya dan tak dipandang sebelah mata meluap-luap. Saat ini tim asuhannya berpeluang besar untuk mentas lagi di Liga Champions.
Kabar baiknya, Eddie Howe baru saja menuntaskan rasa penasarannya di ajang Carabao Cup. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya perjuangan Newcastle United terbayarkan.
Mereka menyingkirkan Chelsea di babak 16 besar dan melaju ke partai final usai membuat Arsenal bonyok di dua pertemuan. Lalu di babak penentuan, Eddie Howe memimpin Alexander Isak dan kawan-kawan untuk mempecundangi Liverpool.
Untuk kali pertama dalam 70 tahun terakhir, Newcastle United akhirnya meraih trofi Carabao Cup kembali. Perjalanan dream come true ini dirayakan dengan gegap gempita oleh warga Newcastle. Tapi ternyata bukan cuma kota industri percetakan ini yang gembira, melainkan juga Inggris.
Pasalnya, butuh waktu 17 tahun bagi pelatih lokal asli Inggris untuk bisa mengangkat piala di tanah sendiri. Terakhir kali ada nama Harry Redknapp yang menjuarai Piala FA bersama Portsmouth. Selebihnya Inggris bagaikan dijajah oleh pelatih asing yang mendominasi liga.
Maka jelaslah bagi Eddie Howe pribadi, trofi Carabao Cup ini merupakan sebuah kebanggaan besar. Tapi ini bukan cuma tentang dirinya yang mencetak sejarah. Melainkan kerja-kerja kolektif dan Eddie Howe pun menyerukan agar publik Newcastle yang setia dan Inggris yang merindu terus mengingat sejarah baru ini.
“Sungguh menakjubkan apa yang dapat dilakukan sepak bola. Sepak bola memiliki kemampuan untuk memberi orang-orang hari-hari yang akan selalu mereka ingat. Penantian juara ini begitu lama sehingga kita tidak akan pernah melupakannya. Saya tidak akan pernah melupakannya,” ucap Eddie Howe.
Masa Depan Eddie Howe di Newcastle United
Setelah perayaan gelar juara ini reda, Howe dan anak asuhnya kembali fokus menjalani sisa kompetisi. Dan dengan modal juara ini, seharusnya pihak manajemen klub segera menyodorkan kontrak baru ke Eddie Howe. Pasalnya kesepakatan kedua belah pihak bakal berakhir di musim panas ini.
Sangat layak rasanya, Eddie Howe memimpin Newcastle United lebih lama lagi. Apalagi fans Newcastle United sudah melihat bagaimana ketangguhan dan cinta Eddie Howe dalam melewati badai di awal musim hingga menikmati indahnya pelangi.


