Kemarin Jawara Tenis, Sekarang Wonderkid Real Madrid! Siapa Franco Mastantuono?

spot_img

Perjalanan karir seorang pesepakbola tuh emang beda-beda dan nggak bisa diprediksi ya. Ada yang bertahun-tahun menekuni dunia sepakbola, main buat klub sana-sini, tapi tak kunjung dilirik oleh Real Madrid. Namun, ada juga yang berstatus anak kemarin sore, tapi udah langsung bisa gabung ke klub terbaik di dunia itu.

Bayangkan saja, ada pemain yang baru serius main sepakbola pada 2019, tapi sudah resmi gabung Real Madrid pada 2025. Ya, pemain yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan adalah Franco Mastantuono. Salah satu talenta terhebat Argentina saat ini. Namun, yang jadi pertanyaan, kok baru menekuni dunia sepakbola tahun 2019? 

Emang sebelum itu Franco ngapain aja? Dagang Cuanki di depan Masjid Raya Bandung? Atau dagang Gultik di Blok M? Seru sih, tapi bukan itu yang dilakukan Franco. Dirinya justru dikenal publik Argentina sebagai atlet tenis. Alih-alih fokus di tenis hingga bisa berlaga di “Tiba-tiba Tenis”, apa yang membuat Franco Mastantuono justru menekuni sepakbola? 

Tenis Dulu Baru Sepakbola

Sebelum akhirnya dikenal sebagai wonderkid yang sekali lagi lahir dari rahim sepakbola Argentina, Franco Mastantuono hampir menjadi petenis profesional. Lahir dari keluarga yang begitu menggemari olahraga, tak sulit bagi Franco untuk mendapat akses berbagai macam cabang olahraga untuk ditekuni.

Namun, kala itu keluarganya hanya membatasi dua cabor saja yang boleh dijajal oleh putranya itu. Akhirnya, sepakbola dan tenis jadi dua olahraga favorit Franco saat masih muda. Franco mulai menekuni tenis berkat pengaruh kuat dari sang ayah. Dirinya memperkenalkan raket dan lapangan tenis ke dalam hidup Franco sejak usia delapan tahun.

Dilansir La Nacion, ayah Franco, Cristian Mastantuono ternyata seorang pelatih sepakbola di klub lokal, River de Azul. Dirinya mengenalkan Franco pada tenis sebagai alternatif olahraga selain sepakbola yang dapat membentuk karakter, kedisiplinan, serta kemandirian. 

Sejak umur delapan tahun, Franco sudah rutin berkompetisi dan juara. Langkah kakinya lincah, pukulan backhand-nya tajam, dan pelatih-pelatihnya percaya bahwa masa depannya akan cerah di lintasan lapangan keras. Prestasi terbaiknya barangkali saat masuk ke peringkat 10 besar nasional Argentina di kategori U-12. 

Ayah Franco bahkan sempat menolak pinangan River Plate pada tahun 2017. Dirinya ingin Franco lebih fokus ke tenis karena menurutnya, itu pilihan yang tepat untuk Franco. 

Titik Balik Tahun 2019

Di saat Franco Mastantuono mulai mapan di klub tenis di Azul, keluarganya memutuskan untuk pindah ke Buenos Aires, pusat peradaban Argentina. Di kota itu sudut pandang Franco akan sepakbola mulai lebih luas. Di kota tersebut, Franco tetap menekuni sepakbola dan tenis secara bersamaan. Namun, kecintaannya pada tenis mulai dipertanyakan.

Di Buenos Aires, Franco justru lebih tertarik dengan sepakbola. Dirinya melihat bagaimana atmosfer sepakbola yang lebih kental di Buenos Aires. Di kota itu, Franco juga disuguhkan dengan rivalitas antara Boca Juniors dan River Plate. Bukan dari televisi lagi. Ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Itu menumbuhkan perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Di lingkungan baru, bermain sepakbola tak pernah semenyenangkan ini. Ia merasa lebih terhubung dengan teman-teman sebayanya. Ia merasa bahwa sepakbola justru membangkitkan sisi lain dirinya yang sudah lama terpendam. Pada tahun 2019, Franco pun memutuskan untuk lebih menekuni olahraga sepakbola yang lebih mengandalkan organisasi tim, ketimbang individu seperti tenis. 

Perjalanan dari tenis ke sepakbola tidak selalu mulus. Ia harus menyesuaikan stamina, teknik, bahkan ritme kompetisi yang jauh berbeda. Tapi semangatnya tak pernah surut. Ia latihan lebih lama, belajar lebih banyak, dan selalu membawa rasa ingin tahu yang tinggi dalam setiap sesi latihan. Franco tahu, ia bukan lagi pemain tenis, tapi ia akan membawa semua disiplin dari masa lalunya ke dalam setiap sentuhan bola.

Menggabungkan Tenis dan Sepakbola

Siapa sangka, keputusan berani anak 12 tahun itu, kini membawanya ke panggung impian yang lebih besar. River Plate yang dulu pernah ditolak ternyata belum menyerah untuk menggoda Franco Mastantuono. Pada tahun 2019, River kembali menawarkan satu tempat di akademi. Kali ini responnya berbeda, sang ayah yang selalu mendukung pilihannya, akhirnya mengiyakan tawaran River.

Klub raksasa Argentina itu memandang Franco sebagai pemain yang unik. Mengandalkan kaki kirinya, gaya bermain Franco memadukan kelincahan seorang petenis dan visi seorang playmaker. Ia punya keseimbangan tubuh yang luar biasa, refleks cepat, dan kecerdasan membaca permainan yang jarang dimiliki pemain seusianya.

Dalam tenis, tak ada waktu untuk berpikir panjang. Bola datang cepat, dan respons harus instan. Hal ini tercermin dalam permainan Franco di lini tengah. Ia selalu selangkah lebih cepat dari lawan, tahu ke mana bola akan mengalir sebelum siapa pun menyadarinya. Dalam waktu singkat, namanya mulai naik daun di internal River Plate. Manajemen dan petinggi klub merasa beruntung telah mendapatkan talenta Franco.

Talenta Menarik di River Plate

Pelatih-pelatihnya di River Plate bahkan pernah menyebut, bahwa Franco seperti memiliki kecerdasan motorik yang berbeda dari rekan-rekan satu timnya. Franco melihat ruang dan peluang dengan cara yang tak biasa. Sepakbola jadi terlihat lebih mudah untuk dimainkan jika bola sudah berada di kaki Franco.

Setelah kira-kira empat tahun lamanya, Franco Mastantuono akhirnya menembus skuad utama River Plate. Di antara banyaknya wajah-wajah tanpa dosa di skuad River Plate U-20, Franco dipanggil ke skuad utama untuk pertandingan Copa Argentina melawan Excursionistas. 

Kala itu, Martin Demichelis lah yang memberikan kesempatan pada bocah ajaib tersebut. Menariknya lagi, Demichelis memanggil Franco bukan hanya untuk melengkapi skuad, melainkan untuk masuk skuad utama. Mengenakan nomor punggung 30, Franco memainkan peran sebagai gelandang serang selama 73 menit. 

Meski tak bermain penuh, Franco mampu membuktikan diri dengan mencetak satu gol pada menit 68. Sejak malam itu, segalanya berubah. Media mulai mengangkat namanya. Fans mulai penasaran siapa sebenarnya anak ini. Dan klub? Mereka langsung memasang klausul pelepasan tinggi. Karena mereka tahu, ia akan jadi investasi yang sangat menguntungkan.

Jadi Rebutan Tapi Pilih Madrid

Sejak awal tahun 2024, Franco telah mengemas 61 pertandingan bersama River. Ia mencetak 10 gol dan 7 assist. Bukan statistik yang menawan bagi seorang pesepakbola. Namun, bagi pemain seusianya, itu adalah catatan yang di luar nalar. Bermodalkan gaya bermain yang unik, Franco pun menarik minat dari banyak klub-klub top Eropa.

Dari mulai Manchester United, Manchester City, Inter Milan, AC Milan, Barcelona, hingga Chelsea. Semuanya rela saling sikut untuk mengamankan tanda tangannya di musim panas 2025. Namun, dari nama-nama klub tersebut, ada dua klub yang paling dijagokan untuk mendapatkannya. Mereka adalah PSG dan Real Madrid.

Awalnya, kedua klub jadi yang paling ideal bagi Franco. Apalagi, PSG baru saja menjuarai Liga Champions musim 2024/25. Jika PSG datang dengan status yang baru didapat, Madrid tak datang dengan suara gaduh. Mereka mengamati, memantau Mastantuono dari jauh, lalu mendekat secara perlahan

Los Merengues tahu apa yang diinginkan pemain muda seperti Franco. Bukan hanya uang atau kejayaan sementara, tapi juga warisan. Mereka menawarkan lebih dari sekadar kontrak, tapi juga mimpi yang terasa lebih realistis. Madrid menunjukan kesuksesan pembinaan usia muda dari Amerika Latin. Seperti Vinicius, Rodrygo, hingga yang terbaru Endrick. Dan akhirnya, keputusan dibuat, Franco memilih Madrid sebagai pelabuhannya.

Jadi Rival Yamal di La Liga?

45 juta dollar Amerika jadi dana yang cukup untuk mendapatkan service Franco Mastantuono. Kabarnya, Franco menandatangani kontrak berdurasi enam tahun mengingat usianya masih muda. Kontrak itu akan berlaku mulai Juli 2025. Setelah kontrak di Real Madrid aktif, mereka akan memasang klausul pelepasan super-protektif, kabarnya mencapai 1 miliar euro.

Angka yang fantastis untuk bocah yang belum genap 18 tahun. Namun, jika berkaca pada apa yang dimiliki rival, yakni Barcelona, Madrid tampaknya tidak berlebihan. Karena Barca pun demikian protektif terhadap asetnya, Lamine Yamal. Ngomong-ngomong, usia keduanya relatif sama. Apakah Franco akan menjadi rival Yamal di La Liga?

____

Sumber: Goal, Sky Sport, SI, Ole, La Nacion

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru