Kisah Dibalik Nyanyian You’ll Never Walk Alone Yang Begitu Populer

4 min read

Pada awal 1900-an, Budapest yang terletak di Hungaria begitu populer dengan keindahannya. Disana ada beragam seni yang tersedia. Kala itu, Budapest memang tengah berada pada masa jaya-jayanya. Peradaban yang begitu agung begitu tampak jelas. Maka wajar bila dalam segala aspek, Hungaria pada tahun 1900 an pernah disebut sebagai negara paling berjaya.

Di pusat kota Budapest, berkembang banyak seniman yang begitu berpengaruh di seluruh Eropa. Ada banyak makanan yang enak dinikmati, dengan iringan lagu dari band-band jalanan yang sangat syahdu.

Di sudut kota, ada pria bernama Ferenc Molnar. Dia duduk di sebuah kafe dan menikmati semangkuk sup yang telah dipesan. Sesekali mengepulkan cerutu, Ferenc Molnar yang juga memegang pena tiba-tiba terdorong untuk menulis sebuah karya.

Ketika sebuah pertunjukan teater bernama Liliom digelar pada tahun 1909, ia tidak menyadari kalau karya ciptaan nya itu akan melegenda, bahkan bakal digunakan sebagai lagu kebangsaan oleh salah satu klub terbesar di dunia.

Liverpool, yang sudah terbentuk pada tahun 1892 pada akhirnya sadar bahwa karya yang diciptakan Ferenc Molnar memiliki arti yang begitu luar biasa.

Namun perlu dicatat bahwa tidak ada hubungan antara Molnar dan Liverpool. Sebuah karya yang begitu agung tersebut terus melewati perjalanan dan berbagai perkembangan.

Molnar, seorang pria Budapest merupakan sosok dibalik terciptanya karya You’ll Never Walk Alone. Sebuah karya yang pada awalnya tidak semua sadar, bahwa didalamnya terkandung sebuah makna yang begitu menggelegar.

Setelah Hungaria terlibat dalam penindasan yang dilakukan oleh Nazi, Molnar lalu melarikan diri ke Amerika. Pada tahun 1940, dia menetap di New York pada usianya yang menginjak 62 tahun. Di Amerika, ia menetap di New York Plaza Hotel selama kurang lebih 12 tahun. Dia lebih banyak mendekam di kamar karena takut akan serangan tiba-tiba dari Nazi.

Karena kebiasaannya itu, Molnar mengalami depresi berat. Ia tak bisa hidup bebas dan sulit mendapatkan uang. Pada akhirnya, ia menjual hak atas karya You’ll Never Walk Alone kepada Richard Rodgers.

Dari situ, muncul sejarah bahwa lagu You’ll Never Walk Alone tercipta pada tahun 1942 oleh kelompok musikal broadway yang diadaptasi dari grup drama Lilliom yang diciptakan Molnar.

Lirik yang terkandung dalam karya You’ll Never Walk Alone itu memiliki arti yang sangat mendalam. Karya itu biasa terdengar dalam sebuah acara untuk saling menguatkan. Malah, lagu ini sering digunakan oleh tokoh ternama jaman dulu untuk melepas masalah depresi.

Karena kepopulerannya kian meningkat tajam, You’ll Never Walk Alone sampai dinyanyikan oleh musisi kondang pada jamannya seperti Elvis Presley, Johnny Cash, dan Frank Sinatra.

Hingga sampailah pada tahun 1960, lagu You’ll Never Walk Alone benar-benar lepas landas di Anfield.

Di era tersebut, kota Liverpool tengah berada dalam puncak budaya. Banyak sekali kesenian yang berasal dari sana. Tokoh yang menyebarkan lagu tersebut di Liverpool tentunya grup musik terkenal, The Beatles. Seperti diketahui, Beatles merupakan grup musik kondang yang berasal dari Liverpool. Oleh sebab itu, lantunan nada tersebut tak jarang terdengar kala mereka malakukan sebuah petunjukkan.

Penyematannya sendiri hadir dalam laga Liverpool melawan West Brom di Anfield pada 19 Oktober 1963. Nyanyian yang terdengar langsung oleh para penggemar kemudian menjadi penanda bahwa karya yang telah lama diciptakan itu akan menjadi lagu kebangsaan klub asal tanah Britania.

Di era tersebut, Liverpool kian riuh dengan nyanyian penonton. Para pemain menjadi lebih bersemangat kala tengah bertanding. Sebuah lagu yang begitu populer selalu mengiringi setiap langkah para penggawa The Reds.

Dibawah arahan Bill Shankly, Liverpool berhasil bangkit dari era kegelapan. Mereka kembali ke jalur juara dan memenangkan sejumlah laga yang pada akhirnya memberikan sejarah paling berarti dalam perjalanan yang telah dilalui.

Seorang reporter BBC mengatakan bahwa di era kegemilangan Liverpool saat itu, para suporter benar-benar tampil dalam aroma yang berbeda. Ia mengatakan bahwa belum pernah ada pemandangan sehebat ini sebelumnya.

Para suporter dianggap sebagai sebuah sihir yang benar-benar menyalurkan energi luar biasa kepada para pemain Liverpool.

Keganasan serta gairah menjadi dua kata yang menggambarkan kumpulan suporter Liverpool saat itu. Sebuah pemandangan luar biasa jelas terjadi saat mereka tampil diatas lapangan, khususnya bila menggunakan Anfield sebagai lahan pertempuran.

Namun beriringan dengan kegemilangan di kancah sepak bola, kota tersebut juga mengalami masa-masa krisis. Perekonomian turun dalam waktu yang cukup singkat. Pengangguran berada pada titik tertinggi sepanjang sejarah. Pekerja industri terhenti, termasuk pertambangan dan juga usaha batu bara.

Saat itu, Liverpool menjadi kota yang tergambar akan banyaknya depresi. Kota tersebut terlantar, layanan sosial terabaikan, serta pelabuhan sudah tidak lagi digunakan. Sebagian perdagangan juga pindah haluan, dan menjadikan kota tersebut tertinggal dalam sebuah masa kelam.

Seiring berjalannya waktu, kerusuhan terjadi dimana-mana. Banyak sekali bentrok antar warga, sampai pemerintah setempat harus mengerahkan ratusan polisi demi meredam emosi.

Lalu, dalam iklim sosial dan ekonomi yang tak terkendali, sepak bola menjadi pelarian paling dicari. Mereka menjadikan permainan tersebut sebagai sebuah kebahagiaan ditengah kemiskinan yang melanda.

Di dalam stadion, warga Liverpool sekaligus penggemar klub sepak bola disana dengan lantang menyanyikan lagu You’ll Never Walk Alone. Mereka tersihir oleh makna yang terkandung didalamnya.

Berkat lagu yang dinyanyikan, semangat juang akhirnya kembali terangkat. Lalu muncullah keajaiban yang begitu diharapkan.

Selain klub, para warga yang termasuk penggemar kembali pada masa sedia kala. Mereka bisa tertawa sambil menikmati masa-masa terindah. Sebuah nyanyian yang tak terlupakan dan masih dilantangkan hingga sekarang.

You’ll Never Walk Alone, memiliki arti yang begitu tinggi. Karya tersebut memicu para pemain sekaligus siapapun yang mendengarkannya jadi lebih berenergi. Buktinya? Sudah ada banyak sekali pertandingan, dimana Liverpool berhasil bangkit dan keluar sebagai pemenang.

Satu yang paling menggema tentu saat pasukan The Reds berhasil meraih trofi Liga Champions Eropa tahun 2005. Satu saksi dari ajaibnya lantunan lagu You’ll Never Walk Alone adalah Vladimir Smicer.

Vladimir Smicer menjadi sosok krusial tatkala Liverpool menjuarai Liga Champions musim 2004/05 di Istanbul. Smicer menjadi pemain yang ikut menyumbangkan gol pada waktu normal dan saat adu penalti. Dia mengatakan, ketika mendapatkan peluang, dia akan menendang sekeras mungkin. Dan benar saja, sepakannya mampu menggetarkan gawang Milan yang dikawal Dida.

Baginya, itu adalah final yang sangat fantastis. Mungkin bukan untuk dirinya saja, namun untuk semua penggemar. Smicer awalnya merasa sangat kecewa dengan kedudukan di awal laga. Namun situasi seketika berubah ketika semua pemain masuk ke ruang ganti.

Sesuatu hal yang diucapkan oleh kapten Steven Gerrard telah memberikan segala energi pada pemain.

Lalu, satu hal yang paling membuatnya takjub adalah. fans menyanyikan “You’ll Never Walk Alone” saat para pemain keluar dari ruang ganti. Mereka terus menyanyikan lagu tersebut dan diakui sampai membuat semangat para pemain kembali berkobar.

Hasilnya, semua sudah tahu jalan ceritanya. Berkat dukungan yang begitu luar biasa, Liverpool keluar sebagai juara setelah melewati laga final paling bersejarah di turnamen Liga Champions Eropa.

Disamping cerita luar biasa itu, perhatian juga hadir dari sosok manajer legendaris seperti Jose Mourinho dan Arsene Wenger. Keduanya mengatakan kalau para penggemar Liverpool selalu memberikan suasana yang berbeda. Bagaimanapun, para penggemar The Reds mampu mengubah suasana semangat para pemain.

Lagu tersebut telah menyertai seluruh komponen tim.

Lebih dari itu, semangat, perjuangan, kerja keras, dan kebersamaan akan selalu melekat dalam sebuah slogan,

“You’ll Never Walk Alone”.

Jadi Pemain Termahal el Real, Mengapa Performa Luka Jovic Tak…

Luka Jovic baru saja resmi kembali ke Eintracht Frankfurt dari Real Madrid melalui status pinjaman. Kabar itu dilaporkan langsung oleh akun Twitter resmi klub...
Garin Nanda Pamungkas
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *