Kisah Deschamps “Si Gelandang Pengangkut Air” Jadi Kunci Sukses Prancis

spot_img

Kejayaan timnas Prancis di beberapa tahun terakhir selain disebabkan oleh performa para pemainnya, tentu tak dilupakan juga jasa orang yang pandai meraciknya. Siapa lagi kalau bukan sang arsitek, Didier Claude Deschamps.

Karirnya sebagai pemain dan pelatih tak usah diragukan lagi. Pria 49 tahun tersebut sudah banyak makan asam garam kompetisi. Beberapa gelar sebagai pemain maupun pelatih sudah banyak didapatkannya. Pengaruhnya dalam tim sangatlah besar, baik sebagai pemain maupun pelatih.

Dengan gaya permainannya yang ulet dan tanpa lelah di lapangan tengah, ia sempat dijuluki oleh satu rekan setimnya Eric Cantona sebagai “Water Carrier” atau dikenal sebagai “gelandang pengakut air”. Di situlah istilah “gelandang pengangkut air” viral di dunia sepakbola.

Karirnya Moncer Sebagai Pemain

Berkat predikat yang sesuai dengan performanya di lapangan tersebut, tak terkejut jika ia memang gacor selama karirnya membela beberapa tim. Termasuk ketika awal karirnya yang bersinar bersama Marseille.

Ia menjelma menjadi salah satu gelandang terbaik di dunia ketika ia berjaya membawa Marseille menjuarai Liga Champions 1992/93. Kala itu pasukan Marseille mampu mengandaskan tim bertabur bintang favorit juara AC Milan.

Karir yang cemerlang tersebut, membuat dirinya diburu tim besar. Juventus beruntung mendapatkan tanda tangan Deschamps. Si Nyonya Tua pun mampu mendapat imbas dari performa garang si gelandang pengangkut air tersebut.

Beberapa gelar pun pernah dipersembahkan bagi La Vecchia Signora. Salah satunya yakni juara Liga Champions 1995/96. FYI aja, gelar Liga Champions itu adalah gelar terakhir Juve di Liga Champions hingga saat ini.

Keperkasaan di level klub membuat dirinya dinanti tuahnya di level timnas. Piala Dunia di rumah sendiri 1998 menjadi pencapaian sejarah bagi Deschamps. Ia akhirnya melengkapi gelarnya di level negara dengan menjadi bagian dari skuad Juara Dunia. Tak tanggung-tanggung ia didapuk menjadi kapten waktu itu. Bahkan tak hanya sampai di Piala Dunia, di Euro 2000 pun, Prancis mampu dibawanya kembali juara.

Debut Sebagai Pelatih, Monaco Ke Final Liga Champions

Karirnya sebagai pemain akhirnya diakhiri ketika membela Valencia pada 2001. Namun tak butuh waktu lama ia lepas dari dunia sepakbola. Ia langsung ditunjuk sebagai pelatih AS Monaco di musim 2001/02.

Karir melatihnya tak butuh waktu lama untuk berprestasi. Di Ligue 1 musim 2002/03, Deschamps sudah mampu mengantarkan Monaco kampiun Coupe De League. Dan yang lebih mencengangkan lagi, ia membawa Ludovic Giuly, Dado Prso, dan kawan-kawan melangkah hingga final Liga Champions 2003/04.

Lima musim di Monaco, 2006 ia hijrah ke Italia. Uniknya, ia mau disuruh kembali melatih klub lamanya Juventus ketika terkena kasus Calciopoli. Juve ketika itu terlempar ke Serie B.

Tuah racikannya pun tak butuh waktu lama bagi Juve kembali naik kasta ke Serie A. Juve langsung jadi juara Serie B musim 2006/07. Namun setelah mengantarkan Si Nyonya Tua promosi, ia malah memilih keluar.

Ia ditawari oleh klub lamanya di Prancis yang sempat mengorbitkan nama besarnya yakni Marseille di musim 2009/10. Dan kembali fantastis sentuhannya, di musim debutnya ia langsung merengkuh juara Ligue 1 setelah penantian panjang 18 tahun lamanya. Dan FYI juga, itu adalah gelar terakhir Ligue 1 bagi Marseille hingga kini.

Pasca Euro 2012, FFF Menunjuknya Sebagai Pelatih

Seperti karirnya dalam bermain, ketika sudah sukses di beberapa klub, nasib ia untuk mengabdi kepada negara akhirnya terpanggil. Federasi Sepakbola Prancis (FFF) menunjuk Deschamps untuk menjadi pelatih Les Blues pasca Euro 2012. Ia menggantikan Laurent Blanc yang dianggap gagal di Euro 2012 karena kalah di 16 besar oleh Spanyol.

Piala Dunia 2014 menjadi ajang pertama pembuktian Deschamps sebagai pelatih timnas. Hasilnya ternyata tak sesuai ekspektasi. Prancis tak mampu dibawanya mencapai target yang diinginkan. Mereka kandas di babak perempat final oleh Jerman.

Banyak suara pemecatan setelah Piala Dunia 2014. Deschamps pun bertanggung jawab dan menyerahkan semuanya kepada federasi untuk dievaluasi.

Kesabaran FFF Berbuah Manis Sejak 2016

Namun, kesabaran federasi mengevaluasi kinerja Deschamps berbuah hasil. Prancis tetap dipercayakan padanya pasca 2014. Euro 2016 adalah ajang kesempatan kedua baginya. Bermain di rumah sendiri menjadi alasan federasi yang berharap Deschamps masih punya tuah bagi pasukan Les Blues, seperti apa yang ia berikan sebagai pemain ketika menjadi tuan rumah di Piala Dunia 1998.

Final menjadi pencapaian tak terlupakan bagi dirinya. Kalah 1-0 oleh Portugal tak membuat Deschamp dicap gagal. Ia dianggap federasi mampu membawa generasi baru Prancis untuk berprestasi lebih. Benar saja, sejarah kemudian tercipta di Piala Dunia 2018. Les Bleus menjadi juara dunia setelah penantian 20 tahun lamanya.

Ia menciptakan rekor sebagai peraih Piala Dunia baik sebagai pemain maupun pelatih. Ia sejajar dengan Mario Zagallo dan Franz Beckenbauer. Namun catatan rekor tersebut tak lantas membuatnya perkasa di turnamen berikutnya.

Di Euro 2020, ia gagal total setelah kandas di 16 besar oleh Swiss. Namun setelah berbicara empat mata dengan ketua FFF, Noel Le Graet ia sekali lagi kembali didapuk sebagai pemimpin di Piala Dunia 2022 Qatar. “Ini adalah buah kesabaran kedua yang diberikan federasi bagi Deschamps, di tengah desakan mencari pelatih baru macam Zidane terus didengungkan,” kata Noel.

Dibayangi kutukan juara bertahan dan badai cedera yang melanda pemain pilarnya, racikan Deschamps dianggap masih bertaji. Final untuk ketiga kalinya bagi Deschamps bersama timnas jadi bukti. Pencapaian back to back final tersebut membuat namanya bersanding bersama Franz Beckenbauer, Vittorio Pozzo, maupun Carlos Bilardo.

Kegagalan menjadi juara di 2022 tetap menjadi catatan. Akan tetapi lebih dari itu, Prancis di bawah bimbingannya terbukti masih berjalan pada track yang benar. Dan bukan tidak mungkin ia akan kembali memimpin Les Blues di Euro 2024 mendatang.

Gaya Permainan Deschamps Di Timnas Prancis

Dari semua kisah Deschamps tersebut, patut untuk dipelajari bagaimana gaya khasnya ketika menjadi pemain maupun ketika melatih. Menurut analisis The Sportsman, Deschamps memainkan perannya ketika melatih seperti ketika ia bermain.

Ia lebih bermain adaptif dan efektif. Cenderung defensif, seperti nalurinya ketika sebagai pemain. Sosok pelatih yang dinilai cocok sebagai spesialis turnamen. Kemampuan komunikasi dan motivasi yang baik di luar maupun dalam lapangan juga menjadi ikon.

Layaknya jenderal lapangan tengah, ia juga identik menciptakan komposisi lini tengah yang solid. Cabaye, Kante, Pogba, Rabiot, Matuidi, hingga kini Camavinga, Fofana, maupun Tchouameni adalah contoh beberapa gelandang yang terus tumbuh dan digembleng olehnya di timnas.

Sumber Referensi : thesun, thesportsman, transfermarkt, sportskeeda

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru