Ketika Kedatangan Henry Bikin Rivalitas Wenger vs Fergie Makin Panas

spot_img

Ketika masa puncak rivalitas antara Fergie dan Wenger, kita sebagai penonton disuguhkan dengan banyak drama baik di dalam maupun di luar lapangan. Setiap kali Manchester United bertemu dengan Arsenal di suatu laga, hampir pasti bagi fans akan menyaksikan kebencian dari masing-masing manajer yang begitu terasa. Fergie dan Wenger akan saling sindir sebelum dan setelah laga berlangsung. Mengomentari satu sama lain dengan penuh komentar bernada satir.

Sekarang kedua manajer legendaris itu sudah pensiun dari dunia kepelatihan. Rivalitas mereka pun sebenarnya sudah mereda di awal era 2000-an. Tapi, menarik untuk diingat bagaimana rivalitas itu bisa terjadi? dan bagaimana puncak persaingan antara dua manajer itu?

Wenger Rusak Dominasi MU

Era 90-an adalah masa kejayaan Ferguson melatih Manchester United. Fergie membuat MU menjadi tim paling ditakuti di Inggris. MU juga sudah punya pemain berkualitas, akademi dan regenerasi yang baik, dan juga jadi langganan juara Liga Inggris. Tidak ada yang mengusik ketenangannya saat itu.

Namun semua berubah ketika Arsenal merekrut Arsene Wenger pada tahun 1996 dari klub Jepang, Nagoya Grampus. Wenger bukan siapa-siapa waktu itu. Ia belum memiliki nama yang besar dan dikenal semua orang. Wenger juga tidak pernah melatih klub besar sebelumnya. Tapi, para pengamat bola sudah memberikan julukan “The Professor” untuk Wenger.

Julukan itu mendatangkan banyak reaksi. Ada yang penasaran, ada juga yang skeptis. Fergie termasuk sebagai orang yang skeptis dengan kedatangan Arsene Wenger ke Arsenal. Ferguson masih ragu, pelatih yang bukan siapa-siapa ini langsung menangani klub sebesar Arsenal dan digadang-gadang akan menjadi pesaingnya.

Tapi kecerdasan Wenger terbukti. Di musim pertama, Wenger membawa Arsenal di peringkat ketiga Liga Inggris. Lalu di musim selanjutnya, Arsenal mampu meraih double, dengan merenggut trofi Liga Inggris dan Piala FA sekaligus.

Ferguson tentu jadi naik pitam. Ketenangannya sebagai manajer paling sukses di Inggris sudah diganggu oleh Wenger hanya dalam waktu dua musim. Apalagi saat itu Wenger memboyong pemain-pemain berbakat, membuat permainan Arsenal jadi lebih atraktif dari sebelumnya.

Tapi, ini juga menumbuhkan jiwa kompetitif Fergie semakin membara. Ferguson bersumpah sejak saat itu, akan menyempurnakan timnya. Tidak akan berhenti sampai ia bisa mengalahkan skuad Arsenal dan merebut kembali mahkota ke tangan Fergie.

Fergie Raih Treble

Musim setelahnya, MU bertemu dengan Arsenal di laga semifinal FA Cup 1998/99. Dan itu membuat rivalitas mereka kembali memanas. Pasalnya jika Arsenal menang, kemungkinan besar Arsenal akan menjadi juara FA Cup musim itu. Juga ada potensi untuk Arsenal bisa meraih double lagi.

Tapi, motivasi Fergie lebih besar. Degan masih berkompetisi di Champions League dan juga bersaing di papan atas Premier League, Ferguson bisa membawa MU jadi tim Inggris pertama yang meraih treble.

Laga itu berjalan sangat panas. Roy Keane sampai harus keluar lapangan berkat kartu merah yang diterimanya. Tapi ada dua momen kunci di pertandingan itu. Pertama adalah ketika Schmeichel mampu menepis penalti dari Dennis Bergkamp saat kedudukan masih imbang 1-1. Padahal MU sudah bermain dengan sepuluh pemain.

Dan momen kedua, tentu saja gol ikonik dari Ryan Giggs. Giggs menggiring bola dari tengah lapangan, melewati beberapa pemain sebelum akhirnya menembakkan tendangan ke gawang Arsenal. MU pun berhasil memenangi pertandingan dengan skor 2-1. Tuntas sudah dendam Fergie dari musim lalu untuk bisa merebut dominasi setan merah lagi. Ditambah, MU berhasil meraih treble di akhir musim.

Prestasi Manchester United bersama Fergie saat itu membuat darah Arsene Wenger makin mendidih. Tidak hanya gelar treble begitu sangat bergengsi di tanah Eropa, tapi Wenger sebenarnya mempunyai peluang besar untuk menghalangi Fergie mendapatkan gelar itu. Wenger pun mencoba cari cara untuk bisa membuat timnya lebih kuat lagi.

Kedatangan Henry, Rivalitas Makin Panas

Wenger menemukan jawaban atas masalahnya itu dalam diri Thierry Henry, seorang pemain berkebangsaan prancis yang saat itu masih memperkuat Juventus. Henry saat itu masih berusia 22 tahun. Di Juventus, sebenarnya Henry bukan pemain yang mencolok. Ia kesulitan untuk mendapatkan menit bermain di Turin.

Tapi Wenger sudah memperhatikan bakat Henry sejak ia masih di Monaco. Ia sudah bisa menilai bahwa Henry adalah pemain yang bisa membuat Arsenal menjadi tim yang ditakuti di Inggris. Di bawalah Henry ke Highbury dengan harga 11 juta euro saja.

Gaya bermain Henry ternyata sangat nyetel dengan permainan Arsene Wenger. Henry punya kecepatan dan stamina yang baik sehingga memungkinkan Wenger untuk memainkannya sebagai second striker atau target man. Namun, kehebatan Henry di Arsenal tidak langsung terasa. Pada 17 pertandingan pertama Henry bersama Arsenal, dirinya hanya mampu mencetak dua gol.

Hingga tahun 2001, Wenger masih harus mengakui keunggulan Fergie. Setelah treble, Manchester United berhasil masih merajai Inggris dengan menjuarai Premier League musim 1999/00 dan 2000/01. namun, meskipun begitu Henry semakin berkembang di bawah asuhan Wenger. Tanpa disadari, Henry sudah menjadi striker mematikan di Liga Inggris. Di musim 2001/02, Wenger pun bisa membawa Arsenal kembali meraih double.

Ferguson sebenarnya punya rencana untuk pensiun dini di akhir musim 2001/02. Namun niatnya berubah ketika Wenger mendapatkan gelar double keduanya di Arsenal. Fergie tidak rela dirinya pensiun ketika Manchester United bukan raja di Inggris, apalagi kalah hebat dari Arsenal.

Rivalitas mereka pun semakin panas. Fergie sendiri mengakui, yang membuat hubungan rivalitas mereka menjadi semakin toxic adalah kedatangan Henry ke Arsenal. Di setiap pertandingan melawan Arsenal, Fergie akan menugaskan dua sampai tiga orang sekaligus untuk menempel ketat Henry. Ferguson bahkan dikabarkan melarang para pemainnya untuk bertukar jersey dengan Henry.

Wenger Raih Invincible

Batalnya rencana pensiun Fergie ternyata keputusan yang benar. Dibumbui dengan dendam, Fergie kembali membuat Manchester United mendominasi Liga inggris. Ia bahkan meraih gelar juara Liga Inggris dua musim berturut-turut setelahnya. Harusnya misi Ferguson di Manchester United sudah tuntas. Ia bisa pensiun dengan tenang mengetahui MU kembali merajai Inggris dan lepas dari bayang-bayang Arsenal.

Tapi di musim setelahnya, Arsenal menjadi semakin kuat. Ditambah dengan Henry yang semakin menjadi momok bagi para pemain bertahan. Ia tidak henti-hentinya mencetak gol. Di akhir musim 2003/04, Henry mencetak 30 gol dan enam assist dari 37 penampilannya di Liga Inggris.

Momen panas di musim ini adalah ketika mereka berdua bertemu di Old Trafford pada gelaran Liga Inggris musim 2003/04. Pertandingan itu kelak dikenang sebagai Battle of Old Trafford berkat kerusuhan yang terjadi pada laga tersebut. Sempat terjadi perseteruan antara Nistelrooy dan Vieira yang membuat Vieira mendapatkan kartu merah.

Arsenal yang masih belum terkalahkan di lima pertandingan pembuka sebelumnya harus terancam menyudahi rekor tersebut. Setelah setan merah mendapatkan hadiah penalti di menit akhir. Namun van Nistelrooy yang menjadi eksekutor tidak mampu menuntaskan tugasnya.

Pada akhir musim itu, Arsenal mendapatkan gelar Invincible. Arsene Wenger mampu mengakhiri musim tanpa pernah mengalami kekalahan sekalipun. Suatu prestasi yang tidak pernah didapatkan manajer manapun di Premier League, termasuk Fergie. Tapi Fergie saat itu masih terlalu gengsi untuk mengakui keunggulan Wenger. Ia berkomentar dengan nada nyinyir bahwa Invincible didapatkan Wenger dengan terlalu banyak pertandingan imbang.

Battle of the Buffet

Pada musim setelahnya, terjadi puncak rivalitas antara Fergie dan Wenger. Saat itu adalah pertandingan Premier League musim 2004/05. Arsenal masih belum terkalahkan di pertandingan liga, sisa dari kejayaan Invincible musim sebelumnya.

49 pertandingan Premier League tak terkalahkan. Adalah rekor Arsenal pada saat itu dihancurkan begitu saja oleh Fergie. Manchester United berhasil menang dengan skor 2-0 atas Arsenal. Gol pertama MU diciptakan dari titik putih. Nistelrooy berhasil menuntaskan mimpi buruk musim lalu saat gagal penalti di Battle of Old Trafford. Lalu Wayne Rooney mencetak gol dan sekaligus mengakhiri perjalanan tak terkalahkan Arsenal.

Di akhir laga, pemain Arsenal dan MU saling adu mulut ketika akan memasuki ruang ganti. Dan puncaknya adalah sepotong Pizza yang dilemparkan oleh salah satu pemain Arsenal, mengenai Ferguson. Fergie pun harus ganti baju akibat terkena noda dari Pizza. Kejadian itu kemudian dikenal dengan sebutan Battle of the Buffet. Itu menjadi puncak rivalitas kedua manajer tersebut. Sekaligus menjadi akhir perseteruan mereka.

Di musim-musim setelahnya, rivalitas antara MU dan Arsenal semakin menurun. Alasan utamanya adalah hilangnya Arsenal dalam jalur perebutan juara Premier League. Tapi alasan lainnya adalah kedatangan Mourinho ke Chelsea di 2004. Mourinho menyulap Chelsea menjadi tim yang tidak malu-malu untuk merebutkan juara Liga Inggris. Kehadiran Mourinho ke Premier League seolah menciptakan musuh bersama untuk Wenger dan Ferguson.

Sejak saat itu mereka berdua tidak lagi memunculkan rivalitas atau saling lempar komentar panas. Wenger bahkan mengundang Fergie ke ruang ganti setelah timnya dikalahkan MU di laga semifinal Liga Champions 2009. Fergie juga akhirnya mengakui bahwa gelar Invincible milik Wenger lebih menonjol daripada 13 gelar Premier League yang ia memiliki bersama Manchester United.

 

Sumber referensi: Daily, 90min, B/R, Premier League

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru