Kesalahan Putusan Pengadilan Awali Dominasi Inter Milan di Serie A

spot_img

Skandal Calciopoli tahun 2006 memang jadi aib bagi sepakbola Italia. Meski Juventus yang dicap sebagai poros pusaran kasus ini, skandal yang bisa dibilang yang paling besar dalam sejarah persepakbolaan Italia itu bahkan melibatkan banyak klub. Bahkan AC Milan hingga Reggina dikabarkan juga terlibat dalam kasus ini.

Biar begitu, tampaknya kasus Calciopoli tak selamanya buruk bagi klub-klub Liga Italia. Sebut saja Inter Milan yang berhasil ngalap berkah dari skandal ini. Dengan degradasinya Juventus ke Serie B dan compang-campingnya manajemen AC Milan, Nerazzurri berhasil merajai Serie A di era pertengahan tahun 2000-an.

Kala itu, Inter Milan pernah mendominasi Serie A selama empat musim beruntun. Namun, yang menarik dibahas dari kejayaan Inter ini adalah prosesnya. Ya, kesalahan putusan pengadilan dalam perkara Calciopoli lah yang membuka gerbang kejayaan Inter di Serie A. Bagaimana bisa? Berikut kisahnya.

Puasa Gelar

Penggemar Serie A periode awal tahun 2000-an pasti ingat betul kalau Inter Milan bukanlah tim unggulan Italia saat itu. Tercatat, hingga meledaknya kasus Calciopoli yang didalangi Juventus, Inter Milan belum pernah juara sekali pun. Kala itu juara Liga Italia hanya berkutat antara Juventus dan AC Milan, rival-rival Inter. Sedangkan Si Ular Besar sudah lama tak menapaki tangga juara. Terakhir kali Inter mendapat scudetto tahun 1989.

Tak heran sebuah gelar juara Serie A sangat dirindukan oleh publik Giuseppe Meazza. Meski sejak bertahun-tahun sebelumnya Inter selalu dianugerahi materi pemain dan memiliki pelatih yang cukup mumpuni, namun gelar juara tetap hanya menjadi kenangan manis di masa lalu.

Bahkan menurut Presiden Palermo saat itu, Maurizio Zamparini penantian Inter tidak akan berujung manis selama sikap arogansi masih dipelihara para pemainnya termasuk sang pelatih. Menurutnya, meski Inter selalu berisikan pemain dan pelatih papan atas, itu justru menjadikan tim memiliki arogansi yang tinggi. 

Zamparani juga mengatakan mereka sombong karena berpikir kalau sebuah tim yang dipenuhi raja, otomatis mendapatkan mahkota. Mereka salah. Dan ucapan almarhum pun dirasa benar. Saat musim 2005/06 di mana Inter Milan mendapat gelar pun dianggap itu bukan hasil jerih payah mereka sendiri. Pasalnya, scudetto musim tersebut merupakan hibahan dari sang rival, La Vecchia Signora.

Sepakbola Italia Bergejolak

Tahun 2006 bukanlah tahun yang baik bagi sepakbola Italia. Meski tim nasional mereka berhasil merengkuh gelar juara dunia, sepakbola Italia tak bisa terhindar dari luka bernanah yang diciptakan oleh Juventus. Pada tahun tersebut, kasus Calciopoli atau dalam bahasa sederhananya merupakan kasus pengaturan skor yang sudah dilakukan investigasinya sejak musim 2004/05 mulai terkuak.

Menariknya, federasi sepakbola Italia menemukan kasus ini secara tidak sengaja. Dilansir 90min, awalnya jaksa melakukan pemantauan terhadap semua aktivitas panggilan yang dilakukan Juventus dengan maksud penyelidikan atas kasus doping. Namun, mereka justru mendengar salah satu tokoh klub sedang menekan pejabat wasit untuk berpihak pada klub tertentu.

Akhirnya federasi sepakbola Italia membentuk tim investigasi untuk menyelidiki kasus tersebut. Hasil penyelidikan yang dipublish pada tahun 2006 cukup mencengangkan. Tim gabungan yang dibentuk oleh federasi menemukan setidaknya ada lebih dari 20 pertandingan yang hasil akhirnya sudah diatur melibatkan klub asal Turin tersebut.

Kasus Calciopoli pun mulai menjejali media-media internasional. Kejahatan memalukan itu sudah mencoreng nama baik Serie A yang kala itu dianggap sebagai liga sepakbola terbaik di Eropa. Dalam prosesnya, Bianconeri ternyata tak sendirian. Tercatat ada empat klub Italia lain yang terlibat.

Putusan Pengadilan yang Kontroversial

Menariknya, tak ada Inter Milan di daftar klub yang terlibat. Tiga klub besar lain yang dikabarkan terlibat adalah AC Milan, Lazio dan Fiorentina. Mereka bergabung dengan Juve untuk menerima sanksi. Meskipun semuanya terlibat, mereka menerima hukuman yang berbeda-beda. Barangkali yang paling berat adalah Juventus, karena mereka merupakan dalang dari kasus ini.

Meski La Vecchia Signora keluar sebagai juara Serie A musim 2005/06, mereka harus menerima hukuman terdegradasi ke Serie B dan pencabutan dua gelar Serie A pada 2004/05 dan 2005/06. Khusus gelar Serie A 2005/06 diserahkan ke Inter Milan yang berada di posisi ketiga. Hal ini dikarenakan AC Milan yang berada di peringkat kedua juga terkena skandal tersebut dan harus menerima hukuman pengurangan poin.

Namun, setelah putusan pengadilan yang menyatakan gelar Juventus musim 2005/06 jatuh ke tangan Inter, beberapa pihak mulai mempertanyakan keputusan tersebut. Salah satunya adalah Fabio Capello yang kala itu masih menukangi Juventus. 

Dilansir Sempre Inter, Capello merasa Inter tidak layak mendapatkan gelar tersebut. Ia merasa hakim yang bertugas menangani Calciopoli, Guido Rossi terlalu terburu-buru memutuskan. Jadi tak heran, jika saat itu ada isu yang beredar kalau sang hakim merupakan fans Inter yang sedang menghalalkan segala cara demi tim favoritnya itu mengakhiri puasa gelar.

Beberapa tahun kemudian, Carlo Porceddu, salah satu hakim yang juga ikut menangani kasus Calciopoli pun buka suara. Menurut Porceddu, mencabut scudetto musim 2005/06 dari Juventus dan malah memberikan ke Inter adalah kesalahan besar.

Porceddu juga menambahkan kalau pengadilan hanya berfokus pada kasus yang melibatkan direktur Juventus saat itu, Luciano Moggi. Jadi putusan membatasi Juventus hanya mendapat beberapa sanksi saja, bukan pencabutan gelar karena pengadilan tak menemukan bukti yang cukup untuk melakukan itu.

Inter Tukar Nasib dengan Juventus

Di saat nama baik sepakbola Italia hancur dan Si Nyonya Tua ambruk lantaran terjangkit kasus, Inter Milan justru melesat bagai roket. Juventus bak bertukar nasib dengan Inter Milan. Dari awalnya Juve yang mendominasi Serie A, kini Inter Milan yang merajai sepakbola Italia.

Selepas tahun-tahun yang kelam, sepakbola Italia era pertengahan tahun 2000-an serasa jadi milik Inter Milan. Terlebih musim 2006/07 berjalan lebih mudah dari biasanya. Karena para rival Inter macam AC Milan, Lazio, dan Fiorentina juga berstatus terhukum harus memulai liga dengan poin minus.

Di akhir musim, Julio Cesar dan kawan-kawan berhasil menjadi kampiun Serie A dengan mengumpulkan 97 poin, jauh di atas 75 poin milik AS Roma di peringkat kedua. Sementara Juventus merasa terhina lantaran harus melakoni laga demi laga di kasta kedua sebagai hukuman atas keterlibatannya di skandal yang memalukan itu.

Puncaknya Treble 2010

Situasi sulit yang dialami tim-tim Serie A lain dimanfaatkan oleh Inter asuhan Roberto Mancini. Dengan cerdiknya, Inter membajak pemain dari beberapa rivalnya termasuk Juventus dengan memboyong dua bintangnya, Zlatan Ibrahimovic dan Patrick Vieira untuk membuat tim semakin kokoh di puncak. 

Dahsyatnya Inter di Serie A terus berlanjut hingga tiga musim ke depan. Setelah meraih scudetto selama empat musim beruntun, puncaknya adalah musim 2009/10. Di bawah kendali Jose Mourinho, La Beneamata menjadi klub Italia pertama yang berhasil merengkuh tiga gelar sekaligus dalam satu musim. Hmmm, mungkin kalau Juventus nggak tersandung kasus Calciopoli, Inter baru buka puasa tahun 2021 kemarin ya…

Sumber: 90min 1,90min 2, Sempre Inter, BRfootball, BBC, Panditfootball

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru