Kenapa TNI dan Polri Mempunyai Klub Sepak bola?

  • Whatsapp

Bhayangkara FC keluar sebagai juara Gojek Liga 1 Indonesia tahun 2017 untuk kali pertama. Di pertandingan terakhirnya di ajang tersebut, Bhayangkara FC mengalahkan Madura United 3-1 di Stadion Gelora Bangkalan. Bhayangkara FC berhasil mengumpulkan 68 poin dan tak mungkin terkejar oleh klub lain.

Ya, benar sekali, sesuai namanya Bhayangkara FC adalah klub sepak bola yang didirikan oleh aparat kepolisian. Fyi, kata “bhayangkara” sendiri merupakan pangkat golongan tamtama dalam kepolisian di bawah bintara. Kendati begitu, jangan dibayangkan kalau pemain Bhayangkara FC semuanya adalah polisi.

Bacaan Lainnya

Selain Bhayangkara FC, ada satu klub lagi yang lahir dari aparat, yaitu PS TNI. Tentu tanpa perlu dijelaskan dari mana asalnya, semua orang sudah tahu. Klub sepak bola besutan Tentara Nasional Indonesia itu kini sudah berubah lagi namanya menjadi Persikabo 1973 setelah merger dengan Persikabo, sebelum itu namanya TIRA-Persikabo.

Namun, kita tak perlu heran soal ketidakjelasan semacam itu. Ya kita semua tahu, kalau Liga Indonesia memang penuh ketidakjelasan.

Kehadiran klub-klub dari unsur TNI dan Polri itu, tak bisa dipungkiri menimbulkan pertanyaan. Bagaimana sebuah instansi pemerintah yang dananya tentu dari rakyat mendirikan klub sepak bola? Terlebih sepak bola adalah sebuah industri.

Bukan Barang Baru

Sepak bola adalah milik bersama. Tidak peduli tua-muda, miskin-kaya, pria-wanita, transgender, homoseksual atau heteroseksual. Semua berhak untuk bermain sepak bola. Begitu pula untuk mendirikan klub sepak bola.

Maka dari itu, instansi seperti Polri maupun TNI boleh-boleh saja untuk memiliki klub sepak bolanya sendiri. Mengenai klub sepak bola profesional, itu soal lain. Tapi perlu diketahui bahwa sebenarnya hal semacam itu sudah sangat jamak terjadi. Bahkan Indonesia boleh dibilang sedikit terlambat untuk memulainya.

Di negara-negara tetangga, klub-klub buatan angkatan bersenjata sudah banyak yang berprestasi di tingkat profesional. Sebutlah seperti di Singapura, Filipina, Malaysia, Thailand, dan agak jauh dikit, Korea Selatan. Di Singapura dua klub besutan tentara dan polisi sudah mulai berkiprah.

Adalah Home United dan Warriors FC yang namanya bersinar di Singapura. Warriors FC berdiri tahun 1975 yang kala itu masih bernama Singapore Armed Force FC. Mereka kini menjelma sebagai klub paling sukses di Singapura dengan total sembilan gelar telah diraih.

Sedangkan Home United sendiri berdiri pada 1940. Bermula dari Police Sport Association Singapura yang mendirikan Police Football Club. Sayangnya, sampai tahun 1996 dan S-League digelar, klub tersebut tidak pernah tampil di kompetisi profesional.

Kemudian tahun 1997 klub-klub di Kementerian Dalam Negeri dan Dinas Agraria setempat melakukan peleburan, dan Police FC turut. Jadilah tim ini berubah nama menjadi Home United dan sekarang berubah lagi namanya menjadi Lion City Sailors FC setelah diakuisisi start up lokal. Malaysia juga memiliki klub dari unsur tentara.

Angkatan Tentara Malaysia FA (ATM FA) adalah klub yang sudah ada di Malaysia sejak 1920. Klub yang umurnya sudah tua itu tak cukup baik prestasinya. Kendati tak bisa dibantah kalau ATM FA menjuarai Liga dan Piala Malaysia tahun 2012.

Kenyataannya, klub yang dibentuk oleh badan-badan kemiliteran atau kepolisian juga sudah ada di Benua Eropa. Kita tentu akrab dengan nama klub “Dynamo” bukan? Klub yang memakai embel-embel “Dynamo” di emblemnya  berarti klub tersebut dibentuk oleh polisi. Ada Dynamo Moskva di Russia, Dynamo Kyiv di Ukraina, sampai Dynamo Dresden di Liga Jerman.

Sementara jika dari unsur tentara, klub sepak bola akan dinamai CSKA, seperti CSKA Moskva. Dan khusus untuk di Rumania, biasanya dinamai Steaua, seperti Steaua Bucuresti. Jadi wajar apabila polisi maupun tentara memiliki klub sepak bolanya sendiri dan tampil di kancah profesional di negaranya.

Bagaimana dengan Indonesia?

Sebagai negara berkembang yang sangat memperhatikan dunia sepak bolanya, Indonesia juga tak mau ketinggalan. Klub seperti PS TNI yang kini Persikabo 1973 dan Bhayangkara FC seolah ingin memperlihatkan ke dunia bahwa tentara dan polisi bisa berkiprah di sepak bola. Mereka tidak cukup hanya untuk mengayomi masyarakat, tetapi juga melebur dengan kegiatan masyarakat termasuk sepak bola.

Di tubuh TNI juga telah terbentuk Persatuan Sepak bola (PS) di masing-masing angkatan. Ada PSAD (Persatuan Sepak bola Angkatan Darat), PSAU (Persatuan Sepak bola Angkatan Udara), dan PSAL (Persatuan Sepak bola Angkatan Laut). Hebatnya lagi, ketiganya tidak sekadar ada di pusat melainkan ada pula di tingkat daerah.

Baik PS TNI maupun Bhayangkara FC, keduanya lahir dari kompetisi yang nggak jalan akibat dibekukan FIFA. Tepatnya sekitar tahun 2015. Uniknya kedua klub ini lahir dari rahim turnamen dalam rangka mengisi kekosongan. Bhayangkara FC saat Piala Bhayangkara, sedangkan PS TNI saat turnamen Piala Jenderal Sudirman digelar.

Perjalanan Bhayangkara FC jauh lebih berliku daripada PS TNI. Bhayangkara FC bermula dari PS Polri, tempat para anggota menyalurkan bakatnya. PS Polri akhirnya merger dengan Surabaya United untuk bisa mengikuti Piala Bhayangkara.

Dari hasil merger tersebut, PS Polri berganti nama menjadi Bhayangkara Surabaya United. Sampai saham Surabaya United bisa dibeli penuh oleh Polri dan akhirnya berganti nama menjadi Bhayangkara FC. Kalaupun namanya kemudian berubah jadi Bhayangkara Solo FC itu karena markasnya pindah ke Solo. Sementara, PS TNI awalnya dari klub Perisiram Raja Ampat yang dibeli dan sebagian pemainnya dari PSMS Medan, dan kini merger dengan Persikabo Kabupaten Bogor.

Bagaimana Mekanismenya?

Sejujurnya, sampai detik ini masih gamang soal mekanisme dan aturan mengenai TNI dan Polri yang memiliki klub. Tentu secara kelembagaan, Polri dan TNI punya batasan dan aturan-aturannya sendiri, cuma kan tidak semua masyarakat tahu. Pun klub tidak melibatkan mayoritas anggota TNI atau Polri.

Ihwal supporternya jangan dibayangkan berasal dari TNI dan Polri. Tentu kita juga mesti berharap hal itu nggak bakal terjadi. Seandainya anggota TNI atau Polri mau datang ke stadion menyaksikan sepak bola itu urusan pribadi, bukan lantas perjalanan dinas.

Lawak banget kalau sampaikan itu terjadi. Kita, rakyat biasa kalau mau menyaksikan pertandingan sepak bola di stadion mesti nabung dulu, kerja dulu, dan sebagainya. Sedangkan aparat enak-enakan dibayarin negara buat nonton bola di stadion.

Masalah perjalanan dinas ini sudah diatur di Peraturan Menteri Keuangan Nomor 113/PMK.05/2012 tentang Perjalanan Dinas dalam Negeri bagi Pejabat Negara, Pegawai Negeri, dan Pegawai Tidak Tetap yang menyatakan bahwa perjalanan dinas adalah perjalanan ke luar tempat kedudukan yang dilakukan dalam wilayah Republik Indonesia untuk kepentingan negara. Perhatikan dua kata terakhir, itu berbunyi “kepentingan negara” bukan “kepentingan klub”.

Permasalahan yang Muncul

Kurang afdhol rasanya kalau kehadiran klub dari unsur tentara dan polisi tidak diiringi permasalahan-permasalahan. Penulis cum pendiri Pandit Football, Zen RS menulis di laman Detikcom bahwa kehadiran klub dari unsur TNI dan Polri justru menimbulkan ketimpangan.

TNI dan Polri tentu memiliki infrastruktur yang lengkap. Jika dibandingkan klub amatir yang lahir di daerah-daerah, tentu kelengkapan fasilitasnya bagaikan bumi dan Sidratul Muntaha. Sebagian klub Indonesia di tingkat SSB atau profesional bahkan mesti meminjam fasilitas lapangan latihan sepak bola milik TNI.

Dzulfiqar B. Prasetyo menulis di laman Fandom bahwa klub-klub dari aparat akan susah menggaet sponsor. Sebab dianggap tak memiliki nilai jual yang mumpuni. Belum lagi permasalahan soal siapa supporter mereka. Maka dari itu, keduanya memilih merger dengan klub yang sudah memiliki basis supporter.

Sumber referensi: tirto.id, fandom.id, kumparan.com, football-tribe.com, detik.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *