Kenapa Setiap Klub Sepak bola Ada Jersey Ketiga?

  • Whatsapp

Walaupun Manchester United memiliki basis fans yang begitu banyak dan hobi mem-bully fans lainnya di Indonesia, tapi ada kalanya MU sendiri yang kena perundungan. Soal performa yang buruk, kemenangan yang ditolong keberuntungan, sosok Ole Gunnar Solskjaer yang bully-able, sampai yang terakhir soal jersey. Yup, The Reds Devils pernah menjadi bahan cibiran karena jersey-nya dianggap norak.

Musim 2020/21, Adidas, sebagai apparel resmi klub yang bermarkas di Old Trafford itu meluncurkan jersey ketiga Setan Merah. Jersey tersebut boleh jadi tidak akan menjadi bahan cibiran, jika motifnya senada yang kalau dipandang harmoni. Namun alih-alih memberikan garis hitam yang horizontal saja atau vertikal saja, Adidas malah bikin garisnya yang tidak beraturan.

Pada musim itu pula, jersey ketiga Chelsea mendapat kritikan. Kritik bernada sinis tidak hanya terlontar dari mulut para haters dan fans klub lain, tapi juga datang dari penggemar The Blues itu sendiri. Bagaimana mungkin kita memuji desain jersey yang motifnya saja tidak jelas antara mau bergaris-garis atau tidak. Pun perpaduan warna yang bikin mata pengin merem nggak mau lihat.

Lain lagi jersey ketiga Ajax. Jersey tim asal Eredivisie Belanda itu, pada musim ini sungguh menawan. Dengan warna dasar hitam dan bernuansa Bob Marley, jersey tersebut kelihatan elegan. Tiga garis di lengan diberi warna khas musik Reggae: hijau, kuning, dan merah. Begitu pula tiga garis khas dari Adidas di bagian bahu. Tak hanya itu, tiga bintang di atas logo Ajax warnanya pun disesuaikan.

Dari ketiga contoh itu, menunjukkan kalau jersey ketiga juga memiliki peran yang cukup vital. Jadi, wajar saja kalau klub berlomba-lomba untuk mendesain ulang jersey ketiga mereka.

Namun pertanyaan yang muncul adalah kenapa apparel klub mesti mengurus desain jersey ketiga? Atau pertanyaan yang lebih mendasar, kenapa setiap klub sepak bola ada jersey ketiga? Bukankah jersey home dan away saja sudah cukup?

Awal Pemakaian Jersey Ketiga

Tidak banyak literatur yang menyebutkan sejak kapan jersey ketiga ini dipakai oleh klub-klub di Eropa atau bahkan di dunia. Namun di Inggris, Federasi Sepak bola Inggris (FA) sudah menerapkan peraturan jersey ketiga atau alternatif sejak 1930-an. Saat itu tujuannya untuk menghindari bentrok warna di partai semifinal dan final.

Manchester United tercatat pernah memakai jersey ketiga berwarna biru pada 1948 saat menghadapi Blackpool di partai puncak Piala FA. Setan Merah memakai jersey itu lagi pada 1968 saat bertandang ke Benfica di ajang Piala Eropa (sekarang UEFA Champions League).

Kenapa Ada Jersey Ketiga?

Lambat laun, pemakaian jersey ketiga berkembang ke hampir seluruh belahan dunia. Kendati pada mulanya jersey ketiga ini dianggap tidak terlalu penting. Umumnya, kesebelasan yang melawat ke kandang lawan harus memakai jersey away (kedua), sedangkan tuan rumah mengenakan jersey home.

Namun apabila jersey away dari tamu mirip dengan jersey home tuan rumah, klub tamu diperbolehkan untuk memakai jersey utama. Lalu, bagaimana kalau warnanya tetap senada? Hal itu bisa saja terjadi jika klub secara historis memakai warna yang populer baik di seragam home atau away. Warna populer itu seperti putih, merah dan biru, hitam dan merah, dan lain-lain.

Maka pemakaian alternatif jersey atau jersey ketiga tidak bisa dielakkan. Klub akhirnya harus mempunyai jersey alternatif yang warnanya sama sekali berbeda dengan jersey home dan away-nya.

Memperoleh Pendapatan

Adanya jersey ketiga bukan sekadar supaya mata bisa membedakan dua kesebelasan, tapi ini juga berpengaruh pada finansial klub sepak bola. Tak bisa dipungkiri, sebagai sebuah industri, klub harus memanfaatkan reputasinya untuk menarik uang dari para fans, salah satunya dengan berjualan jersey.

Barangkali itulah yang mendasari cara berpikir seorang Tim Farron, salah satu anggota parlemen Partai Liberal Demokratik Inggris. Farron berkomentar sinis kalau klub, khususnya di Liga Inggris hanya memanfaatkan jersey ketiga untuk meraih pendapatan. Mengingat jersey ketiga ini sangat jarang digunakan.

Argumen Farron rasanya tak meleset terlalu jauh dan bukan sinisme belaka. Akan tetapi, pada kenyataannya jersey memang jadi bahan jualan klub. Terlebih harga sebuah jersey klub-klub, khususnya Liga Inggris jauh lebih tinggi dari gaji guru honorer.

Harga jersey klub-klub Premier League berkisar antara 35 paun sampai 55 paun atau Rp 698 ribuan hingga Rp 1 jutaan. Itu belum dengan patch kompetisi, nama, dan nomor punggung yang nilainya 8-15 paun atau Rp 159 ribu-Rp 299 ribuan Jadi seorang penggemar perlu merogoh kocek minimal 43 paun atau Rp 858 ribuan untuk membeli jersey.

Selain hal-hal yang telah dibahas, ada alasan lain kenapa klub sepak bola ada jersey ketiga. Beberapa sumber menyebut, klub di Liga Inggris sengaja memakai jersey ketiga untuk mengelabui para penggemarnya. Jadi, seandainya para fans melihat klub kebanggaannya memakai jersey lain yaitu ketiga, mereka akan tertarik dengan jersey ketiga tersebut.

Klub pun akan menaikkan harga jauh lebih tinggi dari jersey home dan away. Di Inggris selisih harga jersey home-away dan ketiga bisa mencapai 8 euro atau Rp 135 ribuan. Iya, ujung-ujungnya duit lagi, duit lagi.

Secara prinsip, adanya jersey ketiga jelas sebagai alternatif. Selebihnya, mungkin masing-masing liga punya latar belakang yang heterogen. Lantas dari alasan-alasan yang sudah disebut, menurutmu seberapa penting keberadaan jersey ketiga, football lovers?

Sumber referensi: panditfootball.com, quora.com, sportbible.com, republika.co.id

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *