Kenapa Paruh Musim Leicester City Berjalan Buruk?

spot_img

Premier League memasuki libur musim dingin, dan hasil paruh musim sudah terlihat. Manchester City kokoh di puncak klasemen bersama Liverpool dan Chelsea di belakangnya.

Melihat papan tengah klasemen, masih ingat dengan kisah ajaib Leicester City yang bisa menjuarai Liga Inggris beberapa musim lalu? Di awal musim Premier League 2021/2022, langkah klub itu pun mampu mengejutkan dengan menjuarai Community Shield setelah mengalahkan Manchester City.

Predikat sebagai calon penghuni papan atas pun disematkan ke Leicester City. Dengan aktivitas bursa transfer yang aktif, Leicester benar-benar serius menyiapkan skuad dengan matang.

Ironisnya, selama musim berjalan, kenyataan justru berbalik. Jangankan masuk jajaran papan atas Premier League, pasukan rubah justru tercecer di peringkat 10 klasemen hingga paruh musim.

Pemain Cedera dan Covid

Leicester City sesungguhnya mengawali musim Premier League 2021/2022 dengan manis, setelah kemenangan atas Wolves 1-0 di kandang. Leicester di awal musim bermain tanpa beberapa pemainnya yang belum sembuh dari cedera seperti Jonny Evans, Wesley Fofana, James Justin, Castagne, maupun rekrutan baru mereka Ryan Bertrand.

Beberapa pemain yang absen sedikit mempengaruhi performa Leicester di pekan pekan selanjutnya. Terlebih absennya senior dan panutan mereka di lini belakang, Jonny Evans.

Leicester juga kehilangan Wilfred Ndidi. Perannya di Leicester sangat vital. Ndidi adalah seorang gelandang bertahan sebagai pelindung back four yang banyak melakukan tackle sukses. Ndidi juga salah satu kunci sukses Leicester musim lalu. Sementara, penggantinya baik Soumare maupun Choudhury belum mampu menyamai performa Ndidi.

Kehilangan lainnya yakni Full Back James Justin. Potensi menyerang serta bertahannya baik di kiri maupun kanan adalah prospek yang luar biasa. Justin adalah sebuah variasi serangan di Full Back Leicester yang tidak bisa dimanfaatkan musim ini.

Kemudian cedera yang dialami Fofana, Castagne, dan Ricardo Pereira yang silih berganti masuk ruang medis. Castagne belum murni sembuh dari cedera panjang yang dialaminya musim kemarin. Pereira juga pada awal musim mengalami cedera parah.

Lalu, pembelian Ryan Bertrand dari Southampton memang ditujukan untuk mem-backup bek sayap mereka. Akan tetapi nahas, Bertrand juga mengalami cedera di awal musim.

Dari lini tengah ada James Maddison yang mengalami cedera cukup panjang musim lalu. Dia kembali musim ini dengan meninggalkan luka ringan di kakinya. Dan itu berakibat pada performa menyerang dan umpan kuncinya yang sering tidak maksimal musim ini. Dia juga sempat beberapa kali absen dan menjadi penghuni bangku cadangan.

Sementara, lini depan The Foxes masih dikomandoi seorang Jamie Vardy. Vardy memang masih menjadi tumpuan gol Leicester. Akan tetapi, umur memang tidak bohong, konversi gol Vardy pun menurun musim ini. Ia bahkan sempat mengalami cedera pada bulan Januari 2022, dan melewatkan beberapa pertandingan.

Bukan hanya itu, badai Covid 19 varian Omicron di Desember 2021 dan Januari 2022 juga tidak bisa dielakan dari skuad Leicester. Mereka bahkan menunda beberapa pertandingan di Premier League karena badai Covid Omicron yang melanda beberapa pemainnya.

Pertahanan Keropos

Berhubungan dengan faktor badai cedera dan covid, pasukan Rodgers jelas mengalami penurunan pada paruh musim ini. Pasalnya, banyak dari mereka yang cedera berasal dari lini pertahanan baik itu bek maupun gelandang bertahan.

Eks pelatih Liverpool itu menyiasatinya dengan mendatangkan pemain baru. Tapi sayang, selain penampilannya yang tak meyakinkan pemain baru juga mengalami cedera dan terpapar Omicron.

Rapuhnya kedalaman skuad juga menyebabkan pertahanan yang keropos. Selama ini, lini pertahanan Leicester sering bergantung pada trio Evans, Soyuncu, dan Fofana. Tapi, mereka jarang hadir melengkapi satu sama lain akibat cedera.

Rodgers sebetulnya punya alternatif melalui duet Amartey-Soyuncu atau Soyuncu-Vestergaard, tapi itu tidak mampu menciptakan banyak clean sheet seperti musim lalu.

Di sisi Full Back sirkulasi bola cepat yang biasanya menjadi andalan Leicester ketika menyerang, seperti dari Castagne dan Pereira musim ini mengalami penurunan. Sekalinya bermain, kekuatan mereka tak seperti sebelum cedera. Sedangkan alternatif Full Back lain seperti Luke Thomas maupun Ryan Bertrand tidak juga berjalan lancar secara taktik.

Tidak ada pilihan bagi taktik bertahan Rodgers, selain menyiasati berbagai jenis taktik yang bisa beradaptasi dengan ketersediaan pasukan yang ada di lini belakang. Misalnya, sering kali Caglar Soyuncu, bermain di jantung tiga bek, bersama Amartey dan Ndidi, atau Choudhury.

Hamza Choudhury dan Ndidi sering difungsikan sebagai Center Back di format tiga bek. Dengan krisis lini belakang yang dialami Leicester, mau tidak mau Rodgers melakukan perubahan itu. Meskipun secara hasil jauh dari yang diharapkan oleh Rodgers.

Di sisi penjaga gawang, Kasper Schmeichel, yang berusia 35 tahun, adalah salah satu pemain dengan performa buruk musim ini. Pemain Denmark itu rata-rata kebobolan 5,3 gol lebih banyak dari yang diperkirakan. Keterlibatan Schmeichel dalam permainan di luar area penaltinya juga menurun.

Tak ayal selama paruh musim hingga pertandingan terakhirnya di bulan januari 2022, lini pertahanan Leicester sudah kebobolan 37 gol di Premier League.

Taktik Rodgers

Skema 4-2-3-1 adalah skema rutin dari awal musim yang dibawa Rodgers di Leicester. Namun 4-2-3-1 fleksibel dalam pertandingan, bisa berubah ke 4-4-2 maupun 4-3-3, bahkan 4-2-4.

Secara bertahan Rodgers kerap menggunakan format 3-5-2 atau 3-4-1-2 dengan menjaga kedalaman dan mengoptimalkan Counter Attack. Fleksibilitas formasi itu memungkinkan Leicester untuk menciptakan lebih banyak peluang dan bertahan sama baiknya, tergantung pada keadaan.

Bagi Rodgers, penguasaan bola dan kontrol permainan tetap dipertahankan.
Hal itu bertujuan untuk mempertahankan bola dan menjaganya tetap mengalir sekaligus terkontrol.

Namun, sejauh ini hal itu belum berhasil seperti musim lalu. Kehilangan personil jadi masalah kusut. Sebab hanya personil yang tepat lah yang membuat formasi atau kemauan Rodgers dapat bekerja.

Ada empat nama yang biasanya menjadi personil kunci permainan Rodgers dalam melakukan penguasaan dan kontrol pertandingan. Dia adalah James Maddison, Harvey Barnes, Wilfred Ndidi, dan Youri Tielemans.

Saat dalam performa terbaik, Maddison adalah dinamo kreatif di lini tengah yang berkolaborasi dengan Youri Tielemans untuk melakukan umpan terakhir ke posisi yang berbahaya.

Sisi flank Leicester di format 4-2-3-1 Rodgers, sering diisi Harvey Barnes dan Ayoze Perez, mereka saling bergantian dengan pemain baru mereka yang baru dipinjam dari Leipzig, Ademola Lookman.

Sangat penting untuk kecepatan di daerah flank bagi taktik Rodgers. penetrasi dan daya ledaknya memungkinkan dia untuk menarik pemain bertahan lawan.

Akan tetapi, karena Rodgers kerap mengubah polanya menjadi 3-5-2 atau 3-4-1-2, penyerangan dari seorang winger di flank tidak dibutuhkan, dan penyerangan digantikan oleh bek sayap seperti Pereira maupun Castagne atau juga Albrighton yang sering di pakai di format itu.

Di depan, Jamie Vardy masih diandalkan dalam skema striker tunggal Rodgers. Untuk menyiasati kemandulan Vardy, Rodgers menyiapkan Patson Daka dari Salzburg, sebagai tandem atau supersub bagi Vardy.

Posisi Vardy tidak jarang sering ditemani Daka maupun Iheanacho di skema 3-5-3 atau 3-4-1-2. Hasilnya pun tidak sebagus musim lalu. Gol Leicester yang tercipta bahkan tidak hanya melalui penyerang mereka.

Banyaknya perubahan variasi bertahan dan menyerang Leicester oleh Rodgers membuat adaptasi menjadi penting dilakukan pemain secara terus-menerus. Dan setiap strategi pasti ada risikonya.

Ketika Leicester bermain memakai format 3 bek, lawan Leicester sering menguasai bola di area penalti mereka, lawan lebih sering menyerang. Ketika bermain dengan empat bek mereka mampu cair untuk menyerang akan tetapi gol yang bersarang ke gawang mereka juga lebih banyak.

Faktor cedera dan pandemi yang banyak dilanda pemain belakang Leicester paruh musim 2021/ 2022 bikin Rodgers pusing. Perubahan taktik Rodgers pun dilakukan demi terjaganya konsistensi permainan.

Penambahan amunisi di awal musim dirasa kurang cukup bagi jalannya permainan Leicester seperti musim lalu. Adaptasi pemain baru dengan taktik juga menjadi persoalan lain lagi. Singkatnya, masih banyak PR yang harus dikerjakan Rodgers, kalau ia masih ingin memperpanjang nafas di Leicester City.

Sumber Referensi : breakingthelines, leicestermercury, foxesofleicester

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru