Kenapa Ajang Sepak bola di Olimpiade Tak Semenarik Piala Dunia dan Euro?

  • Whatsapp
Kenapa Ajang Sepak bola di Olimpiade Tak Semenarik Piala Dunia dan Euro
Kenapa Ajang Sepak bola di Olimpiade Tak Semenarik Piala Dunia dan Euro

Cabang sepak bola Olimpiade Tokyo 2020 dipenuhi kejutan. Kamis 22 Juli 2021, Prancis lebih dulu takluk di hadapan Meksiko 1-4. Lalu disusul Argentina yang mati kutu dihajar Australia. Gol dari Lechlan Wales menit 14, dan Marco Tilio menit ke-80 membuat negara yang baru saja merayakan kemenangannya di Copa America itu menahan malu karena kalah 0-2.

Jika saja pertandingan tersebut bukan olimpiade, mungkin jadi perhatian fans sepak bola. Bagaimana bisa Prancis dan Argentina kalah semudah itu? Bisa jadi Messi akan nangis dan mengurung diri di kamar, sedangkan Mbappe mungkin akan memutuskan pensiun dini. Tapi kenyataannya bukan begitu. Timnas yang bertanding di Olimpiade Tokyo adalah pemain di bawah usia 24 tahun. Karena tak jadi pusat perhatian, kekalahan itupun tak diingat publik.

Ya, ajang sepak bola di olimpiade memang sering kali dilupakan, dan cenderung sepi peminat. Apalagi buat para fans sepak bola di Indonesia. Di Indonesia, laga El Clasico antara Barcelona dan Real Madrid justru lebih dinanti. Presiden La Liga, Javier Tebas bahkan mengatakan kalau Indonesia adalah pasar menjanjikan tayangan El Clasico. Lantas apa sih yang membuat ajang sepak bola di olimpiade tak menarik? Apalagi jika dibandingkan dengan Piala Dunia atau Euro?

Pemain Muda yang Bermain

Sejak Olimpiade Barcelona 1992, aturan cabang sepak bola putra di olimpiade berubah. Hanya pemain berusia maksimal 23 tahun saja yang boleh bermain. Hal itu dilakukan untuk memastikan Piala Dunia sebagai satu-satunya turnamen internasional utama sepak bola pria.

Itu berbeda dengan cabang sepak bola putri yang tak dibatasi umur. Namun pada Olimpiade Atlanta 1996 peraturan itu berubah. Negara-negara yang berpartisipasi dalam olimpiade boleh memasukkan pemain di atas usia yang ditentukan maksimal tiga pemain. Untuk tahun ini, karena pandemi syarat di naikan jadi maksimal berusia 24 tahun. Itulah mengapa kita bisa melihat Dani Alves bermain untuk skuad Brasil di Olimpiade Tokyo 2020.

Pembatasan usia inilah yang membuat banyak pemain bintang di berbagai negara partisipan olimpiade tak bisa memperkuat timnas. Kita tak bisa menyaksikan aksi ciamik Antoine Griezmann atau Messi di Olimpiade Tokyo 2020.

Para pemain muda tampil di olimpiade, itu bisa menjadi semacam tes. Karena pemain-pemain muda inilah yang bakal meneruskan kiprah para senior di kancah internasional paling bergengsi. Seperti Messi dan Di Maria yang pernah memperkuat Argentina U-23 pada Olimpiade Beijing 2008. Atau Cristiano Ronaldo yang tampil di Olimpiade Athena 2004 saat masih berusia 19 Tahun.

Tapi itu lebih dari satu dekade lalu. Saat Messi baru mulai bersinar dan Ronaldo masih belum gacor kayak sekarang. Sedikitnya pemain bintang atau senior membuat cabang olahraga sepak bola pria di olimpiade kini tak menarik minat fans sepak bola, utamanya di tanah air.

Minim Rivalitas Antar Pemain

Tak bisa dipungkiri, rivalitas antar pemain adalah daya tarik dari sepak bola. Sementara, olimpiade hanya mengizinkan pemain U-24 yang tampil. Itu artinya, kita mustahil melihat rivalitas Ronaldo dan Messi. Dua nama yang sering jadi rujukan kalau soal rivalitas.

Para fans sepak bola selalu membandingkan gelar kedua pemain itu. Kalau yang satu juara, yang satunya lagi disindir. Begitulah ketika Ronaldo berhasil membawa Portugal juara Piala Eropa 2016. Semua sindiran mengarah ke Messi. Mau sampai kapan La Pulga tak membawa Argentina meraih trofi?

Tentu trofi yang dimaksud bukan emas olimpiade, melainkan Piala Dunia atau minimal kejuaraan di satu benua. Messi pun membuktikan dengan membawa Argentina juara Copa America 2020. Setelah itu para fans sepak bola menanti, siapa di antara dua orang ini yang bakal meraih juara Piala Dunia bersama negaranya. Lihat? Tidak ada yang mengharapkan keduanya juara olimpiade!

Rivalitas memang bukan Ronaldo dan Messi saja. Namun dilihat dari dua pemain itu saja, rivalitas mereka bisa dibawa ke semua ajang, kecuali olimpiade.

Olimpiade Bukan Ajang Prestisius

Walaupun olimpiade adalah ajang olahraga multi event terbesar di dunia, tapi untuk sepak bola olimpiade bukanlah ajang yang prestisius. Eks gelandang Bayern Munchen dan Timnas Jerman, Dietmar Hamman bahkan mengatakan sepak bola, golf, dan tenis tidak perlu dipertandingkan di olimpiade.

Argumen Hamman itu didasari atas perspektif publik dan pencapaian atlet. Siapapun yang meraih medali emas sepak bola di olimpiade tidak akan diingat. Karena sepak bola sudah memiliki ajang bergengsinya sendiri, yaitu Piala Dunia. Eks pelatih Arsenal, Arsene Wenger juga mengatakan kalau sepak bola di olimpiade bukanlah sepak bola betulan.


Pada pemeringkatan FIFA, ajang seperti Copa America, Euro, dan AFC dihitung poin sebagai kompetisi konfederasi, sedangkan Piala AFF dihitung laga persahabatan. Sementara untuk olimpiade sendiri tidak. Mungkin pemain hanya akan mendapatkan kebanggaan karena berhasil meraih medali.

Tok Dalang, tokoh di serial Upin & Ipin pun meremehkan kompetisi sepak bola di olimpiade. “Dari dulu pun kita (Malaysia) tak dapat masuk (piala dunia). Paling baik main di Olympic aje,” kata Tok Dalang. Yes, Tok Dalang pun tahu kalau olimpiade tak seprestise Piala Dunia.

Hal itu berbeda dengan olahraga lain, misal bulutangkis. Bermain di olimpiade apalagi meraih medali, bisa memperbaiki peringkat pemain badminton di BWF. Maka dari itu, kita sering melihat pemain bulutangkis papan atas tampil di olimpiade.

Kesempatan Menonton Olahraga Lainnya

Yup, benar sekali. Sepak bola memang sudah sering ditayangkan. Dari kompetisi domestik sampai kompetisi internasional bahkan kompetisi kecil seperti Hassanal Bolkiah Trophy. Maka kompetisi multi event kayak olimpiade bisa jadi kesempatan untuk menyaksikan olahraga lainnya.

Hal itu sekaligus untuk pembuktian para atlet cabor lainnya agar namanya diingat publik. Ambil contoh melejitnya atlet lari, Usain Bolt sampai Lalu Mohamad Zohri yang sampai sekarang nyangkut di benak publik. Fans sepak bola di Indonesia sebentar akan beralih ke cabang olahraga lain. Ini bukan karena Indonesia tak ada wakil di cabor sepak bola, tapi menyaksikan bulutangkis, misalnya, jauh lebih menarik.

Itulah mengapa ajang sepak bola di olimpiade sepi peminat. Lalu, bagaimana menurutmu? Apakah tertarik menonton sepak bola di Olimpiade Tokyo?

Sumber referensi: as.com, bola.com, panditfootball.com, suara.com, okezone.com, fandom.id.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *