Keluarga Agnelli, Dinasti Di Balik Kejayaan Juventus

  • Whatsapp
Keluarga Agnelli, Dinasti Di Balik Kejayaan Juventus
Keluarga Agnelli, Dinasti Di Balik Kejayaan Juventus

Kedigdayaan Juventus di kancah sepakbola Italia sudah tidak perlu diragukan lagi. Selain musim lalu, terhitung sejak 2011/12, Juventus selalu menjadi juara di kompetisi Serie A. Perjalanan mereka pun tak bisa dipandang sebelah mata. Selama menjadi penguasa Italia dalam waktu yang lama, klub yang kini diasuh Massimiliano Allegri pernah dua kali masuk final Liga Champions Eropa.

Selain itu, sejak kembali ke puncak kejayaan sepakbola Italia, Juventus juga selalu berhasil datangkan pemain-pemain berkualitas. Mereka saat ini mampu menjadi magnet bagi para pemain jempolan yang tersebar di seluruh belahan dunia.

Bila berkaca pada kesuksesan Juventus saat ini, para tifosi La Vecchia Signora tentu tak akan lupa untuk berterima kasih kepada sosok bernama Andrea Agnelli. Bicara tentang Andrea Agnelli, sejarah mencatat bila beberapa dari anggota keluarganya pernah membuat Juventus jadi tim berjaya di masa lampau.

Keberadaan mereka sudah tidak asing lagi bagi Si Nyonya Tua. Bahkan, dinasti Agnelli disebut sebagai sedikit dari banyaknya pemilik Juventus yang berhasil membuat tim tampil perkasa di mata dunia.

Sejarah Keluarga Agnelli

Keluarga Agnelli telah dikenal luas sebagai salah satu yang paling kaya di tanah Italia. Disaat banyak tokoh terkenal dan kaya raya di dunia dengan memulai hidup penuh sengsara, maka Agnelli tidak melewati itu semua. Melalui kekayaan keluarganya yang begitu melimpah, sang pembawa bendera bernama Giovanni Agnelli resmi mendirikan perusahaan mobil FIAT pada tahun 1899 yang sampai saat ini masih eksis.

Lahir dari keluarga pemilik tanah di kawasan Villar Perosa, Giovanni memulai perjalanan hidupnya sebagai seorang militer. Namun tiba-tiba, dia menemukan kecintaan terhadap mobil. Dari situlah, dia memulai karirnya sebagai seorang pebisnis bersama nama FIAT.

Tak dinyana, bisnis mobilnya berkembang pesat pada periode perang dunia pertama. Hal itulah yang kemudian membuatnya jadi pemasok senapan, truk, mesin pesawat, hingga senjata, untuk digunakan dalam peperangan. Pada tahun 1915, bisnis peralatan militernya berkembang pesat hingga membuatnya memiliki sebanyak 10 ribu karyawan.

Kemudian di era 1920 an, Giovanni terus melebarkan sayap dalam berbisnis. Di masa itu, dia tercatat telah berinvestasi di perusahaan surat kabar terbesar Italia bernama La Stampa, dimana enam tahun kemudian dia menjadi pemegang saham tunggal perusahaan tersebut.

Melalui bisnis yang sukses dijalankannya, kekayaan keluarga Agnelli mengalami peningkatan yang begitu pesat, hingga membuat mereka menjadi salah satu keluarga paling berpengaruh di Italia.

Melalui perusahaan yang dikelola itu pula, keluarga Agnelli mulai merambah ke dunia sepakbola. Tepat pada tahun 1923, melalui Edoardo Agnelli, salah satu klub tersukses di Italia, Juventus, berhasil masuk ke dalam genggaman.

Di bawah kepemimpinan Edoardo Agnelli, Juventus berhasil meraih trofi Serie A kedua pada musim 1925/26 setelah terakhir kali didapat pada musim 1904/05. Kemudian, terhitung sejak tahun 1930 hingga 1935, Juventus juga berhasil menjadi penguasa Italia secara beruntun. Selain itu, sejumlah trofi Coppa Italia pun berhasil dimasukkan ke lemari piala.

Menyusul kematian Edoardo Agnelli pada tahun 1935, kepemilikan Juventus dilepas ke tangan Giovanni Mazzonis. Setelah beberapa kali berganti pemilik, klub yang kini mengoleksi 36 gelar Serie A itu kembali ke tangan keluarga Agnelli pada tahun 1947.

Adalah Gianni Agnelli yang merupakan anak dari Edoardo Agnelli. Dia merupakan pewaris kursi kepemimpinan perusahaan FIAT, sepeninggal ayahnya yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Sejak kecil, Gianni yang sudah diajarkan berbagai ilmu bisnis tak kesulitan ketika harus menjadi pemimpin Juventus. Seorang penulis bernama Arbër Sulejmani di situs JuveFC, menggambarkan sosok Gianni Agnelli sebagai sosok panutan.

“Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa bagi orang Italia, Gianni mewakili ‘bella figura’, dan juga merupakan contoh ideal yang ingin diikuti semua orang. Dia cerdas, sukses, kaya, dan tampan.”

Dia yang menjadikan sepakbola sebagai salah satu hobinya pun berhasil meneruskan kejayaan Juventus di kancah sepakbola Italia. Di bawah kekuasaannya, Juve masih dibawanya jadi penguasa Italia sebanyak dua kali, yaitu pada 1949/50, dan 1951/52.

Setelah masa kepemimpinan Gianni Agnelli habis pada tahun 1954, sosok bernama Umberto Agnelli masuk ke kursi kepresidenan klub dalam rentang periode 1955–1962.

Masih meneruskan bisnis surat kabar dan tentunya perusahaan mobil FIAT, Juventus juga masih berhasil dibawanya duduk di kursi kejayaan kompetisi Italia. Tercatat dia berhasil membawa Juve menjuarai kompetisi Serie A sebanyak tiga kali.

Era Andrea Agnelli

Setelah era kepemimpinan Umberto Agnelli, Juventus menjalani masa yang cukup lama dengan berlepas dari tangan keluarga paling berharga di Italia. Mereka sempat menjadi juara Eropa sebanyak dua kali dan masih terus berjaya di Italia.

Namun, dunia tak akan pernah lupa ketika tim penghasil trofi terbanyak Italia itu terjerumus ke jurang kehancuran tepat pada tahun 2006. Juventus dilanda skandal calciopoli hingga membuat mereka harus terdegradasi ke kompetisi kelas dua. Meski berhasil naik ke kompetisi tertinggi Italia, perjalanan Juventus ketika itu terbilang terus terseok.

Lalu, berdasar pada kerinduan para penggemar akan kepemimpinan keluarga Agnelli, mereka meminta klub untuk melepas saham mayoritas kepada sosok Andrea Agnelli, yang merupakan pewaris perusahaan mobil FIAT. Di tengah krisis finansial dan pudarnya identitas Juventus sebagai klub besar, manajemen lalu memutuskan untuk melepas saham kepemilikan kepada Andrea Agnelli.

Tepat pada Mei 2010, Juventus kembali jatuh ke tangan keluarga Agnelli.

Sejak dirinya duduk di kursi kepemimpinan tim, perombakan besar-besaran dalam tubuh manajemen Juventus dilakukan. Kemudian, dia juga mengawal pengelolaan keuangan dan upaya pembangunan stadion baru. Selain itu, Andrea Agnelli juga berniat membangun proyek kumpulkan pemain-pemain berbakat dunia untuk kembali membuat Juve ditakuti lawan.

Langkah awal untuk membenahi performa Juve ketika itu adalah dengan menunjuk Antonio Conte sebagai juru taktik. Meski awalnya banyak diragukan, langkah tersebut justru menjadi pendobrak dari kembalinya Juve ke tahta juara sepakbola Italia. Di bawah asuhan Antonio Conte, Juventus berhasil menjuarai kompetisi Serie A selama tiga musim beruntun.

Sayangnya, Conte menolak untuk melanjutkan kontrak di tahun keempat setelah terjadi gesekan dengan manajemen karena persoalan kebijakan transfer.

Namun begitu, manajemen yang sudah tertata dengan baik membuat Juve tetap mampu bertahan sebagai juara. Ketika kursi kepelatihan tim beralih ke Massimiliano Allegri, Si Nyonya Tua masih mampu meraih gelar juara dalam kurun waktu lima tahun berikutnya.

Juventus bahkan mampu mencatatkan rekor sebagai klub peraih gelar juara Serie A sebanyak sembilan kali, terbanyak dalam sejarah persepakbolaan Italia. Torehan bersejarah itu terjadi pada pengujung musim kompetisi 2019/20, ketika tim berada di bawah arahan pelatih Maurizio Sarri.

Keberhasilan Juventus juga tak lepas dari kecerdikan manajemen yang berhasil dapatkan pemain-pemain potensial, seperti misalnya Paul Pogba hingga Andrea Pirlo. Selain itu, nama Carlos Tevez hingga Gonzalo Higuain juga pernah menjadi bagian dari sejarah kejayaan Juventus di tanah Italia.

Dalam hal ini, sosok Andrea Agnelli memang tak pernah main-main dalam membangun kekuatan. Di awal kedatangannya di Juventus, dia pernah ditolak Antonio Di Natale yang memilih untuk menua bersama Udinese. Lalu pada tahun 2014, dia juga pernah ditolak Sergio Aguero yang sempat diajaknya bergabung dengan Juventus.

Karena kegagalannya itu, Agnelli sempat dikritik oleh banyak penggemar.

Namun sejak saat itu juga, dia berjanji bahwa Juventus akan menjadi tim yang diburu pemain kelas dunia.

“Suatu hari nanti, kita (Juventus) akan mampu mendatangkan pemain sekelas Cristiano Ronaldo,” ucap Andrea Agnelli di tahun 2014.

Dan benar saja, Andrea Agnelli yang serius dalam membangun Juventus berhasil mendatangkan sosok kaliber Cristiano Ronaldo dengan mahar sebesar 117 juta euro atau setara 1,9 triliun rupiah pada tahun 2018. Harga mahal yang dikeluarkan untuk mendatangkan sang mega bintang asal Portugal ketika itu membuktikan bahwa Juventus telah menjadi tim yang sangat sehat secara finansial.

Mulai Mendapat Cacian

Sayangnya, dalam beberapa tahun belakangan, sosok Andrea Agnelli mulai sering mendapat cacian dari para penggemar. Satu hal yang sempat membuat para tifosi geram adalah ketika dia memutuskan untuk memecat pelatih Maurizio Sarri secara tiba-tiba.

Lebih mengejutkannya lagi, Andrea Agnelli juga malah menunjuk sosok Andrea Pirlo sebagai suksesor Sarri, yang notabene tidak memiliki pengalaman apapun dalam melatih tim besar Eropa.

Selain keputusan yang dianggap kontroversial tersebut, Agnelli juga pernah mendapat sorotan ketika bertengkar dengan Antonio Conte yang masih menjabat sebagai pelatih Inter Milan di lorong Stadion Allianz pada Februari 2021 lalu.

Belakangan, Andrea Agnelli juga jadi bahan cemoohan para penggemar usai dirinya terlibat dalam proyek Liga Super Eropa, bersama dengan nama Florentino Perez dan yang lainnya. Dikabarkan, Andrea Agnelli memegang posisi sebagai Wakil Presiden dalam organisasi penyelenggara turnamen kontroversial tersebut.

Padahal seperti yang kita tahu, dia sebelumnya telah menduduki kursi di komite eksekutif UEFA, dan menjadi ketua asosiasi sepakbola Eropa. Dengan begitu, wajar saja bila akhirnya presiden UEFA, Caferin murka. Caferin yang telah menganggap Andrea Agnelli sebagai sahabat sejatinya merasa dibohongi dan menyebut pemimpin FIAT itu sebagai pengkhianat.

Kira-kira, dengan sejumlah masalah yang belakangan didapat, berapa lama lagi Andrea Agnelli akan menduduki kursi kepresidenan Juventus?

Sumber referensi: corpwatchers, luxuryabode, kompas, wantedinrome

Pos terkait