Kekalahan Meningkatkan Stres dan Risiko Kesehatan Mental pada Suporter Sepak Bola

spot_img

Stres sudah menjadi risiko bagi setiap pekerjaan, tak terkecuali mereka yang berkecimpung di sepak bola. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap kesehatan mental pemain sepak bola juga meningkat seiring dengan makin banyaknya pemain yang mengaku stres atau bahkan depresi.

Tak bisa dipungkiri kalau ancaman stres dan depresi memang nyata dan tengah mengintai para pesepak bola. Namun, bagaimana jika ternyata ancaman stress dan gangguan kesehatan mental juga mengintai suporter alias penggemar sepak bola? Hasil penelitian dari University of Oxford membuktikan hal tersebut.

University of Oxford: Kekalahan Meningkatkan Hormon Kortisol/Stres pada Penggemar Berat Sepak Bola

Peneliti dari Centre for the Study of Social Cohesion, University of Oxford telah memverifikasi adanya hubungan ilmiah antara penggemar sepak bola dengan level hormon kortisol mereka saat menonton pertandingan. Hormon kortisol sendiri sering kali disebut sebagai hormon stres karena peranan mereka dalam menghadapi stres. Namun, produksi kortisol yang terlalu tinggi akan berdampak buruk bagi tubuh.

“Penggemar yang sangat menyatu dengan tim mereka, utamanya yang memiliki perasaan kuat seolah menjadi satu bagian dengan tim kesayangan mereka, mengalami respons stres fisiologis terbesar saat menonton pertandingan. Penggemar biasa juga mengalami stres, tetapi tidak terlalu parah,” kata Dr Martha Newson, peneliti dari University of Oxford, dikutip dari ox.ac.uk.

Penelitian dari University of Oxford tersebut mengambil sampel dari penggemar timnas Brasil di Piala Dunia 2014 yang menonton langsung dua kemenangan Brasil atas Kolombia dan Chile, serta satu kekalahan bersejarah Brasil di laga semifinal.

Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel air liur para penggemar yang dikumpulkan baik sebelum, selama, dan setelah pertandingan. Hasilnya, hormon kortisol para penggemar setia timnas Brasil meroket saat mereka melihat langsung tim kesayangannya dibantai Jerman dengan skor telak 1-7.

Para peneliti dari University of Oxford juga menemukan bahwa penggemar fanatik sepak bola memiliki profil psiko-fisiologis yang unik. Menariknya lagi, Oxoford juga menemukan tidak adanya perbedaan konsentrasi kortisol alias tingkat stres antara penggemar pria dan wanita, meski sepak bola lebih identik dengan pria.

Seperti yang sudah disinggung, hormon kortisol memiliki fungsi sebagai pengendali stres. Namun masalahnya, produksi kortisol berlebih memiliki efek negatif.

Masih dari hasil studi yang sama, kadar kortisol berlebih dalam jangka waktu tertentu bisa mengakibatkan tertekannya sistem imun dalam tubuh yang bisa menyebabkan seseorang rentan terkena penyakit. Yang terparah, kondisi tersebut bisa menaikkan tekanan darah tinggi. Risikonya, seseorang jadi rawan terkena serangan jantung.

Kesimpulan yang bisa kita petik dari hasil penelitian ini adalah ditemukannya fakta bahwa para penggemar setia sepak bola atau mereka yang fanatik bahkan bisa disebut sebagai ‘die hard fans’ mengalami tingkat stres yang luar biasa dan menderita konsekuensi fisik dan psikologis tatkala menyaksikan langsung tim kesayangannya bertanding, terlebih jika hasilnya berupa kekalahan.

Tak bisa dipungkiri kalau hasil dari sebuah pertandingan sepak bola memang bisa mempengaruhi mental para penggemarnya. Maka wajar jika banyak suporter yang hadir menonton langsung ke stadion terlihat menangis hanya gara-gara tim kesayangannya kalah. Jangankan mereka yang datang langsung, fans yang sekadar menonton dari layar kaca saja kerap menumpahkan emosinya di media sosial.

Disinilah dibutuhkan peranan dari para stakeholder, khususnya klub untuk lebih mempedulikan para penggemar setianya. Sering kali kita melihat para suporter yang justru memberi dukungan moral saat tim kesayangan mereka kalah, bukan malah sebaliknya. Masalahnya, banyak penggemar yang tidak bisa mengatasi kekalahan, sehingga muncullah efek negatif berupa kekerasan hingga kerusuhan.

Akan lebih parah lagi jika mereka telah bertaruh uang dalam sebuah pertandingan. Efek negatifnya bakal lebih parah. Bagaimanapun, sesuatu yang berubah menjadi candu akan berakhir merugikan.

28% Penggemar Sepak Bola Terganggu Kesehatan Mentalnya

Secara tidak sadar, bagi sebagian penggemar sepak bola, olahraga terpopuler di dunia ini sudah bukan hanya sekadar hiburan atau acara olahraga semata, tetapi sudah menjadi bagian dari hidup mereka. Maka menjadi sebuah hal yang wajar jika banyak orang tidak bisa lepas dari sepak bola.

Hasil penelitian dari ThinkPublic.com mengungkap kalau sebanyak 28,5% penggemar Premier League di Inggris mengatakan bahwa kesehatan mental mereka terpengaruh oleh absennya sepak bola saat pandemi Covid-19 melanda. Ini terjadi karena mereka kehilangan tontonan sepak bola yang merupakan salah satu stimulan mereka.

Hal tersebut ada kaitannya dengan hormon dopamin yang juga disebut sebagai hormon pengendali emosi. Ketika diproduksi dalam jumlah yang tepat, dopamin akan menciptakan perasaan senang dan memotivasi seseorang untuk mengulang aktivitas/perilaku tertentu.

Tak diragukan lagi kalau bagi sebagian besar penggemar sepak bola, olahraga tersebut adalah salah satu sumber dopamin bagi mereka. Masalahnya, penurunan jumlah dopamin akan menurunkan antusiasme, motivasi, dan mood, bahkan bisa meningkatkan risiko depresi.

Itulah mengapa, mood seorang penggemar akan naik ketika mendapati tim kesayangannya meraih kemenangan. Mereka jadi lebih bahagia dan lebih termotivasi menjalani hidup.

Nah, begitu pula sebaliknya jika kalah. Muncullah istilah “masuk goa” untuk mereka yang mendapati tim kesayangannya kalah. Emosi mereka menjadi lebih labil dan bisa tambah parah jika mereka ikut jadi sasaran bullyan.

Kondisi tersebut tidak cuma menyerang “die hard” fans sepak bola saja, tetapi juga banyak olahraga populer lainnya. Hasil penelitian dari Dr. Allan Schwartz dari mentalhep.net mengungkap kalau penggemar NFL makan sekitar 16% lebih banyak lemak jenuh ketika mendapati tim kesayangan mereka kalah. Tentu saja, kebiasaan makan semacam itu tidak baik untuk kesehatan.

Bebagai fenomena tadi tentu memprihatinkan. Tanpa kita sadari, sepak bola sudah begitu menyatu dan dapat mempengaruhi kehidupan banyak orang, khususnya mereka yang sudah masuk dalama kategori fanatik.

Menjadi ironi pula tatkala sepak bola yang harusnya bisa menjadi tontonan, hiburan, dan sarana pelepas stres dari beban hidup justru menjadi salah satu pemicu stres. Berbagai momen yang tercipta saat laga berlangsung sangat berpengaruh terhadap emosi. Cemas, gelisah kerap terlihat saat laga-laga besar dan krusial tersaji.

Dampak parahnya, bagi para penggemar yang sudah terlalu terobsesi dengan sepak bola, mereka bisa terancam mengalami depresi dan berbagai gangguan kesehatan mental lainnya saat mereka gagal mengendalikan emosi ketika mendapati tim kesayangan mereka memetik hasil yang tidak sesuai dengan harapan.

Sekali lagi, sesuatu yang sudah berubah menjadi candu tidak akan memiliki akhir yang bahagia. Penting bagi para suporter untuk menyadari kalau di luar sepak bola ada kehidupan yang perlu diperjuangkan. Sama halnya dengan para pemain yang berjuang hidup dari sepak bola.

Para penggemar juga harus sadar akan risiko menjadi seorang suporter sepak bola. Dalam sebuah pertandingan maupun kompetisi, apapun jenisnya, menang dan kalah adalah hal yang biasa. Jika tidak siap dengan dampak emosionalnya, jangan menggantungkan hidup dari hasil pertandingan.

Namun, bukan berarti klub bisa lepas dari tanggung jawab, terlebih jika pada kenyataannya mereka bermain sangat buruk di atas lapangan. Sudah waktunya bagi klub tidak hanya memperhatikan kesehatan mental para penggawanya dan terus meminta serta menuntut dukungan dari suporter ketika menelan kekalahan. Sudah waktunya mereka sadar kalau kesehatan mental para penggemar setia mereka juga sama pentingnya.

Jika tercipta saling pengertian dan respect di antara kedua belah pihak, maka niscaya tidak akan pernah ada lagi nyawa yang harus meregang hanya karena menonton sepak bola.
***
Referensi: Oxford, ThinkPublic, SkySports, MentalHelp, Psychreg, Thriveworks.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru