Banyak jalan menuju Roma. Ironisnya, peribahasa itulah yang seharusnya Enrique pegang erat-erat selama menjadi manajer AS Roma di musim 2011/12. Daripada beradaptasi dan mencari cara lain, Enrique terlalu terpaku pada satu cara untuk menaklukkan Serie A. Yaitu tiki taka yang sudah jadi identitas Barcelona dan Spanyol. Namun Enrique terlalu keras kepala untuk hal itu.
Hasilnya bisa ditebak. Sebuah musim yang berantakan dan terlupakan di Italia untuk seorang pelatih Spanyol. Untungnya Enrique bisa berdiri tegak kembali setelah bencana yang ia ciptakan di Roma. Ia juga bilang kalau satu musimnya di Roma adalah pelajaran berharga bagi karir kepelatihannya.
Daftar Isi
Suksesor Guardiola
Luis Enrique mengawali karir kepelatihannya sebagai manajer Barcelona B di tahun 2008. Pengalamannya sebagai pemain Barca membuatnya cocok untuk mengabdi sebagai pelatih tim junior. Tentu saja matanya tertuju pada pekerjaan di tim utama.
Tapi ia masih cukup sabar menanti itu. Sambil membawa kesuksesan bersama Barcelona B. Tidak butuh waktu lama bagi Enrique untuk memberikan dampak. Di musim kedua, ia membawa Barcelona B kembali ke Segunda Division. Atau liga kasta kedua di Spanyol. Ini adalah pertama kalinya Barcelona kembali ke divisi 2 setelah 11 tahun absen.
Sudah jadi perbincangan di lingkaran internal, kalau Enrique akan diproyeksikan menjadi pengganti Pep Guardiola kalau pelatih berkepala plontos itu pergi sewaktu-waktu. Dan kesuksesannya di tim junior itu membawa keyakinan pada diri Enrique.
Not just footballers.
— FC Barcelona (@FCBarcelona) September 24, 2019
The Miniestadi also became great starting point for coaches, including the likes of Pep Guardiola and Luis Enrique, who after gaining promotion with Barça B would become the only Barça managers to win the treble. pic.twitter.com/3huA4MMQek
Tapi, Pep masih betah bersama blaugrana. Gelar demi gelar ia bawa ke Camp Nou, dan Pep pun jadi pelatih tersukses di Barcelona. Sementara Enrique masih berkutat di divisi kedua La Liga. Ia tidak kuat hanya dengan mendengar kabar kalau Pep akan hengkang, tapi nyatanya tidak.
Cukup lama ia menunggu, sampai di tahun 2011. Setelah banyak spekulasi kepindahan Pep yang tidak jadi kenyataan, Enrique sudah tidak betah lagi. Ia pun memutuskan untuk hengkang. Setidaknya bermain di kasta tertinggi liga. Enrique menganggap lebih dari tiga tahun melatih tim sekunder mengartikan kurangnya ambisi. Itu berarti stagnasi baginya. Ia lebih memilih hengkang dan menciptakan peluang sendiri daripada peluang itu datang kepadanya.
Eksodus ke La Citta Eterna
AS Roma jadi salah satu klub yang bersedia menampungnya. Bagi Romanisti ini tentu sebuah perjudian. Perlu diingat, era 2011 adalah era Spanyol berkuasa di sepak bola. Barcelona baru menghempaskan Manchester United di Wembley dalam ajang final Liga Champions. Mereka membuat tim asuhan Sir Alex Ferguson itu bermain seperti kesebelasan amatiran.
Beberapa saat sebelumnya La Furia Roja juga baru memenangkan Piala Dunia. Andres Iniesta dan kolega menyihir pecinta sepak bola di seluruh dunia lewat tiki taka. Saat itu tiki taka adalah filosofi yang kuat dan melihat Spanyol dan Barcelona, ini dipandang sebagai salah satu cara memenangkan gelar.
Mungkin dewan klub AS Roma saat itu tidak mau kena fomo, jadi mereka bersedia menampung Enrique. Dengan harapan Enrique bisa membawa tiki taka khas Barcelona ke ibukota Italia. Ini diisyaratkan sendiri oleh direktur olahraga serigala ibukota, Walter Sabatini. “Memilih Luis Enrique adalah sesuatu yang simbolis. Enrique mewakili filosofi sepak bola yang ingin kami ikuti. Yang bisa dilihat dari Spanyol dan Barcelona saat ini”
Di tahun yang sama, AS Roma berada dalam transisi kepemilikan. Seorang dari Amerika Serikat memutuskan untuk membeli klub di musim panas 2011. Itu menjadikan AS Roma satu-satunya klub di Serie A yang dimiliki oleh orang asing pada saat itu.
Pemilik baru itu punya tekad untuk menjadikan Roma sebagai klub terbaik di dunia. Di musim sebelumnya, serigala ibu kota finis di peringkat keenam Serie A. Menjadikan Roma sebagai tim terbaik di dunia mungkin hal yang terlalu sulit untuk Enrique. Jadi target realistisnya adalah setidaknya membawa Roma ke peringkat empat besar Serie A.
Awalan yang Terjal Di Roma
Du bursa transfer awal musim, Enrique langsung melakukan pembelian beberapa pemain baru. Tiga pemain ia boyong dari liga Spanyol. Diantaranya Jose Angel, Dani Osvaldo, dan si anak emas the next messi, Bojan Krkic. Mereka didatangkan untuk memperpekat aroma Spanyol dalam skuad Roma.
Selain itu, Enrique tahu kunci utama strategi tiki taka adalah lini tengah yang cair dan kreatif. Ia pun membeli Erik Lamela dari River Plate dan Miralem Pjanic dari Lyon. Ditambah beberapa pembelian lainnya seperti Marco Borriello, Gabriel Heinze, dan Kiper berbakat dari Ajax, Maarten Stekelenburg.
Pemilik baru, manajer baru, dan para pemain baru. AS Roma optimis bisa memulai era baru mereka. Tapi itu tidak semulus yang dikira. Francesco Totti CS langsung dihadapkan pada kekecewaan di laga pembuka Serie A.
Menjamu Cagliari di Stadio Olimpico, Giallorosso malah menderita kekalahan dengan skor 2-1. Gol hiburan Roma bahkan datang di menit akhir lewat usaha dari Daniele De Rossi. Ini adalah ketiga kalinya dalam 18 tahun, Roma bisa kalah di pertandingan pembuka Serie A ketika bertanding di kandang sendiri.
Di pertandingan-pertandingan setelahnya, Roma tidak kunjung bangkit. Imbang melawan Inter Milan dengan skor 0-0. Poin sama diraih pada pertandingan selanjutnya ketika imbang lawan Siena 1-1. Kemenangan perdana Enrique baru datang di pekan keempat Serie A. Dani Osvaldo mencetak satu-satunya gol ke gawang Parma.
Opini pun terpecah menjelang pertandingan Derby della Capitale. Ada yang meragukan Enrique melihat performanya di awal musim. Ada juga yang masih percaya dengan pelatih Asal Spanyol itu. Media pun intens memberitakan bagaimana Enrique menghadapi Derby ibu kota pertamanya.
Derby Della Capitale
Enrique mengawali laga dengan penuh keyakinan. Baru lima menit pertandingan berjalan, Dani Osvaldo mencetak gol pembuka ke gawang Lazio. Keunggulan itu masih bisa dipertahankan Roma sampai wasit meniup peluit akhir babak pertama.
Tapi hanya sekitar enam menit di babak kedua, harapan Roma langsung hancur ketika Simon Kjaer mendapatkan kartu merah. Pemain asal Denmark itu pun diusir keluar dan Lazio dihadiahi penalti. Hernanes yang jadi eksekutor sukses mengkonversikannya menjadi gol.
Setelah itu Biancocelesti berusaha menekan 10 pemain Roma sepanjang sisa laga. Akhirnya Miroslav Klose pun mencetak gol kemenangan Lazio di injury time. Pertandingan pun berakhir dengan skor 2-1. Enrique tampak sedih dengan kekalahan derby pertamanya di Italia.
Catat Rekor Buruk
Sampai pertengahan musim, Enrique hanya mampu membawa serigala ibu kota di peringkat keenam Serie A dengan torehan 31 poin. Tapi menjelang paruh kedua musim, Giallorosso sempat menunjukan tren positif di liga. Meskipun itu hanya sebentar.
Dari 12 Desember 2011 sampai dengan 29 januari 2012 anak asuh Enrique menjalani 7 pertandingan tak terkalahkan. Tiga pertandingan diantaranya berakhir dengan hasil imbang. Sementara empat yang lain, mereka berhasil meraih kemenangan.
Win streak Roma terputus lewat kekalahan melawan Cagliari. Awalnya Roma bisa memimpin dengan skor 2-1. Tapi kemudian dibalikkan menjadi 4-2 di akhir laga. Jika ada yang berharap Roma bisa bangkit lagi setelah itu, maka akan kecewa. Dalam 17 pertandingan yang tersisa, Giallorossi hanya menang 7 kali, dengan kalah 7 kali pula.
Catatan itu membuat Roma bertengger di posisi ke-7 sampai akhir musim dengan 56 poin. Berjarak dua poin dari Inter Milan yang menduduki slot terakhir zona Eropa untuk tim Italia. Revolusi yang sudah digembar-gemborkan sejak awal musim ternyata zonk. Mereka duduk di posisi yang lebih buruk daripada musim sebelumnya. Ini bahkan jadi posisi terburuk Roma selama satu dekade.
Roma tidak bisa berbuat banyak di kompetisi Eropa musim itu. Satu-satunya kesempatan serigala ibu kota bisa bertanding di kompetisi antar negara adalah lewat pertandingan play-off Europa League. Kesempatan itu pun sudah hilang sejak awal musim ketika Roma kalah dari Slovan Bratislava dengan agregat 2-1.
Apa yang Salah dari Enrique?
Setelah menempatkan Roma dalam peringkat terburuk dalam 10 tahun terakhir dan tidak mendapatkan tiket Eropa, Enrique memutuskan untuk hengkang. Ia merasa sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi di Roma. Enrique menerima kekalahan dan menyerahkan nasib serigala ibu kota kepada takdir.
Lalu kenapa Enrique bisa gagal di Roma? Alasannya adalah Enrique yang terlalu naif membawa tiki taka langsung ke Serie A. Enrique ingin membuat lukisannya sendiri di kanvas kosong. Daripada mempercantik lukisan Roma dengan warnanya sendiri.
AS Roma memang sudah berhasil menerapkan inti dari permainan tiki taka, penguasaan bola. Rata-rata ball possession Roma adalah 57 persen. Hanya Juventus yang bisa mencatatkan penguasaan bola yang lebih tinggi dari Roma di Serie A musim itu. Tapi Roma tidak seperti Juve yang bisa mengkonversinya jadi gol dan kemenangan.
Selain itu Serie A juga tidak cocok dengan gaya bermain yang ingin Enrique terapkan. Serie A dibangun atas kesabaran, fondasi yang kokoh, dan memilih waktu yang tepat untuk menyerang.
Dan mungkin yang Enrique kurang sadari, di Roma tidak ada pemain seperti Andres Iniesta. Atau Xavi yang bisa melakukan pergerakan bola di tengah. Dan tentunya, Roma tidak punya Lionel Messi yang dengan kejeniusannya menjadi seorang false nine untuk membuka bagi rekan-rekannya.
Pada akhirnya Enrique terlalu angkuh untuk berkompromi dengan gaya permainan Serie A. Ia pun kembali pindah ke Spanyol, meninggalkan Roma dengan proyek “BarcaRoma”-nya. Enrique sempat melatih Celta Vigo selama setahun sebelum mendapatkan mimpi awalnya untuk melatih Barcelona.
Sumber referensi: Forza, TFT, Guardian, BD Football, Chiesa


