Punya gelar sarjana, apalagi master memang bukan syarat untuk jadi pemain sepak bola. Tapi beberapa sadar akan pentingnya pendidikan. Beberapa juga meyakini gelar sarjana atau master mereka bisa digunakan saat karir di lapangan hijau sudah usai. Berikut 10 pesepak bola yang ternyata punya gelar akademik mentereng.
Daftar Isi
Giorgio Chiellini
Giorgio Chiellini adalah tulang punggung kokohnya pertahanan Juventus selama belasan tahun. Ia juga dikenal sebagai bek yang tidak hanya mengandalkan permainan otot, tapi juga otak. Jadi tidak mengherankan kalau Chiellini ternyata punya gelar Master.
Giorgio Chiellini has earned a master’s degree in business administration from Turin University. 🤓 pic.twitter.com/E2IVXGrXvA
— Squawka Live (@Squawka_Live) April 6, 2017
Ia lulus dari University of Turin dengan gelar master di bidang administrasi bisnis. Chiellini mendapatkan gelar ini di tahun 2017, ketika dirinya masih aktif bermain. Tidak hanya itu, ia lulus dengan predikat “cum laude”. Tesis yang ia buat pun tidak jauh-jauh dari profesinya, yaitu berjudul “Bisnis Model Juventus Dalam Konteks Internasional”
Bianconeri mengungkapkan rasa bangga mereka dengan memposting ucapan selamat di situs resminya. Disitu tertulis “Semua orang yang yang terkait dengan klub ingin mengucapkan selamat kepada Giorgio atas hasil dan pencapaiannya yang luar biasa”
Juan Mata
Jika Chiellini masih punya keterkaitan yang serupa dengan profesinya sebagai pemain Juventus, lain cerita dengan Juan Mata. Playmaker asal Spanyol itu punya ketertarikan yang unik di bidang Marketing. Ketertarikan itu didapatkan dari salah satu pamannya yang juga punya minat yang sama.
Selama bermain di Chelsea, ia menempuh pendidikan di Universidad Camilo Jose Cela di Madrid. Program studi yang diambil tidak hanya satu. Melainkan dua, Ilmu Keolahragaan dan Marketing. Dengan dua gelarnya itu, Mata tentu bukan pemain sepak bola biasa.
Mata mengaku dirinya sudah merencanakan untuk jadi seorang pelatih setelah pensiun. Tapi ia juga tidak menyangkal punya minat lain, yaitu di bidang psikologi. Melihat gaya permainan dan karakteristiknya yang sangat tenang di lapangan, mungkin Mata akan cocok jadi seorang psikolog?
Vincent Kompany
Vincent Kompany memang selalu unggul di duel udara. Tapi itu bukan satu-satunya cara ia menggunakan kepalanya. Di tahun 2017, ia lulus dari Manchester Business School dengan gelar master di bidang administrasi bisnis.
Congratulations on completing your Masters degree, @VincentKompany 👨🎓 pic.twitter.com/1e4vHGCN4M
— B/R Football (@brfootball) December 29, 2017
Legenda Manchester City yang mengambil tugas kepelatihan di Burnley pada tahun 2022 itu memahami pentingnya pendidikan tinggi. Dikutip dari 90min, alasan mengapa dirinya mengambil gelar administrasi bisnis adalah untuk bisa mengelola keuangannya sendiri. Baginya ketika menjadi seorang pesepak bola yang sukses, mengatur keuangan pribadi tidak ada bedanya dengan mengatur sebuah bisnis.
“Penting bagi saya untuk bisa memahami apa yang dibicarakan oleh akuntan saya. Dan saya juga ingin dengan percaya diri menilai rencana bisnis dan mengambil kepemilikan aset. Saya sejatinya adalah seorang pebisnis. Gelar magister ini untuk mendukung saya akan hal itu.”
Andres Iniesta
Tidak perlu diperkenalkan lagi, siapa itu Andres Iniesta. Ia adalah ruh dari tim Barcelona yang menguasai Eropa. Di Camp Nou, ia telah memenangkan semua trofi tingkat tertinggi. Dari La Liga, Copa del Rey, Champions League, hingga Piala Dunia Antar Klub. Tidak hanya di tingkat klub, Iniesta juga berprestasi di tingkat tim nasional.
Cukup mengejutkan, dibalik semua kesuksesannya ini Iniesta masih sadar akan pentingnya pendidikan. Ia menempuh pendidikan di Ramon Llull University, Barcelona. Gelar yang diraihnya adalah Ilmu Keolahragaan.
Dengan gelarnya itu, Iniesta membuka sebuah akademi sepak bola di Singapura bernama Iniesta Academy Singapore. Akademi tersebut menyediakan berbagai program dari penjaga gawang sampai ke program profesional. Akademi ini berfokus pada pendidikan sepak bola usia dini.
Andrey Arshavin
Selain jadi senjata utama Arsenal, Andrey Arshavin terkenal dengan karakteristiknya di luar lapangan. Dari mengaku tidak takut dengan Arsene Wenger sampai suka ngomong blak-blakan saat interview. Ia juga tidak ragu untuk mengkritik rekan setimnya di lapangan.
Bomber asal Rusia itu tidak ragu untuk mengutarakan isi pikirannya. Ia bahkan pernah menulis buku berjudul 555 Question on Women, Money, Politic, Football. Di buku itu ia mencurahkan semua pemikiran-pemikiran liarnya.
Arshavin juga pernah ambil jurusan kuliah karena alasan yang nyeleneh. Ketika masih menjadi pemain akademi di Zenit, ia juga adalah seorang mahasiswa di Universitas St. Petersburg jurusan teknologi kimia. Tapi ia malah pindah ke jurusan desain karena ia pikir di jurusan tersebut memiliki banyak mahasiswi.
Andrei Arshavin has a degree in fashion deisgn, although you would never have guessed… pic.twitter.com/cEonCSmd
— Football Snaps (@FootbaIISnaps) January 11, 2013
Ternyata minatnya di bidang desain pakaian wanita malah tumbuh. Arshavin pun sempat beberapa kali membuat pakaian wanita. Beberapa karyanya bahkan dipajang di museum kampus.
Frank Lampard
Masih pemain liga Inggris, Frank Lampard bisa dibilang sebagai legenda di sepak bola Inggris. Ia adalah pemegang rekor pencetak gol terbanyak untuk Chelsea. Mengingat dirinya adalah seorang gelandang, itu adalah pencapaian yang luar biasa.
Frankie juga punya gelar akademik yang mentereng. Yaitu Master di bidang bahasa latin dari sekolahnya di Essex. Ia juga punya nilai yang diatas rata-rata untuk mata pelajaran bahasa, khususnya bahasa Latin.
Tapi yang tidak kalah luar biasa adalah, dirinya punya IQ yang tinggi. Dilaporkan IQnya mencapai lebih dari 150, dan perlu diketahui IQ Albert Einstein adalah 160. Hanya ada 0,5 dari populasi dunia yang punya IQ setinggi Frank Lampard.
Mengingat itu, Frank seperti perwujudan kutipan terkenal dari Albert Einstein yang berbunyi “Definisi dari jenius adalah membuat hal kompleks menjadi hal yang sederhana” Ketika Lampard bermain untuk Chelsea, ia punya gaya permainan yang sederhana nan efektif, namun bisa diandalkan.
Romelu Lukaku
Meskipun ia tidak sesukses Lampard di Chelsea, otak Lukaku tidak kalah encer. Mantan rekan setim Lampard itu juga ternyata punya gelar akademik di bidang yang tidak kita kria. Yaitu Public Relations atau hubungan masyarakat.
Bomber asal Belgia itu juga punya kemampuan bahasa yang luar biasa. Ia adalah seorang poliglot yang mampu menguasai lima bahasa. Yaitu Prancis, Inggris, Spanyol, Belanda dan Portugal. Lukaku juga mengaku bisa memahami sedikit bahasa Jerman dan Swahili. Setelah pindah ke Inter Milan, Lukaku jadi mahir berbahasa Italia. Total, ia bisa berkomunikasi menggunakan delapan bahasa.
Bagi Lukaku, mengungkapkan pendapat kepada rekan setim adalah hal yang sangat penting. Dan penting juga baginya untuk bisa dimengerti oleh rekan-rekannya. Itulah mengapa Lukaku berusaha untuk memahami banyak bahasa.
Fikayo Tomori
Satu lagi mantan pemain Chelsea, Fikayo Tomori. Bek Inggris itu mengaku ia menyisihkan delapan sampai sepuluh jam perminggu belajar untuk meraih gelar sarjana manajemen bisnis di universitas terbuka. Ia rela untuk tidak bermain video game bersama rekan-rekannya setelah latihan, untuk belajar.
Berbeda dari beberapa pemain sebelumnya di daftar ini, Tomori terang-terangan mengatakan kalau gelar ini untuk berjaga-jaga setelah karir sepak bolanya usai. Dikutip dari Daily Mail, ia mengungkapkan kalau dirinya harus punya rencana di masa depan.
“Ketika saya pensiun atau amit-amit kena cedera, saya punya sesuatu yang bisa saya kerjakan. Dan sesuatu itu bisa membuat saya bertahan dengan baik di masa depan.”
Yuto Nagatomo
Satu-satunya pemain Asia di daftar ini, Yuto Nagatomo. Mantan bintang Inter Milan itu ternyata lulusan Sekolah Ilmu Politik dan Ekonomi di Universitas Meiji. Ia lulus di tahun 2009, Nagatomo menjalani masa perkuliahan ketika dirinya masih berkarir di level junior liga Jepang.
Ketika Nagatomo masih jadi mahasiswa tahun kedua, ia pernah tergabung dalam klub sepak bola di almamaternya. Itu ia jalani sebelum Nagatomo dikontrak sebagai pemain FC Tokyo. Di situlah pintu Nagatomo untuk masuk ke Serie A, menjadi pemain pinjaman di Cesena sampai dibeli Inter Milan.
Simon Mignolet
Pemain Belgia lainnya di daftar ini, Simon Mignolet. Ia lebih dikenal sebagai penjaga gawang Liverpool, tapi hengkang setelah nggak pede untuk bersaing dengan kiper anyar the reds saat itu, Alisson Becker.
Memang banyak yang tidak kita ketahui soal Mignolet. Tapi mungkin kita tidak menyangka kalau Mignolet punya gelar akademik di bidang Ilmu Politik. Gelar itu ia raih di tahun 2012, ketika ia masih menjadi pemain Sunderland. Di waktu yang sama, ia juga pernah belajar soal hukum administratif di University of Leuven, Belgia.
Ia mengaku banyak rekan setimnya yang tidak tahu kalau ia masih berkuliah ketika bermain untuk Sunderland. Maklum, di Inggris hal semacam itu dianggap tidak biasa. Sama seperti Lukaku yang merupakan kompatriotnya, Mignolet juga seorang poliglot. Ia menguasai bahasa Prancis, Jerman, Belanda, dan Inggris.
Itulah 10 pemain yang punya gelar akademik mentereng. Dari para pemain itu kita bisa menyimpulkan arti pentingnya pendidikan. Ada kalanya kita meninggalkan karir yang kita bangun atau karir yang meninggalkan kita. Tapi ilmu pengetahuan selalu kita bawa.
Sumber referensi: Juventus, B/R, Daily, Daily 2, Daily 3, IA, Tribuna, Give, Meiji, Guardian


