Ketika Mencemooh Anthem UCL Jadi Cara Suporter Protes dan Melawan Rasisme

  • Whatsapp
Ketika Mencemooh Anthem UCL Jadi Cara Suporter Protes dan Melawan Rasisme
Ketika Mencemooh Anthem UCL Jadi Cara Suporter Protes dan Melawan Rasisme

Ketika anthem atau lagu tema UEFA Champions League diputar, pendukung FC Barcelona langsung menyambut pemutaran anthem tersebut. Namun bukan penyambutan yang hangat seperti para pendukung klub lain. Para cules justru bakal mencemooh kalau lagu tersebut diputar dan kebetulan saat Blaugrana akan berlaga.

Anthem UCL mungkin saja ibarat nyanyian setan yang berisik bagi para penggemar FC Barcelona. Salah satunya ketika El Barca menjamu Tottenham Hotspur di Camp Nou pada Liga Champions Eropa tahun 2018. Kala itu, sebelum kick off, anthem UCL diputar. Sontak pemutaran itu membuat seluruh cules yang memadati Camp Nou bersorak.

Tentu bukan bersorak gembira, tapi bersorak mencemooh. Para fans mulai bersiul dan mencemooh keras saat lagu yang ditulis komposer asal Inggris, Tony Britten itu diputar sebelum kick off. Bahkan cacian itu tidak berhenti sampai lagunya tandas diputar.

Kenapa Cules Begitu Sinis dengan Anthem UCL?

Usut punya usut, setelah ditelusuri, ternyata ada alasan di balik para penggemar Blaugrana melakukan hal itu. Pemicunya adalah kejadian tahun 2015. Tahun segitu sedang muncul isu pembebasan Catalonia dari Spanyol. Nah, di sebuah pertandingan, fans Barcelona mengibarkan bendera Estelada. Bendera tersebut disinyalir sebagai bentuk kemerdekaan Catalonia.

Padahal saat itu Blaugrana sedang tidak bermain di kandangnya sendiri, melainkan di Berlin, Jerman. Kebetulan waktu itu Final Liga Champions tahun 2015. Laga itu mempertemukan FC Barcelona vs Juventus. Blaugrana yang masih diperkuat trio MSN (Messi, Suarez, Neymar) sukses menggondol gelar juara usai menghabisi Si Nyonya Tua 3-1.

Konfederasi sepak bola Eropa, UEFA pun murka. Pengibaran bendera Estelada oleh fans Barcelona itu dianggap gerakan separatis untuk memisahkan Catalonia dari Spanyol. Karena itu juga termasuk simbol politik, jadi dilarang muncul di pertandingan. Barcelona pun didenda 21 ribu poundsterling atau Rp 409 juta usai final tersebut.

Meski begitu, para cules tidak kapok. Gelaran UEFA Champions League musim berikutnya juga diwarnai hal yang sama. Saat menghadapi Bayern Leverkusen di Liga Champions 2015/16 hal serupa kembali terjadi dan FC Barcelona kembali kena denda bahkan lebih mahal, yaitu 28 ribu pounds atau Rp 545 juta.

Setelah itulah fans Barca mulai melanggengkan tradisi mencemooh anthem UCL sebagai bentuk protes terhadap UEFA. Well, bentuk protes pada UEFA dengan mencemooh lagu tema UCL juga dilakukan para suporter sepak bola di Eropa untuk melawan rasisme.

Perlawan Terhadap Rasisme

Tampaknya, anthem UCL yang komposisi musiknya mirip lagu “Zadok The Priest” karya George Frederic Handel seperti sudah menjadi sasaran empuk untuk memprotes UEFA. Apalagi setelah UEFA dianggap lembek terhadap aksi rasisme yang menimpa pemain-pemain di Liga Eropa. Salah satu yang paling getol mengolok-olok anthem UCL adalah fans Manchester City.

Yup, kamu tidak salah dengar. Fans Manchester City itu, sekalipun sering dianggap hantu, tapi ketika mereka bersuara begitu menggetarkan. Ketika City tampil di UCL apalagi di kandangnya sendiri, kemungkinan besar kamu akan mendengar betapa berisiknya tetangga yang satu ini. Anthem UCL akan langsung kicep nggak kedengeran karena para pendukung City justru melontarkan ejekan dan meniup peluit.

Hal itu mulai dilakukan pendukung City sejak musim 2011/12. Tepat ketika Mario Balotelli, yang saat itu berseragam The Citizens mendapat perlakuan rasisme dari pendukung FC Porto. Dari kejadian itu, Porto kena penalti 20 ribu euro atau Rp 333,7 juta.

Namun sebulan berikutnya, Manchester City juga kena denda ketika bertandang ke Portugal. Lucunya lagi, denda yang harus dibayar City nominalnya lebih banyak, yaitu 30 ribu euro atau Rp 500 juta. Tahu kenapa City harus membayar? Yup benar, karena para punggawa Manchester City terlambat 30 detik masuk ke lapangan usai half time.

Setahun berselang, perlakuan rasis masih juga muncul. Dan lagi-lagi Manchester City menjadi korbannya. Ketika Liga Champions Eropa musim 2013/14, CSKA Moskow dihukum UEFA karena pendukungnya berulang kali melakukan pelecehan rasial. CSKA dihukum tanpa penggemar selama tiga minggu.

Namun, sungguh malang nasib Manchester City. Ketika City bertolak ke Rusia untuk menghadapi CSKA Moskow di fase grup Liga Champions musim 2013/14, pendukung City harus pulang karena mereka tidak diperbolehkan masuk ke stadion. Jadi, larangan tanpa penggemar ini bukan hanya ditimpa CSKA tapi juga City.

Tentu fans City merugi. Sebab untuk datang Moskow butuh duit yang tidak sedikit. Buat bayar tiket penerbangan, akomodasi hotel, dan tiket pertandingan. Banyak fans City yang sudah terlanjur membeli tiket pertandingan, soalnya kala itu tidak ada pemberitahuan kalau fans City juga dilarang masuk.

Kenapa mereka tidak dibolehkan masuk? Markas CSKA Moskow sudah lebih dulu diblokade para penggemar CSKA. Jadi fans City dihalang-halangi untuk bisa masuk ke dalam. Ajaibnya, justru penggemar CSKA yang akhirnya bisa masuk ke stadion. Yup benar, CSKA yang kena hukuman UEFA, tapi fans City yang nggak boleh masuk.

Apakah UEFA menghukum fans CSKA? Tidak saudara-saudara. Bahkan usai CSKA Moskow melakukan banding, mereka berhasil memperpendek durasi hukuman. Laga Manchester City kontra CSKA Moskow pun akhirnya digelar dan hebatnya, sekitar 650 pendukung CSKA, yang notabene sedang dihukum, justru memadati stadion.

Ironisnya ketika pertandingan dihelat, pemain Manchester City, Yaya Toure justru kena pelecehan rasial dari pendukung CSKA. Yaya Toure pun tidak hanya kecewa, tapi marah karena UEFA masih tidak tegas menindak perlakuan rasis.

“Saya sangat kecewa dengan apa yang dilakukan penggemar (CSKA). Saya pikir UEFA akan menindak hal itu. Pemain dengan warna kulit apa pun harus setara. Saya ingin katakan, tidak untuk rasisme,” kata Yaya Toure.

Bukan hanya suporter City yang memprotes UEFA karena matanya kelilipan kalau ngurusin rasisme dengan mencemooh anthem UCL. Penggemar Bayern Munchen juga melakukan hal yang nyaris serupa. Kala Die Roten menghadapi CSKA Moskow di UCL tahun 2015, sebelum kick off seperti biasa lagu tema UCL diputar.

Tepat saat itulah, para pendukung Bayern Munchen membalikkan badan mereka. Aksi tersebut menyusul perlakuan rasisme pendukung CSKA Moskow di pertandingan sebelumnya. Untungnya Munchen nggak kena semprot UEFA.

Terlepas dari efektif atau tidaknya, mencemooh anthem UCL mungkin bisa menjadi sarana bagi suporter untuk menyampaikan pendapat sekaligus mengkritik para petinggi UEFA. Mengkritik apa saja kebijakan yang dianggap sembrono, termasuk di dalamnya rasialisme yang tak ditindak. Mantan pelatih Manchester City, Manuel Pellegrini mendukung hal itu.

Menurutnya, fans berhak mengkritik lewat metode apa pun. Mencemooh lagu tema UCL bisa jadi salah satu cara memerangi rasialisme, sebab dari cemoohan itu yang disasar adalah UEFA.

Sumber referensi: thesun.co.uk, nbcsports.com, goal.com, football.london, panditfootball.com

Pos terkait