Juara UEFA Nations League, Apa Artinya Bagi Timnas Prancis?

  • Whatsapp
Juara UEFA Nations League, Apa Artinya Bagi Timnas Prancis
Juara UEFA Nations League, Apa Artinya Bagi Timnas Prancis

Ajang UEFA Nations League musim 2020/2021 telah resmi berakhir. Tim nasional Prancis keluar sebagai jawaranya setelah di laga final yang digelar di San Siro pada 10 Oktober lalu sukses menundukkan perlawanan tim nasional Spanyol dengan skor tipis 2-1.

Tertinggal lebih dulu oleh gol Mikel Oyarzabal di menit ke-64, Les Bleus menyamakan kedudukan di menit ke-66 lewat gol Karim Benzema. Prancis kemudian bangkit dari ketertinggalan dan memastikan kemenangan berkat gol Kylian Mbappe di menit ke-80.

Gol tersebut sangat berbau kontroversi. Dalam tayangan ulang, striker PSG itu terlihat berada dalam posisi offside. Namun, setelah melihat hasil review VAR, wasit ternyata tetap mengesahkan gol tersebut.

Walau menuai pro dan kontra, keputusan pengadil lapangan sudah final. Tak ada revisi dan Prancis sah sebagai juara. Frustasi dan kecewa jelas terlihat di raut wajah penggawa La Furia Roja, khususnya Eric Garcia.

“Wasit mengatakan saya punya niat untuk memainkan bola, dia bilang saya seharusnya menyingkir dan membiarkan Mbappe mengontrolnya, itulah aturannya. Saya pikir itulah yang paling menyakitkan. Seorang bek tidak akan pernah dalam hidup mereka minyingkir dalam situasi itu,” kata Eric Garcia kepada RTVE dikutip dari CNN.

Pelatih Spanyol, Luis Enrique juga menyatakan kekecewaannya. Namun, mantan pelatih Barcelona itu lebih menyoroti permainan anak asuhnya yang makin berkembang.

“Dari bangku cadangan, itu terlihat offside. Tetapi saya enggan membicarakan tentang apa pun yang tidak dapat saya kendalikan. Kami akan pulang tanpa piala tetapi kami bersaing satu lawan satu dengan juara dunia, dan menyamai mereka dalam hal kualitas dan kekuatan fisik,” ujar Luis Enrique dikutip dari AS.

Berbeda dengan Spanyol, Prancis menyambut kemenangan di final UEFA Nations League tahun ini dengan kegembiraan. Pelatih Didier Deschamps mengaku bangga dengan perjuangan anak asuhnya.

“Saya sangat bangga dan sangat senang untuk para pemain. Kami tertinggal di kedua pertandingan kami. Hari ini kami menyamakan kedudukan dengan cepat setelah tertinggal. Di luar bakat yang kami miliki di tim ini, ada juga karakter dan mentalitas mereka,” kata Deschamps dikutip dari UEFA.

Mengenal UEFA Nations League dan Format Kompetisinya yang Kontroversial

Namun, apakah pantas Prancis merayakan trofi UEFA Nations League tahun ini dengan penuh suka cita? Pasalnya, sejak awal pamor kompetisi ini sudah dipertanyakan. Seperti yang dikatakan kiper timnas Belgia, Thibaut Courtois.

“Pertandingan melawan Italia pada hari Minggu tidak ada gunanya. Menjadi peringkat ketiga di Nations League tidak ada gunanya. Apa yang disuguhkan? Saya tidak tahu kenapa kami harus memainkan permainan ini,” ujar Courtois kepada RMC Sport dikutip dari forza italian football.

Dan memang benar. Laga perebutan tempat ketiga UEFA Nations League 2021 antara Belgia vs Italia berlangsung cukup membosankan. Para pemain terlihat tak ikhlas bermain dan usai kalah dari Italia, Courtois kembali mengeluhkan pertandingan tersebut.

“Pertandingan ini hanyalah permainan uang, kami memainkannya karena ini adalah uang tambahan untuk UEFA, ini adalah permainan lain di TV… mereka hanya peduli dengan kantong mereka,” ujar Courtois dikutip dari Football Fans Tribe.

Format ajang ini sendiri kembali menuai pro dan kontra. Sekelas Piala Eropa saja sudah tak menggelar perebutan tempat ketiga. Lagipula, kembali soal pamor, level persaingan di ajang UEFA Nations League terlihat berat sebelah dan hanya jadi ajang bagi negara-negara besar saja.

Bila menilik format kompetisinya, ajang UEFA Nations League bisa dibilang sebagai super league-nya negara-negara Eropa. Sejak dicanangkan pada 2013 silam, ajang UEFA Nations League pertama kali digelar pada musim 2018/2019 dengan timnas Portugal keluar sebagai juaranya. Ajang ini sendiri dimaksudkan untuk menggantikan pertandingan persahabatan dengan pertandingan yang lebih kompetitif, yang memungkinkan tiap negara untuk bermain melawan tim dengan peringkat yang setara.

Di musim ini, 55 negara peserta Liga Bangsa-Bangsa UEFA dibagi dalam 4 Liga, yakni Liga A, Liga B, Liga C, dan Liga D. Liga A, B, dan C masing-masing berisi 16 tim yang dibagi lagi ke dalam 4 grup, sementara Liga D hanya berisi 7 tim yang dibagi dalam 2 grup. Adapun pengundiannya disesuaikan dengan peringkat mereka di ranking koefisien UEFA pasca berakhirnya UEFA Nations League 2018/2019.

Pemenang grup di Liga B, C dan D akan mendapatkan promosi. Sementara negara yang jadi juru kunci grup di Liga A dan B akan terdegradasi. Adapun tim yang berhak memenangi ajang ini hanyalah mereka yang menjadi pemenang grup Liga A saja. 4 juara grup Liga A lolos ke putaran final UEFA Nations League dan akan bertanding dalam sistem gugur.

Dengan format yang demikian, muncul banyak pro dan kontra. Satu hal positif berkat hadirnya UEFA Nations League adalah membuat laga jeda internasional menjadi berlangsung lebih kompetitif. Namun, format dari ajang tersebut mendapat kritik tajam karena kecil kemungkinannya untuk timbul sebuah hasil yang mengejutkan. Sebab yang kuat hanya bertemu dengan yang kuat, dan yang lemah hanya bertanding dengan yang lemah.

Seperti saat ajang Piala Eropa 2020 kemarin. Prancis dapat mengalahkan Jerman dan menahan Portugal di babak grup, tetapi kemudian kandas dari Swiss di babak 16 besar. Atau Islandia yang secara mengejutkan lolos dari babak grup dan sukses mengalahkan Inggris di babak 16 besar Euro 2016.

Hasil-hasil pertandingan seperti itu rasanya sulit terjadi di ajang sekelas UEFA Nations League. Untuk mendapat peluang juara, negara Eropa dengan peringkat bawah mesti merangkak terlebih dahulu.

Lalu, dengan format yang kontroversial itu, apakah Prancis sebagai juara UEFA Nations League teranyar patut berbangga diri?

Hal-hal yang Didapat Prancis dari Menjuarai UEFA Nations League 2021

Perlu disepakati bersama bahwa ajang Liga Bangsa-Bangsa jelas tak punya pamor yang setara dengan Piala Eropa apalagi Piala Dunia. Level persaingannya juga jelas lebih rendah. Hanya di pertandingkan di waktu jeda internasional dan berlangsung nyaris satu tahun membuat masing-masing negara dapat mengatur skuadnya sesuka hati.

Ajang ini juga kurang terasa level kompetisinya jika menilik dari animo penonton yang hadir. Namun, ada satu hal yang paling memikat dari ajang ini. UEFA Nations League menawarkan prize money yang lumayan bagi seluruh pesertanya.

Musim ini, UEFA menganggarkan dana lebih dari 100 juta euro sebagai hadiah uang yang dibagikan kepada seluruh peserta Liga Bangsa-Bangsa. Masing-masing peserta Liga A mendapat uang jaminan sebesar 2,25 juta euro, peserta Liga B mendapat 1,5 juta euro, peserta Liga C mendapat 1,125 juta euro, dan peserta Liga D hanya mendapat uang jaminan 750 ribu euro. Jika keluar sebagai juara grup di akhir musim, pendapatan mereka akan dilipatgandakan.

Khusus peserta Liga A, mereka bisa kembali mendapat tambahan pendapatan dari uang bonus. Juara empat mendapat bonus 7 juta euro, juara ketiga mendapat 8 juta euro, runner-up mendapat 9 juta euro, dan sang juara berhak mengantongi bonus 14 juta euro.

Mari berandai-andai. Jika dana se-fantastis itu hanya dibagikan sebagai prize money, maka berapa banyak total uang yang masuk ke kantong UEFA? Dengan kata lain, ajang UEFA Nations League sendiri bisa dibilang sebagai pertandingan persahabatan antar negara Eropa yang berhadiah uang.

Dari penjabaran tadi, timnas Prancis yang keluar sebagai jawara diperkirakan mengantongi hadiah uang nyaris 20 juta euro. Les Bleus yang tergabung dalam grup 3 berhasil keluar sebagai juara grup setelah berhasil melangkahi juara bertahan Portugal, Swedia, dan Kroasia.

Selain mendapat pundi-pundi uang, kemenangan di ajang UEFA Nations League edisi tahun ini juga punya arti lain bagi Prancis. Juara dunia 2018 itu bisa dibilang baru saja babak belur di Euro 2020. Berstatus juara dunia dan punya kedalaman skuad yang paling komplet, Prancis justru kandas di babak 16 besar.

Artinya, menjadi juara UEFA Nations League 2021 adalah sebuah berkah sekaligus pelipur lara bagi Prancis. Pelatih Didier Deschamps patut senang karena eksperimennya dengan memainkan formasi 3-4-1-2 cukup berhasil. Prancis juga mampu menampilkan beberapa muka-muka anyar, seperti Theo Hernandez, Jordan Veretout, hingga Aurelien Tchouameni.

Namun, Les Bleus tak boleh jumawa. Kemenangan di UEFA Nations League 2021 juga tak patut dirayakan berlebihan. Mereka tak boleh cepat berpuas diri atas kemenangannya tahun ini mengingat pamor dan level Liga Bangsa-Bangsa yang masih jauh dari Piala Dunia atau bahkan Piala Eropa.

***
Sumber Referensi: CNN, UEFA, Liputan 6, Sportekz, Bolavip, UEFA 2, AS, Forza Italian Football.

Pos terkait