Jenis Rumput Stadion dan Pengaruhnya pada Laju Bola

  • Whatsapp
Jenis Rumput Stadion dan Pengaruhnya pada Laju Bola
Jenis Rumput Stadion dan Pengaruhnya pada Laju Bola

Seorang pesepak bola bisa saja terjatuh lantaran ditekel pemain lawan. Ia lantas terjungkal dan pada akhirnya cedera. Namun ada juga yang tiba-tiba jatuh, tanpa ada kontak apa pun, Sterling? Bukan dong. Tapi memang banyak pemain yang terjatuh tanpa disentuh. Penyebabnya adalah kualitas rumput yang buruk.

Soal kualitas rumput ini bintang Argentina, Lionel Messi pernah nyaris cedera engkel karena terjatuh akibat rumput AT&T Stadium di Dallas, Amerika Serikat ambles. Namun itu jauh di Amerika dan insiden itu bertahun-tahun yang lalu. Jadi mari kita tarik ke kondisi stadion di Indonesia saja.

Kamu tentu pernah melihat saat Timnas Indonesia bermain di kandang mereka sendiri bukan? Atau pernah menonton pertandingan BRI Liga 1? Silakan bandingkan dengan ketika kamu melihat pertandingan Euro, Piala Dunia, atau Premier League.

Sudah pasti kamu bakal jenuh melihat aliran bola yang tak halus di pertandingan Timnas Indonesia atau klub-klub di BRI Liga 1. Hal ini jauh berbeda ketika kamu menonton pertandingan Manchester United menghadapi Birmingham City, misalnya. Laju bola di Old Trafford jauh lebih halus ditonton ketimbang di Stadion Gelora Bung Tomo, markasnya Persebaya Surabaya, misalnya.

Itu bukan karena efek kamera atau bahkan editan dari stasiun televisi. Sama sekali bukan. Namun itu memang senyata-nyatanya kondisi di lapangan. Penyebabnya, kualitas rumput di Stadion Harapan Bangsa, Stadion Gelora Bung Tomo, sampai Stadion Galuh Ciamis jauh lebih jelek ketimbang Old Trafford, Allianz Arena, atau Signal Iduna Park.

Ya, kualitas permainan sebuah tim sepak bola di lapangan tidak hanya ditentukan faktor taktik, materi pemain, dan tentu saja finansial. Namun juga kondisi rumput lapangan. Rumput yang jelek akan mengakibatkan banyak pemain terjatuh dan permainan jadi nggak karuan. Itulah mengapa ketika kita melihat sepak bola Indonesia, entah Liga BRI atau Timnas, kita hanya sebatas menonton karena mendukung bukan menghibur. Karena alur perpindahan bola sama sekali tidak bisa kita nikmati, semuanya terkesan melambat.

Nah, sebetulnya rumput apa sih yang digunakan stadion-stadion di Indonesia? Dan apa bedanya rumput-rumput di setiap stadion? Mari kita mengenal jenis-jenis rumput yang umumnya dipakai untuk stadion atau lapangan sepak bola.

Zoysia Matrella (ZM)

Mari memulai dengan jenis rumput yang paling bagus terlebih dahulu. Kenapa? Sebab kalau memulai yang paling buruk itu biar bagiannya Arsenal dan Arteta saja. Well, sebelumya, fyi aja nih, rumput sendiri merupakan sejenis tanaman monokotil yang termasuk dalam famili Poaceae atau Graminae. Begitu.

Nah, rumput kelas wahid di dunia sepak bola adalah jenis Zoysia Matrella atau biasa dikenal rumput manila. ZM adalah rumput yang paling bagus digunakan untuk lapangan sepak bola. Warna hijaunya yang pekat tentu saja sangat eye catching.

Ditambah lagi, jenis rumput yang satu ini punya elastisitas yang sangat mumpuni. Elastisitas inilah yang nantinya membuat penggelindingan atau laju bola menjadi sangat mulus. Pesepak bola yang bermain di atas rumput Zoysia Matrella tak perlu malu-malu menginjak rumputnya dengan sepatu bola.

Sebab rumput jenis ini memiliki rigiditas yang begitu rapat, ditopang dengan daun yang runcing. Pul sepatu bola mah belum apa-apa untuk menghancurkan rumput ini. Apalagi rumput jenis ZM ini memiliki akar yang kuat dan tak mudah lepas seperti pacar.

Sayangnya, karena kemewahan rumput Zoysia Matrella, perawatannya juga tak murah sekaligus sulit. Maka dari itu, tak banyak stadion di Indonesia yang menggunakan jenis rumput yang satu ini. Meski begitu, kabarnya Stadion Gelora Utama Bung Karno sudah memakai jenis rumput yang satu ini. Ya iya lah, kandang Timnas dan stadion terbesar di Asia Tenggara masa rumputnya burik?

Cynodon Dactylon (CD)

Selanjutnya ada rumput jenis Cynodon Dactylon (CD) atau biasa dikenal rumput bermuda. Secara kualitas rumput jenis ini masih di bawah rumput manila. Akan tetapi perbedaan kualitasnya tidak terlampau jauh. Rumput bermuda kalah di bagian akar.

Akar rumput jenis CD ini cenderung loyo. Ia tidak menancap begitu kuat ke tanah. Jadi mudah terkelupas dan bisa terangkat ketika diinjak para pemain. Nah kalau kamu pernah menonton Liga Indonesia dan rumputnya lepas saat pemain terjatuh atau ngatut sama bola yang ditendang, maka itu bisa jadi menggunakan rumput jenis bermuda atau CD ini.

Kendati bisa digunakan untuk lapangan sepak bola, tapi rumput jenis Cynodon Dactylon lebih cocok untuk lapangan golf. Soal warna hijaunya, rumput jenis ini tidak sepekat rumput manila. Tapi untuk ukuran rumput yang fotogenik cukup lah.

Axonopus Compressus (AC)

Sekarang mari kita bahas jenis rumput yang paling jelek untuk ukuran rumput sepak bola. Namanya rumput Axonopus Compressus (AC) atau banyak orang menamainya rumput gajah. Sesuai namanya, rumput ini memiliki daun yang lebih lebar dibandingkan dengan dua jenis rumput lainnya.

Oleh karena itu elastisitas rumput gajah sangatlah buruk. Laju bola bisa menjadi lebih lambat dan tidak halus. Lebar daun ini memang menjadi kelemahan rumput gajah yang hakiki.

Selain menghambat laju bola, daun yang lebar membuat rumput ini cepat rusak terkena pul sepatu Johan Alfarisi atau Marc Klok. Warna hijau dari rumput gajah juga cepat pucat seperti orang sakit keras. Apalagi kalau manajemen stadion males untuk merawatnya.

Bisa jadi warna hijaunya akan memudar. Atau bahkan warnanya bisa berubah menjadi kuning kecokelatan. Kamu pernah melihat stadion sepak bola dengan rumput semacam itu? Yup, stadion-stadion di Indonesia masih banyak yang memakai jenis rumput gajah.

Sebut saja stadion Haji Agus Salim, markasnya Semen Padang; Stadion Galuh Ciamis; dan Stadion Gelora Bung Tomo. Kendati begitu, perlu diakui beberapa stadion di Indonesia sudah mengganti rumput gajah ke yang lebih baik. Barangkali mereka sudah sadar kalau rumput gajah cocoknya buat taman atau alun-alun saja. Sekadar informasi, stadion di Malaysia juga ada yang memakai jenis rumput ini, seperti Stadion Bukit Jalil dan Stadion Shah Alam.

Itulah tadi jenis-jenis rumput stadion sepak bola yang bisa berpengaruh pada laju bola. Makin burik rumputnya, lajunya bisa menjadi lambat dan seperti tersendat-sendat polisi tidur. Btw, daripada main di lapangan dengan kualitas rumput yang jelek mending main di tanah lapang tanpa rumput saja. Biar seolah sedang bermain di Santiago Berdebu. Bukan begitu football lovers?

Sumber referensi: konidepok.or.id, ayobandung.com, bolasport.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *