Kegagalan jadi ganjaran yang mesti diterima oleh punggawa Timnas Indonesia di Piala Asia U-23. Usai menang secara dramatis atas Korea Selatan di perempat final, skuad Garuda Muda harus mengalami dua kekalahan beruntun dari Uzbekistan di semifinal dan Irak di perebutan juara ketiga.
Meski demikian, pencapaian ini patut diapresiasi. Sebagai debutan, skuad asuhan Shin Tae-yong berjuang habis-habisan. Tak terkecuali para pemain keturunan. Salah satu yang paling heroik adalah Nathan Tjoe-A-On. Kontribusi, pengorbanan, dan kedewasaannya patut diacungi jempol
Sebesar apa sih perjuangan Nathan demi Timnas Indonesia? Sebelum kita bahas, kalian bisa subscribe dan nyalakan loncengnya agar tak ketinggalan konten terbaru dari Starting Eleven Story.
Daftar Isi
Simpang Siur Sejak Awal
Tanpa mengesampingkan perjuangan pemain-pemain lain, Nathan Tjoe-A-On memberikan kesan tersendiri di Piala Asia U-23 edisi kali ini. Bagaimana tidak? Namanya terus dibicarakan sejak Shin Tae-yong menyebut nama-nama yang akan dibawa ke Qatar. Bukan karena jadi yang pertama disebut, melainkan Nathan jadi nama yang diragukan tampil.
Nathan diragukan tampil karena cedera? Bukan, namanya keluar-masuk daftar pemain karena klubnya saat ini, SC Heerenveen tak kunjung memberikan kepastian. Itu karena Heerenveen tidak melihat kompetisi Piala Asia U-23 sebagai prioritas. Ajang tersebut bahkan tak terdaftar sebagai agenda FIFA.
Maka dari itu, tak ada urgensi apa pun bagi klub untuk mengizinkan Nathan. Meski demikian, PSSI terus mengupayakan ketidakjelasan ini. Saking nggak jelasnya Nathan mau diangkut ke Qatar atau engga, postingan daftar pemain yang akan di bawa ke Qatar pun sampai mengalami beberapa revisi.
Hingga di detik-detik terakhir PSSI mendapat kabar baik. Nathan diizinkan untuk memperkuat Timnas Indonesia U-23. Tapi dengan berbagai syarat. Nathan hanya diizinkan untuk memainkan laga penyisihan grup saja. Itu sama dengan tiga pertandingan thok.
Dipanggil Bukan Untuk Bek Kiri
Karena Nathan baru bergabung dengan skuad, Shin Tae-yong tak menurunkan Nathan Tjoe-A-On sejak menit awal di laga pembuka melawan Qatar. Pelatih berkebangsaan Korea Selatan itu memasukan Nathan di babak kedua untuk menggantikan Komang Teguh. Yang mengejutkan, Nathan ternyata tidak diturunkan pada posisi terbaiknya, yakni bek kiri.
Sempat bermain sebagai bek tengah sebentar, Nathan kemudian mendapat instruksi untuk bermain sebagai gelandang bertahan. Ia diamanahi untuk menggantikan peran Ivar Jenner yang diganjar kartu merah di awal babak kedua.
Nathan sendiri dikenal pemain versatile. Ia bisa bermain di berbagai posisi termasuk gelandang bertahan. Kelebihan itu yang membuat Shin Tae-yong dan PSSI mau menaturalisasinya. Namun, karena jalannya pertandingan yang aneh dan mungkin masih sedikit jet lag, Nathan belum berkontribusi banyak di laga tersebut.
Kontribusinya mulai terlihat saat melakoni laga kedua melawan Australia. Tampil tanpa Ivar Jenner, Nathan mengisi posisi gelandang bertahan. Tidak seperti laga debutnya yang canggung, Nathan tampil begitu percaya diri di laga ini. Nathan menjelma nyawa yang membuat lini tengah dikuasai Indonesia.
Nathan bermain tenang sehingga aliran bola begitu rapi. Mobilitas dan kemampuan kontrol bolanya juga sangat membantu Indonesia untuk menjaga penguasaan bola. Puncaknya saat dirinya memberikan assist penting kepada Komang Teguh. Bola sepakan half voli-nya menyasar kepala Komang sehingga berbuah satu-satunya gol di laga tersebut.
Lolos ke Perempat Final, Tapi…
Di laga melawan Jordan pun demikian. Kembalinya Ivar Jenner ke lini tengah Indonesia, banyak yang mengira Nathan akan kembali ke bangku cadangan atau menggantikan Pratama Arhan di posisi bek kiri. Namun, prediksi itu agak meleset. Nathan tetap bermain, tapi bukan sebagai bek kiri. Nathan justru diduetkan dengan Jenner di tengah.
Duet keduanya begitu serasi. Aliran bola Timnas Indonesia terus terjaga dan lini tengah jadi semakin dinamis. Skuad Garuda Muda pun bisa menguasai jalannya pertandingan. Baik Nathan dan Ivar, mereka melakukan transisi yang begitu baik. Jika Ivar membantu serangan, maka Nathan yang lebih berkonsentrasi untuk bertahan. Jordan pun kesulitan menembus pertahanan Timnas Indonesia melalui sektor tengah.
Solidnya Nathan di lini tengah Indonesia U-23 pun akhirnya jadi salah satu faktor kemenangan 4-1 Indonesia atas Jordan. Kemenangan itu sekaligus mengamankan satu tiket ke perempat final sebagai runner-up Grup A. Menemani Qatar untuk melaju ke babak berikutnya seharusnya jadi kabar baik yang perlu dirayakan. Namun, tidak bagi Nathan.
Kontrak kesepakatannya dengan Heerenveen sudah habis. Pemain berusia 22 tahun itu hanya diizinkan bermain sebanyak tiga kali saja. Maka dari itu, selepas laga ia langsung mengemasi barang-barangnya dan bergegas terbang ke Belanda untuk kembali menjalani sesi latihan bersama Heerenveen.
Perjalanan 12.000 KM
Kabar ini pun menimbulkan respons beragam. Tak sedikit yang menyayangkan kenapa Nathan harus kembali ke Belanda di saat Timnas Indonesia U-23 sedang membutuhkannya untuk menghadapi Timnas Korea Selatan U-23. Apalagi peran Nathan begitu vital di lini tengah.
Oleh karena itu, meski waktunya begitu sempit, Erick Thohir turun tangan langsung untuk melobi Heerenveen supaya Nathan bisa kembali ke skuad Garuda Muda. Selain itu, mengutip CNN Indonesia, Erick Thohir juga berkata bahwa ada banyak pihak yang membantu lewat pendekatan personal serta informal kepada Heerenveen.
Meski tak menyebutkan siapa sosok berjasa itu, beberapa pihak meyakini bahwa salah satunya adalah Coach Justin. Lewat postingan Instagram pribadinya, ia ikut bersuara meminta Heerenveen untuk memahami kebutuhan Timnas Indonesia U-23 akan Nathan Tjoe-A-On.
Uniknya, pernyataan yang disampaikan Coach Justin kepada Heerenveen menggunakan Bahasa Belanda. Tentunya, dengan menggunakan Bahasa Belanda, Heerenveen jadi lebih memahami situasi yang ada. Setelah diskusi panjang, dua hari sebelum laga melawan Korea Selatan, tepatnya pada tanggal 23 April PSSI akhirnya mengantongi izin dari Heerenveen.
Setelah diizinkan klubnya, pemain yang kerap disapa Tejo itu langsung terbang ke Doha guna persiapan laga melawan Korea Selatan. Mungkin terdengar sepele, tapi perjalanan dari Belanda ke Doha sangat jauh dan menguras tenaga.
Jarak antara Heerenveen ke Doha diketahui sekitar 6.292 kilometer. Artinya jika bolak-balik, sang gelandang menempuh perjalanan kurang lebih 12 ribu kilometer. Durasi perjalanan menggunakan pesawat dari Heerenveen ke Doha sendiri adalah 6 jam 15 menit dengan catatan direct flight alias tanpa transit.
Karena bolak-balik, total Nathan melalui perjalanan menggunakan pesawat selama 12 jam 30 menit. Fantastis bukan perjuangan pemain ini? Pengorbanan Nathan Tjoe-A-On jelas tidak main-main. Apalagi di atas lapangan, tak terlihat ia mengendurkan semangat karena kelelahan atau semacamnya.
Apapun Demi Indonesia!
Nathan tetap tampil optimal di laga kontra Korea Selatan meski harus menempuh perjalanan jauh. Pemain yang dipinjam dari Swansea City itu bahkan sanggup bermain penuh selama 120 menit. Walau begitu, jika kalian ngeh Nathan tak terlihat saat Indonesia menumbangkan Korea Selatan melalui duel adu penalti.
Bukan karena cedera atau tak siap menghadapi situasi sulit. Nathan ternyata mengalah untuk tidak dicantumkan sebagai penendang penalti Timnas Indonesia. Hal ini mengacu pada regulasi yang sudah ditetapkan oleh IFAB soal adu penalti.
Regulasi tersebut berbunyi, jika pada akhir pertandingan suatu tim mempunyai jumlah pemain yang lebih banyak dari lawannya, maka tim tersebut harus mengurangi jumlah pemainnya menjadi sama dengan jumlah lawannya. Dalam kasus ini, Korea Selatan sudah bermain dengan sepuluh pemain, maka dari itu Indonesia harus mengurangi satu.
Pada akhirnya, Nathan jadi pemain yang disepakati bersama oleh para pemain dan Shin Tae-yong untuk tidak mengambil tendangan penalti. Tentu STY punya pertimbangan strategis mengambil keputusan ini. Nathan pun tak keberatan dengan kebijakan tersebut. Karena baginya, negara di atas segalanya.
Setelah mengalahkan Korea Selatan, Indonesia berhak melaju ke semifinal untuk menghadapi Uzbekistan. Namun, karena kualitas kita masih jauh tertinggal dengan Uzbekistan, Nathan cs gagal melaju ke final dan harus melawan Irak di laga perebutan juara ketiga.
Walaupun akhirnya gagal juga dalam perebutan juara ketiga, performa Nathan Tjoe-A-On benar-benar menggila di laga tersebut. Ia seolah tak capek terus mengejar bola. Nathan sampai jatuh bangun membantu pertahanan Timnas Indonesia. Emang gokil abangku yang punya setengah Heerenveen ini. Nasionalismenya udah nggak bisa diragukan lagi.


