Sedikit berbeda dengan tim sepakbola lain yang dibangun dengan tetes keringat para pemainnya dan sejarah yang terbentang untuk diceritakan, Paris Saint-Germain justru dibangun dengan tumpukan uang milik pemerintah Qatar yang tak terhitung jumlahnya. Ini membuat sebagian besar penikmat sepakbola menganggap PSG tak memiliki sejarah. Tak memiliki nilai-nilai leluhur. Dan tak memiliki seorang legenda.
Namun, untuk penilaian terakhir, tampaknya kini bisa terbantahkan. Walaupun begitu banyak pemain-pemain kelas wahid yang datang dan pergi, ada beberapa pemain yang layak menyandang status legenda. Marco Verratti, Thiago Silva, atau Edinson Cavani mungkin layak disebut legenda PSG. Namun, kali ini kita tak akan membahas ketiga pemain tersebut. Legenda PSG yang akan kita bahas adalah Angel Di Maria.
Suka atau tidak, pemain yang satu ini telah menjadi bagian penting dalam kesuksesan PSG di kompetisi domestik. Menariknya, untuk mencapai level seorang legenda, Di Maria harus melewati banyak bebatuan curam dan terjal. Pengkhianatan, kebencian, hingga hinaan menjadi rintangan Di Maria sebelum menemukan kenyamanan di PSG.
Daftar Isi
Terkenal Bersama Real Madrid
Lahir di Rosario, kota terpadat ketiga di Argentina, Angel Di Maria sudah menjadi anak yang aktif. Ia gemar berolahraga dan sepakbola merupakan permainan favoritnya. Kecintaannya terhadap sepakbola menurun dari ayahnya yang ternyata merupakan mantan pesepakbola.
Ayahnya memasukan Di Maria ke klub lokal, Rosario Central sebelum akhirnya dilirik oleh salah satu klub terbesar di Portugal, Benfica. Lonjakan karir Angel Di Maria belum berhenti disitu. Belum genap setahun di Benfica, bakatnya sudah terdengar oleh Real Madrid yang melihat aksinya di Piala Dunia U-20 bersama Timnas Argentina.
Namun, klub Spanyol itu tak mau gegabah dalam mengambil langkah. Los Blancos membiarkan Di Maria bermain satu atau dua musim terlebih dahulu bersama Benfica. Di balik itu, perwakilan Madrid tetap memantau perkembangan sang pemain dari kejauhan. Setelah kurang lebih dua tahun memantau, El Real akhirnya mulai bergerak pada tahun 2010.
Real Madrid benar-benar menginginkan Di Maria. Setelah mengantongi 160 penampilan dan mencetak 29 gol serta 37 assist untuk Benfica, akhirnya Di Maria berseragam Real Madrid. Ia didatangkan untuk melengkapi proyek Galacticos jilid dua yang sudah mulai dibentuk Florentino Perez sejak satu tahun sebelumnya.
Ini jadi lonjakan karir yang sangat tak terduga oleh Di Maria. Bermain di klub yang lebih besar, makin besar pula tanggung jawab yang dipikulnya. Apalagi, saat itu dirinya baru berusia 22 tahun. Tapi ia sudah akan bermain bersama pemain-pemain terbaik di dunia. Nikmat mana lagi yang kau dustakan.
Menariknya, meski dinilai masih cukup muda, Angel Di Maria langsung menjadi pilihan utama di skuad El Real yang kala itu masih dilatih oleh Jose Mourinho. Tampaknya, Di Maria memperkenalkan diri kepada publik Bernabeu dengan cara yang cukup berkelas. Pemain yang lahir di hari valentine itu mencatatkan 53 penampilan dengan mencetak 26 assist di semua kompetisi musim 2010/11.
Datang ke Madrid sebagai pemain muda, Di Maria langsung menyita perhatian dunia. Ia dikenal sebagai pemain sayap yang kreatif. Pemain internasional Argentina tersebut tak melulu menyisir sisi sayap, melainkan juga piawai menciptakan peluang melalui umpan-umpan akurat.
Muncul Masalah
Di Maria langsung menjadi pemain sayap kesayangan Jose Mourinho. Sayangnya, kiprah sang pelatih tak memenuhi ekspektasi petinggi klub. Ia lebih sering bermasalah dengan pemain dan fans. Oleh karena itu, Mou akhirnya dipecat pada tahun 2013. Kepergian Mourinho justru jadi awal yang buruk bagi Di Maria.
Carlo Ancelotti jadi sosok yang cukup berpengaruh dalam hal ini. Kedatangannya untuk menggantikan Mourinho jadi awal hubungan buruk Di Maria dengan El Real. Bukannya memanfaatkan talenta Di Maria, pelatih asal Italia itu justru menebus mahal Gareth Bale dari Tottenham Hotspur. Jelas, ini jadi sebuah ancaman bagi Angel Di Maria.
Meski dirinya memiliki kesempatan untuk hengkang, Di Maria justru memilih untuk menghadapi masalah. Ia memutuskan untuk bertahan di Madrid dan bertarung dengan Bale guna mendapatkan satu tempat di skuad utama Ancelotti. Keputusan Di Maria memang berani, tapi itu jadi sikap yang salah.
Ancelotti lebih memilih Gareth Bale untuk menemani Karim Benzema dan Cristiano Ronaldo di lini depan. Dari sini lah trio BBC itu tercipta dan nantinya menjadi andalan Los Merengues dalam beberapa tahun kedepan. Lantas bagaimana nasib dengan Di Maria? Terpinggirkan? Jelas. Ia sesekali dimainkan, tapi bukan pada posisi terbaiknya.
Ya, Di Maria masih mendapat menit bermain meski lebih sedikit daripada sebelumnya. Tapi kebahagiaan yang telah dirasakan saat menjadi anak buah Jose Mourinho tak dirasakan waktu bersama Ancelotti. Selalu ada yang mengganjal ketika tak diberikan kesempatan untuk bermain sebagai pemain sayap.
Di Maria kian yakin bahwa masa-masanya bareng Real Madrid sudah habis ketika pihak klub justru mendatangkan James Rodriguez yang memukau di Piala Dunia 2014. Kedatangannya jelas untuk mengisi posisi gelandang serang. Ya, lagi-lagi Di Maria tergusur. Dari pemain sayap, ia bermain lebih ke dalam sebagai gelandang serang. Kini, Rodriguez pun didatangkan untuk menyingkirkannya secara halus.
Dibuang ke Manchester United
Tak ada cara lain selain hengkang dari Real Madrid. Itu jadi satu-satunya jalan keluar demi menyelamatkan karirnya. Akhirnya Di Maria sepakat untuk bergabung dengan Manchester United meski ia tahu bahwa ini semua adalah rencana Florentino Perez yang memang ingin menyingkirkannya dari Madrid.
Kepergian Di Maria ke Manchester terkesan dipaksakan. Semua sudah diatur secara rapih oleh Perez sejak Di Maria pergi ke Piala Dunia 2014. Di Maria sebetulnya “kebacut tresno” dengan Madrid. Ia tak mau meninggalkan klub yang telah membuatnya terkenal seperti sekarang.
Namun apa boleh buat, hari peresmian pun tiba. Di Maria mengangkat jersey Manchester United bernomor punggung tujuh. Senyumannya pun kembali merekah di wajahnya. Tapi orang terdekatnya pasti tahu, bahwa itu adalah senyuman palsu. Karena kepindahannya ke Inggris menimbulkan kritikan pedas dari para fans Madrid.
Dilansir Marca, hengkangnya Angel Di Maria ke Manchester United mendapat banyak cibiran dari kalangan fans Real Madrid. Nilai transfer yang mencapai 75 juta euro membuat fans menganggap Di Maria sebagai pemain mata duitan. Label ‘serdadu bayaran’ pun melekat padanya pasca transfer tersebut.
Hal itu dikonfirmasi langsung oleh sang istri, Jorgelina Cardoso. Dirinya tidak menampik jika uang menjadi salah satu alasan Di Maria pindah ke Inggris. Namun, ia merasa kecewa dengan fans Madrid. Hinaan tersebut tak seharusnya diterima oleh suaminya. Jorgelina paham betul apa yang sebenarnya terjadi.
Bahkan, ada rumor yang mengatakan bahwa dari segi paras, Angel Di Maria dinilai terlalu jelek untuk proyek Galacticos. Itu diungkapkan oleh Daily Mail beberapa tahun lalu. Dalam laporan tersebut menampilkan keterangan dari direktur sepakbola Barcelona, Carles Rexach yang mempercayai bahwa salah satu alasan Madrid menjual Di Maria adalah karena wajah.
Carles mengatakan Di Maria disingkirkan begitu saja karena citranya yang tidak sesuai dengan merek Galacticos yang coba dibangun oleh presiden klub saat ini Florentino Perez. Di Maria dinilai tak setampan Toni Kroos, Cristiano Ronaldo, Isco dan James Rodriguez.
Jadi, meski Di Maria mampu tampil apik di setiap laga, keberadaan Di Maria tetap bisa merusak tujuan Perez untuk membuat tim Galacticos yang bisa digandrungi oleh semua kalangan, termasuk para wanita. Itu sama halnya dengan Madrid yang batal merekrut Ronaldinho
Tak Cocok di Manchester
Hidup jauh dari Kota Madrid tak langsung menjauhkan Di Maria dari masalah dan pengkhianatan. Kisah menyebalkannya pun masih berlanjut di Manchester United yang kala itu masih dilatih oleh Louis Van Gaal.
Pelatih asal Belanda itu dikenal sebagai sosok yang cukup dihormati di dunia sepakbola. Namun, Di Maria punya pandangan berbeda terhadap Van Gaal. Bagi Di Maria, mantan pelatih Bayern Munchen itu adalah pelatih terburuk bagi karir sepakbolanya. Van Gaal justru tak memainkan Di Maria di posisi favoritnya. Sehingga sang pelatih tak bisa mengeluarkan potensi terbaik El Fideo, julukan dari Angel Di Maria.
Setelah konflik mulai memanas, terungkap sebuah fakta yang cukup mengejutkan. Mengenai Di Maria mengenakan nomor punggung tujuh yang begitu kramat bagi Manchester United, itu ternyata adalah sebuah paksaan. What?! Kita semua tahu, ketimbang tujuh, nomor punggung sebelas lebih identik dengannya.
“Ketika di Manchester United, mereka memberikan saya nomor punggung 7. Nomor 11 adalah nomor punggung yang sering saya gunakan ketika masih muda. Jadi saya memiliki ketertarikan untuk menggunakan nomor punggung itu sekali lagi. Ketika di Real Madrid, nomor 11 sudah digunakan, jadi saya memutuskan untuk menggunakan nomor 22,” Kata Di Maria.
Saat tiba di MU, Di Maria sempat ingin mengenakan nomor punggung sebelas. Itu karena nomor tersebut memang tersedia pasca pemilik sebelumnya, yakni Ryan Giggs memutuskan pensiun di akhir musim 2013/14. Namun, manajemen malah memaksa Di Maria untuk mengenakan nomor tujuh. Akhirnya, Di Maria terpaksa mengenakan nomor punggung keramat tersebut.
Lebih Dihargai di Paris
Karir Di Maria di Manchester United pun akhirnya hanya seumur jagung. Ia hanya bertahan selama 12 bulan saja di Old Trafford. “Van Gaal menggusur saya perlahan karena saya dianggap tak bisa mengikuti sistemnya. Meskipun saya mencetak gol dan assist, di pertandingan berikutnya ia justru mencadangkan saya,” keluh sang pemain.
Merasa Inggris bukan tempat yang tepat untuknya, Di Maria akhirnya terbang ke Prancis guna bergabung dengan PSG. Klub yang berlaga di Ligue 1 itu tengah membangun proyek ratusan triliun agar bisa menguasai sepakbola Eropa. Di Maria yang masih kesetanan karena emosi akhirnya tertarik dengan misi yang terdengar jahat itu.
Mengawali musim 2015/16 dengan cedera hamstring, Di Maria baru bisa bermain di pertandingan ketiga melawan AS Monaco. Ketika pulih, ia pun langsung menjadi andalan Laurent Blanc di skuad utama PSG. Blanc tahu betul bagaimana memaksimalkan sang pemain. Ia kembali memainkan Di Maria di posisi terbaiknya, yakni sayap kanan.
Di tangan Blanc, Di Maria kembali menjadi pemain yang produktif. Di musim debutnya, Di Maria berhasil mengantongi 15 gol serta 25 assist di semua kompetisi. Itu merupakan kebangkitan yang luar biasa mengingat musim sebelumnya ia dicap sebagai pemain gagal di Inggris.
Di Maria kembali mendapatkan dukungan dan cinta dari fans. Di PSG, ia lebih dihargai oleh pelatih maupun fans. Di Maria seakan mendapat ganjaran yang selayaknya ia dapatkan.
Sukses Besar Bersama PSG
Kembali merasakan bagaimana rasanya dicintai tak membuat Di Maria melupakan luka di masa lalu. Baginya, perjalanan karir sebelum akhirnya bergabung PSG begitu menyakitkan. Ia bahkan tak segan menyebut bahwa klub yang akan selalu mendapat rasa hormat darinya adalah Rosario Central. Bukan Manchester United apalagi Real Madrid.
Bahkan, ketika mendapat kesempatan untuk menghadapi Real Madrid di ajang Liga Champions musim 2019/20 Di Maria tampak emosional. PSG ketika itu melakoni laga pembuka Grup A dengan menjamu El Real. Laga yang dimainkan di Parc Des Princess itu dimenangkan Les Parisien dengan skor telak, 3-0.
Angel Di Maria pun menjelma jadi bajingan di pertandingan ini. Dari tiga gol yang bersarang di gawang Thibaut Courtois, dua diantaranya buah dari aksi Di Maria. Bukannya bersikap respect dengan tak berselebrasi, di dua gol tersebut El Fideo justru berlari ke pinggir lapangan untuk merayakan golnya. Ia bahkan mengeluarkan selebrasi andalannya yakni gestur hati untuk fans PSG.
Kemenangan ini pun dirayakan oleh ribuan penonton yang memadati stadion. Tapi, yang paling bahagia disini jelas Di Maria. Ia begitu puas mempermalukan mantan klub yang telah menyakiti hatinya itu.
Jika fans Madrid makin kesal dibuatnya, fans PSG justru makin mencintai sosok Angel Di Maria. Meski pada akhirnya gagal mempersembahkan trofi Liga Champions, kontribusinya tak kalah vital dibanding pemain-pemain bintang lain seperti Neymar atau Kylian Mbappe. Di Maria selalu mendukung tim dengan permainan efektif dan olah bola yang indah.
Angel Di Maria memutuskan hengkang dari PSG setelah berperan penting dalam keberhasilan klub meraih 18 trofi domestik pada periode 2016 hingga 2022. Mungkin Di Maria bukan pemain paling hebat yang dimiliki PSG. Tapi, dengan apa yang sudah ia berikan selama tujuh tahun, dirinya layak disebut legenda.
Sumber: Daily Mail, Sky Sport, CNN, These Football Times, Panditfootball


