Ivan Rakitic menjelma menjadi gelandang kelas dunia setelah berhasil menyumbangkan berbagai gelar prestis kepada tim yang dibelanya. Memiliki gaya bermain elegan serta akurasi tendangan yang sangat baik, membuat pria bertinggi 184 cm ini nyaman bertugas sebagai gelandang tengah.
Meski begitu, tak mudah bagi Rakitic untuk mendapatkan semuanya. Ia harus menjalani berbagai tantangan hingga tekanan untuk bisa meraih apa yang ia impikan.
Ivan Rakitic, lahir pada 10 Maret 1988 di Mohlin, Swiss. Meski lahir di Swiss, keluarga Rakitic merupakan pengungsi dari korban perang yang terjadi akibat perpecahan di Yugoslavia. Perlu diingat bahwa ketika Rakitic lahir, negara Kroasia belum terbentuk.
Kroasia hanya merupakan salah satu wilayah di bawah bendera negara komunis, Yugoslavia. Setelah mereka menyatakan kemerdekaan dan memisahkan diri, Yugoslavia mengirimkan tentara untuk menginvasi Kroasia. Hingga pada akhirnya terjadilah perang yang dikenal dengan ‘The Croatian War of Independence’’. Perang ini berlangsung selama kurang lebih empat tahun.
Ribuan warga Kroasia termasuk keluarga Rakitic, banyak yang mengungsi untuk mencari kehidupan yang layak.
Menjadi korban perang hingga tinggal di Swiss, Rakitic hidup dengan berbagai ketenangan. Ia tinggal di kota kecil dan damai dan tentram. Hal tersebut sangat membantu hobi Rakitic dalam mengolah si kulit bundar. Bermimpi untuk menjadi pesepakbola profesional, Rakitic masuk ke akademi Basel.
Ia mendapat dorongan dari keluarganya untuk terus berjuang dan tekun berlatih.
Sempat menimba ilmu di bangku sekolah, Rakitic merasa kesulitan untuk membagi waktu. Dirinya sulit menentukan mana yang harus didahulukan. Setelah berkonsultasi dengan kedua orang tuanya, Rakitic mantap untuk fokus pada karier sepak bolanya.
Dengan percaya diri ia berkata jika dirinya akan mendedikasikan seluruh hidupnya untuk sepak bola.
Sang ayah yang merupakan mantan pesepakbola memberi dukungan penuh pada Rakitic, ia melatih anaknya itu untuk menjadi pribadi yang banyak disenangi. Sering mengantar latihan hingga terjun langsung dalam karier Ivan Rakitic menjadi bukti keseriusan sang ayah dalam memandu anaknya itu untuk bisa menjadi pesepak bola terkenal.
Setelah beranjak dewasa, Rakitic yang tidak memiliki kewarganegaraan harus memilih antara Swiss dan Kroasia. Ketika itu, banyak rakyat Swiss yang menganggap jika pemain Barcelona tersebut akan memilih negara Swiss. Akan tetapi, prediksi itu ternyata salah besar. Rakitic mengumumkan secara resmi jika dirinya lebih memilih kewarganegaraan Krosia.
Keputusan itu benar-benar membuat warga Swiss marah. Rakitic bahkan sempat menerima ancaman pembunuhan.
“Beberapa kali pintu rumahku di Swiss diketuk orang tak dikenal. Juga ada beberapa orang yang mengancam untuk membunuhku,”
“Tapi aku dapat memahaminya, karena banyak orang yang berharap aku memperkuat tim nasional mereka.”
Karena ancaman mengerikan itu, Rakitic sempat mengalami gangguan psikis hingga tekanan hebat. Ia merasa takut dan memutuskan untuk terbang ke Jerman dengan bergabung bersama Schalke 04.
Bermain selama kurang lebih tiga setangah tahun di Bundesliga, Rakitic menerima tawaran yang diajukan Sevilla. Dua tahun menjadi pemain Sevilla, Ivan Rakitic diberi amanah untuk menjabat sebagai kapten tim. Dirinyapun sukses mempersembahkan gelar UEFA Europa League bagi Sevilla.
Menyusul penampilan impresifnya itu, raksasa Spanyol lainnya, FC Barcelona, resmi mendapat tandatangan Rakitic pada Juni 2014. Musim pertamanya ia jalani dengan amat baik. Dirinya berhasil mejadi bagian dalam tim La Blaugrana yang sukses merengkuh trigelar dalam satu musim kompetisi.
Kehebatannya pun menjalar hingga ke tim nasional Kroasia. Terakhir, Rakitic sukses membantu negaranya itu untuk tampil di partai puncak Piala Dunia 2018 yang dihelat di Russia.
Setelah menjalani berbagai jalan terjal, Ivan Rakitic berhasil menobatkan dirinya sebagai salah satu gelandang terbaik dunia.


