Bagaimana Cara Kerja VAR?

spot_img

Teknologi pelan-pelan akan merasuki sepak bola. Jika dahulu masih banyak pihak yang menolak keterlibatan teknologi dalam sepak bola, kini tampaknya laju teknologi semakin tak dapat dihentikan.

Para stakeholder sepak bola memiliki cita-cita untuk menggelar pertandingan tanpa cela. Tak boleh ada lagi kesalahan keputusan dari seorang wasit. Kasus gol hantu, misalnya. Mula-mula UEFA menolak teknologi dengan lebih memilih mempekerjakan wasit keempat di belakang gawang.

Namun, mata manusia punya keterbatasan kemampuan. Goal-Line-Technology pun dicetuskan. GLT adalah seperangkat kamera yang dipasang untuk mengawasi garis gawang, Mulai 2013/14, kamera bermata elang tersebut sudah dipasang di Premier League untuk menentukan apakah bola sudah sepenuhnya bergulir melewati garis gawang.

Akan tetapi, manusia tak puas. Masih banyak keputusan wasit lain yang sering keliru. Apakah si fulan telah melanggar sang musuh, apakah si fulan sudah terjebak off-side, atau beberapa keraguan lain. Demi mengurangi kesalahan-kesalahan keputusan terebut, tercetuslah ide untuk melibatkan mata keempat: Video-Assistant-Referee.

Seperti dilansir Techradar, VAR membutuhkan 370 kamera hanya untuk meng-cover seluruh lapangan. Sebuah layar utama didirikan di tepat di tepi lapangan untuk membantu pandangan wasit. Di balik layar, terdapat tiga official yang mengoperasikan VAR. Tiga orang tersebut terdiri dari seorang wasit/mantan wasit betulan, asistennya, serta operator replay. Tiga orang tersebut bekerja di dalam ruangan yang berisi banyak monitor yang memiliki sudut pandang berbeda atas tiap kejadian di lapangan.

Hanya eada empat insiden yang bisa dikoreksi dengan VAR, yaitu: gol, penalti,  Kartu merah langsung, dan kasus kesalahan identitas. Perlu digarisbawahi, VAR hanya bisa digunakan jika wasit mengambil keputusan yang jelas-jelas salah.

Proses koreksi bisa dilakukan dua arah: entah sang wasit utama meminta review ke official VAR, atau official VAR merekomendasikan review kepada wasit utama. Bila ingin menggunakan VAR, wasit akan menghentikan pertandingan sejenak dengan memberi isyarat “layar” menggunakan tangannya. Layar besar di stadion lantas akan memberi tahu penonton bahwa review VAR sedang terjadi.

Setelah me-review sebuah insiden, wasit utama punya tiga pilihan: mereka bisa mengoreksi keputusannya berdasarkan saran official VAR, atau mengoreksi insiden dengan menontonnya sendiri di layar tepi lapangan, atau tak mengubah keputusan sama sekali.

Para official VAR, meskipun melakukan pekerjaannya di ruangan, mereka tetap harus menggunakan seragam yang sama dengan wasit lapangan. Ketua komite wasit FIFA, Pierluigi Collina, menjelaskan bahwa pekerjaan mengawasi VAR “membuat mereka sangat tertekan sehingga tak bisa diberikan seragam seperti juru tulis.”

Di ajang internasional, VAR telah diterapkan pada Piala Dunia 2018 lalu. Di Liga Champions, VAR mulai ada di fase knock-out musim ini. La Liga dan Serie A telah menggunakannya, sementara Premier League memilih menunggu sampai musim depan.

Pihak FIFA merasa sejauh ini VAR telah sukses membuat sepak bola menjadi lebih baik. Akan tetapi, masih ada pihak yang merasa VAR belum berfungsi optimal. Seringkali proses reivew VAR berlangsung bermenit-menit, yang membuat para pemain, pelatih, dan suporter merasa jemu dan geregetan.

Ke depan, VAR harus lebih efisien. Proses review VAR tak seharusnya tak perlu menggerus emosi. Perlu ada percepatan agar pengambilan keputusan tak memakan waktu lama.

Jadi, sepak bola telah berubah. Jangan heran jika tim jagoanmu menang atau kalah karena intervensi VAR …

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru