It’s Coming to Rome! Begini Cara Italia Kandaskan Inggris di Final Euro 2020

spot_img

“Football is not coming home! Football is coming (to) Rome!”

Begitulah akhir dari drama partai final Euro 2020 antara Inggris versus Italia. Pada akhirnya, ketika peluit panjang dibunyikan, fans Italia-lah yang berpesta di akhir turnamen, sementara fans Inggris harus tertunduk lesu di Stadion Wembley, rumah mereka sendiri.

Timnas Italia sukses mengandaskan Inggris dan jadi tim yang berjaya di Final Euro 2020. Gli Azzurri keluar sebagai pemenang di partai hidup dan mati itu usai menang 3-2 di babak adu penalti.

Sebuah akhir manis bagi pasukan Roberto Mancini yang sudah tertinggal dari Inggris sejak menit ke-2. The Three Lions berhasil unggul lebih dulu lewat gol Luke Shaw yang berhasil mengkonversi asis Kieran Trippier.

Pasukan Roberto Mancini baru berhasil menyamakan kedudukan di babak kedua, tepatnya di menit ke-67. Berawal dari sepakan pojok, Leonardo Bonucci berhasil mencetak gol dan menyamakan kedudukan menjadi 1-1.

Ada 3 momen yang membuat Italia mampu mengungguli Inggris. Yang pertama adalah keputusan fatal Gareth Southgate dan respon cepat dari Roberto Mancini.

Inggris Pragmatis, Italia Balik Kurung Pertahanan Inggris

Seperti yang sudah kami singgung di video sebelumnya, pelatih yang acap disapa Mancio itu sangat efektif dalam merespon taktik lawan. Ia dengan jeli memanfaatkan keputusan fatal Inggris yang justru langsung bermain pragmatis tak lama setelah unggul 1 gol.

Pasukan Gareth Southgate mundur cukup jauh dan malah menumpuk diri di area pertahanannya sendiri demi meredam counter attack Italia. Cara tersebut memang sekilas terlihat efektif. Namun, Mancio meresponnya dengan memperlambat tempo dan mengeliminasi pressing Inggris yang bermain dengan formasi 3-4-3.

Setelah itu, Italia jadi pihak yang lebih menguasai bola. Menang penguasaan bola hingga 61% membuat mereka lebih leluasa mengembangkan permainan. Alhasil, Gli Azzurri jadi pihak yang berbalik mengurung The Three Lions dan meredam serangan mereka.

Peluang demi peluang dari Italia jadi tak terbendung setelahnya, hingga akhirnya Leonardo Bonucci menghukum keputusan itu dengan golnya. Saat Inggris memutuskan kembali menyerang pertahanan Italia, itu sudah terlambat. Pemain Italia sudah nyaman dengan gaya main mereka dan mentalitas mereka telah bangkit sempurna.

Roberto Mancini Lebih Jeli Dalam Melakukan Pergantian Pemain

Momen kedua yang membuat Italia mampu mengungguli Inggris adalah respon Roberto Mancini dalam melakukan pergantian pemain. Faktanya, gol penyama kedudukan Italia hadir 10 menit setelah mereka melakukan 2 pergantian pemain.

Gli Azzurri bermain dengan false nine usai Domenico Berardi yang merupakan seorang winger menggantikan Ciro Immobile (baca: Imobile) yang terkurung duo Maguire dan Stones. Mancini juga memutuskan menarik Nicolo Barella dan menggantikannya dengan Bryan Cristante yang secara postur dan fisik lebih baik, sehingga Italia tidak mudah kehilangan bola di lini tengah.

Singkatnya, keputusan Mancio dalam melakukan pergantian pemain lebih fokus untuk segera menghabisi Inggris di waktu normal. Namun sebaliknya, Gareth Southgate lambat dalam melakukan pergantian pemain.

2 jatah terakhir pergantian pemain yang dilakukan Southgate juga dimanfaatkannya hanya untuk menghadapi adu penalti. Namun sayang, lagi-lagi keputusan Southgate fatal akibatnya.

Mancini Lebih Jeli Pilih Eksekutor Penalti Ketimbang Southgate

Inggris memang terlihat lebih menyiapkan diri untuk adu penalti. Namun, komposisi penendang mereka tidak demikian. Para penendang mereka tidak siap, sementara Italia lebih siap.

Dalam menghadapi adu penalti, Italia tak mengubah urutan penendangnya seperti saat mereka menang atas Spanyol. Hanya Berardi yang menggantikan Locatelli sebagai penendang pertama Italia. Selebihnya, urutan eksekutor Italia masih sama dengan Belotti, Bonucci, Bernardeschi, dan Jorginho sebagai penendang kelima.

Nyatanya, keputusan kapten Chiellini yang memilih timnya sebagai penendang pertama berbuah manis. Ini sesuai dengan hasil penelitian Profesor Ignacio Palacios-Huerta, seorang pakar statistik sepak bola ternama dari Spanyol.

Hasil penelitiannya mengungkap bahwa tim penendang pertama punya persentase 60% untuk keluar sebagai pemenang. Sementara tim penendang kedua punya persentase lebih rendah karena punya beban mental yang lebih berat.

Di sinilah perjudian Southgate harus dibayar mahal. Ia menjadikan 3 pemain pengganti sebagai penendang penalti terakhir. Mereka adalah Marcus Rashford, Jadon Sancho, dan Bukayo Saka. Sementara Harry Kane dan Harry Maguire jadi 2 penendang pertama.

Sebuah keputusan kontroversial, sebab Southgate menempatkan 2 pemain senior yang kenyang pengalaman sebagai 2 penendang pertama, lalu memilih 3 pemain muda minim pengalaman sebagai penendang penentu.

Alhasil, hanya sepakan Kane dan Maguire yang masuk. Sementara eksekusi Rashford membentur tiang gawang dan eksekusi Sancho dan Saka berhasil ditepis dengan sempurna oleh Donnarumma.

Southgate dikritik habis karena memilih Bukayo Saka, pemain yang baru berusia 19 tahun sebagai penendang penentu dengan beban paling berat. Di akhir laga, Southgate mengakui bahwa para penendang penalti Inggris sudah ia siapkan dan ia pilih sejak latihan.

“Saya memutuskan penendang penalti berdasarkan apa yang telah mereka lakukan dalam latihan. Dalam hal penalti, itu adalah keputusan saya dan itu sepenuhnya ada di tangan saya,” kata Southgate dikutip dari UEFA.

Italia Raih Trofi Keduanya di Piala Eropa Setelah 1968

Dengan demikian, publik Inggris kembali gagal menyaksikan tim nasional mereka mengangkat trofi turnamen internasional. Penantian 55 tahun mereka berakhir hampa. Namun sebaliknya, bagi Italia, kemenangan ini sukses mengakhiri penantian 53 tahun mereka untuk merengkuh trofi Euro keduanya setelah 1968.

Sebuah perjalanan panjang dari Roberto Mancini dan anak asuhnya. Mancio benar-benar sosok arsitek dibalik sukses Italia di Euro 2020. Ia datang usai Italia gagal lolos secara memalukan ke Piala Dunia 2018.

Mancio membangun ulang pondasi timnas Italia yang hancur, baik secara moral, mental, dan taktik. Terhitung sejak Oktober 2018 hingga sekarang, Ia sudah membawa Gli Azzurri unbeaten selama 34 laga dalam kurun waktu 3 tahun. Sungguh luar biasa!

“Saya tidak punya kata-kata untuk mereka, ini adalah grup yang luar biasa. Tim telah berkembang pesat dan saya pikir kami dapat berkembang lebih jauh. Kami sangat senang untuk semua orang Italia. Saya tidak punya kata-kata untuk orang-orang ini!” kata Mancini dikutip dari UEFA.com.

Italia memang tampil luar biasa di Euro 2020. Hingga babak final, mereka tak pernah kalah dan sukses mencetak 13 gol yang jadi rekor gol terbanyak mereka di turnamen akbar. Italia juga menggenapi raihan trofi Piala Eropa mereka dengan penghargaan individu pemainnya.

Di laga final itu, Leonardo Bonucci yang berusia 34 tahun dan 71 hari menjadi pencetak gol tertua di final Euro dan terpilih sebagai Star of The Match. Duetnya bersama Chiellini memang luar biasa. Menurut catatan Opta, Italia tak pernah kalah dalam 16 laga saat Bonucci dan Chiellini bermain bersama.

Capaian Italia di Euro 2020 makin manis lagi dengan terpilihnya Gianluigi Donnarumma sebagai Player of The Tournament. Donnarumma sedikit terkejut saat terpilih sebagai pemain terbaik Euro 2020. Kiper 22 tahun itu jadi kiper pertama yang memenangi gelar pemain terbaik Piala Eropa sejak penghargaan itu dikenalkan di edisi 1996. Gigio berhasil membuat 9 saves, 3 clean sheets, dan memenangi 2 adu penalti di Euro 2020.

“Saya sangat tenang, teman saya dekat dengan saya. Saya mengesampingkan semuanya. Kepala saya hanya fokus untuk tim dan pelatih. Pada akhirnya itu terbayar,” kata Donnarumma kepada SkySports.

Kemenangan di final Euro 2020 memang sangat spesial bagi Italia. Bayangkan saja, mereka bermain di hadapan puluhan ribu pendukung Inggris yang menyoraki mereka sejak awal babak pertama. Namun, mentalitas Italia di turnamen besar tidak bisa bohong.

Seperti yang kami bahas di video sebelumnya, Italia jauh lebih berpengalaman di partai final ketimbang Inggris. Mereka juga lebih sering menghadapi partai hidup dan mati di kandang lawan. Final Euro 2020 saja menjadi final keempat mereka di Piala Eropa dan final kesepuluh Italia di turnamen internasional.

Selain jadi trofi keduanya di Piala Eropa, trofi Euro 2020 jadi trofi keenam Gli Azzurri di turnamen mayor. Kini, Italia sah sebagai tim terbaik seantero Eropa dan membungkam seluruh pihak yang meragukan mereka, termasuk pundit-pundit Inggris yang harusnya menyesal telah meremehkan Italia.

Usai mengangkat trofi juara, skuad Italia tak membuang waktu mereka. Mereka langsung terbang pulang ke Roma, membawa trofi Euro 2020 dan meneriakkan “Football is coming (to) Rome” di depan pendukung mereka yang sudah berpesta dan menunggu kedatangan pahlawannya sejak malam hingga pagi hari.

Selamat Italia! Forza Azzurri!

***
Sumber Referensi: the42, UEFA 1, UEFA 2, SkySports, New York Times

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru