“Football is not coming home! Football is coming (to) Rome!”
IT’S COMING TO ROME! 🇮🇹#EURO2020 #ITA #ENG pic.twitter.com/7KLlT5dcke
— Goal Indonesia (@GOAL_ID) July 11, 2021
Begitulah akhir dari drama partai final Euro 2020 antara Inggris versus Italia. Pada akhirnya, ketika peluit panjang dibunyikan, fans Italia-lah yang berpesta di akhir turnamen, sementara fans Inggris harus tertunduk lesu di Stadion Wembley, rumah mereka sendiri.
Timnas Italia sukses mengandaskan Inggris dan jadi tim yang berjaya di Final Euro 2020. Gli Azzurri keluar sebagai pemenang di partai hidup dan mati itu usai menang 3-2 di babak adu penalti.
Sebuah akhir manis bagi pasukan Roberto Mancini yang sudah tertinggal dari Inggris sejak menit ke-2. The Three Lions berhasil unggul lebih dulu lewat gol Luke Shaw yang berhasil mengkonversi asis Kieran Trippier.
1 minute, 57 seconds 🤯
Luke Shaw scored the fastest goal in Euro final history.@ESPNFC | #EURO2020 pic.twitter.com/V0k5HHxDdD
— SportsCenter (@SportsCenter) July 11, 2021
Pasukan Roberto Mancini baru berhasil menyamakan kedudukan di babak kedua, tepatnya di menit ke-67. Berawal dari sepakan pojok, Leonardo Bonucci berhasil mencetak gol dan menyamakan kedudukan menjadi 1-1.
Ada 3 momen yang membuat Italia mampu mengungguli Inggris. Yang pertama adalah keputusan fatal Gareth Southgate dan respon cepat dari Roberto Mancini.
Daftar Isi
Inggris Pragmatis, Italia Balik Kurung Pertahanan Inggris
Seperti yang sudah kami singgung di video sebelumnya, pelatih yang acap disapa Mancio itu sangat efektif dalam merespon taktik lawan. Ia dengan jeli memanfaatkan keputusan fatal Inggris yang justru langsung bermain pragmatis tak lama setelah unggul 1 gol.
Pasukan Gareth Southgate mundur cukup jauh dan malah menumpuk diri di area pertahanannya sendiri demi meredam counter attack Italia. Cara tersebut memang sekilas terlihat efektif. Namun, Mancio meresponnya dengan memperlambat tempo dan mengeliminasi pressing Inggris yang bermain dengan formasi 3-4-3.
Setelah itu, Italia jadi pihak yang lebih menguasai bola. Menang penguasaan bola hingga 61% membuat mereka lebih leluasa mengembangkan permainan. Alhasil, Gli Azzurri jadi pihak yang berbalik mengurung The Three Lions dan meredam serangan mereka.
Peluang demi peluang dari Italia jadi tak terbendung setelahnya, hingga akhirnya Leonardo Bonucci menghukum keputusan itu dengan golnya. Saat Inggris memutuskan kembali menyerang pertahanan Italia, itu sudah terlambat. Pemain Italia sudah nyaman dengan gaya main mereka dan mentalitas mereka telah bangkit sempurna.
Roberto Mancini Lebih Jeli Dalam Melakukan Pergantian Pemain
Momen kedua yang membuat Italia mampu mengungguli Inggris adalah respon Roberto Mancini dalam melakukan pergantian pemain. Faktanya, gol penyama kedudukan Italia hadir 10 menit setelah mereka melakukan 2 pergantian pemain.
Gli Azzurri bermain dengan false nine usai Domenico Berardi yang merupakan seorang winger menggantikan Ciro Immobile (baca: Imobile) yang terkurung duo Maguire dan Stones. Mancini juga memutuskan menarik Nicolo Barella dan menggantikannya dengan Bryan Cristante yang secara postur dan fisik lebih baik, sehingga Italia tidak mudah kehilangan bola di lini tengah.
📸 – First substitution Italy. Bryan Cristante on, Barella off. pic.twitter.com/e0zVoCMYIs
— 𝐀𝐅𝐂 𝐀𝐉𝐀𝐗 💎 (@TheEuropeanLad) July 11, 2021
Singkatnya, keputusan Mancio dalam melakukan pergantian pemain lebih fokus untuk segera menghabisi Inggris di waktu normal. Namun sebaliknya, Gareth Southgate lambat dalam melakukan pergantian pemain.
2 jatah terakhir pergantian pemain yang dilakukan Southgate juga dimanfaatkannya hanya untuk menghadapi adu penalti. Namun sayang, lagi-lagi keputusan Southgate fatal akibatnya.
Mancini Lebih Jeli Pilih Eksekutor Penalti Ketimbang Southgate
Inggris memang terlihat lebih menyiapkan diri untuk adu penalti. Namun, komposisi penendang mereka tidak demikian. Para penendang mereka tidak siap, sementara Italia lebih siap.
Dalam menghadapi adu penalti, Italia tak mengubah urutan penendangnya seperti saat mereka menang atas Spanyol. Hanya Berardi yang menggantikan Locatelli sebagai penendang pertama Italia. Selebihnya, urutan eksekutor Italia masih sama dengan Belotti, Bonucci, Bernardeschi, dan Jorginho sebagai penendang kelima.
Nyatanya, keputusan kapten Chiellini yang memilih timnya sebagai penendang pertama berbuah manis. Ini sesuai dengan hasil penelitian Profesor Ignacio Palacios-Huerta, seorang pakar statistik sepak bola ternama dari Spanyol.
Hasil penelitiannya mengungkap bahwa tim penendang pertama punya persentase 60% untuk keluar sebagai pemenang. Sementara tim penendang kedua punya persentase lebih rendah karena punya beban mental yang lebih berat.
🇮🇹 The moment Italy lifted their second EURO title! 🏆 @azzurri | #ITA | #EURO2020 pic.twitter.com/MVl5tjZoyK
— UEFA EURO 2020 (@EURO2020) July 11, 2021
Di sinilah perjudian Southgate harus dibayar mahal. Ia menjadikan 3 pemain pengganti sebagai penendang penalti terakhir. Mereka adalah Marcus Rashford, Jadon Sancho, dan Bukayo Saka. Sementara Harry Kane dan Harry Maguire jadi 2 penendang pertama.
Sebuah keputusan kontroversial, sebab Southgate menempatkan 2 pemain senior yang kenyang pengalaman sebagai 2 penendang pertama, lalu memilih 3 pemain muda minim pengalaman sebagai penendang penentu.
Alhasil, hanya sepakan Kane dan Maguire yang masuk. Sementara eksekusi Rashford membentur tiang gawang dan eksekusi Sancho dan Saka berhasil ditepis dengan sempurna oleh Donnarumma.
Dear Human Race
In a world of division and evil, be a @GarethSouthgate.
That is all. pic.twitter.com/KOekOXjLe6
— Mark Tucker (@turnipdodger) July 11, 2021
Southgate dikritik habis karena memilih Bukayo Saka, pemain yang baru berusia 19 tahun sebagai penendang penentu dengan beban paling berat. Di akhir laga, Southgate mengakui bahwa para penendang penalti Inggris sudah ia siapkan dan ia pilih sejak latihan.
“Saya memutuskan penendang penalti berdasarkan apa yang telah mereka lakukan dalam latihan. Dalam hal penalti, itu adalah keputusan saya dan itu sepenuhnya ada di tangan saya,” kata Southgate dikutip dari UEFA.
53 – Italy have won their second European Championship trophy after 53 years from their first one (1968), the largest gap for a single side in the history of the competition. CHAMPIONS!#ItaliaInghilterra #Euro2020Final #EURO2020 #ITAENG pic.twitter.com/EvTkIX9jz0
— OptaPaolo 🏆 (@OptaPaolo) July 11, 2021
Italia Raih Trofi Keduanya di Piala Eropa Setelah 1968
Dengan demikian, publik Inggris kembali gagal menyaksikan tim nasional mereka mengangkat trofi turnamen internasional. Penantian 55 tahun mereka berakhir hampa. Namun sebaliknya, bagi Italia, kemenangan ini sukses mengakhiri penantian 53 tahun mereka untuk merengkuh trofi Euro keduanya setelah 1968.
Sebuah perjalanan panjang dari Roberto Mancini dan anak asuhnya. Mancio benar-benar sosok arsitek dibalik sukses Italia di Euro 2020. Ia datang usai Italia gagal lolos secara memalukan ke Piala Dunia 2018.
3 years undefeated. 34 games unbeaten. European champion. 🏆
TAKE A BOW, ROBERTO MANCINI 👏 👏 pic.twitter.com/S4j2lqTjND
— ESPN FC (@ESPNFC) July 11, 2021
Mancio membangun ulang pondasi timnas Italia yang hancur, baik secara moral, mental, dan taktik. Terhitung sejak Oktober 2018 hingga sekarang, Ia sudah membawa Gli Azzurri unbeaten selama 34 laga dalam kurun waktu 3 tahun. Sungguh luar biasa!
“Saya tidak punya kata-kata untuk mereka, ini adalah grup yang luar biasa. Tim telah berkembang pesat dan saya pikir kami dapat berkembang lebih jauh. Kami sangat senang untuk semua orang Italia. Saya tidak punya kata-kata untuk orang-orang ini!” kata Mancini dikutip dari UEFA.com.
13 – Italy have scored 13 goals in the current tournament, the highest tally for the Azzurri in a single edition between European Championship and World Cup. Gun.#ItaliaInghilterra #Euro2020Final #EURO2020 #ITAENG pic.twitter.com/8oTnjp7Tes
— OptaPaolo 🏆 (@OptaPaolo) July 11, 2021
Italia memang tampil luar biasa di Euro 2020. Hingga babak final, mereka tak pernah kalah dan sukses mencetak 13 gol yang jadi rekor gol terbanyak mereka di turnamen akbar. Italia juga menggenapi raihan trofi Piala Eropa mereka dengan penghargaan individu pemainnya.
Di laga final itu, Leonardo Bonucci yang berusia 34 tahun dan 71 hari menjadi pencetak gol tertua di final Euro dan terpilih sebagai Star of The Match. Duetnya bersama Chiellini memang luar biasa. Menurut catatan Opta, Italia tak pernah kalah dalam 16 laga saat Bonucci dan Chiellini bermain bersama.
34 & 71 – Leonardo Bonucci (34 years and 71 days) has become the oldest scorer in a EURO final, beating the previous record of Bernd Hölzenbein in 1976 (30 years and 103 days). Strike.#ItaliaInghilterra #Euro2020Final #EURO2020 #ITAENG pic.twitter.com/0VC6UhTJOZ
— OptaPaolo 🏆 (@OptaPaolo) July 11, 2021
16 – Italy have never lost in the 16 matches with Giorgio #Chiellini and Leonardo #Bonucci both in the starting XI under Roberto #Mancini (W10 D6). Brothers.#ItalyEngland #Euro2020Final #EURO2020 pic.twitter.com/bpQkIiphck
— OptaPaolo 🏆 (@OptaPaolo) July 12, 2021
Capaian Italia di Euro 2020 makin manis lagi dengan terpilihnya Gianluigi Donnarumma sebagai Player of The Tournament. Donnarumma sedikit terkejut saat terpilih sebagai pemain terbaik Euro 2020. Kiper 22 tahun itu jadi kiper pertama yang memenangi gelar pemain terbaik Piala Eropa sejak penghargaan itu dikenalkan di edisi 1996. Gigio berhasil membuat 9 saves, 3 clean sheets, dan memenangi 2 adu penalti di Euro 2020.
“Saya sangat tenang, teman saya dekat dengan saya. Saya mengesampingkan semuanya. Kepala saya hanya fokus untuk tim dan pelatih. Pada akhirnya itu terbayar,” kata Donnarumma kepada SkySports.
Gianluigi Donnarumma looked a bit surprised after being named Player of the Tournament. 😅#EURO2020 pic.twitter.com/uasz0JKYn7
— Squawka News (@SquawkaNews) July 12, 2021
Kemenangan di final Euro 2020 memang sangat spesial bagi Italia. Bayangkan saja, mereka bermain di hadapan puluhan ribu pendukung Inggris yang menyoraki mereka sejak awal babak pertama. Namun, mentalitas Italia di turnamen besar tidak bisa bohong.
Seperti yang kami bahas di video sebelumnya, Italia jauh lebih berpengalaman di partai final ketimbang Inggris. Mereka juga lebih sering menghadapi partai hidup dan mati di kandang lawan. Final Euro 2020 saja menjadi final keempat mereka di Piala Eropa dan final kesepuluh Italia di turnamen internasional.
10 – Tonight is Italy’s 10th major tournament final (6 World Cup, 4 EURO), with only Germany (14) having played in more among European nations. Home.#EURO2020 #Euro2020Final #ITAENG pic.twitter.com/ZtnC4FxiHF
— OptaPaolo 🏆 (@OptaPaolo) July 11, 2021
Selain jadi trofi keduanya di Piala Eropa, trofi Euro 2020 jadi trofi keenam Gli Azzurri di turnamen mayor. Kini, Italia sah sebagai tim terbaik seantero Eropa dan membungkam seluruh pihak yang meragukan mereka, termasuk pundit-pundit Inggris yang harusnya menyesal telah meremehkan Italia.
🇮🇹 𝐄𝐔𝐑𝐎𝐏𝐄𝐀𝐍 𝐂𝐇𝐀𝐌𝐏𝐈𝐎𝐍𝐒 🇮🇹@azzurri | #ITA | #EURO2020 pic.twitter.com/y0pBJIU9s3
— UEFA EURO 2020 (@EURO2020) July 12, 2021
Usai mengangkat trofi juara, skuad Italia tak membuang waktu mereka. Mereka langsung terbang pulang ke Roma, membawa trofi Euro 2020 dan meneriakkan “Football is coming (to) Rome” di depan pendukung mereka yang sudah berpesta dan menunggu kedatangan pahlawannya sejak malam hingga pagi hari.
Selamat Italia! Forza Azzurri!
#Azzurri 🇮🇹 🏆
👑 The Champions of Europe have arrived back in #Rome 🇪🇺#VivoAzzurro #EURO2020 pic.twitter.com/ZmDqUEhhya
— Italy ⭐️⭐️⭐️⭐️ (@azzurri) July 12, 2021
***
Sumber Referensi: the42, UEFA 1, UEFA 2, SkySports, New York Times


