Tak ada yang sanggup menandingi sepak bola Italia dari segi drama dan kontroversinya. Selama bertahun-tahun, sepak bola Italia sanggup mengawinkan euforia kemenangan dengan kegagalan menyakitkan. Seperti yang terjadi baru-baru ini. Untuk kedua kalinya secara beruntun, Timnas Italia gagal lolos ke Piala Dunia.
Kepastian itu didapat Gli Azzurri usai kalah tragis dari Makedonia Utara di laga semifinal playoff Kualifikasi Piala Dunia 2022. Bermain di kandangnya sendiri, gawang Gianluigi Donnarumma jebol di menit ke-2 injury time babak kedua oleh sepakan jarak jauh Aleksandar Trajkovski.
Selain memastikan Italia gagal melaju ke Piala Dunia Qatar, gol tersebut juga langsung mengubah suasana di Stadion Renzo Barbera. Usai wasit meniup peluit akhir, para penggawa timnas Italia terlihat begitu terpukul. Sementara itu, di tribun penonton, sebagian pendukung Italia terlihat menangis, sementara sebagian lainnya mengucap sumpah serapah ke arah pemain dan pelatih timnas Italia.
Pemandangan tersebut wajar terjadi. Pasalnya, untuk pertama kalinya dalam sejarah, Italia gagal mentas ke Piala Dunia dalam dua edisi berturut-turut. Di edisi sebelumnya, langkah Gli Azzurri dihentikan Swedia juga di babak playoff.
2017: Italy eliminated by Sweden
2022: Italy eliminated by North Macedonia
— B/R Football (@brfootball) March 24, 2022
Ini jadi sejarah kelam bagi sepak bola Italia. Apalagi kegagalan kali ini diraih Italia tak lama setelah mereka menjadi kampiun Euro 2020. Italia pun mengulang apa yang dicapai Yunani yang gagal lolos ke Piala Dunia 2006 usai menjadi kampiun Euro 2004.
Lalu, apa yang menjadi penyebab kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia 2022?
Biang Keladi Kegagalan Italia Lolos ke Piala Dunia 2022
Untuk menganalisisnya, kita harus kembali ke masa di mana Italia tampil solid di Euro 2020. Selain mengantar Gli Azzurri ke tangga juara, sentuhan taktik Roberto Mancini juga berhasil membuat Italia tak tersentuhan kekalahan selama 37 laga secara beruntun.
Akan tetapi, usai menyandang status sebagai juara Eropa, Italia malah menggali kuburnya sendiri. Gli Azzurri tampil antiklimaks di 5 laga sisa babak kualifikasi Piala Dunia 2022. Tepat setelah memenangi Euro 2020, Italia ditahan imbang Bulgaria dan Swiss. Sempat menang besar atas Lituania, Italia kembali gagal menumbangkan Swiss untuk kedua kalinya.
Butuh kemenangan besar melawan Irlandia Utara di pertandingan terakhir, Gli Azzurri malah tampil buruk dan gagal mencetak satu pun gol. Alhasil, koleksi poin mereka berhasil disalip oleh Swiss yang finish sebagai pemuncak Grup C.
Hasil itulah yang kemudian mengantar kampiun Euro 2020 itu bertemu Makedonia Utara di semifinal playoff kualifikasi Piala Dunia 2022. Diprediksi bakal melaju ke final dan bertemu dengan Portugal untuk memperebutkan satu tiket ke Piala Dunia Qatar, Italia justru tumbang secara tragis.
Tampil dominan dengan penguasaan bola hingga 65% dan sanggup melepas 32 tembakan sepanjang laga, Italia kalah dramatis dari Makedonia Utara yang berhasil mencetak gol di menit ke-92. Karena gol itu pula, Gianluigi Donnarumma dituding sebagai biang kerok kekalahan Italia. Namun, Donnarumma tak bisa disalahkan begitu saja.
Sebelum terjadinya gol tersebut, Italia sebetulnya punya peluang emas melalui Domenico Berardi. Di menit ke-29, winger Sassuolo itu mendapat bola muntah dari error kiper Makedonia Utara. Tinggal berhadapan dengan gawang yang kosong, Berardi malah melepas sepakan yang sangat lemah hingga mudah diamankan kembali oleh Stole Dimitrievski.
Passaggio clamorosamente sbagliato da dimitrievski e pallone regalato a berardi; l’ala del sassuolo non dovrà far altro che appoggiare in porta per propiziare l’uno a zero italiano, che vede quindi il mondiale mancante da 8 anni @AnfetaMilan pic.twitter.com/97AyJmj04R
— felipetto enthusiast🏹 (@odio_limone) March 24, 2022
Namun, jika mundur jauh ke belakang lagi, Italia sebetulnya bisa mengamankan satu tiket ke Piala Dunia 2022 sejak jauh-jauh hari. Itu bisa terjadi andai dua sepakan penalti Jorginho di dua laga melawan Swiss bisa ia konversi menjadi gol.
Lalu, apakah gagalnya Italia lolos ke Piala Dunia 2022 merupakan kesalahan Roberto Mancini? Sebagai pelatih, Mancini memang jadi sasaran empuk kegagalan Gli Azzurri. Apalagi, pasca menjuarai Euro 2020, Italia asuhan Mancini tak lagi klinis.
Di 8 pertandingan terakhirnya, Italia hanya menang 2 kali, imbang 4 kali, dan 2 kali menelan kekalahan. Di 8 pertandingan tersebut, Italia juga hanya sanggup mencetak 10 gol, itu pun 5 gol di antaranya dibuat saat bertemu Lituania. Catatan tersebut jadi indikasi penurunan performa timnas Italia di bawah asuhan Roberto Mancini.
Siapa yang Harus Bertanggung Jawab Atas Kegagalan Italia?
Akan tetapi, meminta tanggung jawab kepada Mancini seorang rasanya sangat tidak adil. Beberapa pendukung timnas Italia malah menilai bahwa masih terlalu dini untuk memecat Mancini dari kursi pelatih tim nasional.
Bahkan, beberapa media Italia secara terang-terangan melindungi Mancini dari pemecatan. Seperti yang diperlihatkan Stefano Barigelli, editor dari surat kabar La Gazzetta dello Sport. Ia menulis, “Adalah sebuah kesalahan untuk menyalahkan Mancini, seluruh sistem harus diubah.”
Setuju dengan pernyataan tersebut, gagalnya Italia lolos ke Piala Dunia untuk kedua kalinya secara beruntun adalah pertanda nyata bahwa ada yang salah dengan sepak bola Italia. Selain itu, kegagalan tersebut juga memunculkan keraguan kalau keberhasilan Italia menjuarai Euro 2020 hanyalah sebuah keberuntungan semata.
Gagalnya timnas Italia menembus 2 edisi terakhir Piala Dunia adalah cerminan nyata level sepak bola Italia yang sebenarnya. Bagaimana tidak, sejak memenangi Piala Dunia 2006, Italia tak pernah lagi menembus fase gugur Piala Dunia dengan 2 kali terhenti di babak grup dan 2 kali gagal lolos.
Memenangi Piala Dunia 2006 malah seperti menjadi sebuah karma bagi persepak bolaan Italia. Begitulah kiranya yang dirasakan mantan pemain timnas Italia, Massimo Oddo.
“Saya melakukan wawancara di mana saya mengatakan hal terburuk adalah memenangkan Piala Dunia 2006 karena itu membuat kami berpikir sepak bola Italia kuat,” kata Massimo Oddo, dikutip dari IFTV.
“I did an interview where I said the worst thing was winning the 2006 World Cup because it made us think we (Italian calcio) were strong.
In this moment in Italy under the surface there’s very little.”
🗣 Massimo Oddo via presser pic.twitter.com/VKiCcYcUCz
— Italian Football TV (@IFTVofficial) March 25, 2022
Pernyataan Oddo memang benar. Menjuarai Euro 2020 adalah sebuah pengecualian, sebab pada kenyataannya, kualitas Gli Azzurri memang menurun. Ini terlihat dari pemain muda berbakat Italia yang populasinya makin menyusut.
Dari hasil analisis The Analyst, fenomena tersebut ada kaitannya dengan minimnya kesempatan bermain para pemain muda Italia di Serie A. Sejak 2006, persentase penampilan pemain Italia di klub Serie A secara keseluruhan makin menurun. Di klub-klub top Italia, fenomena tersebut bahkan jauh lebih parah.
Parahnya lagi, hasil analisis The Analyst juga menemukan fenomena serupa di kompetisi Serie B dan turnamen pemain muda papan atas, Campionato Primavera 1. Di 2 kompetisi tersebut, jumlah pemain Italia juga ikut berkurang dan mengakibatkan pasokan pemain berbakat makin menyusut.
Alhasil, pilihan pemain Roberto Mancini juga makin terbatas. Minimnya pemain Italia di klub-klub besar Serie A juga membuat Mancini terpaksa memanggil pemain dari tim-tim kecil semacam Sassuolo, Cagliari, hingga Torino yang jelas punya pengalaman internasional yang sangat minim.
Mancini sendiri sebenarnya pernah mengeluhkan minimnya pasokan pemain muda dari klub papan atas Italia. Ia bahkan frustrasi dengan sikap pelatih-pelatih tim papan atas Serie A yang lebih memilih mengirim pemain muda Italia ke klub papan bawah, alih-alih memberinya kesempatan bermain di klub utama.
Pemandangan tersebut tentu sangat kontras dibandingkan dengan iklim sepak bola Jerman, Spanyol, Prancis, atau bahkan Inggris yang lebih ramah pemain muda. Fenomena itu pula yang membuat klub-klub Italia tak lagi bertaji di kancah internasional.
Sepak Bola Italia Punya Banyak PR
Akan tetapi, menyalahkan klub papan atas Serie A saja rasanya tak cukup. Hasil yang diraih timnas Italia dalam beberapa tahun terakhir adalah buah dari purbanya pemikiran para petinggi Serie A dan Federasi Sepak Bola Italia atau FIGC.
Pasca hasil buruk di Piala Dunia 2010, FIGC menjunjuk Roberto Baggio sebagai presiden sektor teknis. Legenda timnas Italia itu kemudian menyusun sebuah laporan setebal 900 halaman yang berisi cara dan program peningkatan sistem sepak bola Italia yang berfokus pada pengembangan bakat-bakat pemain muda.
Sayangnya, program visioner yang ia susan selama 16 bulan lamanya itu diabaikan FIGC. Baggio kemudian mengundurkan diri dari jabatannya pada Januari 2013. Bayangkan saja bila para petinggi FIGC mengindahkan ide Baggio tersebut. Mungkin, nasib sepak bola Italia saat ini jauh lebih baik dan tak perlu menanggung malu akibat gagal lolos ke Piala Dunia 2022.
Selain ekosistem kompetisi dan pengembangan pemain mudanya yang perlu diperbaiki, Italia rasanya juga perlu mengubah gaya mainnya. Pelatih legendaris Fabio Capello bahkan berpendapat kalau sudah saatnya Italia mengikuti gaya bermain ala Jerman yang dipopulerkan Jurgen Klopp.
“Satu-satunya yang melakukan itu di Italia adalah Atalanta dan lihat hasilnya. Vincenzo Italiano sedang mencoba sesuatu yang serupa, sama seperti Alexander Blessin di Genoa yang bahkan menawarkan sesuatu yang lebih dari Klopp. Cara Jerman adalah model yang harus diikuti, kami tidak memiliki teknik untuk mengikuti cara Spanyol. Ada kecepatan tinggi di kompetisi Eropa dan kami tidak terbiasa dengan itu,” kata Capello dikutip dari Football Italia.
Saran dari Capello ini ada benarnya. Sayangnya, akan jadi percuma bila FIGC masih berpikir kolot. Seolah tak bisa move on dari masa lalu, sebagai antisipasi bila Mancini mengundurkan diri, FIGC dikabarkan menyiapkan Fabio Cannvaro sebagai penggantinya bersama Marcello Lippi yang dipasangkan sebagai direktur teknis.
The feeling in Italy is that the federation wants Mancini to stay on as coach but he would like time to reflect before making a decision
If he leaves the first choice is Fabio Cannavaro
Other names on the list: De Zerbi, Pirlo & Gattuso
What do you want to see happen? pic.twitter.com/mLzpVZCMnG
— Italian Football TV (@IFTVofficial) March 26, 2022
Jika hal tersebut benar terjadi, ya nasib sepak bola Italia tidak akan jauh-jauh dari apa yang mereka derita saat ini. Yang perlu dilakukan Italia saat ini adalah introspeksi diri, sebab mereka punya begitu banyak pekerjaan rumah.
Pada intinya, banyak pihak yang harus bertanggung jawab atas kegagalan timnas Italia menembus dua edisi terakhir Piala Dunia. Tak hanya pemain dan pelatih saja, klub Serie A dan Federasi Sepak Bola Italia juga harus berbenah dan mendukung kemajuan sepak bola Italia ke arah yang lebih maju.
Lekas bangkit, Italia!
https://youtu.be/k-c7D6GBD88
***
Referensi: Cult of Calcio, Football Italia, Corriere, The Analyst, Football-Italia, Football Italia, The Guardian.


