Apa enaknya menonton liga sepak bola yang belum mulai saja kita sudah tahu siapa yang bakal mengangkat trofinya? Seperti itulah kalau kita menyaksikan Liga Petani. Tentu bagi penggemar sepak bola, baik yang tulen maupun karbitan sepakat bahwa yang disebut Liga Petani antara lain Ligue 1 dan Bundesliga.
Ligue 1 adalah Liga Petani karena PSG selalu jadi favorit juara, bahkan ketika peluit kick off laga pembuka belum menyentuh bibir wasit. Itu benar belaka, karena PSG beberapa tahun terakhir berhasil kampiun, meski kemarin posisinya terusik Lille.
And now they can celebrate! 🙌
Lille, LIGUE 1 CHAMPIONS! 🏆🇫🇷 pic.twitter.com/jw3iYfcobp
— Football on BT Sport (@btsportfootball) May 23, 2021
Musim ini PSG sangat-sangat berpeluang untuk juara lagi. Apalagi per akhir Maret 2022, PSG masih memimpin dengan 65 poin terpaut sekitar 13 poin dari Marseille di peringkat kedua. Sementara, Bayern Munchen nasibnya setali tiga kepeng dengan PSG.
Hanya saja jika PSG pernah membiarkan Lille membawa pulang trofi, The Bavarians tidak. FC Hollywood seperti tak sudi memberikan kesempatan tim lain untuk menjuarai Bundesliga. Bahkan sejak musim 2012/13, gelar Bundesliga selalu didapat Die Roten. Total Bayern telah mengumpulkan 31 gelar Bundesliga.
Belakangan muncul kekhawatiran bahwa Premier League, yang kata banyak orang liga paling kompetitif di dunia juga bakal menjadi Liga Petani. Perkaranya, Manchester City dalam kurun empat musim terakhir ini terbilang sangat dominan. Kendati khusus musim 2019/20, dominasi City tersandung sebentar oleh Liverpool.
Namun, hal tersebut tidak menampik fakta bahwa Manchester City mampu mendominasi Premier League. Maka bukan tidak mungkin Manchester City bisa membuat Premier League masuk dalam golongan Liga Petani. Mengapa?
Daftar Isi
Selalu Mengejar Kemenangan
Setiap tim selalu mengejar kemenangan. Itu pasti. Dan konsensus semacam itu tidak mungkin dinisbikan oleh klub mana pun. Sebab dengan kemenangan peluang menjuarai liga semakin terbuka lebar. Namun, yang dilakukan Manchester City lebih dari sekadar itu.
Ini terlepas dari perkara City di bawah cengkraman Sheikh Mansour, yang itu sudah menjadi rahasia umum. Manchester City bukan tim yang payah. The Citizen tidak hanya mengejar kemenangan, tapi bisa mendapatkannya dengan sekali kedip.
Legenda sepak bola, Alan Shearer kepalang tanggung mengakuinya di tulisan kolom di BBC. Tak hanya mengakui, Alan Shearer bahkan melihat Manchester City selalu mengalami perkembangan signifikan. Ibarat katak, City yang awalnya berudu kini sudah menjadi katak dewasa.
Manchester City sudah terbiasa menang di bawah kendali Pep Guardiola. Mereka tak hanya mengejar dan mengejar kemenangan. Tapi melakukannya dengan pendekatan yang sangat efektif dan jenius.
Manchester City’s 1-0 win at Everton on Saturday means it is no longer possible for #NUFC to win the Premier League this season. Gutted. pic.twitter.com/hswUu4oiG7
— Dominic Scurr (@DomScurr) February 28, 2022
Pendekatan game-by-game menjadi andalan Pep Guardiola. Berkat itu, di musim ini saja Manchester City selalu menang dalam 22 pertandingan Premier League hingga akhir Maret.
Data yang dilansir The Analyst, menunjukkan bagaimana Manchester City melakoni setiap laganya. Persentase kemungkinan City bisa menang adalah 51 persen, imbang 39 persen, dan kalah 10 persen. Itu hanya kalah dari Liverpool yang punya persentase kemenangan di Premier League sebesar 52 persen.
Menguasai Inggris
Manchester City bagaimanapun tercatat sebagai satu-satunya tim putra yang mampu menyabet treble domestik di Inggris yang luar biasa pada musim 2018/19. Seperti apa yang dibilang Alan Shearer melalui BBC, bahwa City telah menelurkan standar baru bagi sepak bola Inggris.
Manchester City won the treble.#2019in5words pic.twitter.com/Beo2o1OFhb
— City Xtra (@City_Xtra) December 22, 2019
Prestasi mereka di Eropa memang tak cukup berkilauan. Satu-satunya yang cukup membanggakan adalah City mampu menembus final UEFA Champions League musim 2020/21 sebelum akhirnya kandas dari Chelsea.
Namun, benar apa kata Alan Shearer. Kita tidak bisa menilai kualitas suatu tim dari apakah tim itu menjuarai Liga Champions atau tidak. Begitulah cara kita memandang kecemerlangan Manchester City.
Sekalipun belum menikmati hasil positif di Eropa, setidaknya City telah menguasai tataran Inggris. Raihan treble domestik musim 2018/19 menjadi standar terbaik sepanjang gelaran Premier League sejak tahun 1992. Dan klub-klub seantero Inggris masih sulit melampaui standar tersebut.
“Saya bermain melawan pemenang treble Manchester United musim 1998/99, dan Arsenal Invincibles musim 2003/04, jadi saya tahu kehebatan mereka. Akan tetapi, Manchester City melakukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya,” kata Alan Shearer mengutip BBC.
Kedalaman Skuad
Semua terkesima melihat bakat-bakat hebat di tubuh Manchester City. Manajer-manajer di Premier League mungkin saja iri karena Pep Guardiola dianugerahi sekumpulan anak-anak berbakat yang bisa menjadi senjata. Namun, apakah ini bisa menjadi faktor utama City menguasai Premier League?
Dari segi catatan di atas kertas tidak juga. Karena Thomas Tuchel di Chelsea juga mempunyai sekelompok pemuda yang berbakat. Klopp di Liverpool juga sama. Manchester United yang kini tengah dalam mode bapuk itu pun memiliki kedalaman skuad yang bagus.
Jadi, apa dong pembedanya? Manchester City tidak hanya dalam skuadnya, tapi tepat dalam penggunaannya. Pep tahu betul skuadnya sangat berlimpah, dan ia sanggup memanfaatkannya dengan melakukan rotasi. Bahkan itu sudah ia lakukan sejak pertama kali menginjakkan kaki di Stadion Etihad.
Sementara Liverpool tidak demikian. Pasukan Klopp sepertinya baru menyadari kalau lini depan mereka terpaku pada beberapa nama saja seperti Mohamed Salah dan Sadio Mane. Sampai-sampai The Reds pun akhirnya mendatangkan Luis Diaz. Sebelum itu, Klopp memang agak kesulitan merotasi pemain.
Namun, Pep tidak begitu. Kita bisa mengatakan rotasi yang dilakukan Pep Guardiola ini sangatlah jenius dan taktis. Misalnya, beberapa pertandingan Pep tidak memakai Kyle Walker di posisi full back kanan. Pun ia termasuk manajer yang jarang menggunakan striker murni.
🔵 Phil Foden as Manchester City’s false nine against Club Brugge… @ManCity | #UCL pic.twitter.com/dSa8ydaHkT
— UEFA Champions League (@ChampionsLeague) November 10, 2021
Phil Foden yang notabene seorang gelandang, bahkan sering ia taruh di posisi penyerang depan sebagai false nine. Belum lagi, Pep adalah sosok manajer yang tidak konstan. Ia nyaris selalu menyusun taktik yang berbeda di setiap pertandingan.
Namun taktiknya selalu oke. Rotasinya mantap. Ide-idenya jelas. Dan yang paling penting, hasilnya konsisten positif.
Siapa Musuh Terkuat Manchester City?
Seperti Liga Petani lainnya, dominasi Manchester City di Premier League ada saja yang ingin menyandungnya. Dan tim itu adalah Liverpool. Ya, benar sekali, satu-satunya rival yang bisa dikatakan selevel dengan Manchester City hanyalah Liverpool.
Pasukan Klopp, bahkan di catatan tertentu unggul dari Manchester City. Jika Manchester City tidak kehilangan poin di 23 pertandingan, atau pada saat City pernah mencatatkan rekor 28 pertandingan tanpa kehilangan poin, Liverpool-nya Klopp lebih dari itu.
Claudio Ranieri on Inter vs Liverpool:
“Liverpool are the strongest team in the Premier League, Inter will need intelligence and zero errors.” #awlive [liverpool echo] pic.twitter.com/mugH5o0xOL
— Anfield Watch (@AnfieldWatch) December 14, 2021
Sejauh ini, Liverpool sudah mencatatkan rekor fantastis dengan 41 pertandingan tanpa sekalipun kehilangan poin. Dan itu adalah rekor tertinggi selama gelaran Premier League dari tahun 1992. Sekarang pun, Liverpool masih menebar ancaman ke City.
City bisa saja meraih juara Premier League keduanya, tapi Liverpool yang hanya terpaut satu poin per akhir Maret bisa saja menikungnya. Namun, itu jika dan hanya jika Manchester City menyelesaikan laga sisa dengan kekalahan.
Persaingan menuju gelar juara memang masih jauh. Premier League memang masih diyakini belum menjadi Liga Petani. Namun, tanda-tandanya sudah kelihatan. Dan Manchester City, dalam beberapa tahun terakhir membuktikan bahwa mereka sanggup menjadikan Premier League sebagai Liga Petani.
Sumber referensi: The Analyst, Goal, Sporting News, Quora, Sky Sports


