Isu Politik dan HAM di Balik Pembelian Newcastle United oleh Pangeran Arab

spot_img

Kabar menghebohkan datang dari Liga Premier Inggris. Salah satu kontestannya, Newcastle United sebentar lagi akan sah dinobatkan sebagai klub terkaya di dunia. Hal itu terjadi setelah klub berjuluk “The Magpies” itu dibeli oleh sebuah konsorsium asal Arab Saudi yang dipimpin langsung oleh Sang Pangeran Muhammad bin Salman.

Bersama dengan PCP Capital Partners dan RB Sports & Media, sejatinya Muhammad bin Salman yang menjadi chairman Public Investment Fund (PIF) milik Kerajaan Arab Saudi sudah berencana untuk mengakuisisi Newcastle United sejak Januari 2020. Apalagi sang pemilik lama Mike Ashley memang sudah berniat menjual klubnya sejak lama.

Isu Pelanggaran HAM di Balik Proses Akusisi Newcastle United

Sayangnya, rencana akuisisi Newcastle United tak berjalan mulus dan seolah berjalan di tempat. Di tengah jalan proses akuisisi tersebut mendapat berbagai hambatan dan intervensi. Padahal, pada bulan April 2020 Mike Ashley dikabarkan telah sepakat melepas 100% saham Newcastle United dengan kesepakatan mencapai 300 juta poundsterling.

Pada periode itu proses akuisisi mendapat hambatan pertamanya, yakni adanya intervensi dari Badan Amnesty Internasional. Organisasi HAM internasional itu memprotes keras penjualan Newcastle United kepada Public Investment Fund (PIF) pimpinan Muhammad bin Salman. Hal tersebut tak lepas dari reputasi buruk sang putra mahkota terakait isu hak asasi manusia.

Amnesty International menilai bahwa akuisisi itu coba digunakan rezim Arab Saudi untuk mencuci nama baik mereka atas catatan buruknya terkait hak asasi manusia. Selain itu, Muhammad bin Salman juga punya rekam jejak negatif terkait isu HAM.

Salah satunya adalah dugaan pembunuhan terhadap jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi. Kolumnis Washington Post yang juga pengkritik Muhammad bin Salman itu diduga dibunuh oleh agen pemerintah Saudi atas perintah langsung dari Sang Putra Mahkota.

Dikutip dari Goal.com, Kepala eksekutif Amnesty International Inggris, Sacha Deshmukh, berkata: “Sejak kesepakatan ini pertama kali dibicarakan, kami mengatakan bahwa itu merupakan upaya yang jelas oleh otoritas Arab Saudi untuk ‘cuci tangan’ atas rekor hak asasi manusia mereka yang mengerikan dengan memanfaatkan sepakbola papan atas.”

Selain Amnesty International, Human Rights Foundation (HRF) juga ikut menentang proses akuisisi Newcastle United oleh Public Investment Fund (PIF) pimpinan Muhammad bin Salman. Bahkan Yayasan HAM tersebut mengirim surat langsung kepada kepala eksekutif Premier League Richard Masters untuk membatalkan proses takeover tersebut.

Dalam surat resminya yang rilis 23 April 2020 di website hrf.org, Human Rights Foundation mengatakan, “memohon kepada Liga Premier untuk segera mempertimbangkan untuk membatalkan kesepakatan ini, mengakui konsekuensi seriusnya, dan menjunjung tinggi prinsip bahwa olahraga bukan hanya bisnis tetapi juga media berpengaruh yang tidak boleh dibajak oleh kediktatoran brutal.”

Isu Pembajakan di Balik Proses Akusisi Newcastle United

Belum reda isu HAM, proses akuisisi Newcastle United mendapat hambatan berikutnya. Kali ini giliran beIN Sports yang memprotes akuisisi tersebut. Saluran olahraga global milik Qatar Sports Investments itu memprotes langsung kepada otoritas Premier League agar membatalkan proses akuisisi tersebut.

Perlu diketahui bahwa sejak 2017 telah terjadi ketegangan politik antara Qatar dan Arab Saudi setelah pemerintah Arab memboikot alias memblokir seluruh siaran beIN. Tak lama setelah diboikot muncul saluran beoutQ di Arab Saudi yang diduga melakukan pembajakan siaran beIN, termasuk siaran Premier League.

Karena sebab itulah beIN jadi salah satu pihak yang menentang akuisisi Newcastle United oleh Public Investment Fund (PIF) pimpinan Muhammad bin Salman. Karena sebab ini pula Premier League berada di posisi sulit. Mereka bisa dinilai mendukung pembajakan bila menyetujui proses akuisisi Newcastle United. Apalagi beIN adalah salah satu pemegang hak siar resmi Premier League yang paling loyal.

Sejak saat itulah proses akuisisi Newcastle United semakin jalan di tempat. Apalagi ketika pandemi Covid-19 menghamtam, semua pembicaraan terkait proses akuisisi tersebut menjadi semakin runyam. Alhasil, negosiasi takeover Newcastle United sempat dikabarkan batal.

Kolapsnya negosiasi tak hanya membuat Mike Ashley kesal. The Toon Army, suporter The Magpies juga merasa frustrasi. Pasalnya, momen seperti ini telah mereka tunggu sejak lama, yakni hari di mana Mike Ashley bakal lengser dari kursi kepemilikan Newcastle United. Mike Ashley yang berkuasa sejak 2007 memang sangat tak disukai suporternya sendiri.

7 Oktober 2021, Newcastle United Resmi Jadi Milik Pangeran Arab Saudi

Singkat cerita, Ashley tak tinggal diam untuk mengurus segala keperluan legalitas agar negosiasi penjualan Newcastle dapat kembali berjalan. Selain itu, pemerintah Arab Saudi yang memang punya hubungan baik dengan Inggris meminta perdana menteri Boris Johnson untuk ikut membantu proses akuisisi.

Akhirnya, titik terang mulai terlihat ketika pihak Arab Saudi membuka blokir siaran beIN. Keputusan tersebut juga melunakkan tuntutan beIN. Selain itu, pihak Public Investment Fund (PIF) juga menjamin secara hukum bahwa pihak Kerajaan Arab Saudi tidak akan terlibat langsung dalam pengendalian klub.

Pada 7 Oktober 2021, Liga Premier Inggris akhirnya mengeluarkan statement yang berbunyi, “Liga Premier, Klub Sepak Bola Newcastle United dan St James Holdings Limited hari ini telah menyelesaikan sengketa pengambilalihan klub oleh konsorsium PIF, PCP Capital Partners dan RB Sports & Media. Setelah selesainya Tes Pemilik dan Direktur Liga Premier, klub telah dijual ke konsorsium dengan segera.”

Dengan keluarnya keputusan tersebut maka kepemilikan Newcastle United telah berpindah tangan sekaligus mengakhiri kepemimpinan kontroversial Mike Ashley selama 14 tahun. Newcastle United secara resmi telah dijual senilai 300 juta poundsterling kepada grup investasi yang dipimpin oleh Public Investment Fund, dan juga terdiri dari PCP Capital Partners dan RB Sports & Media.

Dalam kesepakatan itu disebut bahwa Public Investment Fund berhak atas 80% saham, sementara PCP Capital Partners dan RB Sports & Media masing-masing berhak atas 10% saham Newcastle United. Terjalinnya kesepakatan tersebut juga tak bisa dilepaskan dari peran Amanda Staveley, CEO PCP Capital Partners. Ia bukanlah orang sembarangan. Amanda Staveley adalah salah satu tokoh penting dalam akuisisi Manchester City oleh Keluarga Kerajaan Abu Dhabi.

Dugaan ‘Sportswashing’ di Balik Akusisi Newcastle United

Rampungnya proses akuisisi yang berbelit-belit membuat mayoritas pendukung Newcastle United lega sekaligus bahagia. Selain karena lengsernya Mike Ashley, The Toon Army kini punya harapan untuk melihat klub kesayangannya berjaya. Dengan dana yang begitu melimpah, bukan tak mungkin Newcastle United bisa jadi klub kaya yang sebentar lagi menjadi pesaing serius di Eropa.

Meski begitu, akuisisi ini masih belum lepas dari berbagai kritik dan isu miring. Selain cuci tangan perkara HAM, akuisisi ini juga kental akan perkara politik. Public Investment Fund (PIF) adalah Sovereign Wealth Fund (SWF) milik pemerintah Kerajaan Arab Saudi. SWF bisa dibilang sebagai badan pengelola dana invetasi khusus milik sebuah negara.

Kabarnya, kekayaan PIF mencapai 320 miliar poundsterling, sementara kekayaan pribadi Muhammad bin Salman saja diperkirakan mencapai sekitar 13 miliar poundsterling. Inilah yang membuat Newcastle United melejit sebagai klub terkaya di dunia saat ini.

Sebelum memiliki Newcastle United, PIF sudah lebih dulu punya saham di berbagai perusahaan global seperti Boeing, Disney, Bank of America, hingga Facebook. Dengan fakta tersebut banyak pihak menilai bahwa akuisisi Newcastle United hanyalah bentuk dari ‘Sportswashing’ layaknya Qatar di PSG dengan Qatar Sports Investment dan Uni Emirat Arab di Manchester City via Abu Dhabi United Group.

‘Sportswashing’ adalah sebuah praktik licik yang ditempuh oleh individu, kelompok, atau negara yang menggunakan olahraga untuk meningkatkan reputasinya, baik dengan menjadi tuan rumah atau peserta ajang olahraga kelas dunia, hingga membeli atau mensponsori sebuah tim olahraga. Di tingkat negara, sportswashing lazim digunakan sebagai pengalihan isu dan perbaikan citra diri atas rekam jejak hak asasi manusia yang buruk.

Ya, seperti apa yang dilakukan oleh Public Investment Fund (PIF) Kerajaan Arab Saudi yang dipimpin langsung oleh Sang Putra Mahkota yang diduga memiliki catatan pelanggaran HAM yang begitu banyak. Isu ini memang masih sulit untuk dibuktikan kebenarannya. Sebagian fans Newcastle United juga tak peduli dengan kebenaran isu tersebut.

Memiliki Newcastle United sebenarnya juga tak akan memberi dampak ekonomi yang besar kepada PIF. Ketimbang berinvestasi, mereka bakal lebih banyak menggelontorkan dana untuk memoles Newcastle United. Menjadikan The Magpies berprestasi bakal sekaligus meningkatkan citra diri Muhammad bin Salman di mata global.

Jadi, apakah football lovers pro atau kontra dengan akuisisi ini? Lalu, akan ke arah mana investasi Putra Mahkota Arab Saudi di Newcastle United? Apakah mereka bisa menyalip prestasi PSG atau Manchester City dalam waktu singkat? Hmm sungguh menarik untuk disimak bukan?
***
Sumber Referensi: CNBC, Goal, Premier League, HRF, Marca, middle east eye, Republic World.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru