Carut Marut Resmi-nya Newcastle United Jadi Tim Terkaya di Dunia

  • Whatsapp
Carut Marut Resmi-nya Newcastle United Jadi Tim Terkaya di Dunia
Carut Marut Resmi-nya Newcastle United Jadi Tim Terkaya di Dunia

Newcastle United saat ini masih terus terjerembab di jurang degradasi. Klub berjuluk The Magpies terus mengalami masa sulit, setidaknya dalam kurun waktu 14 tahun terakhir ketika Mike Ashley masih duduk di kursi tertinggi. Sebelumnya, para suporter sudah sempat memprotes kursi yang diduduki Ashley. Mereka meminta sang pemilik untuk minggat dari jabatannya karena dianggap tidak becus dalam memimpin klub bersejarah sekaliber Newcastle United.

Tepat pada akhir 2018 lalu, ketika klub melakoni laga kandang melawan West Ham United, banyak kursi kosong yang tidak terisi oleh pendukung tuan rumah. Itu merupakan bentuk protes yang dilakukan suporter dengan tajuk ‘11th minute walk-in protest’ yang ditujukan kepada Mike Ashley.

Sejak 2007 menjabat sebagai pemilik, Ashley disebut banyak mengeluarkan keputusan yang merugikan. Mulai dari membiarkan legenda pergi sampai mengubah nama Stadion yang dulunya bernama Saint James’ Park menjadi Sports Direct Arena. Namun meski keberadaannya sudah sangat tidak diinginkan, Ashley ogah pergi begitu saja. Dia ingin mengambil keuntungan ketika pada akhirnya klub harus dilepas.

Beruntung, setelah sejak 2017 lalu klub mengumumkan bakal dijual, pada 2020 kemarin datang konsorsium bermodal besar yang dipimpin PCP Capital Partners, yang diisi oleh Public Interest Fund (PIF) milik Kerajaan Arab Saudi, serta perusahaan properti dan investasi, Reuben Brothers.

Proses Akuisisi Tidak Mudah dan Tergolong Rumit

Namun begitu, klub dan seluruh elemen lainnya termasuk para penggemar, tidak bisa langsung bergembira. Ada banyak proses hingga kontroversi yang harus dilalui untuk bisa mendapat kata sah seperti kabar yang baru saja kita terima saat ini.

Mulanya, para penggemar langsung meminta Mike Ashley untuk menandatangani proposal akuisisi yang kemudian dikirim ke pihak Premier League. Akan tetapi, proses ini tidak berjalan mulus. Proses penjualan Newcastle United kepada pihak Kerajaan Arab Saudi mendapat tentangan dari Direktur Amnesty International Inggris, Kate Allen, menyusul isu pelanggaran Hak Asasi yang sempat mencuat.

Mohammed bin Salman disebut memiliki rekam jejak yang buruk soal Hak Asasi seperti terlibat dalam melawan pengkritik pemerintah dan kasus pembunuhan terhadap seorang jurnalis Jamal Khashoggi. Hatice Cengiz, tunangan jurnalis yang dibunuh bahkan ikut mendesak Premier League untuk memblokir perjanjian itu dengan mengatakan kalau hal tersebut akan menjadi “noda” pada kompetisi.

Pada kasus ini, lembaga HAM, Human Rights Foundation, juga turut mengingatkan Premier League tentang bahaya moral yang muncul apabila mengizinkan Newcastle melanjutkan proses akuisisi kepada pihak Arab Saudi.

“Premier League berkesempatan untuk merespons atas tindakan Arab Saudi terhadap HAM. Memblokir pembelian tersebut akan menunjukkan komitmen kalian soal kebebasan dan keadilan kepada dunia,” terang President HRF, Thor Halvorssen, dan CEO, Garry Kasparov.

Selain penentangan yang terjadi akibat dari isu pelanggaran HAM, beIN Sports, perusahaan asal Qatar, yang merupakan pemegang Hak Siar Liga Primer Inggris di Timur Tengah, turun untuk ikut menentang proses akuisisi Newcastle United kepada Kerajaan Arab. Hal itu terjadi karena Arab, yang merupakan tempat berdiamnya saluran BeOutQ, diklaim telah melakukan pembajakan besar-besaran terhadap tayangan Liga Primer Inggris.

Sebagai informasi, Arab Saudi, sekitar empat tahun lalu, telah memblokir layanan beIN Sports di negara mereka menyusul konflik yang terjadi antar kedua negara tersebut. Jadi, warga Arab Saudi tidak bisa menonton tayangan Liga Primer Inggris secara legal. Dari situ, muncullah Saluran BeOutQ, yang disinyalir memiliki arti Be Out Qatar, sebagai saluran bagi penggemar Liga Primer Inggris di Arab untuk menyaksikan tayangan tim kesayangan mereka.

Namun sekali lagi, tayangan yang disiarkan adalah ilegal karena disebut telah mengambil saluran yang sudah lebih dulu terhubung ke beIN Sports.

Melalui penentangan ini, pihak beIN Sports mengklaim bila tujuan mereka jelas, yaitu menutup segala ruang pembajakan, atau dengan kata lain, bila pihak Liga Primer Inggris mengizinkan proses akuisisi Newcastle United maka mereka sama saja mendukung tindakan pembajakan siaran.

Dalam kasus ini, pihak Arab Saudi sempat membantah bahwa mereka terlibat dengan saluran BeOutQ dengan menyebut bahwa Kolombia dan Kuba merupakan pemegang perusahaan tersebut, meski kantor BeOutQ memang terletak di Riyadh. Namun dua negara tersebut langsung menepis itu semua. Praktis, hingga membuat beIN Sports kian geram.

“Pembajakan siaran memiliki dampak yang sangat besar. Apa yang mereka lakukan di Timur Tengah dan Afrika Utara akan sangat memengaruhi pendapatan klub dan pemasukan Premier League secara keseluruhan,” ucap CEO beIN Sports, Yousef al-Obaidly

Polemik yang terjadi pada akhirnya membuat proses akuisisi ini tidak ada kejelasan. Setelah berbulan-bulan lamanya, atau tepat pada 30 Juli 2020 lalu, pihak PIF menarik diri dari proses akuisisi ini. Dana sebesar 340 juta pounds yang disiapkan tidak sampai ke tangan Newcastle untuk bisa membuat Mike Ashley turun dari jabatan.

Buntut dari kegagalan ini, protes para penggemar kian masif. Banyak yang menganggap bila dua hal seperti pembajakan hak siar hingga pelanggaran hak asasi yang telah disebutkan, tidak ada kaitannya dengan sepakbola.

Mereka sudah sangat muak dengan era kepemimpinan Mike Ashley dan memilih untuk melayangkan petisi di Change.org yang kabarnya sudah ditandatangani oleh sebanyak 110 kali, kepada Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, dimana isinya meminta adanya investigasi kepada Premier League yang diduga sengaja menjegal proses akuisisi ini.

Titik Terang

Usai berbagai proses lainnya dilakukan untuk bisa kembali melanjutkan akuisisi Newcastle United, akhirnya Arab Saudi melunak soal pemblokiran terhadap tayangan beIN Sports di negaranya. Mereka membuka blokir saluran tersebut, hingga membuat kafe dan restoran di ibu kota Saudi, Riyadh, sudah mulai menayangkan pertandingan di saluran beIN Sports.

Kemudian perkara Hak Asasi yang juga sempat jadi kendala dari proses akuisisi ini, seperti ditulis BBC, PIF mengklaim kalau mereka terpisah dengan negara Arab Saudi. Selain itu, pihak konsorsium juga telah menepis segala tuduhan, termasuk dugaan Sport Washing atau menutup-nutupi kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia lewat ajang olahraga.

Terlebih, Premier League juga sudah diberi jaminan secara hukum kalau Arab Saudi akan mengendalikan klub sepak bola Newcastle United.

Sejak pemberitaan tersebut muncul, kabar tentang akuisisi Newcastle United kembali mengudara.

Tepat pada 7 Oktober 2021, proses akuisisi yang kembali dilangsungkan berhasil temui kata sah! Pihak Premier League menyetujui akuisisi tersebut setelah segala kontroversi yang sempat mengiringi akhirnya bisa diselesaikan dengan baik. PIF dilaporkan mengucurkan dana sebesar 300 juta pounds untuk mengambil alih kepemilikan Newcastle United.

The Magpies kemudian langsung memberikan pernyataan resmi dengan menegaskan bahwa klub telah diakuisisi 100% oleh konsorsium baru.

“Grup investasi yang dipimpin oleh Public Investment Fund, dan juga terdiri dari PCP Capital Partners dan RB Sports & Media, telah menyelesaikan akuisisi 100 persen dari Newcastle United Limited dan Newcastle United Football Club Limited dari St. James Holdings Limited,” tulis pihak Newcastle.

Gubernur PIF, Yasir Al-Rumayyan, kabarnya resmi didapuk sebagai Ketua Non-Eksekutif Newcastle. PIF sendiri mengaku bangga karena telah menjadi pemilik anyar The Magpies.

“Kami berterima kasih kepada para suporter Newcastle atas dukungan setia selama bertahun-tahun. Kami senang bekerja sama dengan mereka,” ujar Al-Rumayyan.

Mendengar kabar resminya Newcastle United telah pindah tangan, para penggemar langsung berhamburan. Mereka senang karena akhirnya klub memiliki pemimpin dengan kekuatan finansial dan rencana yang hebat. Selain itu, yang terpenting, klub telah mengakhiri masa suram dengan Mike Ashley.

Sosok di Balik Kekuatan Baru Newcastle United

Dalam keberhasilan proses akuisisi yang dilakukan, terdapat setidaknya empat sosok yang patut disorot. Mereka adalah Mohammed Bin Salman, yang kita tahu merupakan penyokong dana utama. Dilaporkan, Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi itu memiliki kekayaan yang jumlahnya jauh lebih fantastis dibanding pemilik Manchester City, Sheikh Mansour.

Menurut espn, Public Investment Fund (FIP) milik Muhammad Bin Salman memiliki kekayaan senilai 320 miliar pounds atau setara 6.188 triliun rupiah, sementara kekayaan milik Sheikh Mansour hanya berkisar di angka 444 triliun rupiah saja.

Berikutnya ada nama Amanda Staveley yang menjadi “otak” dari segala proses yang dijalani. Seperti diketahui, melalui perusahaannya, PCP Capital Partners, akuisisi Manchester City dari pihak Abu Dhabi juga tak lepas dari campur tangan nya. Dalam posisinya sekarang, Staveley akan mendapatkan saham sebesar 10%.

Lalu ada Yasir Al Rumayyan, gubernur PIF yang telah diangkat sebagai Ketua Non-Eksekutif Newcastle.

Terakhir ada Jamie Reuben. Dia merupakan putra dari David Reuben yang merupakan keluarga terkaya kedua di Inggris. David dan paman Jamie diketahui mendirikan perusahaan properti kondang, Reuben Brothers. Sebagai partner bisnis PIF dan PCP, Jamie akan memiliki saham 10% sekaligus mendapat jabatan direktur.

Visi dan Pemain yang Berpotensi Didatangkan

Melansir dari BBC, visi mereka jelas, yaitu meraih trofi sebanyak mungkin. Namun satu yang perlu dicatat, hal itu membutuhkan proses dan waktu yang tidak sebentar. Staveley yang mengaku kagum dengan pergerakan Manchester City sejauh ini, berambisi untuk berinvestasi dan membangun infrastruktur klub.

“Kami jelas ingin mendapatkan trofi. Itulah yang akan dikatakan setiap pemilik klub sepak bola sejak hari pertama,”

“Tapi untuk mendapatkan banyak piala, kita membutuhkan investasi, waktu, kesabaran, dan kerja tim. Untuk bisa sampai ke sana, kami ingin para penggemar memahami dan mempercayai kami.”

Selain itu, klub juga dikatakannya bakal merombak struktur dan meningkatkan komunikasi dengan suporter.

Dengan ambisi dan kondisi semacam ini, langsung muncul kabar yang mengatakan bila Newcastle United akan segera melakukan pergerakan ketika bursa transfer Januari nanti dibuka. Beberapa nama seperti Allan Saint-Maximin, Miguel Almiron, Joe Willock dan Callum Wilson, kemungkinan besar masih akan dipertahankan, dengan yang lainnya berpotensi dilepas.

Laman Marca memprediksi sejumlah pemain yang berpotensi masuk ke dalam daftar belanja Newcastle United. Diantaranya, Alexandre Lacazette yang kita tahu memang kabarnya akan dilepas Arsenal. Kemudian ada Ousmane Dembele yang bisa menguatkan barisan dari sisi sayap.

Lalu, nama Sergi Roberto juga diklaim bisa jadi opsi untuk meningkatkan kekuatan. Franck Kessie yang nasibnya saat ini masih belum jelas di AC Milan, juga bisa dimanfaatkan untuk menambah daya ledak di lini tengah.

Di bawah mistar, pendekatan kepada Andre Onana mungkin bisa dilakukan, mengingat sang kiper dengan potensi hebat itu dilaporkan bakal dilepas Ajax Amsterdam.

Bila kalian berada di posisi pemilik Newcastle United saat ini, kira-kira siapa saja pemain yang bakal didatangkan untuk mengisi setiap lini?

Sumber referensi: The Flanker 1, BBC, Croniclelive, The Flanker 2, Give Me Sport, Marca

Pos terkait