Inilah Perbedaan Presiden dan Pemilik Klub Sepak bola

Semua orang, terutama para penggemar sepak bola pasti mengenal seorang Roman Abramovich. Dia adalah pemilik dari klub yang baru saja meraih gelar Klub Terbaik di ajang Ballon d’Or 2021, Chelsea. Selain Abramovich, orang tentu saja mengenal sosok Nasser Al-Khelaifi, pemilik Paris Saint-Germain, dan Muhammed bin Salman, salah satu bagian dari pemilik anyar Newcastle United.

Mereka semua memang pemilik-pemilik klub sepak bola kenamaan, yang tentu saja memiliki kekuasaan di klub tersebut. Tapi, tentu kamu juga tahu bahwa sebuah klub sepak bola, bukan hanya dikuasai para pemilik yang notabene seorang pengusaha moncer. Ya, ada juga klub yang dipimpin, dan boleh jadi sekaligus dikuasai oleh presiden klub.

Real Madrid adalah contoh nyata. Klub dengan gelar Liga Champions terbanyak itu dipimpin oleh seorang presiden. Dialah Florentino Perez. Begitu pula sang rival, FC Barcelona yang dikuasai oleh Juan Laporta. Namun ada pula klub yang memiliki presiden dan juga pemilik atau CEO.

Klub-klub di Bundesliga Jerman punya keduanya. Sebut saja Bayern Munchen. Legenda Die Rotten, Olivier Kahn. Sementara The Bavarians juga memiliki seorang presiden, Herbert Hainer.

Jadi apa bedanya pemilik dan presiden klub? Kenapa kok di Bundesliga, ada dua-duanya? Tidak pemilik saja seperti di Inggris atau tidak presiden saja seperti di Spanyol?

Mari kita sejenak menyelami perbedaan antara presiden dan pemilik klub sepak bola. Ya siapa tahu, besok atau kapan-kapan kamu menjadi salah satunya. Amin kan saja dulu, ya kan?

Penentuan

Nah, biar nggak kayak skripsi, makalah, tesis, disertasi, atau apalah itu namanya, alangkah lebih baik kita lewati saja soal pengertian presiden dan pemilik klub sepak bola. Jadi ayok kita mulai dari bagaimana menentukan atau memilih presiden klub sepak bola? Bagaimana kriterianya? Apakah seperti pemilihan presiden di sebuah negara?

Secara garis besar, ya. Pemilihan presiden negara dan presiden sebuah klub sepak bola nyaris sama. Perbedaannya hanya pada klub dan negara. Nah, presiden klub itu dipilih melalui pemilihan umum (pemilu). Tentu yang memilih bukan warga negara.

Namun, presiden klub dipilih oleh para penggemar klub tersebut. Di Liga Spanyol, misalnya. Klub-klub di La Liga memiliki sistem kepemilikan socios, yang tentu saja pernah dibahas di video starting eleven sebelumnya.

Anggota socios adalah para penggemar suatu klub sepak bola. Jadi, misalnya, para penggemar Real Madrid, ya berarti Madridista itu, bukan The Jak Mania. Tetapi dengan syarat terdaftar secara resmi menjadi anggota socios. Kalau dedemit-dedemit yang baru muncul, ya belum tentu anggota socios.

Calon presiden klub juga berasal dari socios itu sendiri. Jelang mendekati pemilihan presiden klub, biasanya calon presiden akan melakukan semacam kampanye. Tak jarang juga media-media di Spanyol menggelar debat capres klub tertentu dengan menghadirkan kedua capres.

Soal intrik, nggak kalah dengan pemilihan presiden di Indonesia. Bukan sekali waktu calon presiden klub akan saling menjatuhkan, mencemooh, merendahkan, atau apalah itu namanya ke calon lain. Selain itu, juga capres harus menyampaikan visi dan misinya, tak jarang juga sering mengobral janji seperti politikus dalam negeri.

Intinya, semua demi menarik perhatian para socios agar memilih si calon presiden klub. Mau halal atau haram mah bodo amat. Lantas bagaimana dengan sepak bola Jerman?

Di Bundesliga ada aturan 50+1. Artinya, saham mayoritas klub berada ditangan penggemar, sedangkan pihak swasta boleh memiliki saham klub, tapi tak lebih dari 49 persen saja. Para fans, yang pasti berjumlah ratusan ribu itu jelas semuanya tidak akan mengatur klub, tapi dengan menunjuk presiden.

Presiden inilah yang bakal mengontrol klub, termasuk mengawasi pemilik atau dalam hal ini, CEO. Sementara, CEO ini bisa jadi berasal dari investor. Tapi kekuasaan CEO di Bundesliga terbatas.

Ngomongin soal pemilik atau CEO, sebenarnya cara mengangkatnya bukan dipilih. Lha coba gimana itu, bos tapi dipilih? Kan mustahil, khususnya bagi selain klub Bundesliga. Pemilik dalam klub sepak bola itu hanya perihal siapa membeli saham siapa. Siapa yang menguasai saham, dialah yang memiliki klub.

Masing-masing liga punya kebijakannya sendiri mengenai cara seseorang bisa menjadi pemilik klub sepak bola. Kita ambil contoh jangan di Indonesia, tapi di Inggris saja. Asosiasi Sepak bola Inggris (FA) punya aturan ketat terkait kepemilikan klub.

FA memberlakukan tes bagi calon pemilik suatu klub. Ini berlaku tidak hanya untuk klub di Premier League, tapi semua liga di bawah naungan FA. Tes ini untuk mencegah kemungkinan terjadinya korupsi dan pemilik yang tidak transparan. Siapa yang bakal dites? Pastinya calon pemilik klub yang bakal menguasai setidaknya 30% saham.

Seorang calon pemilik klub akan didiskualifikasi apabila melanggar undang-undang untuk menjadi direktur; memiliki pengaruh atau kekuasaan di klub lain; menaruh minat signifikan dengan klub lain; terjerat hukum tapi belum menjalaninya; pernah dihukum FA; bangkrut; dan lain sebagainya. Ribet ya? Ya kalau nggak mau ribet jadi pemilik klub di Indonesia saja. Yang penting punya duit, semua beres.

Peran dan Tanggung Jawab

Pada prinsipnya presiden dan pemilik klub sepak bola mempunyai peran yang sama. Keduanya andil penuh atas maju-mundurnya sebuah klub sepak bola. Klub adalah perusahaan, maka seorang pemilik atau CEO berperan untuk mengawasi jalannya klub dan memastikan semuanya berjalan efisien dan dikelola dengan tepat.

Pemilik bisa mengatur sendiri keuangan klub. Jadi, seorang pemilik bisa memperkirakan sendiri keuntungan dan kerugian yang bakal ia terima. Bisa jadi ditangani sendiri, tapi bisa juga dibantu para stafnya.

Pemilik memang kelihatannya betul-betul penguasa klub sepak bola. Tak jarang manusia-manusia yang kelewat halu banyak yang ingin jadi pemilik klub sepak bola. Namun jika di Jerman, pemilik klub atau CEO atau ketua jangan harap akan menguasai klub. Ada aturan 50+1 itu tadi.

Akan ada presiden klub yang tugasnya mengawasi CEO. Jadi, Hans-Joachim Watzke yang CEO Borussia Dortmund bertanggung jawab pada Michael Zorc, presiden Dortmund. Sementara, seorang presiden klub lebih pantas disebut sebagai penguasa sejati sebuah klub sepak bola.

Presiden klub punya tugas untuk mengoperasikan klub. Ia juga harus mempromosikan klub dan menghadiri setiap pertemuan dengan para dewan, dan tentu saja asosiasi sepak bola atau liga. Kepemilikan socios di Liga Spanyol memperlihatkan bahwa presiden sungguh-sungguh penguasa klub.

Walaupun ia dipilih oleh anggota socios, dan secara demokratis bertanggung jawab pada anggota socios, kenyataannya meleset. Sama seperti rakyat di suatu negara, suara anggota socios diambil saat pemilihan saja. Jika presiden sudah dipilih, para socios tidak bisa mengatur klub secara langsung. Para socios seperti kehilangan kendali untuk itu.

Kewenangan sudah berada di tangan presiden. Hal itu memunculkan dosa-dosa yang membuat pelakunya diuntungkan. Seperti korupsi, penggelapan dana, kolusi, dan sebangsanya. Kasus barcagate yang menyeret nama mantan Presiden FC Barcelona, Josep Maria Bartomeu adalah contoh nyata.

Well, itulah tadi perbedaan presiden dan pemilik klub sepak bola. Bagaimana sudah mulai membayangkan, kira-kira mau jadi yang mana? Ya, bayangin saja dulu, soal nanti terwujud atau tidak, itu bisa diurus belakangan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru