Irfan Samaling Kumi a.k.a Irfan Jaya hampir saja menjadi juru selamat Timnas Malaysia di Piala AFF. Clearance-nya yang tidak sempurna membuat pemain Malaysia, Kogileswaran Raj membobol gawang Nadeo Argawinata dan membuat Harimau Malaya unggul. Namun, Irfan Jaya segera sadar kalau dirinya adalah pemain Tim Nasional Indonesia.
Irfan yang tadinya mungkin dianggap penyelamat oleh Timnas Malaysia, dan disoraki fans Timnas Garuda karena ngaco dalam membuang bola, langsung membayar lunas kesalahan itu. Tak butuh 45 menit bagi Irfan Jaya berubah dari juru selamat menjadi pisau yang menusuk Timnas Malaysia.
🤝 Teamwork makes the dream work!
🦅 Brilliant buildup leads to a fine finish from Irfan Jaya! #AFFSuzukiCup2020 | #RivalriesNeverDie | #MASvIDN pic.twitter.com/DoDUw2WBFe
— AFF Suzuki Cup (@affsuzukicup) December 19, 2021
Irfan Jaya bagaimanapun menyelamatkan muka Timnas Indonesia dan mukanya sendiri setelah sukses membobol dua gol ke gawang Malaysia, dan membuat Timnas Indonesia unggul 2-1 sebelum masuk ke ruang ganti.
Irfan memang seorang pemain sayap andalan dan tampil begitu eksplosif. Hal itu dibuktikan dengan posisinya di Timnas asuhan Shin Tae-yong yang susah digantikan. Bahkan ketika Shin Tae-yong beberapa kali merotasi pemain di ajang AFF 2020, Irfan Samaling selalu menjadi pilihan sejak laga perdana. Daya ledaknya memang sangatlah dahsyat.
Kehebatan Irfan Jaya
Belakangan ini, di antara pemain Timnas Indonesia, nama Irfan Jaya jadi yang paling layak diberikan kredit khusus. Performanya dari hari ke hari seperti grafik yang terus meningkat. Ia boleh dibilang sebagai suksesor nama “Irfan” lainnya di Timnas Indonesia. Maka dari itu, ke mana pun di berada, entah Timnas Indonesia atau PSS Sleman, Irfan Jaya selalu menjadi andalan.
Sekilas kita akan melihat Irfan Jaya seperti pemain tim biasa. Namun, jangan salah, pemain yang tampak tidak flamboyan itu sebenarnya adalah pemain sayap sekaligus pencetak gol paling mematikan di Liga 1. Terbukti, di Liga Dagelan, jumlah gol Irfan Jaya hanya kalah dari pemain-pemain asing seperti Ezechiel N’Douassel, Ilija Spasojevic, sampai Youssef Ezzejjari.
KEPAK SAYAP IRJA 🦅🦅
Irfan Jaya mencetak dua gol untuk PSS Sleman dan mengantarkan Super Elja menang 2-1 atas Borneo FC. Ini adalah gol ke-6 Irfan musim ini. Hasil ini mengerek posisi PSS ke peringkat 13.
Puas sama penampilan PSS, Sleman Fans? pic.twitter.com/DXsfdQEWRt
— Bola Abis (@bola_abis) November 1, 2021
Dari 10 pertandingan di Liga 1, Irfan Jaya sudah mencetak 6 gol. Torehan itu patut membuat striker lokal malu, karena yang mampu bersaing dengan penyerang impor di tangga top skor, justru Irfan Jaya yang justru seorang pemain sayap.
Tanpa diminta, Irfan Jaya sudah memberi jaminan kualitas yang sepadan. Ia yang konon memiliki gaji paling tinggi daripada pemain PSS Sleman lainnya selalu tampil luar biasa. Irfan Jaya mampu menyuguhkan seni sepak bola yang jauh dari kata jelek.
Ia bisa bergerak menyisir sisi lapangan lawan untuk memperdaya bek-bek tangguh, untuk kemudian mengirim umpan ke striker. Namun jika penyerangnya mandul, bukan mustahil kalau Irfan Jaya memilih membawa bola sampai berhadapan dengan kiper dan membuatnya mencetak gol.
Pergerakan Irfan Jaya laksana angin. Gerakannya sulit terlihat tapi terasa benar. Kemampuan itulah yang boleh jadi membuat pemain lawan mengira Timnas Indonesia hanya bermain dengan 10 orang. Sementara, Irfan Jaya itu seperti lelembut yang bisa mencetak gol dari situasi yang entah bagaimana ia ciptakan sendiri.
Misalnya, gol pertama Irfan Jaya ke gawang Malaysia. Bek-bek Malaysia termasuk Dion Cools yang datang jauh dari Belgia tidak berkutik sama sekali. Mereka tidak menyangka kalau Irfan Jaya ternyata masih berada di tengah-tengah pertahanan Malaysia. Witan yang melakukan penetrasi tidak kemaruk dan memberi umpan manis. Dari situ Irfan Jaya bagaikan muncul dari portal waktu Doctor Strange dan menceploskan bola ke gawang Malaysia.
Gol kedua pun hampir sama, dan bahkan lebih unik. Para pemain Malaysia sungguh-sungguh tidak ngeh dengan keberadaan Irfan Jaya. Mungkin pemain Malaysia menganggap bahwa Irfan Jaya bukanlah pemain, jadi nggak perlu di-pressure. Irja yang bergerak bebas, tentu saja tidak sulit untuk memperdaya Khairul Fahmi Che Mat.
Visi Bermain yang Bagus
Selain sanggup mencari ruang kosong, Irfan Jaya memiliki visi bermain yang bagus. Entah di Tim Nasional maupun di klub. Sederhananya begini, Irfan Jaya jarang kelihatan lemas di dalam lapangan. Ia selalu bergerak, bergerak, dan bergerak. Dengan kecepatannya, tembok sekuat apa pun akan dijebol.
Satu-satunya yang sanggup menghentikan kecepatannya adalah tekel dan tentu saja merugikan si penekel itu sendiri. Sudah pasti kartu akan melayang, kalau wasitnya bukan Ammar Ebrahim Mahfoodh atau Iwan Sukoco.
Karena visi bermain itulah Irfan Jaya tak pernah kehilangan fokus. Bahkan ketika kisruh terjadi di tubuh PSS Sleman, ia masih tetap fokus dan bermain stabil. Bahkan ketika kisruh itu terjadi, Irfan Jaya lah orang yang menyelematkan muka Dejan Antonic. Penampilan Irja tak tergoyahkan, malah performa Super Elang Jawa yang justru goyah kalau Irfan Jaya tak di sana.
Pernah Minder
Tak berlebihan kalau kita memuji Irfan Jaya. Sebab ia bukan pemain yang sekali jadi. Irja adalah pemain tempaan, artinya jika ia tidak ditempa terutama oleh dirinya sendiri, mungkin ia tidak akan menjadi seperti sekarang. Ia yang memulai karier dari liga “amatir” yaitu Liga 2 Indonesia bersama Persebaya akhirnya bermain untuk Tim Nasional Indonesia.
Tahun 2018, saat Timnas Indonesia dilatih mantan pemain Real Madrid, Luis Milla Aspas, Irfan Jaya dipanggil. Meski begitu, Irja saat itu malah minder pada kemampuannya sendiri. Mengingat dirinya tak lebih dari seorang pemain yang tampil di Liga 2.
Akan tetapi, sungguh tak pantas kalau Irfan Jaya minder dipanggil Timnas. Walaupun hanya bermain di Liga 2, Luis Milla memang sudah memantau Irfan Jaya. Apalagi sebelum dipanggil timnas, Irfan Jaya berstatus pemain terbaik Liga 2 Tahun 2017. Jujur, yang seharusnya minder adalah PSSI bukan Irfan Jaya.
133 km jarak dari Kabupaten Bantaeng ke Makassar. Tapi itu gak menghentikan Irfan Samaling Kumi kecil buat ngejar sepakbola.
Mesti pergi ke Surabaya untuk dapet better chance. Karier meningkat, selanjutnya jadi andalan timnas Indonesia.
Story of Dream by Irfan Jaya. pic.twitter.com/RF1fivH1Jd
— Aun Rahman (@aunrrahman) December 12, 2021
PSSI yang menggonta-ganti pelatih Timnas Indonesia membuat posisi Irfan Jaya juga tidak menentu. Di bawah Luis Milla, Irfan Jaya tampil trengginas. Lalu, ketika AFF 2018, ia masih dipercaya pelatih Bima Sakti. Namun penampilannya tidak cukup baik.
Masuknya Simon McMenemy justru membawa cerita buruk lainnya. Di bawah asuhan McMenemy, nasib Irfan Jaya di timnas seolah tenggelam. Begitu pula Timnas Indonesia itu sendiri yang hanya menyisakan kisruh-kisruhnya saja.
Akan tetapi, setelah Shin Tae-yong masuk menjadi pelatih Timnas Indonesia, Irfan Jaya kembali menjadi andalan tim nasional. Ia pada akhirnya juga ikut menjadi bagian dari skuad Timnas Indonesia yang diboyong ke Singapura untuk Piala AFF 2020.
Inilah kesempatan berharga buat pemain kelahiran Bantaeng 25 tahun lalu itu. Paling tidak Irfan Jaya bisa menunjukkan kualitasnya sekali lagi. Bukan tidak mungkin kalau Irfan Jaya bisa membawa Timnas Indonesia ke puncak tertinggi. Ayo Irfan Jaya! Jangan sia-siakan kesempatan ini!


