Gara-Gara “False Accounting”, Juventus Bisa Terdegradasi Lagi?

spot_img

Juventus sedang tidak baik-baik saja. Di atas lapangan, performa Juventus tengah memprihatinkan. Meski kembali dilatih Massimiliano Allegri, performa Paulo Dybala cs masih angin-anginan.

Juventus mengawali musim ini dengan kegagalan mereka memetik kemenangan di 4 laga pertama Serie A. Bahkan di giornata kedua Si Nyonya Tua kandas 1-0 di kandang dari tim promosi, Empoli. Sempat memetik 4 kemenangan beruntun di giornata 5 hingga 8, Juventus hanya berhasil memetik 1 poin di 3 laga berikutnya.

Kualitas Juventus musim ini memang masih meragukan. Jikalau menang skornya juga tipis. Selain itu, anak asuh Allegri kerap buang-buang poin di laga yang seharusnya bisa dengan mudah mereka menangkan. Seperti saat bertandang ke Venezia di giornata 17. Juve yang sudah unggul di babak pertama gagal memetik poin penuh usai tuan rumah menyamakan kedudukan di babak kedua.

Meski berhasil menang dari Bologna di pekan ke-18, tambahan 3 poin belum berhasil mengangkat posisi Juventus dari tangga ketujuh klasemen Serie A Italia. Paulo Dybala dan kolega baru berhasil mengumpulkan 31 poin. Dalam 18 pertandingan, Si Nyonya Tua baru mencatat 9 kemenangan, 4 kali imbang, dan sudah kalah 5 kali.

Sejauh ini, Juve juga kesulitan memetik poin penuh kala bersua dengan klub-klub besar Italia. Mereka sudah kalah dari Napoli dan Atalanta, serta cuma sanggup menahan imbang duo Milan. Bahkan Juventus dengan mudah dikandaskan Hellas Verona dan Sassuolo.

Juventus Diduga Melakukan “False Accounting”

Setali tiga uang, kondisi Juventus di luar lapangan juga tak jauh berbeda. Pernah menderita karena skandal calciopoli sepertinya tidak membuat jengah Si Nyonya Tua yang kembali berurusan dengan hukum di tahun 2021 ini. Kali ini bukan karena skandal pengaturan skor, melainkan dugaan adanya “false accounting” yang dilakukan kubu Juventus.

Pada akhir November lalu, Guardia Di Finanza atau polisi keuangan Italia melakukan penggeledahan di kantor Juventus yang terletak di Turin dan Milan. Penggeledahan tersebut dilakukan untuk mencari berbagai bukti terakit adanya dugaan “false accounting”. Sederhananya, Juve diduga telah memanipulasi data dalam laporan keuangan mereka.

Kasus ini bermula dari temuaan CONSOB, regulator keuangan yang bertanggung jawab untuk mengatur pasar sekuritas di Italia. Dalam hasil investigasinya yang dirilis pada bulan Juli, CONSOB menemukan adanya 62 transfer pemain mencurigakan pada musim 2018 hingga 2021 yang melibatkan beberapa klub Italia.

Jika bukan hanya Juventus yang terlibat, lalu mengapa mereka yang paling disorot?

Ya, Juventus memang bukan satu-satunya klub yang diduga melakukan kecurangan. Menurut beberapa sumber, kasus serupa juga lazim terjadi di liga-liga Eropa lainnya dan ada 18 klub yang tengah diinvestigasi dimana 11 di antaranya berasal dari Italia.

Khusus klub Serie A, Napoli, Genoa, Empoli dan Sampdoria juga terlibat. Sementara itu, AS Roma, Atalanta, dan Inter Milan juga diperkirakan akan terseret ke dalam skandal ini. Namun masalahnya, dari 62 transfer mencurigakan tadi, 42 di antaranya melibatkan Juventus.

Kejanggalan yang CONSOB temukan terkait transfer mencurigakan tadi adalah laporan keuntungan yang klub peroleh dari hasil penjualan pemain atau dalam bahasa Italia disebut “plusvalenza”. Salah satu kasus yang paling disorot adalah pertukaran Miralem Pjanic dengan Arthur Melo dari Barcelona di musim panas 2020. Jurnalis Romain Molina bahkan menyebut bahwa pertukaran Pjanic-Arthur adalah transfer ilegal.

Seperti yang kita tahu. Miralem Pjanic dilego Juventus ke Barcelona sementara Arthur Melo menuju arah sebaliknya. Pjanic dijual dengan harga 60 juta euro, sementara Juve membeli Arthur dengan harga 72 juta euro dan mengikatnya dengan kontrak berdurasi 5 tahun. Sepintas, dari hasil penjualan kedua pemain tersebut, Juve mengeluarkan biaya 12 juta euro. Namun, dalam laporan keuangan klub tidak tertulis demikian.

Biaya yang ditimbulkan dari transfer pemain tidak dibebankan sekaligus, melainkan dikapitalisasi sesuai dengan masa kontrak si pemain. Biaya yang dibebankan selama durasi kontrak inilah yang dinamakan amortisasi. Sedangkan biaya penjualan pemain dihitung sebagai pendapatan langsung.

Misalnya begini. Klub membeli seorang pemain dengan harga 100 juta euro dan dikontrak dengan durasi 5 tahun, berarti biaya amortisasinya pertahun senilai 20 juta euro. Katakanlah ada klub yang menawar si pemain setelah 3 tahun masa kontraknya. Maka, nilai amortisasi yang telah dijalani sebesar 60 juta euro.

Dari hasil tersebut didapat nilai buku si pemain sebesar 40 juta euro, hasil dari harga beli dikurangi total nilai amortisasi yang sudah dijalani. Artinya, klub hanya perlu menjual si pemain minimal dengan harga 40 juta euro agar tidak membukukan kerugian. Jadi, apabila ada klub yang membeli si pemain lebih dari 40 juta euro, klub berhasil mencatat keuntungan modal alias “capital gain”. Di Italia, istilah tersebut dinamakan “plusvalenza”.

Masalahnya, dalam kasus barter Pjanic dan Arthur, meski di atas kertas Juventus seharusnya tercatat mengeluarkan biaya 12 juta euro, tetapi berdasarkan hitungan Forbes, mereka malah mencatat keuntungan modal alias “plusvalenza” sebesar 41,8 juta euro. Kesepakatan seperti inilah yang tengah diinvestigasi.

Selain itu, Pjanic dan Arthur disinyalir dijual tak sesuai dengan harganya. Kubu Juventus dianggap telah membesar-besarkan nilai transfer para pemainnya, khususnya para pemain muda yang dijual tak sesuai harga aslinya dan membesarkan nilai “plusvalenza” yang mereka raih. Selain barter Pjanic dan Arthur, barter Danilo dan Joao Cancelo dengan Manchester City juga terindikasi curang. Bayangkan saja, ada 42 kasus transfer serupa yang dilakukan Juventus, sehingga jumlah penggelembungan dana yang dilakukan Juve tentu tidak sedikit.

Inti dari skandal ini adalah Juventus diduga membuat laporan keuangan palsu untuk mengakali regulasi FFP. Seperti yang kita tahu, klub mesti mencatat keuangan yang sehat agar bisa berkompetisi di Eropa.

Kasus ini mencapai titik eskalasi setelah Jaksa Penuntut Umum Italia meminta Guardia di Finanza atau polisi keuangan Italia untuk menggeledah kantor Juventus di Turin dan Milan. Penggeledahan tersebut dilakukan untuk mencari dokumen jual-beli pemain dari musim 2018/2019 sampai 2020/2021. Adapun 3 hal yang jadi fokus investigasi adalah “false accounting”, “false company reporting”, dan “billing for non existence transaction”.

Belakangan, transfer Cristiano Ronaldo dari Juventus ke Manchester United juga tengah diinvestigasi. Ada dugaan perjanjian rahasia antara Ronaldo dengan Juventus. CR7 juga disebut bisa menjadi saksi kunci untuk mengungkap skandal ini.

Para penyidik juga tengah mencari barang bukti yang dapat mengungkap praktek “false accounting” dalam “skandal plusvalenza” yang dilakukan Juventus. Di dalam laporan keuangan musim 2020, Si Nyonya Tua hanya mencatat nilai kerugian operasional sebesar 209 juta euro dari yang seharusnya 240 juta euro dan mencatat aset bersih hampir 29 juta euro, padahal seharusnya hanya bernilai 2 juta euro saja.

Mengutip dari Football Italia, total sudah ada 7 pihak yang dimintai keterangan. Adapun beberapa pihak yang jadi fokus investigasi adalah Andrea Agnelli, Pavel Nedved, dan mantan direktur olahraga Juve yang kini bertugas di Tottenham Hotspur, Fabio Paratici. CEO Maurizio Arrivabene dan direktur olahraga Juve yang sekarang Federico Cherubini juga ikut diperiksa sebagai saksi.

Lalu, sanksi seperti apa yang bisa menimpa Juventus bila terbukti bersalah? Apakah mereka bisa didegradasi seperti desas-desus yang banyak beredar?

Sanksi yang Menanti Juventus Apabila Terbukti Bersalah

Perlu diketahui bahwa kasus serupa pernah beberapa kali terjadi sebelumnya. Seperti Chieva Verona di tahun 2018 yang terbukti melakukan “false accounting” dan mendapat hukuman denda plus pengurangan poin.

Sementara pada kasus “Caso Plusvalenze” yang menjadi skandal pada tahun 2004-2010, ada lebih dari 10 klub Liga Italia yang diduga melakukan pemalsuan akuntansi dan pihak-pihak yang terlibat skandal tersebut mendapat beragam hukuman. Seperti Milan yang didenda 90 ribu euro dan Adriano Galliani yang didenda 60 ribu euro.

Sementara Inter mendapat denda 90 ribu euro. Presiden Inter saat itu, Massimo Moratti dan direktur teknik Gabriele Orialli mendapat denda 10 ribu euro. Sementara Sampdoria dan Genoa sama-sama mendapat denda 400 ribu euro. Beberapa tokoh juga mendapat hukuman skorsing, seperti mantan pemilik Palermo Maurizio Zamparini yang di-banned 6 bulan hingga Chairman Genoa, Enrico Preziosi yang di-banned 5 tahun.

Berkaca dari kasus “false accounting” di masa lalu, hukuman paling ringan yang menanti Juventus adalah denda atau pengurangan poin. Sementara sanksi terberat yang menanti adalah pencopotan scudetto terakhir atau dicoret dari keikutsertaannya di kompetisi nasional maupun internasional.

Sementara itu, soal hukuman degradasi, sebenarnya pihak yang paling ingin agar Juve terdegradasi ke Serie B adalah Asosiasi Italia untuk perlindungan hak-hak konsumen atau CODACONS. Presiden CODACONS, Marco Donzelli menilai bahwa praktek “plusvalenza” yang dilakukan Juve adalah ilegal. Selain itu, ia menilai bahwa dominasi Juve selama beberapa tahun terakhir merupakan buah dari kecurangan tersebut.

Bila berkaca dari kasus Calciopoli, hukuman degradasi baru bisa diberikan apabila Juventus terbukti melakukan pelanggaran di bidang olahraga yang mencederai kompetisi yang mereka ikuti. Soal apakah Juventus terbukti melakukan pelanggaran olahraga di kasus “false accounting” ini, keputusan akhirnya ada di tangan FIGC.

Sekali lagi, kasus ini tak hanya melibatkan Juventus saja dan proses penyelidikan yang dilakukan pihak berwenang di Italia masih berjalan. Jadi, tunggu saja tanggal mainnya.


***
Sumber Referensi: Goal, Football Italia, Bolasport, Football Italia, The Flanker, Forbes, Caso Plusvalenze.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru