Siapa dari football lovers yang dini hari tadi rela bangun demi nonton calon raja UCL musim ini, Barcelona supaya menang besar lagi atas Borussia Dortmund? Sekarang mimin tanya, kira-kira pada kaget nggak pas ngeliat Barca malah keok dari Dortmund, dengan tiga gol lagi? Kalau cuma 1-0 sih masih oke lah ya, nah ini ada tiga gol yang bersarang di gawang Wojciech Szczęsny.
Memang bener, Blaugrana tetep saja lolos meskipun menuai malu di Signal Iduna Park. Tapi kan nggak seharusnya pasukan Hansi Flick tumbang dengan mudah seperti itu. Kalau kata mimin agak mengherankan sih. Kenapa bisa begitu? Karena sepertinya Barca sengaja mengalah dan kendor di leg kedua. Mungkin, supaya ngasih kesempatan Dortmund buat seneng-seneng bisa mengalahkan calon kuat juara Eropa musim ini.
Lantas, Apa yang sebenarnya terjadi sepanjang pertandingan Dortmund vs Barca di leg kedua? Bagaimana reaksi Hansi Flick selepas tumbang di negaranya sendiri? Mari kita bahas.
Sebelum Laga, Flick Sempat Bilang Begini
Beberapa hari sebelum terbang ke Jerman, entrenador Barcelona, Hansi Flick sudah mengumpulkan pasukannya dan memberikan wejangan kepada anak asuhnya untuk tetap fokus menatap leg kedua meskipun sudah berpesta di Catalan dengan skor 4-0. Mantan pelatih Timnas Jerman itu secara terang-terangan berkata bahwa ia memilih untuk tetap berhati-hati dan pantang jumawa atas Dortmund.
Ia berdalih bahwa Dortmund bisa saja tampil mengejutkan dengan membalikkan keadaan dan menyulitkan langkah timnya. Flick menaruh hormatnya pada Dortmund, mengingat ia pernah berjumpa dengan tim asal Westfalen saat masih menukangi Bayern Munchen dulu. Jadi, Flick sudah paham betul dengan daya juang yang diperagakan oleh Dortmund, apalagi saat bermain di kandang sendiri yang menurutnya punya aura yang angker untuk tim tamu.
FULL-TIME!
Barcelona 4-0 Dortmund
⚽ Raphinha
⚽⚽ Lewandowski
⚽ YamalModal yang bagus untuk leg ke-2. Ada komentarnya?#ViscaBarca pic.twitter.com/yCJ8VNneXj
— Barca Stuff Indonesia (@barcastuff_idn) April 9, 2025
Saking pentingnya laga leg kedua buat Flick, ia berkata tak akan sedikitpun membiarkan timnya kendor untuk membombardir barisan pertahanan dan enggan untuk main-main dengan bongkar pasang pemain. Barca dijanjikannya akan turun tetap dengan komposisi pemain terbaik yang dimiliki, layaknya saat pertemuan pertama. Baginya, keunggulan agregat empat gol tidak membuatnya mengentengkan Dortmund yang dipimpin Niko Kovac.
Kalang Kabut Di Signal Iduna Park
Sesaat sebelum pertandingan bergulir, Flick dianggap akan mengaplikasikan janji dengan tetap fokus menggasak pertahanan tuan rumah. Terlihat dari penggunaan formasi 4-2-1-3 yang dihuni oleh komposisi pemain yang tak jauh berbeda dengan leg pertama di Estadi Olimpic Lluis Companys. Termasuk hadirnya trisula tertajam di Eropa sejauh ini, Robert Lewandowski, Raphinha, dan si bocah ajaib, Lamine Yamal. Harapan untuk menang besar sempat membuncah jika melihat skuad yang diturunkan sejak menit pertama.
Tanda-tanda keanehan mulai tampak saat wasit Maurizio Mariani dari Italia meniup peluitnya. Dortmund ternyata langsung menginisiasi untuk melakukan tekanan cepat ke jantung pertahanan Los Cules. Sepuluh menit pertama bagaikan ajang show off dari pemain tuan rumah yang terus-terusan menari-nari dengan bola, tanpa kawalan yang terukur dari barisan belakang Barca.
Barca memang memasang empat bek, yakni Jules Kounde, Ronald Araujo, Pau Cubarsi, dan Gerard Martin. Namun, tidak satupun dari mereka yang bermain padu dan sat-set menggagalkan setiap peluang emas dari Dortmund. Seolah-olah keempatnya tidak mendapat briefing yang jelas dari Flick saat di ruang ganti. Selalu ada ruang kosong yang menganga di belakang yang nyaman dieksploitasi oleh penyerang Die Schwarzgelben.
Puncaknya, saat Szczesny terpaksa menghentikan pergerakan berbahaya dari Pascal Gross dengan menjatuhkannya di kotak dua belas pas. Gross yang lepas dari kawalan bek Barca bisa saja membuka keran gol Dortmund jika tidak dihentikan. Hasilnya, penalti diberikan dan Sehrou Guirassy membuat tribun Signal Iduna Park bergemuruh.
Barça survive scare to reach semis…#UCL pic.twitter.com/htrQw7q2ec
— UEFA Champions League (@ChampionsLeague) April 15, 2025
Selang beberapa menit kemudian, pertahanan Barca kembali kecolongan dengan gesitnya laju Gross yang coming from behind dan berlari ke area belakang yang kosong ditinggal pemiliknya. Gross sempat menyepak bola yang tak dibendung oleh kiper Polandia. Untungnya, asisten wasit menganggapnya sudah terjebak offside. Terlepas dari keputusan tersebut, para bek-bek Barca patut dipertanyakan, kok bisa tidak menyisakan satu orang pun yang bertugas menemani Szczesny, dan terkesan lambat dan malas mundur lagi ke belakang.
Usai kebobolan yang pertama, Szczesny seolah dibiarkan berjuang sendirian untuk mengawal pertahanan terakhir Barca. Mungkin, judul yang tepat untuk perjuangan eks kiper Arsenal ini adalah, Szczesny dan sepuluh batang pohon pisang. Pria 34 tahun bener-bener menggendong lini belakang Barca.
Bahkan, rating dari situs Fotmob untuk Szczesny sebesar 7,9 lebih tinggi dibanding seluruh pemain Barca yang diturunkan, sekalipun ia harus takluk tiga kali dari penyerang Dortmund, Sehrou Guirassy yang sabet Man Of The Match dengan hattricknya.
🟡⚫️ Serhou Guirassy, UEFA Man of the Match for Borussia Dortmund vs Barça! pic.twitter.com/ZHiA8qyH1v
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) April 15, 2025
Selain mendadak tidak padunya barisan belakang, indikator lain yang membuat Barca sengaja mengalah adalah hilangnya taring dari para predator buas yang diandalkan Flick. Seperti yang kita tahu, Lewy, Raphinha, dan Yamal adalah aktor utama yang ganyang gawang Dortmund di leg pertama. Anehnya, tidak satupun dari mereka yang mampu kelabui Gregor Kobel di Jerman. Alih-alih mengemas gol, ketiganya malah kompak dapat rating merah di laga kemarin.
Statistik yang dihimpun dari Fotmob menjelaskan bahwa sepanjang pertandingan, Barca kalah jauh untuk urusan tembakan, dibandingkan Dortmund. Jika dikomparasikan, Barca hanya bisa melepaskan 7 tembakan saja, dengan hanya 2 yang dihitung on target. Sementara itu, Dortmund begitu digdaya dengan lontarkan 18 tendangan, yang 11 di antaranya tergolong tepat sasaran.
Data tadi terasa semakin ironis karena satu-satunya gol yang didapatkan oleh Barca, justru datang dari gol bunuh diri Ramy Bensebaini yang kaget karena bola yang disepak Fermin Lopez memantul mengenai lututnya. Flick akhirnya menarik Yamal dan Lewy untuk digantikan Ferran Torres dan Dani Olmo.
Flick Biasa Saja Dengan Kekalahan Ini
Beberapa waktu setelah laga bubaran, sinyal untuk sengaja mengalah makin mengemuka saat Hansi Flick menggelar wawancara di hadapan awak media. Pelatih berpaspor Jerman seolah biasa saja dengan kekalahan timnya dari finalis Liga Champions musim lalu itu. Dalam wawancaranya, Flick mengatakan bahwa ia dan Barca sudah mencapai tujuan mereka, yakni lolos ke semifinal dari hasil pertandingan ini.
🎙️ HANSI FLICK: “I know Dortmund really well, and I think they showed today how good they are…but in the end, it’s the result of two matches, and we deserve to reach the semifinal.” @ChampionsLeague pic.twitter.com/TuRzGSSIfZ
— FC Barcelona (@FCBarcelona) April 16, 2025
Tak seperti pelatih lain yang kesal dan menyayangkan permainan timnya saat kalah, berbeda dengan yang disampaikan Flick. Tak ada satupun ungkapan marah ataupun menyesal yang terucap dari mulut Flick. Bahkan Flick tidak mengevaluasi timnya atas kekalahan ini. Ia malah menyanjung permainan Dortmund asuhan Niko Kovac yang sangat baik dan membuat game plan Barca berantakan.
Hmm….kok terasa agak aneh ya? Flick bilang kalau sebenarnya mereka sudah mencapai target ke semifinal, apapun hasil dari pertandingan leg kedua. Terus, ia tak sampaikan kelemahan timnya di hadapan pers, lantas menyanjung Dortmund.
Jadi…..kalau menurut football lovers, Barca beneran sengaja mengalah nggak sih dari Dortmund? Para decul-decul tolong konfirmasi dong.


