Juara Tapi Memalukan? Bongkar Kisah Kontroversial Timnas Indonesia di Piala Kemerdekaan 2008

spot_img

Kita harus berlapang hati untuk menerima fakta kalau Timnas Indonesia senior masih kering prestasi. Namun, paling tidak, kita juga patut berbangga dengan setiap tetes keringat perjuangan Skuad Garuda.

Omon-omon, Timnas Indonesia senior terakhir kali mengangkat trofi pada 2008 silam. Itupun dibalut dengan kisah yang sangat memalukan. Sehingga wajar gelar juara  tersebut sudah banyak yang lupa.

Untuk menyegarkan ingatan football lovers kami telah menyusun rajutan kisah tersebut. 

Prestasi Terbaik dan Perjuangan Skuad Garuda

Mari kita mulai dengan pertanyaan sederhana, apakah kamu ingat, kapan terakhir kali Timnas Indonesia senior menyabet gelar juara? Apakah kamu bisa menyebutkan deretan prestasi terbaik yang pernah diraih Skuad Garuda?

Mungkin kamu bakal kesulitan mengingat dan mengucapkannya. Karena memang hampir tak ada.  Bahkan mungkin lebih mudah untuk menyebut nama-nama ikan dan daftar panjang kasus korupsi di negara ini.

Kecuali di level junior, bisalah kita menyebut beberapa gelar juara yang berhasil diraih. Piala AFF U-19 2013 dan 2024, Piala AFF U-16 2022, Medali Emas Sea Games 2023, dan beberapa lainnya.

Bahkan jika ditarik lebih jauh, di tingkat kelompok umur kita pernah punya timnas yang jadi juara di Piala Asia U-20 1961. Hal ini justru berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh Timnas senior.

Sampai sekarang pun kita masih dibuat heran, kenapa di level junior berprestasi tapi saat di level senior melempem bak kerupuk basi? Bahkan untuk bersaing di Asia Tenggara saja, Timnas kita belum pernah mengangkat piala. 

Dari era Alfred Riedl hingga Shin Tae-yong, Timnas Indonesia berulang kali gagal di partai final Piala AFF. Capaian Skuad Garuda hanya mentok sebagai runner-up. Sampai-sampai Pasukan Merah Putih dijuluki Raja Tanpa Mahkota. 

Di ajang multi event olahraga seperti SEA Games dan Asian Games pun tak beda jauh. Meskipun secara permainan sudah jauh berkembang dan bisa memanjakan mata, tapi hingga kini trofi juara belum juga mengisi lemari prestasi Garuda.

Bahkan pelatih sekelas Luis Milla dan Shin Tae-yong nggak bisa mengulang memori Sea Games 1986 dan 1991. Di mana ketika itu Skuad Garuda bisa menyabet Medali Emas. 

Setelah era Rully Nere dan Aji Santoso ini lewat, seolah Timnas Indonesia mendapat kutukan. Satu-satunya gelar juara yang bisa diraih hanyalah Piala Kemerdekaan.

Perjalanan Timnas Indonesia di Piala Kemerdekaan

Turnamen ini pertama kali digelar pada 1985. Sebagaimana namanya, turnamen ini digelar oleh PSSI untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia.

Di empat edisi awal, Piala Kemerdekaan rutin diselenggarakan dengan mengundang negara-negara besar. Chile dan Korea Selatan tercatat pernah berpartisipasi dan bahkan bertemu di partai puncak.

Namun sayangnya, turnamen ini sempat tenggelam di edisi 1989. Lalu timbul lagi di edisi 1990. Di edisi-edisi berikutnya, pihak federasi mulai nggak konsisten lantaran jadwal yang berubah.

Dari yang semula setahun sekali jadi dua tahun sekali. Setelah merampungkan edisi 1992 dan 1994, Piala Kemerdekaan sempat lama vakum. Barulah pada tahun 2000 turnamen ini kembali digelar. Di edisi ini Skuad Garuda yang diperkuat oleh Bima Sakti sukses menyabet gelar juara untuk yang kedua kalinya.

Setelah di edisi 1987 berhasil mengandaskan perlawanan Aljazair dengan skor 1-0. Di edisi 2000, tim besutan Nandar Iskandar menggila dengan melibas Irak tiga gol tanpa balas.

Dua gelar juara ini pun dinilai layak dan dirayakan dengan gegap gempita karena Pasukan Merah Putih kala itu memang bermain apik. Namun sayangnya, PSSI kembali menjeda turnamen ini hingga berselang 8 tahun kemudian.

Untungnya, aura juara Timnas Indonesia masih menempel di Gelora Bung Karno. Memori manis di edisi terakhir kembali terulang di stadion yang jadi ikon sepak bola nasional itu.

Namun cerita di Piala Kemerdekaan 2008 sedikit berbeda. Pasalnya, untuk kali pertama PSSI mengikutsertakan 2 tim. Satu Timnas Indonesia senior yang dikomandoi Benny Dollo. Satu lagi Timnas U-21 di bawah asuhan Bambang Nurdiansyah.

Di laga pembuka Grup B, Skuad Garuda senior tampil perkasa dengan membabat habis Kamboja 7 gol tanpa balas. Trisula penyerang Timnas kala itu jadi bintang lapangan. Budi Sudarsono mencetak 4 gol sensasional, Bambang Pamungkas dan M Ilham masing-masing 1 gol.

Di laga kedua, Timnas Indonesia masih nggak bisa dibendung. Anak asuh coach Bendol dengan mantap menggulung Myanmar 4-0. Hasil ini lebih dari cukup untuk membawa Pasukan Merah Putih dengan gagah melenggang ke babak semifinal.

Menariknya, di partai ini Skuad Garuda senior harus menghadapi Timnas Indonesia U-21 yang berstatus runner-up grup A. Gol semata wayang Ponaryo Astaman yang menjebol gawang Kurnia Meiga sukses menghantarkan Timnas senior ke babak final. Di partai puncak ini Pasukan Merah Putih menghadapi Libya U-23 yang berhasil mengalahkan Myanmar dengan skor 5-3 di babak semifinal.

Drama di Final Piala Kemerdekaan

Keberhasilan Timnas Indonesia melaju ke babak semifinal membuat fans semakin bersemangat. Sekitar 50 ribu suporter memberikan dukungan langsung kepada Skuad Garuda.

Animo ini pun nggak disia-siakan oleh Bambang Pamungkas cs. Suntikan semangat dari para pencinta sepak bola ini jelas memberikan energi yang berlipat ganda. Meskipun hanya melawan tim junior Libya, Benny Dollo selaku pelatih nggak mau menyepelekan. Pasalnya Timnas Indonesia U-21 kalah dengan skor mencolok 1-4.

Sepanjang 90 menit, barisan pertahanan Garuda junior di bombardir. Menurut laporan Kompas, kala itu Rizki Ramdani Lestaluhu dan kawan-kawan nggak sanggup mengimbangi fisik dan kecepatan tim tamu.

Bahkan, satu-satunya gol Timnas U-21 disebut lantaran wasit yang bermurah hati memberikan hadiah penalti di injury time. Untungnya, Jajang Mulyana yang jadi algojo nggak gagal mengeksekusi.

Kekalahan memalukan junior Skuad Garuda ini coba dibalaskan oleh para abangda. Namun, analisis Benny Bollo diawal ternyata nggak meleset.

Perwakilan dari Benua Afrika ini benar-benar bisa merepotkan barisan pertahanan Garuda senior. Bahkan tim berjuluk Ksatria Mediterania ini sudah bisa mencetak gol di menit ke-14. Keunggulan Libya didapat lantaran Markus Horison gagal mengantisipasi umpan silang yang disambar oleh Abdalla Mohamed.

Gol sundulan tersebut langsung menghentak kesadaran Skuad Garuda. Namun bukannya bermain cantik dan atraktif, Skuad Garuda malah tampil grasak-grusuk.

Laporan dari Indosports menyebut kalau tim asuhan Benny Dollo mulai bermain keras bahkan menjurus kasar. Dalam satu momen, Budi Sudarsono sempat ketangkap basah menyikut Abdalla.

Namun wasit Shahabuddin Moh Hamiddin seolah menutup mata atas pelanggaran ini. Di kesempatan yang lain, Isnan Ali berbuat nakal dengan membuat pemain Libya tersungkur hingga terkapar.

Namun lagi-lagi, wasit asal Brunei Darussalam itu nggak meniup peluit pelanggaran.  Walau sudah dibantu wasit, berbagai upaya Timnas Indonesia untuk menyamakan kedudukan patah begitu saja.

Hingga wasit meniup peluit jeda babak pertama, kesebelasan tamu masih unggul. Di lain sisi, kepemimpinan wasit yang berat sebelah ini pun membuat Libya U-23 kesal.

Saat Skuad Garuda siap membalas di babak kedua, sesuatu yang aneh pun terjadi. Timnas Libya U-23 nggak kunjung masuk ke lapangan. Hingga batas  waktu yang ditentukan, ngga ada satu pemain atau ofisial tim tamu yang menampakan batang hidungnya.

Hingga akhirnya Timnas Indonesia dinyatakan menang WO 3-1. Kemenangan ini dirasa hambar karena tanpa mengeluarkan bulir keringat pun.

Padahal Charis Yulianto selaku kapten mengaku percaya diri bisa memenangkan pertandingan. Alhasil, penyerahan tropi juara Piala Kemerdekaan 2008 pun tak lebih dari seremonial belaka. Lagu Queen We Will Be Champions yang diputar saat Skuad Garuda mengangkat piala pun terasa seperti momen palsu. Rasa haus dan kerinduan akan gelar juara seakan tak berarti apa-apa. 

Para suporter yang datang dan ingin melihat Skuad Garuda berjuang penuh pun diliputi tanda tanya besar. Apa yang sebenarnya terjadi di ruang ganti hingga Skuad Libya nggak mau kembali?

Usut punya usut, ada oknum official Timnas Indonesia yang terlibat cekcok dengan pelatih Libya. Di lorong ganti, tanpa tedeng aling-aling Gamal Adeen M Abu-Nowara disebut ditonjok.

Bahkan kabarnya, kacamata sebelah kiri sang pelatih sampai pecah dan bibir dari Gamal memar-memar. Bukan cuma kekerasan fisik, sang juru taktik juga mendapat sejumlah umpatan yang tak pantas.

Insiden memalukan inilah yang membuat Libya ogah meneruskan permainan. Kabar ini ternyata bukan cuma sekadar isapan jempol. Pasalnya, Budi Sudarsono sempat membenarkan kejadian memalukan ini.

Sang striker yang di turnamen itu tampil ganas menyebut pemukulan dilakukan oleh Sudarno. Entah bagaimana, pelatih kiper Timnas Indonesia ini tersulut emosinya hingga melayangkan bogem ke wajah pelatih Libya.

“Ceritanya Om Darno alias Sudarno ada slek sama tim sana, sama pelatihnya, tahu-tahu pelatihnya dipukul.Terus akhirnya dia nggak mau ngelanjutin, padahal kalah 1-0 kita,” ungkap Budi dalam salah satu Podcast.

Pencetak 5 gol di Piala Kemerdekaan 2008 ini juga membongkar fakta menarik lainnya. Di mana ternyata, niatan pemukulan tersebut sudah diketahui oleh Benny Dollo.

Namun respons coach Bendol disebut malah memberi lampu hijau dengan mengatakan, “Sikat aja No,” alhasil omongan yang ternyata bercanda itu malah ditanggapi serius oleh Sudarno.

Tapi Bendol sendiri membantah hal tersebut dengan mengaku tak tahu menahu soal kejadian ini. Namun yang jelas, insiden pemukulan ini mencederai nilai-nilai moral dan sportivitas.

Seperti puncak gunung es, pemukulan pelatih Libya ini mencoreng wajah sepak bola kita yang memang sudah bopeng. Alhasil, lengkaplah sudah kebobrokan sepak bola Indonesia kala itu.

Asal tahu saja, di tahun itu PSSI dipimpin oleh seorang Nurdin Halid dari balik jeruji besi. Sang Ketua Umum federasi yang sekaligus kader senior Partai berlogo beringin mendekam di penjara akibat tertimpa kasus korupsi minyak goreng.

Penutup

Setelah juara Piala Kemerdekaan 2008 yang memalukan ini, sepak bola Indonesia seolah kena karma. PSSI selaku pihak yang paling bertanggung jawab terus-terus membawa sepak bola kita ke lorong gelap.

Bahkan tudingan PSSI sebagai sarang mafia berulang kali menggema. Namun untungnya, episode kelam ini mulai menunjukan babak akhir alias titik terang.

Sejak era Iwan Bule yang kemudian dilanjutkan di bawah kepemimpinan Erick Thohir, sepak bola Indonesia tampak mengalami progres yang signifikan. Maka dari itu, football lovers semua, mari kita doakan agar sepak bola Indonesia nggak kembali balik ke mode gelap.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru